
Sepeninggalan Vincent, Kayla berkeliling rumah besar itu melihat-lihat binatang lucu yang berkeliaran di taman samping lalu kembali ke halaman depan sebab ia merasa sangat tidak sopan jika berkeliaran di rumah orang seperti ini.
Rasa kagum Kayla bertambah lagi kepada si pemilik rumah besar ini, karena selain penyuka tanaman sama binatang, ia pun pandai menempatkan benda-benda agar tamannya terlihat indah dan sempurna.
Tak ... Tak ... Tak
Dari arah belakang, terdengar langkah kaki sedikit berlari menghampirinya. Tubuh yang tinggi menjulang, dengan kulit putih bersih itu sedang berdiri sembari menggerakkan tubuh ke kanan dan kiri untuk melenturkan kembali otot yang sempat tegang.
Dia adalah Edward, pria bule asal Jerman itu kekasih dari pemilik mension mewah tersebut, Khanza Alberto.
Si bule itu baru saja tiba di Indonesia. Sesampainya di sini, Edward berkeliling mension kekasihnya dengan berlari-lari kecil dengan mengenakan celana kolor saja.
Ketika sampai di halaman depan, pria itu mendapati seorang gadis sedang menatap rumah mewah kekasihnya tersebut. Ia pun menegurnya karena curiga_takut gadis itu adalah komplotan maling yang beraksi di siang bolong. Apalagi, melihat penampilan Kayla seperti anak laki-laki dengan memakai jaket dan celana sobek-sobek.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?!" tegur Edward membuat Kayla menoleh menatapnya.
Melihat seorang pria berdiri di hadapannya dengan dada terbuka menampakkan otot-otot bisepnya, Kayla langsung menjerit seketika. "Aaarrrgghhh, dasar mesum!" Edward menutup telinga saking kuatnya tekanan nada tinggi yang keluar dari kerongkongan gadis itu.
"Bisa dikecilkan gak sih suara kamu!" ujarnya masih dengan menutup telinga.
Kayla terus menutup wajah menggunakan telapak tangan. "Mr bikin aku terkejut sih!" sahutnya gugup.
Edward mendelik kesal. "Aku yang terkejut dengan kehadiran kamu di sini. Kamu mau maling ya," tudingnya kemudian.
"Hei, aku bukan maling! Enak aja kalo ngomong," elak Kayla membuka telapak tangan namun segera menutupnya kembali karena sadar pria bule itu masih di sana dengan bertelanjang dada.
Sebelum Edward berucap kembali, Vincent terdengar berlari menghampiri. "Ngapain kamu di sini?" tanya Vincent menatap wajah si bule dengan ketus.
__ADS_1
Edward menatap sinis ke arah Vincent. "Cih, aku berhak tinggal di sini sebab ini rumah kekasihku!" sahutnya arogan membuat Vincent sangat geram.
Vincent maju menutupi pandangan Edward dari Kayla. Dia tahu jika si bule itu terus menatap gadis yang dibawanya atas perintah Khanza, kekasih Edward. "Kenakan pakaian kamu, Bung! Di sini bukan Jerman yang bebas berkeliaran dengan telanjang dada seperti itu," tegasnya membuat Edward mengerang kesal.
"Jangan selalu bersikap galak seperti itu kepadaku, sebab aku ini adalah kekasih atasanmu!" hardik Edward balik ketus.
Vincent mengeram menahan amarah. Sejujurnya pria itu tidak menyukai kekasih Bos sekaligus sahabat masa kecilnya, Khanza. Si bule di hadapannya itu cenderung bersikap arogan kepada Vincent setelah mengetahui jika Vincent adalah asisten pribadi Khanza.
Padahal, Khanza sendiri selalu mengatakan jika Vincent dan dirinya adalah sahabat masa kecil dan mereka berdua selalu membagi suka dan duka bersama. Dengan kata lain, keduanya tidak akan terpisahkan walau apapun yang mengusik persahabatan mereka.
Tapi, Edward tidak menyukai Vincent sebab pria itu selalu berada di sisi Khanza dan membuatnya cemburu karena perhatian-perhatian kecilnya.
Kedua pria itu saling menatap tajam tanpa ada yang mau mengalah menurunkan pandangan.
Kayla merasa seperti berada di antara dua pria dingin yang tengah beradu kekuatan lewat tatapan mata. Gadis itu pun segera menengahi, "Ah, Stop ... Stop ... Stop! Kalo kalian ingin terus saling menatap kek gitu ya silahkan lanjutkan nanti aja habis aku balik. Ya udah, sini mana ongkosnya!" menengadahkan tangan ke arah Vincent meminta uang ongkos mengantar pria itu kemari.
Kayla terhenyak mendengar suara bernada tinggi kedua pria dihadapannya itu, sebelum mode galaknya keluar. "Eh, apa-apaan ini?!" ujarnya kesal sembari mendorong tubuh Vincent. "Situ tadi minta dianter ke sini setelah berkeliling-keliling nggak jelas, sekarang diminta duit ongkos malah bentak-bentak. Kamu pikir aku takut!" ketus Kayla balas menggertak.
Vincent dan Edward mundur beberapa langkah setelah melihat gadis belia yang manis di hadapannya itu berubah menjadi galak. "Kenapa dia jadi galak?" keduanya terus mundur melihat Kayla terus maju. "Hei, galak! Kenapa maju terus? Kamu nggak takut sama kita berdua?!" Edward mengangguk mengiyakan ucapan Vincent. Kedua pria itu berubah bagaikan anak kucing di hadapan seekor macan.
Kayla mendengus kesal lalu menengadahkan kembali tangannya. "Mana ongkosnya, cepat!" pintanya kembali.
"Ta-ta-tapi ... Tapi ...!"
"Tapi apa?" bentak Kayla lagi. "Apa kamu nggak mau bayar ongkos ojeknya? Dua jam keliling-keliling nganterin kamu dan ternyata kamu nggak mau bayar. Percuma pake baju mahal dan punya rumah gede kalo ongkos ojek aja nggak sanggup ayar," ejek Kayla kesal dengan nafas yang memburu membuat dadanya naik turun.
Vincent terlihat ingin membela diri namun Edward malah menertawakannya. Tapi dengan cepat Kayla segera menghardiknya. "Gak usah ketawa mulu, bau tau!"
__ADS_1
Giliran Vincent yang terkekeh menertawakan Edward yang seketika diam karena ejekan Kayla. "Diem kamu, kulkas!" hardik Edward kesal.
"Ada apa ini ribut-ribut mulu?!" ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Khanza turun dari mobil limosin yang baru saja parkir di halaman rumah mewahnya.
"Sayang!" Edward bergegas menghampiri dengan sikap manjanya. "Untung kamu cepet dateng. Lihat, asisten pribadimu itu terus saja mengejekku!" adunya pada Khanza.
Wanita muda itu menoleh ke arah Vincent, lalu melirik gadis cantik di samping asistennya itu. "Hai Kayla!" ia mengabaikan pengaduan Edward atas tindakan Vincent membuat kekasihnya itu cemberut seketika. "Udah dari tadi?" tanya Khanza setelah mendekat.
Kayla mengerutkan kening karena penasaran atas kehadiran Khanza di sana, ditambah lagi wanita cantik yang bertemu dengannya tempo hari ternyata mengenal kedua pria aneh di hadapannya itu. "Eh, Kakak cantik. Lagi apa di sini?" alih-alih menjawab, ia malah bertanya.
"Ckk, ditanya balik nanya." Kayla cengengesan. "Ini rumah Kakak dan mereka itu kedua teman Kakak," sahut Khanza membuat Vincent mengulum senyum sedangkan Edward terlihat protes.
"Sayang. Kenapa dua teman sih! Aku kan kekasihmu, calon suamimu!" ujar Edward tak terima namun Khanza tidak memperdulikannya hingga pria bule itu pun merengek manja. "Sayang,"
Khanza terlihat cuek. "Kamu bisa diem nggak sih, Yang! Aku mau ngomong sama Kayla,"
"Tapi ... Ya udah deh!" si bule pun melenggang masuk ke dalam rumah.
Khanza mendesah pelan, Vincent terkekeh geli, sedangkan Kayla terlihat menggelengkan kepala. "Haish, dasar si bule!" desis ketiganya serempak.
Khanza kembali menoleh ke arah Kayla. "Gimana Kay? Apa tawaran Kakak diterima?" bertanya langsung pada intinya.
"Hah? Tawaran? Tawaran apa?" Kayla dan Vincent serempak bertanya.
"Haish, apa kamu lupa?" kembali Kayla dan Vincent mengerutkan keningnya. "Tawaran untuk menjadi asisten pribadi Kakak," sahutnya membuat keduanya terkejut bersamaan.
"Apa?"
__ADS_1
...Bersambung ......