
Windu menarik istrinya itu, masuk ke ruangan kerjanya. Memberi kode agar dua pengawal Dara berjaga di pintu dan memberi instruksi pada mereka.
"Tak ada yang boleh masuk kecuali ada gempa, kebakaran dan perang dunia!" Ucapnya sambil menutup pintu.
Dua orang bodyguard itu hanya mengangguk, mereka tak ingin mencari masalah dengan tuan mudanya itu, jika banyak bertanya lagi.
Dara sudah melepas paid blazernya sambil tersenyum puas. Berdiri di dekat sofa tamu, tempat dia meletakkan tas dan outfitnya. Windu mengernyit dahi, tidak pernah Dara bersikap semanja ini rautnya pada Windu.
"Kenapa kamu datang kemari, sayang?" Tanya Windu menghampiri istrinya itu, memeluk Dara dengan wajah yang segera berubah senang.
Tentu saja Windu senang dapat kunjungan khusus dari nyonya mudanya ini, dia sangat tidak suka menunjukkan diri karena sikap introvertnya, tapi hari ini sang istri yang tak banyak bicara dan sebenarnya pemalu ini datang seperti seorang aktris di drama korea.
"Aku hanya kangen kak Win..." Jawab Dara, pendek. Wajahnya merona menanggapi pertanyaan Windu.
"Eh, kenapa panggil kak Win lagi, tadi kamu panggil-panggil sayang di bawah..." Goda Windu sambil menaikkan alisnya, mencium si istri yang terlihat lebih bersinar dari biasanya.
"Akh...Kak Win..." Dara merajuk, wajahnya merona, dia memang tak biasa memanggil Windu sayang, tetapi Windu yang selalu memanggilnya dengan panggilan itu.
Hanya saja di depan para gadis yang terlihat menatapnya dengan aneh itu, dia merasa perlu menandai teritorinya dengan cara yang halus, termasuk memanggil Windu dengan panggilan sayang di depan orang banyak.
"Aku suka kamu memanggilku dengan sayang." Windu menarik tangan Dara dan mengaitkan tangan istrinya itu di lehernya, sehingga wajah Dara terpaksa mendonggak kepadanya.
"Aku...aku tak sengaja tadi." Dara tak berkutik dengan wajah tersipu.
"Hai...lihatlah istriku ini tiba-tiba sedikit berdandan, tak seperti biasanya." Windu memicingkan matanya, membuat Dara segera menundukkan wajahnya.
"Senamg akhirnya, pakaian yang di jejali mama ke dalam ruang wardrobe yang di buatkan khusus untuk menantunya itu, akhirnya kamu kenakan juga." Windu menatap Dara dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengagumi Dara dalam balutan dress pendek panjang tangan dengan aksen yang sederhana tapi terlihat wah itu.
"Aku harus mengenakannya sekali-kali, biar mama senang."Jawab Dara mencari-cari alasan berkelit, sedikit malu di tatap Windu sebegitu terpesonanya.
"Ya, kita shopping sekali-kali biar pakaian nyonya muda ini up to date."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku suka semua pakaian yang dibelikan mama."
"Tapi, bajunya koleksi lama itu."
"Aku tetap suka." Sahut Dara, membuat Windu menyeringai, dia tahu istrinya itu kadang keras kepala, meskipun untuk hal yang sepele.
"Hey, bisa aku memandang wajahmu lebih lama?" Windu menahan dagu Dara supaya tidak bergerak, bolanya bergerak-gerak membalas tatapan Windu.
"Sayang...kamu tampak semakin cantik dengan sedikit warna nude di kelopak matamu, mascara dan lipstik soft pink ini membuatmu terlihat sangat fresh, aku menyukainya." Windu menyasar wajah Dara, mendaratkan ciuman di kelopak mata istrinya itu dengan gemas.
"Akh...aku hanya..."
Belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya, Windu mengangkat dagu Dara, lalu mengecup bibirnya yang sedikit terbuka karena berusaha menyelesaikan kalimatnya itu.
"Sayang, aku menyukai surprisemu hari ini." Bisik Windu dengan suara parau, siang-siang bolong begini, entah mengapa meskipun belum makan si unyil tiba-tiba menggeliat pada waktu dan tempat yang tidak tepat.
"Akh, kak Win...ini kantormu, lho." Dara menggelengkan kepalanya sedikit, melepaskan ciuman Windu yang begiku melekat.
Windu merengut kesal, menerima penolakan halus dari Dara, gestur sang istri menunjukkan dia agak canggung dengan apa yang coba di lakukan oleh suaminya itu.
"Aku tadi ada meeting sebentar dengan manejer hotel, mendengar evaluasi kinerja untuk bulan ini. Kebetulan lewat kantormu, tiba-tiba aku ingin singgah di sini." Dara menaikkan alisnya tanpa dosa.
"Eh, kenapa kak Win ngomong begitu, aku tidak boleh kemari, begitu?" Wajah manis itu tiba-tiba berubah pias menjadi masam.
"Bukan begitu, sayang...maksudku, kamu bisa telpon, kalau memang mau kemari, jadi anak-anak di bawah itu tidak menyulitkanmu seperti tadi."
"Maksudnya? Aku harus ijin dulu kalau mau datang atau ketemu kak Win?"
"Bukan begitu...aduuuh..." Windu menggaruk-garuk kepalanya sendiri sambil melihat wajah Dara yang mulai manyun.
Sejak dia hamil, Dara sangat sensitif dan sedikit cengeng. Windu sendiri bingung dengan perubahan emosi sang istri yang seperti roller coaster itu.
Dokter memang bilang, itu normal saja, mood ibu hamil memang dipengaruhi oleh hormon kehamilannya. Perubahan fisiknya, rasa capek dan lelah juga sangat berpengaruh pada psikologis ibu hamil ini.
__ADS_1
Tapi, tetap saja Windu belum terbiasa dengan perubahan sang istri yang biasanya mandiri dan kuat itu, berubah menjadi cepat ngambek dan kadang sikap Dara menjadi jauh di luar kebiasaannya.
"Apa asistenmu itu lebih cantik dari aku?" Tanya Dara sambil masih manyun.
"Tentu saja, istriku lebih cantik dari siapapun." Jawab Windu cepat.
"Kalau begitu, aku akan jadi tamu tetap di kantormu ini sampai Ricky balik kerja lagi. Aku akan menemanimu makan siang jika kamu tidak ada pekerjaan atau pertemuan di luar kantor."
"Haaah..." Windu tercengang mendengar pernyataan sang istri.
"Tidak boleh, ya?"
"Yaaa....boleh, siapa yang melarang, cuma...nanti kamu capek lho kalau bolak-balik ke sini."
"Akh, tidak apa-apa. Anggap saja aku liburan di kantor kak Win."
"Sayang, orang liburan ke pantai, ke luar negeri, ke mana-mana...kamu malah mau liburan di kantor." Windu menepuk jidatnya, sekarang dia sadar istrinya itu sedang mode cemburu tapi gengsi mengatakannya.
Dara tak menanggapi omongan Windu, melepaskan diri dari pelukan Windu lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah foto ukuran 5R, dengan Frame yang di rancang untuk meja.
"Aku juga membawa foto ini untuk meja kak Win, siapa tahu kak Win perlu perlu untuk...untuk ngusir tikus." Dengan acuh tak acuh Dara meletakkannya di atas meja kerja Windu yang hanya ada sebuah vas bunga dari akrilik selain unit komputer dan beberapa dokumen yang sepertinya sedang berusaha di selesaikan Windu, sebelum Dara tiba.
Foto itu adalah sebuah foto selfie Windu dan Dara di jalan malioboro, Jogja. Di ambil pada saat hari-hari terakhir mereka di Jogja. Terlihat mesra dan natural.
Windu melongo, melihat pada sang istri yang berubah begitu ajaib dalam sekejap.
Dia tidak bilang sedang cemburu tapi sikapnya benar-benar menunjukkan dia begitu ingin menandai wilayahnya dan kepemilikannya.
Ternyata rasa cemburu Dara membuatnya menjadi begitu manis dalam proteksinya, Windu merasa tersanjung dalam hati, sekali-kali di cemburui ternyata menyenangkan.
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikanš...
__ADS_1
...I love you allā¤ļø...