
Kayla, Bagas, dan Devian dibuat ketakutan dengan kehadiran dua preman yang menghampiri.
Mereka berdua tampak menakutkan dengan gaya sangar. Berjalan dengan angkuh sambil sesekali berpaling memperlihatkan tatapan membunuh.
"Gi-gimana ini?" Ketiganya sangat ketakutan dibuatnya.
Mereka semakin dekat ... makin dekat ... dan ...
"Hai, pada mau ke rumah Mak Rimbi ya?" tanya salah satunya.
Suara tengek dari preman itu seketika menghilangkan rasa tegang yang sempat di rasa tadi, dengan digantikan rasa geli ingin tertawa terbahak.
"Pffftt, gue pengen ngakak boleh gak!" Bagas dan Devian berusaha menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Kayla menyenggol bahu pemuda tersebut supaya Bagas atau pun Devian tidak tertawa. Ia tersenyum ramah ke arah keduanya.
"Iya, Bang. Bisa tunjukan alamat yang benar? Soalnya kami lupa tadi," desis Kayla berusaha tenang.
"Boleh banget dong, Neng. Ayo, ikut kita!" ajak mereka kemudian.
Kayla merasa canggung juga takut jika mereka ternyata berbuat jahat. "Masih jauh nggak?" tanya Kayla sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Kalau masih jauh, tunjukin aja jalannya biar kita sendiri yang nyari supaya tidak merepotkan kalian!" Bagas dan Devian mengangguk cepat.
Sebenarnya kedua pemuda itu tidak tahan mendengar setiap kali para preman itu bicara.
"Tidak repot kok! Lagi pula, rumahnya udah deket. Yuk, keburu kemalaman!" ujarnya seraya berjalan lagi.
"Baiklah!"
Mereka berjalan di depan dengan diikuti kedua motor Devian dan Bagas yang berjalan pelan.
Bagas dan Devian cekikikan tidak tahan tapi keduanya terdiam setelah melihat kedua preman itu yang sesekali menoleh ke belakang.
Keduanya berhenti karena terganggu cekikikan mereka dan bertanya. "Ada apa tertawa terus? Ada yang lucu?" tanya kedua pemuda preman itu.
"Ah tidak! Mereka hanya senang karena bisa menemukan alamat Nenek. Iya kan!" Kayla mencubit pinggang Bagas sedikit keras membuat dia berteriak.
"Aaaa ... iya ... iya. Se-seneng ... iya seneng. Hehehe!" Bagas terpaksa tersenyum melihat tatapan mereka.
Walaupun suara mereka yang seperti kucing kejepit dengan gaya bicara seperti anak TK, tapi penampilan preman mereka dan tatapan tajamnya membuat ketiganya ketakutan.
"Ayo, jalan!" ajak mereka dan ketiganya hanya mengangguk.
Sesuai yang di tunjukan si bapak tadi, kedua preman itu mengantarkan ke alamat rumah Mak Arimbi.
"Ini rumahnya!" tangannya menunjuk rumah sederhana berpagar bambu dengan halaman kecil di depannya.
"Terima kasih Abang-Abang sudah nganterin kami kemari!" ucap ketiganya bersamaan.
"Hanya terima kasih saja, nih!" Ucapannya membuat ketiganya tak paham.
"Maksudnya apa?" Bisik Bagas kepada Devian dan Kayla yang mengedikkan bahu.
"Entahlah!"
"Kok bisik-bisik aja sih!" Ketiganya langsung menoleh kembali.
__ADS_1
"Ah, hehehe. Tidak kok!"
Devian menyerahkan uang ke tangan Bagas untuk diberikan kepada mereka. Melihat penampilan mereka, pasti mereka meminta uang untuk membeli minuman karena telah mengantarkan kemari.
"Kenapa gue?" Protes Bagas melotot ke arah Devian.
"Udah cepetan, dodol. Kaki gue udah mati rasa nih saking tegangnya." bisik Devian.
"Iya Bagas, buruan! Aku berasa dibunuh oleh tatapan tajam mereka." Kayla ikut berbisik.
Akhirnya, mau tak mau Bagas harus melakukannya. Tangannya terulur untuk memberikan sejumlah uang kepada mereka sebagai balasan ucapan terima kasihnya.
"Aaaaa-anu, Bang, iiiii-ini aaa-ada se-sedikit uang buat jjjj-jajan." Wajah Bagas sudah pucat pasi saat mereka melemparkan tatapan tak suka setelah Bagas memberikan uang itu.
"Apa ini?" ketus mereka tak terima.
"Uang lah, Bang!" Devian langsung menunduk setelah mendapat pelototan dari mereka.
"Kalian pikir kami itu menolong karena ingin mendapatkan uang?" bentaknya masih dengan suara khas mereka.
"La-lalu?"
"Kami menolong tanpa pamrih!" Kata salah satunya.
"Tadi kan Abang bilang ... hanya terima kasih saja nih!" Kayla mengulang ucapan mereka. "Lalu, apa maksudnya itu?"
Mereka malah cengengesan menampakan gigi gingsulnya. "Hehehe, kita gak nerima uang apalagi dari Neng cantik ini."
Bagas dan Devian menoleh ke arah Kayla yang sedang mendapatkan tatapan genit mereka.
"Terus, apa yang Abang berdua ini mau?" tubuh jangkung keduanya menutupi Kayla yang berada di belakang.
Mereka tak terima karena terhalangi. Segera tangannya menarik tangan Bagas dan Devian untuk menyingkir. "Gak terima bayaran berupa uang, tapi nomor telepon!" cetusnya terus tersenyum sepet.
"Hahh?" Mereka melongo mendengar ucapannya.
"Aku gak punya nomor handphone, Bang. Adanya nomor sepatu. Mau?" Kayla terlihat serius.
"Masa sih, Neng?"
"Iya. Aku gak punya handphone, kalau mereka punya. Ya udah, nomor mereka aja ya Bang!" tawar Kayla.
"Masa mau menghubungi mereka sih, Neng! Aku kan maunya lebih deket sama kamu!"
"Mereka deket kok sama aku. Kalau Abang telpon, pasti nyampe deh!" tukas Kayla yang melihat mereka ingin terus berbicara lagi. "Nyampe mereka!" gumaman Kayla tak di dengar.
Bagas dan Devian yang kini sedang protes karena nomor telponnya harus tersebar kepada orang asing apalagi anak punk preman pasar.
"Kay, elu gimana sih! Kenapa malah nomor ponsel kita?"
"Aku kan memang gak punya ponsel, dodol!" sahut Kayla.
"Pantes si Kenzo kalo kangen sama lu langsung cabut ke kontrakan. Ternyata elu gak punya ponsel toh." Kata Bagas.
"Hemh, kenapa gak minta beliin sama si sultan aja. Dia kan banyak duitnya!" Kayla melotot ke arah Devian.
__ADS_1
"Aku bukan cewek matre yang manfaatin cowok kaya, dodol!" Kayla menoyor kepala Bagas dan Devian "Iiihh, gemes banget pengen bejek kalian berdua deh!" lanjutnya kemudian.
"Sorry, Kay!" Mereka menunduk berusaha menghindar dari timpukan tangan Kayla.
Si Abang preman terus memperhatikan mereka yang terus bercanda sampai kesal di buatnya.
Dia pun langsung mencari perhatian dengan bertanya kepada Kayla.
"Namanya siapa Neng? Biar Abang save!" Katanya genit sambil mengeluarkan ponselnya.
Mereka sontak menoleh penasaran dengan mendongakkan wajahnya.
"Weleh, itu ponsel keluaran kapan Bang? Tebal banget kayak batu bata!" ledek Bagas dan Devian.
Kayla menyenggol kedua temannya. "Hush, kalian bisa diem gak? Jangan bikin rusuh nantinya ya!" bisik Kayla.
"Ini ponsel warisan Bapak aku, Dek. Sudah tujuh turunan delapan tanjakan!" Ujar si Abang preman.
Kayla reflek membekap mulut kedua teman Kenzo itu yang akan tertawa terbahak-bahak. "Pftt ... Hhhmmmmm!" Keduanya tak bisa tertawa karena telapak tangan Kayla menutupinya.
Kayla cengengesan. "Hahaha ... iya, bagus itu Bang. Ya udah deh, kita mau temuin Nenek Arimbi dulu ya. Bye ...!" Dengan segera Kayla menarik tangan kedua temannya ke teras rumah nenek.
"Neng ... nomornya mana?" teriak kedua anak punk preman pasar itu.
"Kosong delapan satu ... 3040."
Sejenak mereka termenung. "Kartu apa itu? Baru denger."
"Itu nomor ukuran celana ama sepatu dia, Bang! Hahahaaaaa ..." Bagas dan Devian tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh??"
☘️☘️☘️☘️
Khanza yang sedang mencari keberadaan Kenzo semakin dibuat tak karuan. Pasalnya dia tak tahu harus pergi ke mana untuk mencarinya.
Setelah satu persatu teman-teman Kenzo dihubungi, namun tak ada satupun yang tahu di mana keberadaan adiknya. Terlihat guratan kecemasan pada wajah cantik itu.
"Ke mana lagi sih gue harus nyariin elu, Dek?" Khanza terlihat sangat frustasi. Terlebih orang-orang suruhannya itu tak satu pun ada yang bisa menemukan di mana Kenzo saat ini.
"Percuma gue banyak anak buah tapi gak ada yang becus nyari!" Khanza menggerutu dengan terus mencengkram kuat kemudinya.
Saat sedang kebingungan, dia teringat akan nenek Arimbi, ibu dari ibunya yaitu Kelly.
"Kok gue gak kepikiran rumah Nenek, ya! Apa tuh anak kabur ke rumah Nenek? Secara kan dia paling deket sama Nenek kalo ditinggal Mommy kerja!" Khanza bermonolog sendiri.
Diputarnya kemudi itu menuju arah yang berlainan serta diarahkan mobilnya menuju jalur luar kota.
Mobil hitam itu melesat kencang menerobos guyuran hujan yang cukup deras. Si pengemudi dengan hati-hati melajukan kendaraannya. "Semoga dia benar-benar ada di rumah Nenek!"
Malam semakin larut, namun Khanza tak perduli. Tekadnya saat ini ialah menemukan keberadaan adiknya, yaitu Kenzo.
Cukup lama dia berkendara dengan mobilnya, dan sampai di sebuah perkampungan.
Sebuah desa asri yang jauh akan polusi kendaraan seperti mobil, dan motor membuat siapa pun yang biasa tinggal di kota akan betah dengan suasana pedesaan tersebut.
__ADS_1
...Bersambung ......