Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB.118 JANGAN PERNAH BERKATA TIDAK


__ADS_3

"Aku ingin berbicara padamu." Dara membantu Windu untuk menyandarkan punggungnya. Matanya terasa pedih, menahan sesak di dadanya sendiri.


"Tentang apa?"


"Tentang operasi transplantasi..."


"Kenapa? apakah ada masalah?" Tanya Windu, dia sedikit tegang melihat sikap Dara yang terkesan begitu aneh.


"Pendonornya berubah fikiran?"


"Bukan itu?"


"Kenapa?"


"Aku ingin kamu berjanji "


"Berjanji? Berjanji apa?"


"Jangan pernah berkata tidak padaku."


Windu menatap wajah Dara lekat-lekat.


"Ada apa, sayang?" Windu meraih jemari Dara, sekarang raut itu bingung dan terlihat sedikit waspada.


"Apakah selama ini aku pernah mengatakan tidak padamu?" pertanyaan Windu melunak, ada kabut yang menggantung tebal di mata istrinya itu.


"Berjanjilah...bisakah kamu berjanji padaku, kak Win?"


Windu menatap Dara dalam-dalam, jika Dara memanggilnya dengan kak Win maka dia tahu, ada sesuatu yang tidak biasa-biasa saja.


"Kamu meminta apa?" Tanya Windu sambil terkekeh mengusir ketegangan sendiri.


"Jangan memintaku untuk memberikanmu hadiah honeymoon di Bali lagi...aku belum punya kekuatan untuk itu." Windu tertawa serak, mencoba mencairkan suasana. Tetapi, bukannya tertawa Dara malah menangis terisak di dadanya.


"Ada apa, sayangku? Kenapa kamu aneh begini, biasanya kamu selalu memberiku kekuatan dan menghiburku, kenapa kamu jadi begini?" Windu mengelus rambut Dara yang di ikatnya seadanya itu.


"Ijinkan aku memberikan satu ginjalku untukmu."

__ADS_1


Kalimat itu seperti guntur di telinga Windu.


"Apa yang kamu bicarakan?" Windu terpana,


"Ijinkan aku mendonorkan satu ginjalku untukmu." Ucap Dara di antara isaknya.


"Jangan bercanda!"


"Aku tidak sedang bercanda..."


Windu mencengkeram bahu Dara yang tidak mengangkat wajahnya dari dadanya, dia menghindari mata mereka bertemu.


"Bukankah kamu mengatakan, sudah menemukan orang yang cocok denganku?"


Dara menggigit bibirnya, dia mengangkat wajahnya.


"Sudah berminggu-minggu kita disini, tak ada ginjal yang benar-benar match denganmu. Kamu semakin lemah, cuci darah tak bisa berlangsung selamanya..."


"Sayang...apa maksudmu?"


"Kamu tahu yang sedang kamu katakan?" Windu menyela gusar, bahkan kini dia seakan ingin berontak dari semua selang yang menyambung ke tubuhnya.


"Sayang, kamu sudah berjanji untuk tidak menolakku." Rengek Dara.


"Aku belum mengatakan apa-apa dan aku tak menjanjikan apapun. Lebih baik aku mati, jika harus menerima donor ginjal darimu!" Suara Windu meninggi bahkan sampai terbatuk-batuk, untuk berteriakpun dia terlihat lemah.


"Dokter mengatakan, seseorang masih bisa hidup normal dengan satu ginjal. Jika aku mempunyai dua, apa salahnya aku memberikan satu pada orang yang ku cintai?"Mata Dara banjir oleh genangan air mata.


"Aku bersedia menerima ginjal dari siapapun, bahkan dari orang mati jika mungkin untuk bertahan hidup untukmu dan Sunny. Tapi, aku lebih rela mati jika harus menerimanya darimu." Tolak Windu dengan tegas.


"Sayang, aku tak bisa melihatmu menderita lebih lama lagi." Dara menghapus air matanya dengan punggung tangan.


"Aku juga tidak mau kamu melakukannya padaku. Kamu tahu resikonya? Jika operasi ini gagal maka kita berdua bisa kehilangan nyawa kita! Jika terjadi apa-apa padamu, bagaimana dengan Sunny kita? Dia bisa hidup tanpa aku tapi tidak tanpa kamu!"


"Aku tahu, ini tak akan gagal, kita akan bersama-sama hidup untuk Sunny."


"Sayang, hentikan omong kosong ini."

__ADS_1


"Sayang, aku tak bisa hidup tanpamu, ijinkan aku memperpanjang waktu kita di dunia, meskipun untuk itu aku memberikan separuh dari nyawaku. Aku tak bisa melihatmu menderita lebih lama lagi, aku tak bisa..."


Bibir Windu yang pucat itu gemetar, air matanya meleleh melihat bagamaimana Dara beringsut ke ke kakinya. Dan memeluk serta mencium kedua kaki Windu, dengan tubuh tergoncang.


"Terimalah pengabdianku ini, aku akan menyesal sepanjang hidupku jika aku kehilanganmu hanya karena kamu menolakku. Aku mohon, sebagai istri dan orang yang mencintaimu. Jangan menolakku."


Windu merasakan kakinya itu basah oleh airmata, dia menangis menatap istrinya itu meskipun tak bersuara.


Dia tak mengerti mengapa dia begitu istimewa hingga menerima pengorbanan sedemikian besarnya dari istrinya itu.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Dara? Kenapa?"


"Aku tak mau hidup, jika kamu tak ada di dunia ini. Jikapun aku hidup, aku akan seperti mati. Satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini adalah kamu, selain anak kita. Tapi bukankah kamu sudah berjanji pada mama untuk menjagaku di dunia ini? Bagaimana kamu bisa menepati janjimu jika kamu sekarat begini? Aku ingin kamu tetap hidup supaya aku juga bisa hidup." Dara menjawab dengan kalimat tak putus, suaranya tersendat di sela nafasnya yang setengah memburu.


"Bagaimana dengan Sunny? Kenapa kamu hanya memikirkan kita tanpa memikirkan anak kita?"


"Aku melakukan ini, karena aku memikirkan Sunny. Aku takut...aku takut Sunny tidak dapat memeluk ayahnya, seperti aku. Aku takut, Sunny tak punya kenangan apapun tentang ayahnya, karena itu...sangat menyakitkan." Air mata Dara tak terbendung.


Dara tersedu di kaki Windu, dia menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua perasaannya yang di tahannya selama ini, menumpahkan segenap ketakutan dan kegelisahan yang di bendungnya.


Selama ini dia berusaha kuat dan menghibur dirinya meski sesungguhnya jiwanya rapuh. Dia telah banyak kehilangan dalam hidupnya, ayah dan kakaknya yang meninggal sebelum dia di lahirkan bahkan wajahnyapun Dara tak tahu, Ibunya yang juga pergi bahkan sebelum sempat mengantarnya kepelaminan.


Dia hanya terikat pada Windu, seorang laki-laki yang mempunyai jantung kakaknya dan kini merupakan ayah dari anaknya.


Bagaimana mungkin dia bisa sanggup kehilangan lagi? Dia sanggup bertaruh nyawa untuk memperjuangkan laki-laki ini.


"Aku mencintaimu, Dara...jangan membuatku berhutang lebih banyak lagi padamu." Suara Windu seperti bisikan terdengar parau, tangannya menyentuh dadanya sendiri, dadanya terasa sakit. Jantungnya terasa berdebar keras dan itu membuatnya sesak bernafas.


"Seorang suami tak pernah berhutang apapun pada istrinya, kamu tak punya hutang apa-apa padaku, kecuali hutang atas janjimu untuk terus menjagaku."



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu selalu, ya😅...


...Apalah artinya author tanpa kalian semua, bagaikan sayur tanpa garam😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


__ADS_2