
Baiklah kalau begitu mbak, tapi mas Pras tidak keberatan kan?" tanya Zahra.
"Oh sama sekali tidak. Saya sudah mendiskusikanya dengan mas Pras." padahal Nadia tidak minta pendapat suaminya sama sekali.
" Kenapa harus minta Zahra untuk menemani anak anak? malu dik ngerepotin orang. liat tuh anak anak sangat kecewa." kata Pras.
Dia benar benar tak mengerti dengan jalan pikiran Nadia. Pras semakin kesal pada istrinya saat melihat kedua anaknya yang cemberut sambil duduk menopang dagunya.
"Mas mohon kali ini. bukankah selama ini Mas tidak pernah meminta atau membantah mu. Tolong batalkan rencanamu dengan Susi dan ikutlah kami kesekolah anak anak." kata Pras tegas.
"Sudahlah Mas, hal kecil begini jangan di dramatisir! aku hanya minta waktu sekali saja bukan tiap hari." Nadia mendengus kesal.
"Ibu janji. setelah ini pasti selalu menemani kalian kemanapun. Sekarang di temani tante cantik dulu tidak apa apa kan?" kata Nadia membujuk anaknya.
" Baiklah. tapi janji lain kali ibu akan temani kami." kawab Kayla cemberut.
Nadia merangkul keda anaknya.
"Pasti sayang. Ibu janji."
Akhirnya pras dan kedua anaknya berangkat ketempat ibunya dimana Zahra janji menunggunya.
Sepeniggal Pras. Nadia langsung bersiap siap bertemu Susi.
"Nad, ibu juga mau keluar. Sumpek nih dirumah terus hanya melihat wajah Mar saja. Sedangkan Kalian semua pada jalan jalan."
"Aku tidak jalan jalan Bu, aku mau bertemu rekan bisnisku." kata Nadia sambil memoles sedikit make up di wajahnya.
"Sempurna." ucapnya seraya memutar badan di depan cermin.
Nadia memang tergolong cantik meskipun tanpa polesan di wajahnya. Karna itu pula dulu bu Warsih memanfaatkan kecantikannya untuk mendapatkan barang barang mewah dari setiap pemuda yang dekat dengan Nadia.
"Ibu minta uang dong." ucapnya sambil menadahkan tangan.
Nadia terhenyak. Namun akhirnya dia mengeluarkan dua lembaran merah ketangan ibunya.
"Cuma segini dapat apa? Kata bu Warsih.
"Memangnya ibu mau beli apa? kan baru tiga hari yang lalu aku kasi limaratus ribu."
"Tidak usah perhitungan begitu sama ibu."
Bu Warsih terlihat kesal.
"Kemarin Nadia melihat ibu bawa belanjaan banyak, duit darimana?" selidik Nadia.
"Justru itu Nad, uang yang kamu kasi itu ibu pake beli skin care. tapi tidak tau kenapa sesudah memakainya wajah ibu jadi begini."
Nadia memang melihat perbedaan di wajah ibunya.
"Iih kok jadi merah merah begitu, ibu ketipu kali."
"Mungkin juga. Itulah sebabnya ibu minta uang lima ratus lagi buat kedokter." ucapnya menghiba. Nadia tidak tega juga melihat keadaan ibunya dan memberi uang sesuai permintaanya.
"Setelah ini jangan aneh aneh lagi. Ingat usia bu."
Bu Warsih hanya bisa mengangguk. padahal di hatinya tertawa senang karna dapat mengelabui anaknya.
*****
__ADS_1
Sementara itu Pras dan si kembar sudah bertemu Zahra.
"Ayo berangkat tante, nanti telat." kata Kayla.
"Iya, sebentar sayang." Zahra membujuknya.
"Mas kenapa mukanya keliatan kesal begitu?" yanya Zahra.
Pras berusaha tersenyum di depanya.
"Maaf ya, saya jadi merepotkanmu lagi.
Sebenarnya semua baik baik saja dari semalam.sampai tadi pagi saat Nadya memutuskan pergi bersama temanya.
Dia mengabaikan perasaan anak anak demi egonya. bagaimana saya tidak kesal?"
Zahra tersenyum. lalu dia berkata lagi.
"Mungkin memang urusanya sangat mendadak Mas. Kita harus maklumi."
"Sudahlah. Jangan bahas dia lagi. Saya hanya ingin menghapus kekecewaan si kembar hari ini, tolong bantu saya!"
"Insya Allah Sebisa saya Mas." jawab Zahra.
Setelah pamit pada bu Laila mereka berangkat menuju sekolah si kembar.
Pihak sekolah mengadakan acara peringatan HARI IBU. dan Nadia sebagai ibu justru tidak bisa hadir. hal itu sangat membuat Pras kecewa.
"Selamat datang bapak ibu wali dari ananda Kayla dan Nayla.!" sambut seorang dewan guru yang memegang mikrofon.
Si kembar langsung larut bersama teman temanya meninggalkan Pras dan Zahra yang masih merasa canggung.
Zahra terlihat kaku dengan duduk agak jauh dari Pras.
"Orang tuanya si kembar ya?" tanya seorang ibu yang duduk di dekat Zahra.
Zahra bingung mau menjawab apa. Untunglnya Pras cepat tanggap.
"Iya, saya ayahnya. ada apa ya Bu?" ujar Pras cepat untuk menyelamatkan Zahra.
Zahra menarik nafas lega.
"Anak anak bapak sangat familiar di kalangan ibu ibu wali murid disini. Mereka terkenal ramah, pintar dan lucu. juga kesayangan para guru."
"Owh terimakasih." jawab Pras ikut merasa bangga.
"Pasti kalian mendidiknya dengan baik. Benar benar keluarga idaman." kata ibu itu lagi sambil memandang Zahra.
"Saya.. Saya bukan"
"Aaah tidak usah merendah begitu. memang seorang anak itu cerminan dari orang tuanya, ibunya cantik ayahnya juga ganteng." wanita itu tidak memberi kesempatan Zahra untuk menjelaskan.
Zahra dan Pras hanya mengangguk dengan senyuman yang di paksakan.
"Maaf ya sudah membuatmu terjebak dalam situasi ini." ucap Pras merasa bersalah.
"Santai saja Mas." kata Zahra.
Tibalah saat pertunjukan yamg menampilkan anak anak dengan bemacam kreasi.
__ADS_1
"Kay sama Nay mau menampilkan apa?"
Tanya Zahra sambil merangkul kedua bocah kembar itu.
" Menari tante." jawab mereka.
"Coba ada ibu ya..?" desah Nayla.
"Eit jangan sedih gitu dong. anak Ayah akan tetap menunjukkan kehebatanya walaupun tanpa ada ibu disini." Pras memberinya semangat.
Tiba juga giliran si kembar di panggil.
"Ayo sayang, semangat iya. Tante terus mendukungmu."Zahra dan Pras mengantar mereka sampai di bawah panggung. Tepuk tangan terdengar riuh menyambut penampilan mereka.
Zahra sangat antusias menonton pertunjukanya.
diam diam Pras memperhatikanya. Dia kagum pada pribadi Zahra.
Setelah selesai menari panitia menyuruh orang tua si kembar agar naik panggung untuk menerima penghargaan.
Pras dan Zahra saling pandang.
"Pergilah Mas, saya tidak pantas menggantikan posisi mbak Nadia di panggung itu."
"Tapi anak anak akan kecewa Ra." kata Pras.
"Silahkan Ayah dan Ibu dari Kayla dan Nayla!"
Terdengar suara kembali memanggil mereka kepanggung.
"Saya minta sekali ini ikutlah naik kepanggung. tidak sebagai ibunya tapi sebagai tantenya." kata Pras memohon.
Akhirnya Zahra ikut naik juga. Suara tepuk tangan semakin riuh.
"Sebagai orang tua terutama ibu yang telah berhasil mendidik anak anak dengan baik, silahkan sedikit sambutanya.!"
Zahra gemetar menerima mikrfon itu. Pras dan si kembar memaksanya.
"Ayo ibu.." kata Nayla sepontan membuat Zahra tercengang.
Dengan terbata Zahra mengucap kalimat demi kalimat.
"Saya sangat merasa terhormat bisa berdiri di panggung ini. Dengan berat hati pula saya sampaikan bahwa saya bukan..."
belum selesai mengucap kalimat terahirnya tiiba tiba muncul Nadia muncul dan mengambil alih mikrofon itu.
"Maaf bapak ibu yang terhomat, ada sedikit kesalahan saya adalah ibu dari Kayla dan Nayla.
"Huuuu!" terdengar teriakan kecewa dari para hadirin.
Zahra mundur perlahan dari panggung itu.
Pras benar benar merasa malu, marah, kesal dan semacamnya. Namun karna masih berada di depan orang banyak dia terpaksa memasang senyum palsu.
Nadia terus mengoceh membanggakan keluarga dan kedua anaknya.
Kayla dan Nayla hanya melongo tak mengerti apa yang di katakan ibunya.
💝JANGAN LUPA DUKUNGANYA YA🙏🙏
__ADS_1