
Hanya beberapa hari kemudian, Bradd, Dan Jenny sudah mengikat janji pernikahan. Di sebuah kota kecil, tempat Abraham di lahirkan, yang juga menjadi tempat kelahiran Bill. Hanya orang terdekat yang hadir di sana, dan menjadi saksi pernikahan mereka. Bill, Simon, Sean, Teresa, dan supir pribadi Bill.
Tidak ada pesta, beserta dekorasi indah. Tidak ada baju pengantin berekor panjang. Yang Jenny kenakan hanya gaun putih yang dibeli Bradd di butik Angelica beberapa waktu lalu. Dan, buket bunga sederhana di dalam genggaman tangannya. Juga tirai tipis menutup wajahnya. Tapi, Jenny tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting baginya, Bradd sudah sah sebagai suaminya. Meski, sejak malam kedatangan Bill waktu itu, ia berusaha menghindar dari Bradd, karena rasa kesal di dalam hatinya.
Saat sesi di mana mereka harus berciuman, Bradd terlihat sangat bimbang. Hatinya menolak untuk mencium wanita yang selama ini sudah ia anggap sebagai putrinya. Jenny yang mengetahui itu, bertindak agresif dengan menjinjitkan kakinya, dan meraih tengkuk Bradd, agar ia bisa mengecup bibir Bradd.
Bradd hanya diam saja, merasakan ciuman Jenny yang hanya sesaat di bibirnya. Bill tersenyum melihat tingkah keduanya. Ia semakin yakin kalau Jenny sudah jatuh cinta pada pria yang sudah merawat, dan mendidik sampai Jenny sebesar sekarang. Sedangkan dengan Bradd, Bill yakin, dilubuk hati Bradd juga pasti memilik perasaan sama, hanya saja, Bradd belum menyadarinya.
Usai menikah, mereka langsung pulang kembali, untuk melanjutkan hidup serta aktifitas mereka seperti biasa.
🌼🌼🍍🌼🌼
Malam hari, setelah pernikahan mereka. Bradd mengetuk pintu kamar Jenny.
Jenny membuka pintu, mereka berdiri berhadapan.
"Masih marah sama Daddy?" Bradd memegang pipi Jenny dengan jemarinya.
"Ummm," Jenny mengangguk dengan bibir manyun. Bradd tersenyum, dicubit pipi Jenny pelan.
"Boleh Daddy masuk?"
Jenny melebarkan pintu, lalu memberi jalan bagi Bradd untuk masuk.
Bradd duduk di tepi ranjang, Jenny duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Daddy sangat menyayangimu Jenny, Daddy tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Daddy tidak ingin kamu kehilangan fokus dari pendidikanmu, karena terlalu sering menonton film.... " Bradd menggantung ucapannya, diliriknya laptop Jenny yang terbuka di atas tempat tidur. Tidak ada suara yang terdengar, tapi matanya menangkap adegan panas dari layar laptop Jenny.
Bradd mematikan laptop Jenny, Jenny diam saja, tidak berusaha untuk protes.
"Jenny," Bradd menatap Jenny, hembusan napasnya terdengar sangat berat.
"Daddy ingin tahu, apa sebenarnya yang membuat kamu suka menonton film seperti ini?"
"Aku sudah dewasa Daddy, sama seperti Daddy, apa yang membuat Daddy sampai harus tidur dengan wanita di luar sana. Aku rasa, tindakan Daddy lebih besar dosanya, dari tindakanku yang hanya menonton saja," jawab Jenny.
"Hanya menonton saja ya? Yakin, hanya menonton saja, tidak menimbulkan efek apapun, Jenny?" Jenny merasa, tatapan Bradd bagai sedang menelanjanginya. Jenny melengoskan wajah, untuk menghindari tatapan Bradd.
"Jenny.... "
"Daddy pilih mana, membiarkan aku menonton film itu, atau merelakan aku berkeliaran di luar sana untuk mencari pengalaman, aku.... "
"Sejak tubuhku tumbuh semakin besar Daddy! Sejak aku mendengar cerita teman-teman wanitaku yang sudah tidur dengan pacarnya. Lihatlah aku, Daddy. Aku masih perawan diantara teman-teman wanitaku yang sudah merasakan disentuh pria. Kurang apa lagi aku menjaga diriku selama ini!" Jenny berdiri di hadapan Bradd, matanya menatap gusar.
"Apa Daddy tidak percaya kalau aku masih perawan? Apa Daddy ingin bukti!?" Jenny menanggalkan celana pendek beserta celana dalamnya sekalian.
"Jenny, bukan itu.... "
"Apa Daddy tidak percaya kalau aku sudah tumbuh semakin besar?" Jenny melepas kaosnya, lalu menanggalkan branya. Kini ia berdiri bugil di hadapan Bradd, yang seperti kehilangan suaranya.
Bradd membuang pandangan, ia bangkit dari duduknya, lalu mengambil selimut, ditutup tubuh Jenny dengan selimut.
__ADS_1
"Aku harus pergi, sebaiknya kamu istirahat," Bradd melangkah meninggalkan Jenny.
"Tunggu!"
Langkah Bradd terhenti, tapi ia tetap berdiri membelakangi Jenny.
"Kalau Daddy pergi, aku juga akan pergi. Kalau Daddy ingin mencari kepuasan dengan wanita lain di luar sana, maka akupun akan melakukan hal yang sama!" ancam Jenny pada Bradd. Bradd menundukan kepala, kedua telapak tangannya dikepalkan. Ia marah pada Jenny, ia marah pada situasi diantara mereka saat ini.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Jenny?" Bradd bertanya tanpa memutar tubuhnya.
"Harusnya Daddy bisa menghargai aku. Kenapa Daddy harus pergi untuk mencari wanita yang ingin Daddy tiduri? Sedang di sini ada aku yang siap untuk menerima Daddy!"
Tubuh Bradd berputar cepat, matanya menatap Jenny dengan tajam.
"Apa yang kamu katakan Jenny. Kamu putriku, sudah aku katakan bukan, sampai kapanpun, bagiku kamu adalah putriku!"
"Oke, aku tidak akan bicara lagi Daddy, tidak akan!" Jenny melangkah mendekati Bradd, Bradd diam di tempatnya, tubuh Jenny yang telanjang melewati tubuh Bradd, Jenny menggapai gagang pintu.
"Apa yang kamu lakukan, Jenny?" Bradd mendorong daun pintu hingga tertutup lagi. Kepala Jenny mendongak menatap wajah Bradd, air mata jatuh membasahi pipinya. Brad menghembuskan kuat napasnya, ditarik Jenny ke dalam pelukannya.
"Jenny.... " Bradd mengecup puncak kepala Jenny.
"Jangan pergi Daddy, jangan temui lagi wanita-wanita penghapus rasa sepi Daddy. Aku tidak ingin mereka mengambil Daddy dariku. Aku tidak ingin terpisah dari Daddy." Jenny terisak di dada Bradd. Bradd mengusap punggung telanjang Jenny. Tanpa sadar, usapannya semakin turun ke pinggul Jenny.
Jenny memejamkan matanya, ia menggigit bibir bawahnya, ia juga lebih mengeratkan pelukannya, dalam hatinya, Jenny berharap, Bradd mau memberi apa yang menjadi keinginannya.
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼