
Waktu itu, Khanza dan Vincent akan pergi meninjau lokasi yang akan digunakan untuk tempat usaha. Niatnya sih Khanza ingin membuka cabang butik di daerah komplek agar memudahkan para pembeli untuk berbelanja di tempatnya.
Selain memimpin perusahaan besar, Khanza juga membuka usaha butik yang dikelola oleh beberapa asisten pribadinya. Dia ingin memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menjadi seorang pemimpin di tempat yang dikelolanya sendiri.
Khanza adalah wanita super yang baik hati dan juga pekerja keras. Bukan hanya bakat usaha dari ayahnya saja yang menurun, melainkan kebaikan hati dari ibunya pun ikut menurun kepadanya dan diterapkan Khanza dalam kehidupan sehari-hari.
Ia memiliki seorang asisten pribadi, sahabat masa kecilnya, Vincent. Dengan Vincent lah Khanza membagi suka dan duka. Terkadang, banyak orang yang menilai kedekatan mereka berdua adalah suatu hubungan khusus, tapi sesungguhnya hubungan keduanya murni persahabatan.
Khanza memiliki seorang kekasih di Jerman. Kekasihnya itu adalah seorang Pengacara terkenal bernama Edward Anderson. Hubungannya dan Edward sudah berjalan selama lima tahun dan keduanya sudah merencanakan pertunangan di akhir tahun ini. Namun, sang Kakek yaitu Tuan Redrigo selalu saja menentang hubungan cucu perempuannya itu dengan alasan sudah menjodohkan Khanza dengan anak dari rekan bisnisnya.
Sama seperti kepada Kenzo, Redrigo juga memaksa menjodohkan Khanza hingga wanita muda itu kabur dari rumah dan menetap di Prancis. Minggu kemarin dia baru pulang karena mendengar adiknya telah dijodohkan dengan cucu rekan bisnis kakeknya.
Ingin sekali Khanza menentang hubungan itu dan berharap jika kakeknya sadar bahwa suatu hubungan yang dipaksakan itu sesungguhnya bukan hal yang baik. Tapi mau bagaimana lagi? Ibunya saja tidak bisa mencegah perjodohan itu.
Siang itu mobil yang dikendarai Vincent melaju di jalanan beraspal menuju komplek perumahan toko(ruko).
Sesampainya di sana mereka segera turun dari mobil mewahnya, kemudian melangkahkan kaki ke arah salah satu ruko.
"Bagaimana ruko ini menurut anda, Nona? Apa sesuai dengan keinginan Anda?" tanya si pemilik ruko.
Vincent menatap sekeliling lalu menjawab. "Ini lumayan bagus. Tapi ada sedikit yang kurang," sahutnya tanpa menoleh sedikitpun.
Pemilik ruko menoleh ke arah si Bos besar yang terlihat diam tanpa bersuara. "Mmmmm ... begini Tuan ...!" ucapannya harus menggantung karena terpangkas oleh si Bos.
"Apa yang menurutmu kurang, Tuan Vincent?" tanya Khanza hingga pemilik ruko kembali menoleh ke arah asisten Bos itu.
Vincent menjawab cepat. "Mungkin posisi tangganya tidak pas jika di sebelah kanan," sahutnya menjelaskan dengan menunjuk ke arah yang sedang dibicarakan. "Coba kalau di sebelah kiri, akan terasa enak dan lebih aman saja." lanjut Vincent.
Khanza mengangguk mengiyakan. "Kamu benar, Tuan Vincent. Mm ... Apa bisa dirubah lagi posisi tangganya, Pak?"
__ADS_1
"Tidak bisa Nona!" Khanza dan Vincent langsung menatap tajam ke arah pemilik ruko hingga membuatnya ketakutan. "Ah ... maksud saya tidak bisa sekarang, Nona. Soalnya, para pekerja sekarang sulit dicari. Apalagi jika harus terburu-buru seperti ini sangatlah susah, Nona!" sahutnya menjelaskan dengan menundukkan wajah.
"Kalau begitu kami tidak jadi membeli tempat ini!" Pemilik ruko langsung mendongakkan wajah menatap Khanza.
Merasa diperhatikan, Khanza lekas membentak. "Hei, dia yang ngomong! Kenapa kamu menatap ke arah saya?" sembur Khanza tersinggung dengan tatapan tajam si pemilik. "Baru kali ini gue kena getah atas perkataan si kuya." gerutunya melirik Vincent sebal.
Vincent langsung pergi tanpa mengatakan apapun meninggalkan Khanza dan pemilik ruko.
Khanza yang melihat asistennya pergi begitu saja pun menjadi kesal dibuatnya. Ia segera menyusul langkah Vincent yang sudah keluar terlebih dulu. "Hei kuya, gue rasa elu pantes kalo jadi bos!" ejeknya bernada kesal. Asistennya itu hanya melirik sekilas, kemudian melanjutkan kembali langkahnya. "Astaga ... gue gak percaya!" Khanza menggelengkan kepala. "Sebenarnya itu yang jadi bosnya siapa? Gue apa si kuya sih!" Khanza kembali menggerutu sembari mengekor di belakang.
Karena matanya tidak fokus menatap jalanan, tanpa sengaja Khanza menginjak kerikil hingga dirinya terjatuh kedalam kubangan air sisa hujan semalam. "Argh ... sial!" Khanza terduduk menatap pakaiannya yang basah semua.
Vincent berbalik kembali menghampiri Khanza sambil membungkuk. "Maafkan saya, Nona Muda!" ucapnya.
Khanza mendongakkan wajah menatap kesal pada asistennya itu. "Sialan lu. Baru inget sekarang kalau gue itu Bos elu? Apa tadi lu itu hilang ingatan? Apa ingatan lu sengaja di gedein biar bisa bikin gue kesel?" bentaknya kemudian.
Namun yang di cibir menatap dengan ekspresi datar. "Maaf!" ucapnya kemudian.
Vincent mengikutinya dari belakang sambil tersenyum. Namun saat Khanza menoleh, ia kembali dengan wajah berekspresi datar.
"Cariin gue baju ganti! Jangan yang formal biar gue leluasa!" perintah sang Nona Muda harus segera dilaksanakan.
Sesegera mungkin Vincent mencari apa yang diinginkan Nona nya, dan kembali setelah mendapatkannya. "Ini, Nona!" ujarnya seraya menyerahkan kantong kresek berlogo khusus.
Khanza mengambil barang yang ada dalam bungkusan. "Apa ini?" melongo seketika saat barang tersebut dikeluarkan.
"Hanya ada ini saja di toko itu, Nona!" jelas Vincent.
Kaos oblong bergambar tulisan cina, celana kanvas pendek, dan juga sandal jepit. "Ternyata elu itu benar-benar bikin gue jatuh lebih bawah dibanding penampilan lu ya," cibir Khanza.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya akan kembalikan lagi barangnya!" ujar Vincent segera mengambil dan memasukkan lagi barang-barang itu ke dalam bungkusannya.
Khanza tidak kalah cepat merebut kembali barang yang diambil Vincent darinya. "Cih, ambekan lu. Gue terpaksa harus memakai barang-barang yang gak bermerk," cicitnya kesal yang kemudian mengganti pakaiannya di dalam mobil. "Asem bener, terlihat meyakinkan banget kalo gue ini yang bawahan dan elu yang bosnya, kuya!" Khanza mengacak-ngacak sedikit rambutnya.
"Terima kasih!" ucap Vincent datar.
Khanza langsung melotot sambil menendang bokong Vincent. "Apanya yang terima kasih, kuya? Elu mau kita tukeran tempat? Dasar kurang ajar lu," semprotnya kesal.
Vincent hanya bisa menghindar dari tendangan Khanza seraya berkata. "Maaf!"
"Cih, anak ini!" Khanza melengos dengan kekesalan di hati. "Pergi sono!" teriaknya dengan keras.
"Baik!" Vincent segera masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Khanza yang masih di luar.
Melihat mobilnya melaju, Khanza langsung berteriak memanggil asistennya. Namun, Vincent tak mendengar karena mobil melaju dengan kencang bahkan lambaian tangan Khanza pun tak dilihat Vincent.
"Vincent ... kuya ... wooooiiii ... asem, gue di tinggal!" teriakan Khanza hanya dilirik orang-orang yang berlalu lalang di sana. Ia berjalan menyusuri jalanan komplek itu, kemudian berdiri di samping tiang listrik pas tikungan. "Haish, bocah itu sungguh keterlaluan! Gimana caranya gue pulang? Nggak ada taksi lewat lagi," gerutunya kesal.
Saat sedang melamun dan menatap ke sebrang, Khanza melihat ada mobil taksi yang melewati komplek B menuju komplek C. Ia pun segera memanggil taksi tersebut sambil berlari menyebrang mengejar taksi tersebut karena si supir tak mendengar atau melihat dirinya.
"Taksi ... tak ...!"
Tiba-tiba sebuah motor melaju di tikungan dan hampir menabrak dirinya. Namun si pengendara membanting stang motor ke samping hingga terjatuh.
Brak ... blugh
"Astaga, dia jatuh!" dengan segera Khanza menghampiri untuk menolong si pengemudi.
Saat helmnya di buka, ternyata dia seorang gadis cantik dan membuat Khanza terhenyak menatapnya. "Tukang ojek cantik," desisnya dalam hati.
__ADS_1
...Bersambung ......