
Di sebuah gedung pencakar langit bertuliskan Alberto Grup, para karyawan sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Seorang wanita cantik memakai pakaian kasualnya berjalan dengan elegan dan berwibawa. Semua orang menunduk saat dirinya berjalan.
Kebanyakan para karyawan pria mengagumi kecantikannya. Walaupun mereka menunduk, tapi sesekali mengintip dengan mendongakkan kepala, mata menatap dengan berbinar.
"Nona Khanza cantik banget ya," bisik mereka.
Asisten Khanza yang mendengar bisikan para karyawan pun melemparkan tatapan tajam hingga suasana seketika mendadak dingin karena ekspresi datar sang asisten pribadi Khanza, yaitu Vincent.
Khanza tersenyum melewati para karyawannya, namun Vincent selalu terlihat datar dengan ekspresinya.
"Kerja yang benar, jangan bergosip!" kata Vincent setelah Khnza memasuki ruangannya.
Sontak para karyawan tertunduk saat Vincent menegur mereka. Dia terlihat lebih garang dari sang bos, walaupun hanya seorang asisten pribadi.
Kreeettt ... blugh
Pintu tertutup rapat setelah Vincent masuk ke ruangan, kemudian dia berdiri di samping Khanza.
"Jangan terlalu galak sama mereka, Vin!" ujar Khanza tanpa menoleh sedikitpun.
Vincent hanya mengangkat kedua alisnya tak mengerti. "Hah!"
Khanza memutar kursi kebesarannya ke samping tepat menghadap Vincent, sang asisten pribadinya. "Kalo terlalu galak, kamu bisa jadi jomblo seumur hidup!" cibirnya kemudian seraya berdiri.
"Nona Muda terlalu mengkhawatirkan. Saya bisa mengurus hidup saya sendiri," ujar Vincent datar.
"Ckkk ... ayolah, Vin!" Khanza menepuk bahu Vincent yang terlihat tanpa ekspresi.
Lagi dan lagi Vincent hanya menanggapi dengan ekspresi datarnya. "Terima kasih, Nona Muda!" Khanza hanya menggelengkan kepala ketika melihat sikap yang ditunjukan Vincent padanya.
__ADS_1
∆∆∆∆
Khanza dan Vincent adalah sahabat dari kecil. Mereka pernah berpisah saat Khanza dibawa pindah orang tuanya ke luar negri karena permintaan Tuan Redrigo Alberto.
Suka dan duka mereka lalui bersama, serta keduanya pun selalu saling tolong menolong. Namun pada saat keluarga Vincent dalam keadaan terpuruk, Khanza tidak bisa membantu sebab dirinya tak ada di dalam negri.
Vincent yang tak tahu jika Khanza sudah dibawa pindah ke luar negri oleh keluarganya pun mengira bahwa temannya itu tidak perduli lagi terhadapnya.
Perusahaan keluarga Vincent jatuh bangkrut membuat kedua orang tuanya sakit karena memikirkan. Hutang yang semakin membengkak bunganya membuat mereka jatuh sangat cepat.
Saat itu, Vincent berusaha mencari Khanza untuk meminta bantuannya. Namun, Khanza tidak ditemukan di manapun. Hati Vincent sangat terluka sebab sahabatnya itu ternyata sudah tidak perduli terhadapnya dan tak mau tahu atas penderitaannya. Vincent pulang dengan kekecewaan yang mendalam kepada sahabatnya itu.
Setiba di rumahnya, dia mendapat kabar kalau ayahnya masuk rumah sakit.
Vincent kemudian menyusul ke rumah sakit untuk menemui sang ayah. Tapi, kenyataan pahit harus ia telan. Tanpa sempat bertemu, ayahnya sudah lebih dulu menemui sang khalik. Ayahnya meninggal karena serangan jantung sesaat setelah menerima nota hutang yang harus dibayar olehnya.
Perusahaannya di akuisisi oleh perusahaan yang lebih besar sebagai pelunasan hutang dengan bunganya yang semakin menggelembung.
Karena untuk menutupi hutang perusahaan yang lumayan besar, keluarga Vincent kembali meminjam uang kepada rentenir dengan jumlah yang sangat besar.Oleh karena itu, sang ayah memberikan sertifikat perusahaan dan rumah sebagai jaminan.
Hancur sudah hati Vincent saat itu. Dia berharap jika para sahabatnya bisa menolong untuk keluar dari keterpurukan. Tapi ternyata sahabatnya seolah tak perduli, bahkan mereka tidak ada yang menemani disaat kesedihan mendalam yang dialaminya karena kepergian sang ayah untuk selamanya.
Sebulan kemudian, sang ibu jatuh sakit. Penyakit yang diderita ibunya perlahan menggerogoti tubuh sampai menjadikannya kurus. Vincent tidak bisa memberikan pengobatan terbaik untuk ibunya sebab dia tidak mempunyai uang. Ibunya hanya dirawat di rumah dengan pengobatan seadanya.
Selang beberapa hari, ibunya pun menyusul sang ayah untuk menemui sang khalik dan beristirahat untuk selamanya.
Hari demi hari Vincent lalui dengan kesedihan dan penyesalan. Dia merasa tak berguna karena tak bisa melakukan apapun untuk ayah dan ibunya disaat mereka menderita.
Vincent pun membenci sahabat kecilnya itu sebab mengira jika Khanza tidak mau menolong dirinya disaat ia membutuhkan uluran tangan sahabat tersebut.
Tujuh tahun berlalu, Khanza dan keluarga kembali ke dalam negri. Tapi, Vincent tidak tahu jika Khanza baru saja kembali. Pria itu beranggapan jika sahabatnya sengaja menghindar supaya tidak mau direpotkan.
__ADS_1
Khanza mendatangi rumah Vincent saat dia kembali. Tapi, rumah itu sudah bukan milik keluarga Vincent lagi melainkan milik orang lain yang membeli ya tujuh tahun lalu.
Dari sana lah Khanza diberi tahu jika ayah dan ibunya Vincent sudah meninggal serta semua aset berharga milik keluarga disita oleh pihak Bank juga rentenir.
Khanza berusaha mencari keberadaan Vincent namun tetap tidak menemukannya di manapun.
Saat mobil Khanza tak sengaja melewati sebuah jembatan, disitu ia melihat seorang pemuda yang sedang menggendong sebuah keranjang berisikan dagangan.
Khanza berlari ke arah pemuda itu setelah turun dari mobilnya.
Saat sudah berada di hadapan pemuda itu, dengan erat Khanza memeluknya karena pemuda itu ternyata memang benar sahabat masa kecilnya, Vincent.
Gadis itu menangis melihat kondisi sahabatnya tersebut saat ini, tapi Vincent mendorong tubuh Khanza bahkan ia menghindar dengan pergi meninggalkannya.
Khanza terus mengejar Vincent untuk menjelaskan apa yang terjadi, namun sahabatnya itu tetap tak mau mendengar penjelasannya.
Sebuah tinju hampir saja mendarat di wajah cantik Khanza dengan sangat keras jika saja gadis itu tidak cepat menghindarinya. Namun, tetap saja pukulan itu mengenai pipi Khanza dan melukai ujung bibir sehingga mengeluarkan darah segar.
"Bodoh ... kenapa elu nggak menghindar?" bentak Vincent kepada Khanza yang hanya tersenyum. "Lu ingin gue memukul wajah cantik lu sampai semua pemuda nggak melirik lagi, heh!" Vincent mencengkram kuat ke dua bahu Khanza.
Khanza tertawa merasakan perih di ujung bibirnya yang sobek, namun justru itu membuat Vincent menangis. "Keluarin semua beban di hati lu. Jangan lu simpen sendiri!" Vincent semakin keras menangis. "Maafin gue atas ketidak tahuan ini," lanjutnya kemudian.
Cukup lama Vincent menangis di pelukan Khanza sampai sesenggukan, kemudian mereka duduk berdampingan di pinggir sungai di bawah jembatan itu.
"Lu harus ikut gue!" pinta Khanza.
Vincent menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau hidup atas rasa kasihan orang lain. Gue udah gak butuh bantuan siapapun," jelas Vincent dengan nada kecewa.
"Gue tahu, lu gak bakal butuhin bantuan dari gue lagi. Tapi kali ini, gue yang butuh bantuan lu!" Vincent menoleh atas perkataan Khanza yang terdengar serius. Ada nada kekhawatiran dari perkataan Khanza kali ini.
Tanpa di minta dua kali, Vincent mengangguk pertanda setuju dan jadilah Vincent yang sekarang. Seorang asisten pribadi dari Khanza di perusahaan Alberto Grup.
__ADS_1
Vincent yang dulu humoris, mudah bergaul, dan pandai menggoda orang, kini berubah menjadi dingin dan kaku setelah kejadian waktu itu.
...Bersambung .......