Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 178


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Bayu setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Kepalanya celingukan seperti mencari sosok seseorang. Dia terlihat cemas, tetapi kecemasan itu mencair begitu menemukan sosok yang dia cari.


"Diana!" serunya pada seorang wanita yang duduk sendirian di kursi tunggu depan ruang farmasi. Bergegas dia menghampiri Diana.


"Bayu." Diana tersenyum melihat Bayu yang tengah berjalan ke arahnya.


"Apa kau lama menunggu?" tanya Bayu di sela-sela mengatur napasnya yang sempat tersengal.


"Tidak, aku masih mengantri obat."


Bayu duduk di sebelah Diana. Ditatapnya Diana dengan intens. "Bagaimana kata dokter?" Bayu terlihat cemas, berbeda dengan Diana yang justru tersenyum bahagia. Membuat Bayu semakin bertanya-tanya. Dia harus meninggalkan pekerjaan dan segera menyusul ke rumah sakit, setelah salah seorang karyawan di restorannya menelepon dan mengabarkan Diana dilarikan ke rumah sakit karena pingsan.


"Di, apa kata dokter? Kamu sakit apa? Kamu baik-baik saja, 'kan?" Bayu memegang kedua lengan Diana. Wajahnya semakin cemas, tetapi Diana malah semakin tersenyum lebar.


"Aku baik-baik saja, Bay. Jangan cemas berlebihan begitu. " Diana terkekeh geli.


"Kau pingsan di restoran, bagaimana aku tidak cemas?"


Diana tersenyum haru. "Maaf, sudah membuatmu cemas, tapi aku benar baik-baik saja."


"Lalu, kenapa kau bisa pingsan? Apa yang dokter katakan tadi?" tanyanya lembut. Bayu merapikan anak rambut yang menutupi dahi Diana.


Wajah Diana bersemu malu. "Aku ...." Diana melirik Bayu, pria itu menaikkan kedua alisnya, terlihat penasaran dengan apa yang akan Diana katakan.


"Aku hamil Bay," ujar Diana tersenyum dengan binar bahagia di kedua matanya.


Bayu tampak kaget, dalam beberapa detik dia terdiam sampai akhirnya ikut tersenyum bahagia. "Kau hamil, Di?" tanyanya seraya memegang kedua lengan Diana.


"Iya, Bay, aku hamil delapan belas minggu." Sejak tadi bibirnya tidak berhenti melengkung. Diana tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. "Aku memang bodoh karena tidak menyadarinya selama ini, padahal ini kehamilan keduaku," makinya pada diri sendiri. Bayu menanggapinya dengan tersenyum.


"Aku bahagia Bay, aku akan menjadi seorang ibu—"


"Dan aku akan menjadi seorang ayah," sela Bayu yang membuat Diana mengernyit. "Dia akan memanggilku 'ayah'," tegas Bayu.


"Tentu," jawab Diana haru.

__ADS_1


"Oke, mulai sekarang kamu harus banyak istirahat. Kamu gak boleh capek, kamu gak boleh kerja lagi di restoran."


"Bayu, jangan seperti itu. Aku baik-baik saja, aku masih mampu buat kerja."


"Enggak Di, kalau kamu kerja aku takut kamu kecapean. Itu gak baik untuk kandungan kamu. Ingat dulu kamu pernah gagal."


Diana berubah murung setelah mendengar ucapan terakhir Bayu. Ya, Diana pernah gagal. Diana pernah keguguran dan itu masih menyisakan luka mendalam di hatinya.


Bayu tersentak, menyadari telah kelepasan bicara. "Eh, maaf Di, aku gak maksud—"


"Gak apa-apa Bay, justru aku mau bilang makasi. Kamu sudah sangat peduli pada kami." Diana mengusap perutnya tanpa sadar. Naluri keibuannya tumbuh secara alami. "Kamu sudah banyak membantuku. Aku gak tau kalau gak ada ka—"


"Ssttt! Sudah kewajiban aku," jawab Bayu tak acuh. "Yang jelas dia harus memanggilku 'ayah'."


Mereka tergelak bersama sampai petugas farmasi memanggil nama Diana.


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang tebus obatnya." Bayu segera mendekati petugas farmasi.


Diana tersenyum ke arah Bayu. Pria itu terlihat serius mendengar petunjuk petugas farmasi mengenai aturan obat untuk Diana.


"Ayo, kita pulang," ajak Bayu setelah selesai menebus obat.


Sontak Bayu menghentikan langkahnya demi menatap Diana. "Di, harus berapa kali aku bilang, aku akan menjagamu. Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri, kalau kamu pingsan lagi bagaimana? Lagian urusan kantor gampang. Kalau ada yang penting mereka bisa menghubungi nomor ponselku langsung. Aku tidak pernah membatasi komunikasi antara aku dengan karyawanku. "


Diana tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa terpaku mendengar ucapan Bayu. Bolehkah dia memberi penghargaan untuk pria yang bernama Bayu Pratama ini? Perhatian dan sikapnya sungguh membuat Diana merasa berharga dan istimewa.


"Malah bengong. Ayo, kita lanjut jalan." Ucapan Bayu menyadarkan Diana. Dia menurut, mereka lalu berjalan beriringan menuju parkir mobil.


"Kita ke supermarket bentar ya, belanja bulanan," gumam Bayu setelah mobilnya keluar area rumah sakit.


"Belanja apa, Bay? Stok makanan masih penuh," tolak Diana saat Bayu membelokkan mobil ke arah supermarket.


"Ingat Di, kamu sedang hamil sekarang. Aku dengar dari beberapa karyawanku yang telah berpengalaman menghadapi istri hamil muda, kalau wanita hamil itu bawaannya lapar. Jadi, aku ingin mengantisipasi itu. Aku tidak mau kau sampai kehabisan makanan di rumah."


"Bay, kau terlalu berlebihan." Diana terkekeh geli.


Bayu mengedikkan kedua bahunya. "Sekarang katakan kau ingin makan apa? Kalau kau ngidam katakan saja, aku dengan senang hati memenuhinya."


"Bayu," ucap Diana dengan mata berkaca-kaca saking terharu dan bahagianya. Bayu memperlakukannya teramat istimewa.

__ADS_1


"Sudah, jangan terkesan begitu padaku. Sudah kubilang ini kewajibanku." Bayu melirik Diana. Mereka saling melempar senyum.


"Yuk, turun," ajaknya setelah mematikan mesin mobil.


Diana mengangguk bersamaan saat ponsel Bayu berdering. Bayu merogoh saku jasnya. Dia tersenyum begitu mengetahui siapa yang menelepon.


"Siapa?" tanya Diana penasaran. Dia yang sudah bersiap membuka pintu mobil, curiga lantaran Bayu senyum-senyum sendiri.


"Siska. Dia tadi sangat khawatir saat tahu kamu pingsan. Halo, Sis."


"Kamu di mana? Bagaimana Diana? Dokter bilang apa? Diana sakit apa?"


"Wow, satu-satu Buk nanyanya," goda Bayu."


"Ah, sudah cepat katakan, bagaimana Diana? Aku cemas tahu," ujar Siska mengumpat.


"Sabar Buk sabar, Diana baik-baik saja. Nih, orangnya lagi di sebelahku." Bayu masih terkekeh geli begitu juga Diana.


"Kenapa gak bilang dari tadi, sih? Mana, aku mau ngomong sama Diana."


"Ih, galak amat. Ya, udah nih Diananya." Bayu mengulurkan ponselnya pada Diana.


"Makasih Bay," ucap Diana menerima ponsel Bayu. "Halo, Sis?"


"Diana, loe baik-baik aja, 'kan? Sakit loe gak parah, 'kan? Gue cemas banget tau gak. Loe kenapa bisa pingsan, sih?" ceroscos Siska dengan kebawelan dan kekepoannya seperti biasa.


"Maaf Sis, udah bikin loe khawatir. Gue baik-baik aja, gue sehat."


"Sehat kenapa bisa pingsan? Ini pasti karena loe kecapean kerja di restorannya Bayu. Mana tuh Bayu? Eh, Bayu awas loe ya, loe udah bikin sahabat gue sakit, tar gue buat perhitungan sama loe," teriak-teriak Siska di telepon, membuat Diana terkekeh geli lantaran Bayu menggaruk lehernya bingung. Handphone sengaja Bayu loudspeaker tadi, makanya dia bisa mendengar teriakan Siska.


"Udah Sis, jangan nyalahin Bayu. Gue gak sakit dan gue seperti ini juga bukan karena kecapean kerja."


"Terus?" Siska terdengar tidak penasaran.


"Gue hamil Sis," teriak Diana kegirangan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Kasih applause dulu yuk buat ayah Bayu👏👏👏

__ADS_1



__ADS_2