Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 152


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam lamanya, mobil yang membawa Diana dan Reyhan memasuki gerbang masuk kendaraan di Tanah Lot. Di gerbang masuk kendaraan, petugas memberikan mereka bukti pembayaran tiket masuk Tanah Lot. Diana menerima bukti pembayaran itu, bentuknya semacam kertas putih yang berisikan waktu dan tanggal kedatangan, jumlah pengunjung, biaya parkir kendaraan dan barcode.


Mobil kemudian menuju area parkir, di sana area parkir tertata dengan rapi dan diatur khusus sesuai kategori kendaraan. Parkir khusus motor ,khusus mobil, dan khusus bus. Setelah turun dari mobil mereka berdua berjalan menuju gerbang masuk pengunjung. Sementara sopir menunggu di mobil. Diana mengenakan topi super besar untuk menghalau sinar matahari mengenai kulit wajahnya. Dia menggandeng lengan Reyhan tanpa berhenti mengukir senyum.


“Kenapa senyum-senyum begitu?” goda Reyhan.


“Lagi pingin aja,” jawab Diana singkat. Sulit baginya mengungkapkan perasaan yang dia rasakan sekarang.


“Jangan senyum-senyum gaje begitu, nanti disangka obatnya habis.” Reyhan terkekeh. Diana mencubit lengannya hingga membuatnya mengaduh, “Aduh, kok nyubit?” mengusap lengannya yang sebenarnya tidak sakit.


“Habis kamu ngomongnya asal. Aku tuh senyum-senyum karena sangat bahagia.”


“Bahagia kenapa?”


“Ya, pokoknya bahagia aja, sulit diungkapkan dengan kata-kata.”


Sebelum memasuki gerbang masuk pengunjung, mereka melewati gerbang yang lumayan besar dihiasi arsitektur khas Bali. Merasa terpukau dengan keindahan arsitektur gerbang itu Diana menghentikan langkahnya.


“Sayang kita foto yuk,” ajak Diana.


“Boleh,” Reyhan mengangguk.


Diana meraih ponsel dari dalam tasnya lalu mengaktifkan kamera dan berfoto bersama Reyhan di gerbang yang berhias arsitektur khas Bali itu. Mereka mengambil pose dengan berbagai gaya dan ekspresi. Mulai dari tersenyum, tertawa, manyun, sampai mencium pipi Reyhan. Setelah puas mengambil beberapa foto, mereka berjalan memasuki gerbang masuk pengunjung. Diana menyerahkan bukti pembayaran tiket masuk tadi pada petugas yang berjaga di sana. Petugas terlihat mencocokannya, lalu melakukan scan barcode, setelah itu mempersilakan mereka masuk. Dari gerbang masuk pengunjung, di seberang jalan terlihat akses memasuki Pura Tanah Lot.


“Kamu mau langsung ke pantainya apa melihat puranya dulu?” tanya Reyhan.


“Emang boleh?” tanya Diana ragu.


“Boleh, asal lagi tidak datang bulan dan wajib memakai pakaian khusus ke pura,” jelas Reyhan.


Diana nampak berpikir sebentar, “Nanti aja dah, lagi pula kita gak bawa pakaian yang kamu maksud tadi.”


"Iya, juga." Reyhan mengandeng tangan Diana menuju lokasi Pantai Tanah Lot. Setelah berjalan beberapa meter, mereka memasuki area pasar seni di Pura Tanah Lot. Sepanjang jalan menuju pantai, banyak terdapat kios-kios yang menjual oleh-oleh khas daerah Bali.


Diana menarik lengan Reyhan, mengajaknya masuk ke salah satu kios. “Sayang, ini kaosnya lucu, ya?” Mengambil kaos berwarna biru yang bergambar dan bertuliskan Barong Bali.


Reyhan melihatnya sebentar lalu mengangguk.


Diana mengambil lagi yang warna biru dengan ukuran yang lebih besar lalu menempelkannya ke badan Reyhan. “Kayaknya yang ini pas deh di badan kamu,” gumamnya, “aku sekalian beli buat oleh-oleh orang rumah boleh, 'kan?” Menatap Reyhan penuh harap.


“Beli aja sesuka dan sebanyak yang kamu mau Sayang,” jawab Reyhan dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Diana mengecup pipi Reyhan. “Makasih, Sayang.” Dia kembali sibuk memilih-milih kaos.


“Sayang,” panggil Reyhan.


“Hmm,” jawab Diana tanpa menghentikan aktivitasnya memilih kaos.


“Kamu mau minum es kelapa muda?” Menunjuk warung makan di dekat kios itu yang menyediakan es kelapa muda. “Atau kamu mau sekalian makan siang?”


Diana menoleh ke arah yang ditunjuk Reyhan. “Tapi aku belum lapar,” jawabnya.


“Ya, udah kalau gitu aku beli es kelapa muda aja, kamu tunggu di sini.”


Diana mengangguk. Reyhan berjalan ke arah penjual es kelapa muda. Sementara Diana segera menyelesaikan kegiatannya memilih kaos dan menuju kasir. Bertepatan dengan Diana selesai melakukan pembayaran, Reyhan datang dengan sebutir kelapa muda berukuran besar, berwarna hijau yang bagian atasnya sudah dibersihkan serta diberi sendok dan sedotan.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


“Kenapa emangnya?” tanya Reyhan yang menyedot air kelapa muda di tangannya.


“Aku baca di internet, konon katanya di Pura Tanah Lot ini ada Goa Suci. Nah, di dalam Goa Suci itu ada ular suci yang mitosnya bisa mengabulkan permohonan kita lho.”


“Terus kamu percaya?” Reyhan meliriknya sebentar.


“Itu, 'kan, mitos Rey, tapi karena itu aku penasaran banget.”


“Terus kamu pingin ke Goa Suci itu?”


“Iya, dong.” Diana menjawab dengan antusias. “Semoga saja air pantainya sedang surut sekarang,” sambungnya.


“Apa hubungannya sama air pantai?”


Diana menepuk lengan Reyhan gemas. “Ih, kamu masak gak tau, goanya itu letaknya di bawah tebing. Jadi, kalau airnya lagi pasang, goanya gak kelihatan. Akses menuju ke sana juga akan ditutup,” jelas Diana sesuai info dari artikel yang dia baca di Internet.


“Owh.” Reyhan manggut-manggut sambil terus menyedot air kelapanya.


“Ah, Rey, doaku dikabulkan,” ucapnya sumringah. Mereka memandang ke arah pantai yang sedang surut. “Kita turun yuk liat goa yang aku bilang tadi.” Diana terlihat sangat antusias. Setelah membuang buah kelapa muda yang mereka minum tadi ke tempat sampah, Diana menarik tangan Reyhan menuju lokasi Goa Suci. Dia sudah sangat tidak sabar melihat langsung apa yang dia baca di artikel.


Lokasi Goa Suci berada di bawah tebing, berhadapan dengan Pura Tanah Lot yang terletak di tengah laut. Karena saat itu air laut sedang surut jadi rantai pembatas untuk menuju laut dibuka dan goa bisa terlihat. Lokasinya di sisi tebing, mereka harus melewati jalan di batu-batu karang. Reyhan memegang tangan Diana erat, karena batu-batu karang itu sangat tajam dan licin.

__ADS_1


“Kalian ingin masuk?” tanya pria paruh baya yang tersenyum ramah dan merupakan penjaga goa itu. Penjaga itu berpakaian adat Bali.


“Iya, Pak, kami ingin melihat ular suci yang katanya ada di dalam goa ini," jawab Diana sopan.


“Owh, mari silakan masuk.” Penjaga itu menuntun mereka memasuki goa. Goa itu sangat kecil, semakin ke dalam semakin sempit.


“Ularnya jinak, silahkan boleh dipegang.” Penjaga itu mengelus kedua ular di pangkuannya. Ular itu berwarna hitam putih dan seekor dari ular itu memiliki garis kuning di bagian kepalanya.


Diana dan Reyhan ikut duduk bersila di hadapan penjaga itu.


“Induk ular ini dulunya adalah bekas ikat pinggang seorang raja dari kerajaan Kediri di Jawa Timur yang bernama ....”


Penjaga itu mulai menceritakan asal usul ular suci itu dan juga sejarah Pura Tanah Lot. Diana dan Reyhan hanya manggut-manggut mendengarkannya.


“Lalu mitos tentang ular suci yang bisa mengabulkan permohonan itu benar ya, Pak?” tanya Diana saat penjaga itu sudah selesai bercerita. Dia sudah tidak mampu membendung rasa penasarannya.


Penjaga itu tersenyum ramah. “Benar dan tidaknya itu tergantung kepercayaan masing-masing orang, Gek(panggilan untuk anak gadis di Bali). Bukan ular-ular ini yang bisa mengabulkan permohonan, tapi Tuhan,” tegasnya, “jadi, maksudnya pengunjung yang datang ke sini bukan memohon kepada ular. Mereka tetap memohon dan berdoa kepada Tuhan mereka, tapi di dalam hati sambil menyentuh ular-ular ini.” Penjaga itu menjelaskan.


“Owh, jadi begitu maksudnya.”


“Apa Gek ingin mencobanya?”


“Tapi saya takut, Pak,” jawab Diana ragu. Dia menatap ngeri ke arah ular-ular itu kemudian beralih menatap Reyhan.


Reyhan tersenyum dan mengangguk memberi persetujuan sambil mengusap punggung Diana.


“Tidak kenapa Gek, ularnya jinak. Coba saja, tidak usah takut.” Penjaga itu meyakinkan Diana.


Meskipun masih ragu, Diana mencoba memberanikan diri untuk menyentuh ular itu.


“Memohon dan berdoalah pada Tuhan Gek di dalam hati sambil menyentuh ular ini!” kata penjaga itu lagi.


Diana menarik napas dalam, memejamkan mata, lalu berdoa dalam hati.


Tuhan, terima kasih atas semua kebahagian yang sudah diberikan kepadaku di kehidupan ini. Suami, anak dan keluarga. Kedepannya, aku memohon supaya tetaplah berjalan seperti ini. Jauhkan keluarga kecil hamba dari orang-orang yang berniat tidak baik ....




❤️❤️❤️❤️❤️


Weekend aku udh up banyak, semoga bisa menghibur dan menemani weekend kalian.


Terima kasih atas dukungan kalian. Jangan pernah bosan ya,😁 yuk jempolnya digoyang dulu. Like sama komennya ditunggu 🤭

__ADS_1


__ADS_2