
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Setelah seminggu penuh Soraya mempersiapkan resepsi pernikahan untuk Diana dan Reyhan, dibantu Bella dan Adinda. Akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu tiba.
Hari pernikahan,
Diana menggunakan gaun putih bersih yang menjuntai bak princess. Dengan tatanan rambut ala messy hair yang diikat sebagian di atas dan digerai di bagian bawah.
“Kamu sangat cantik Diana,” puji Bella.
“Lihat saja, Reyhan pasti akan terpesona hingga tidak bisa berkata-kata saat melihatmu.” Adinda menimpali sembari terkekeh.
“Kalian ini bisa saja,” Diana tersipu, wajahnya kini bersemu merah.
Dia sangat gugup, hatinya berdebar tidak karuan. Hari ini Reyhan akan mengumumkan ke publik prihal status mereka. Reyhan memilih mengadakan pesta di dalam hotel mewah bintang lima milik temannya. Dia menyewa seluruh hotel untuk seluruh tamu undangan dan semua wartawan yang akan meliput acara mereka nantinya.
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk, lalu muncul Soraya dari balik pintu memberitahu Diana untuk bersiap-siap.
“Ayo kita turun,” ajak Soraya. “Semua orang sudah menunggumu.” Tersenyum ke arah Diana dan mengulurkan tangannya.
Dengan tangan gemetar Diana membalas uluran tangan Soraya. Dia merasa sangat gugup karena ini adalah pertama kalinya dia tampil di depan publik.
Mereka menaiki lift untuk sampai di lantai ballroom. Di sana mereka menuruni beberapa anak tangga untuk mencapai lantai dasar. Belum mencapai lantai ballroom, sudah terdengar suara-suara bising orang-orang yang entah membicarakan apa. Diana bertambah gugup, tangannya kini berkeringat.
“Tenangkan dirimu, Diana.” Soraya mengusap punggung tangan Diana yang dalam genggamannya.
“Rileks Diana,” imbuh Adinda dan Bella yang tersenyum mengusap punggung Diana.
Diana memejamkan mata sambil mengangguk, mencoba meredam rasa gugupnya. Namun, rasa itu muncul kembali saat dia akan menuruni tangga menuju lantai ballroom. Semua mata kini tertuju padanya, seakan mengintip setiap gerak langkahnya menuruni tangga. Suara jeprat-jepret kamera mulai terdengar dan memotret dirinya. Dia semakin menggenggam erat tangan Soraya.
“Diana,” bisik Bella yang tersenyum menunjuk seseorang dengan dagunya.
Diana melihat ke arah yang ditunjuk Bella. Seorang pria yang mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu.
Reyhan.
Dia kini terlihat menaiki anak tangga satu-persatu. Perlahan mendekatinya dengan wibawa yang luar biasa mempesona hingga, membuat Diana terpesona dan seketika menghentikan langkahnya, menanti Reyhan menjemputnya.
Reyhan tersenyum dan mengulurkan tangannya begitu jarak mereka semakin terkikis. Sungguh, jika Diana tidak memakai make up akan terlihat jelas wajah pucatnya sekarang.
Soraya mengulurkan tangan Diana ke arah Reyhan karena menyadari Diana masih diam terpaku. Kemudian Reyhan menggenggamnya erat dan menuntunnya menuruni tangga dengan sangat hati-hati. Membuat kepercayaan diri Diana kembali pulih.
Suara tepukan riuh menyambut mereka, Reyhan tersenyum membalas semua orang.
“Apa kamu gugup?” bisik Reyhan di telinga Diana. Diana hanya mengangguk. Reyhan semakin menggenggam erat jemari Diana, berusaha memberi kekuatan pada istrinya itu.
Diana bisa melihat di bawah sana, Tuan Wijaya, Sandra dan Surya yang duduk di kursi roda memandangnya dengan berkaca-kaca. Bayu dan Siska yang tersenyum ke arahnya sembari menggenggam gelas sampanye. Sekretaris Jonathan yang juga berdiri memegang gelas sampanye bersama Doni, Riski, dan Dokter Helmi. Juga Davin dengan Clara, Jimmy, dan Dimas, suami Adinda.
Diana kemudian melirik Reyhan, pria itu tampak sangat tenang. Berbeda dengan dirinya yang dari tadi sudah gemetar tidak karuan. Dia yakin besok ini akan menjadi highlight di berbagai portal media. Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Aditya Wijaya Group.
Kini mereka sudah sampai di lantai ballroom, Adinda dan Bella menuju suami mereka masing-masing, begitu juga dengan Soraya.
“Selamat atas pernikahanmu,” ucap Dimas menepuk bahu Reyhan.
__ADS_1
“Makasi Dim,” balas Reyhan yang kemudian meraih gelas sampanye dari nampan pelayan yang kebetulan lewat. Dia mengangkatnya ke arah Dimas dan Jimmy mengajak mereka bersulang.
“Oh, ya, kita ada hadiah spesial untuk pernikahan kalian.” Adinda dan Bella menatap para suami mereka.
“Oh, ya? Apa itu?” tanya Diana penasaran.
Mereka tersenyum penuh makna dan melangkah bersama menuju panggung. Diana dan Reyhan menatap mereka ke arah panggung. Dengan perasaan yang berdebar Diana menunggu hadiah apa yang akan mereka berikan. Bella dan Adinda terlihat membisikkan sesuatu kepada operator acara.
Entah apa yang mereka bicarakan di atas sana. Kini Adinda, Bella, Dimas dan Jimmy sudah sama-sama memegang mikrofon. Kemudian terdengar operator acara memutar musik dari single Hari Bahagia (Atta & Aurel).
Diana menutup mulutnya, dia tidak menyangka mereka akan menyanyi untuk hari pernikahannya. Musik terus mengalun, Reyhan kini sudah merangkul punggungnya. Mereka menyanyi dengan memandang wajah pasangan masing-masing.
Bella,
Bersamamu aku hadir
Selamanya hingga akhir
Terima kasih tuk semua rasa yang
Kau berikan untukku
Jimmy,
I’m gonna marry you
I know you that you’ll be mine
I’m gonna give my world
You’re the only one
Tell them everything
This is just beginning
Dimas,
Jangan tinggalkan aku
Di saat ku jatuh
“You’re the only one!”
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
“Congratulation Mr.Reyhan!” Seorang pria berwajah bule berdiri di depan Reyhan dan mengangkat gelas sampanye ke arahnya.
“Thanks Mr.Leo,” balas Reyhan sembari mengangkat gelas.
“Wow, your wife look so beautifull tonight,” puji Leo setelah meneguk sampanyenya.
__ADS_1
“Thanks Mr. Leo, i agree with you.” Tersenyum bangga.
“Kamu memang sangat beruntung Mr. Reyhan.” Davin sudah berdiri di samping Reyhan dengan tersenyum simpul. Disusul Doni, Riski, dan Helmi.
“Thanks Vin udah datang, mana calon istri loe?”
“Tuh!” Menunjuk Clara dengan dagunya.
Reyhan mengikuti arah dagu Davin, dia melihat Clara sedang berbincang dengan Diana. Juga ada Siska, Bayu, Sandra dan Surya di sana. Reyhan tersenyum saat Diana menoleh ke arahnya. Gadis itu balas tersenyum, wajahnya sudah tidak segugup tadi.
“Gue yakin besok ini akan highlight dimana-mana,” Seru Doni.
“Iya, siapa yang tidak mengenal Tuan Reyhan dengan Aditya Wijaya Group.” Riski menimpali.
“Selamat Rey, akhirnya loe bisa mengambil keputusan dengan benar.” Helmi menepuk pundaknya.
“Ini juga berkat loe, Hel.”
“Gue hanya ingin sahabat gue menemukan kebahagiannya,” sahut Helmi. “Nah, loe kapan, Don?” Menatap Doni. “Gue udah, Riski udah, Reyhan juga udah, Davin tinggal nunggu hari H, terus elo?” Mereka semua terkekeh mencibir.
Sementara Doni hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Udahlah Don, hentikan pertualangan loe. Cari cewek yang benar terus ajak nikah. Ingat umur.” cibir Riski sembari tergelak. Sementara yang lain tersenyum sembari meneguk sampanye.
“Eh, ngomong-ngomong ke mana ajudan setia loe?” celetuk Davin. “Gue kangen sama dia.” Davin tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
“Mungkin dia lagi nyari teman PDKT,” celetuk Riski.
“Bisa jadi,” balas Helmi.
“Kasian dia Rey, kasih apa dia waktu buat nyari calon pendamping. Jangan dikasih kerjaan mulu,” ujar Davin setengah bergurau.
“Gue udah sering bilang sama dia buat nyari pendamping bahkan gue udah tanya, anak dari relasi atau temen bisnis gue yang mana yang dia suka, dia tinggal bilang ke gue tar gue yang lamarin, tapi dia kagak pernah mau, gue bisa apa?” Reyhan membela diri.
“Mungkin dia tidak tertarik sama cewek kali,” jawab Doni asal.
“Bisa jadi,” balas Helmi.
“Loe dari tadi cuma ngomong bisa jadi bisa jadi aja,” salak Riski pada Helmi.
“Terus, gue harus ngomong apaan?” salaknya balik.
“Ya, kasih solusi. Loe, 'kan dokter, kenalin gitu ke dokter yang khusus nanganin begituan. Gak kasian apa sama sahabat sendiri.”
Helmi nampak berpikir. “Hm, coba deh besok Gue cari info.”
Mereka kemudian sama-sama meneguk sampanye. Sampai tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah tempat Diana berada. Mereka menoleh ke arah Diana berada. Mata mereka membelalak kaget melihat wajah serta gaun Diana sudah basah. Sepertinya habis disiram oleh seorang wanita yang berdiri di sebelah Diana. Wanita itu menggunakan long dress warna hitam dengan rambut panjang terurai dan memegang gelas minuman yang sudah kosong.
Reyhan segera berlari ke arah istrinya, dia mendorong bahu wanita yang memegang gelas kosong itu. Rahangnya mengeras, matanya berkilat dipenuhi api amarah.
“Kau!” geramnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Kau???
Siapa???
Penasaran gak, nih???
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorit, like, sama komen, ya guys🤗