Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 160


__ADS_3

Happy reading


❤️❤️❤️❤️❤️


“Aku ... aku ... menerimanya,” sahut Laura pelan dengan suara nyaris tidak terdengar oleh Jonathan.


Jonathan memejamkan mata, meredam segala emosi yang kini mulai merasuki jiwanya. Dia tidak pernah menduga Laura, kekasih yang sudah bersamanya selama empat tahun tega menghianatinya dengan atasan sekaligus sahabatnya sendiri. Selama ini Jonathan selalu memenuhi keinginan Laura, dia menyerahkan seluruh hati dan cintanya untuk Laura, tetapi wanita itu tega membalasnya dengan luka. Sakit walau tak berdarah.


Jonathan harus membuang napas dengan kasar berkali-kali agar emosinya tidak meledak saat itu juga.


Laura meraih jemari Jonathan yang terulur di atas meja. “Maafkan aku, aku ....” Ucapan Laura terhenti karena pelayan datang membawakan pesanan mereka.


“Silahkan Tuan dan Nona, dinikmati makanannya,” kata pelayan itu.


Laura tersenyum dan mengangguk. Kemudian pelayan itu meninggalkan mereka.


“Aku ....” Laura ingin melanjutkan ucapannya, tetapi Jonathan bangkit dari kursinya dan meninggalkan dia tanpa ucapan apa pun.


Jonathan bergegas menuju parkir mobilnya setelah itu masuk dan membanting pintu mobil.


“Sial!” Dia mengumpat dan memukul kemudi mobil. “Brengsek!” umpatnya lagi. Entah umpatan itu dia tujukan pada siapa. Puas menjambak rambutnya sendiri dia melipat tangannya pada kemudi dan membenamkan wajahnya di sana.


Selang berapa lama dia melihat bayangan Laura keluar dari pintu kafe dan berjalan ke arahnya. Dengan cepat Jonathan menyalakan mesin mobil, lalu memutar kemudi, dan melaju keluar dari kafe itu meninggalkan Laura. Sepanjang jalan Jonathan terus mengumpat dan meluapkan kekesalannya.


Karena tidak punya arah tujuan, dia memutuskan menuju kelab malam untuk menghabiskan waktu di sana. Dia benar-benar kecewa pada Laura, hatinya benar-benar hancur. Kesetiannya selama ini dibalas dengan penghianatan. Bahkan dengan sahabat sekaligus atasannya sendiri.


“Kalian brengsek!” Jonathan kembali mengumpat setelah meneguk minumannya. Entah sudah berapa gelas dia habiskan. Tubuhnya sudah mulai limbung. Padahal, dia bukanlah pria peminum dan pemabuk. Namun, hari ini dia hanya ingin melupakan masalahnya, melupakan kekecewaannya.

__ADS_1


“Tidak, Tuan. Anda sudah minum sangat banyak,” tolak bartender saat Jonathan meminta gelas minuman lagi.


“Aku bayar semuanya,” katanya kesal. Matanya sudah memerah dan tampak tidak fokus.


“Tidak, sebaiknya Anda pulang. Saya lihat Tuan Jonathan datang sendiri kali ini. Saya khawatir Anda tidak bisa menyetir,” ujar bartender yang ternyata mengenal Jonathan. Tentu saja, mereka mengenal Jonathan karena kelab ini langganan Reyhan dengan teman-teman bisnisnya yang kadang meminta membicarakan bisnis dengan suasana berbeda.


"Kenapa kau harus ikut-ikutan brengsek malam ini." Dengan kesal Jonathan bangkit dari kursi dan meninggalkan bartender itu. Langkahnya gontai menuju parkir mobil.


Setelah menyetir dalam keadaan ekstrim, dia akhirnya sampai dengan selamat di apartemennya. Meskipun harus banyak menuai umpatan pengemudi lain di jalan karena gaya mengemudi Jonathan yang seenaknya.


Laura segera menghampiri Jonathan begitu pintu terbuka, dia berniat menopang bahu Jonathan. “Jonathan, kau mabuk?” tanyanya cemas.


“Ngapain kau di sini?” Mendorong tubuh Laura kesal. Dia melangkah dengan gontai menuju sofa.


“Aku khawatir padamu, makanya aku menunggumu di sini.” Menyusul Jonathan duduk di sofa. Raut kecemasan terlihat jelas di wajah Laura.


Laura menitikkan air mata saat menyentuh pipi Jonathan. “Maafkan aku, kau jadi seperti ini karena keegoisanku.”


Jonathan menepis tangan Laura. “Jangan berpura-pura manis lagi di hadapannku!” Melepas dasi. "Pulang sana! Kembali pada calon suamimu yang Sultan itu." Jonathan merasa gerah, ditambah kenyataan tentang Laura membuat tubuhnya bertambah panas. Dia membuka dua kancing teratas kemeja yang dia kenakan untuk menetralisir panas tubuhnya.


“Aku tidak berpura-pura Jo, aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Kau tahu aku sangat menyayangimu.” Meraih wajah Jonathan agar menatap wajahnya yang sudah dibanjiri air mata. Jujur dari hati Laura yang terdalam, dia sakit melihat Jonathan yang hancur seperti ini. Namun, untuk menolak lamaran Reyhan, itu juga tidak mungkin dia lakukan. Kariernya dan Jonathan akan dipertaruhkan.


Jonathan menatap Laura dengan mata sayunya. Dia mengerjap pelan beberapa kali. “Benarkah?” tanyanya dengan suara serak.


Laura mengangguk pasti. "Aku mencintaimu, Jo." Laura membingkai wajah Jonathan.


"Apa buktinya kalau kau mencintaiku?" Mata Jonathan semakin sayu.

__ADS_1


Laura menelan ludahnya, perlahan dia meraih telapak tangan Jonathan, lalu meletakkannya di dada. "Kau bisa rasakan sendiri ... dia selalu berdetak untukmu."


Sepasang manik teduh milik Jonathan beradu dengan manik kehijauan milik Laura. Mereka berpandangan lekat, menyelami isi pikiran masing-masing. Entah karena suasana, juga rasa cintanya pada Laura, ditambah pengaruh alkohol, Jonathan menarik pinggang Laura. Merapatkan tubuh Laura ke tubuhnya. Perlahan mendekatkan wajah mereka hingga semua jarak terkikis. Dengan mudah Jonathan menempelkan bibirnya ke bibir Laura yang sudah siap untuknya.


Sesapan dan tautan terjalin sempurna. Yang tak bertulang milik Jonathan melesak masuk, bergerak ahli dan memuja di dalam sana. Lama bibir dan lidah mereka saling bertaut, mengecap, menyesap rasa, memuaskan dahaga masing-masing. Jonathan tidak mampu lagi mengendalikan diri, ciumannya semakin dalam dan Laura menyambutnya dengan penuh gairah.


Entah bagaimana ceritanya kini tubuh Laura sudah terbaring di bawah kungkungan Jonathan. Jonathan merasa gerah. Rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh hingga mencapai ubun-ubun seolah ingin meledak di sana. Dengan cepat dia melepas kemeja yang dia kenakan.


Jonathan kembali menatap Laura seolah meminta persetujuan. Laura membalas dengan senyuman. Tangannya terulur melingkar di leher Jonathan. Memainkan anak rambut di sekitar leher.


"Kau yakin?" Tatapan Jonathan sudah dipenuhi kabut gairah. Napasnya memburu. "Kau akan merasa sakit."


"Aku siap, Jo." Jemari Laura menyusuri setiap lekuk wajah Jonathan. Dahi, alis, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir tipis tapi penuh milik Jonathan. Dia ingin menghafal setiap inci wajah pria itu.


Jonathan memejamkan mata menikmati sentuhan jemari Laura di wajahnya. "Begitu aku masuk, aku tidak bisa mundur lagi," ucap Jonathan dengan suara serak dan dalam.


"Hm, aku terima." Laura tersenyum dan mengangguk. "Aku sangat mencintaimu, Jo. Aku ingin kau menjadi pria pertamaku."


"Dan kau adalah wanita pertamaku." Jonathan menunduk untuk mencumbu Laura kembali, menyentuhnya semakin dalam, semakin intens. Mereka sama-sama terlena dalam kabut gairah yang menggebu, terbuai dalam sentuhan lembut, hingga akhirnya tenggelam dalam lautan kenikmatan yang memabukkan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Halo sayang-sayangku, bagaimana kabar hari ini? Ada yang nungguin aku, kah? (ngarep) 🤭


Aku udah up banyak lho jangan lupa like dan komen yang banyak juga ya hehe😁 komen dari kalian pasti aku baca walaupun kadang2 aku gak bisa balas🤭 aku orangnya introvert guys, terkadang bingung sendiri nyusun kata buat balas komen kalian🥺 but, aku apresiasi banget buat kalian yang tetap dukung aku apa pun itu yang jelas yang positif. Dukungan kalian adalah penyemangatku🤗


Ok, thanks of all, see u next chapter ya guys😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2