Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 32


__ADS_3

Pagi harinya Nadia terbangun kesiangan.


Pras dan anak-anaknya sudah tidak ada.


"Mar, bapak sama anak-anak dimana?" tanyanya sambil menguap.


"Mereka sudah keluar dari tadi Bu, katanya mau olahraga."


"Owh.. Ya, sudah."


Bu Warsih yang kebetulan hendak kedapur, berhenti saat melihat Nadia duduk di depan tv.


"Nad, kau tidak khawatir dengan kejadian akhir-akhir ini?" ujarnya serius.


"Maksud ibu apa?" jawabnya cuek.


"Anak-anak mulai menjauhimu. Bisa-bisa kau akan kehilangan mereka selamanya," kata bu Warsih hati hati. Dia takut di tuduh memanas-manasi anaknya. Padahal kenyataanya memang iya.


"Aku tidak berpikir sejauh itu Bu," jawabnya masih cuek. Tapi sejujurnya, dia merasa khawatir juga. Sudah kepalang tanggung, pikirnya. Ia pun berjanji dalam hatinya.


Setelah bisnisnya berjalan lancar, Ia akan memperbaiki semuanya.


"Ibu sudah mengingatkanmu lho.!" ucap bu Warsih kecewa.


Ting!


Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya.


[Nad, datanglah kesalon, penting] bunyi pesan dari Susi.


"ini kan sudah sebulan lebih, muudah mudahan Susi membawa kabar baik," pikir Nadia.


Ia bergegas mandi dan berdandan seperlunya.


"Mbak Nadia cantik sekali.." sebuah suara mengagetkanya. Saat Nadia menoleh, dilihatnya Rosti sang adik ipar tengah menatapnya dengan takjub.


"Kamu mau seperti aku?" tanya Nadia.


Rosti mengangguk antusias.


"Kurangi makanmu!" ketusnya, membuat Rosti melengos dan menelan ludahnya.


"Aku juga ingin mMbak, tapi susah selali membendung hasrat untuk makan," keluhnya tak bersemangat.


"Sepintas Rosti melihat tas mahal Nadia. Matanya terbelalak sambil berkata,


"Waw.. Ini bagus banget mbak, apalagi kalau mbak yang pakai, pasti tambah bagus," celetuk Rosti tanpa sadar.


"Kamu suka?"


Mata Rosti semakin membulat. Ia mengangguk pasti.


"Suka sekali mbak,"


Nadia termenung sejenak.


"Tak ada salahnya lah aku kasi dia, toh keuntungan yang ku dapat dari Susi dan menggandakan uang nominalnya sangat fantastis," ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


"Nih Ambil deh buatmu satu!"

__ADS_1


Rosti tak menyangka, kakak iparnya akan memberikan salah satu dari koleksi tas mahalnya.


"Terimakasih mbak, mbak Nadia memang betul-betul kakak yang pengertian," ucapnya polos.


"Itu tidak seberapa, nanti kalau bisnisku berjalan lancar, aku akan membelikanmu barang yang lebih bagus lagi, tapi ingat! Itu semua tidak geratis. Sebagai gantinya, kamu harus bantu menjaga si kembar," ucap Nadia enteng.


"Tentu mbak, mbak tenang saja." Rosti berlalu dengan mata berbinar karna gembira.


Saat Pras datang dengan kedua anaknya, Nadia sudah rapi.


"Mau kemana pagi begini Dek?" tanya Pras penuh selidik.


Nadia terdiam sejenak.


"Kalau aku bilang mau ketemu Susi pasti mas Pras tidak suka. Aku malas berdebat," pikirnya.


"Mau ke Spa mas, beberapa hari ini badanku pegal-pegal semua." jawaban Nadia tidak memuaskan Pras. Ia menilik dandanan istrinya.


"Ini hari minggu, alangkah baiknya kalau kita luangkan waktu buat anak-anak," kata Pras mengingatkan.


"Iya, aku ngerti. Tapi cuma sebentar kok, satu jam, aku janji." Nadia melengkungkan kelingkingnya.


Walaupun dengan berat hati,


akhirnya Pras membiarkan istrinya pergi.


"Lho ibu kemana? janjinya kan mau ke mall sama kita?" kata Nayla yang tiba-tiba sudah di belakang ayahnya.


Pras berjongkok di depan Nayla.


"Kita tunggu ibu pulang dulu ya, hanya sebentar kok." Pras berusaha menghibur Nayla.


"Tapi kalau ibu tidak datang juga, kita saja yang pergi." sambung Kayla cemberut.


Derrrt derrrt..


"Ya Shof, ada kabar apa?" tanya Pras.


"Hendra berulah lagi mas, kali ini istrinya yang datang menerorku," keluh Shofia di ujung sambungan.


"Yang sabar ya, saya akan coba membicarakan ini dengan Arif dulu, kita akan putuskan langkah selanjutnya."


"Terima kasih mas." ucap Shofia dengan suara serak, lalu memutuskan sambungan.


*


*


*


Sementara itu, Nadia sudah sampai di salon dan bertemu Susi.


"Nad, kau memang membawa keberuntungan," ucap Susi dengan mata berbinar.


"Maksudnya?" tanya Nadia tak mengerti.


"Bulan ini omset salon naik drastis, kau tau apa artinya itu? kau juga dapat untung yang berlipat," kata Susi antusias.


"Benarkah?' tanya Nadia tak percaya..

__ADS_1


"Nih coba kau periksa detil pembukuanya!"


Nadia yang memang tidak mengerti tentang menejemen salon, hanya mengangguk mengiyakan. Dalam bayanganya cuma uang dan keuntungan yang akan dia dapat.


"Aku transfer langsung ya, tapi pembagian labanya doang lho, modal uang yang kau tanam masih utuh," ujar Susi, membuat Nadia semakin terbang.


"Kau boleh kasi tau mas Pras dengan keuntungan yang kita dapat sebulan ini,. Mudahan dia berminat untuk tanam modal yang lebih besar." kata Susi lagi dengan penuh harap.


"Kau tenang saja Sus, kalau begini caranya tiap bulan sih, mas Pras pasti tergiur," ucap Nadia semangat.


"Iya, soalnya yang ku tangkap dari sikap suamimu itu, dia kurang percaya padaku," keluhnya pada Nadia.


"Alaah.. Jangan di ambil hati Sus, kayak baru tau dia saja."


Karna mabuk oleh nominal uang yang di tranfer Susi, Ia lupa kalau sudah berjanji cuma


Satu jam untuk pulang lagi kerumah.


Derrrt derrrt... Nadia tidak sadar kalau ponselnya bergetar. Ia terbawa suasana hatinya yang sedang gembira.


Sedangkan Susi melirik ponsel itu yang tertera nama mas Pras di layarnya. Ia bisa merlihat dengan jelas dari posisinya duduk saat itu. Tapi dengan sengaja ia mendiamkanya.


"Sebenarnya aku lagi galau dari semalam,"


Kata Susi.


"galau? Apa yang bikin kau galau?" cecar Nadia. Tak percaya.


"Ada teman yang ngajak kerjasama juga, dia supliyer produk kecantikan yang lagi viral itu, Nah sekarang dia di tunjuk dari pusat, untuk jadi distributor resmi di daerah ini, tapi sayangnya dia kepentok di modalnya."


"Ooh," mulut Nadia membentuk hurup O.


Ayo minum lagi kopinya!" ucap Susi dengan ramah.


"Makasih ya Sus, kau telah membuka mataku. Bahwa seorang wanita akan di hargai oleh kerabat maupun suaminya kalau dia punya penghasilan sendiri,"


"Bukan karna aku, tapi memang karna kau cerdas untk segera menyadarinya," puji Susi.


Nadia tak sengaja menggeser letak tasnya yang di atas meja.


praakk!


Ponselnya terjatuh. Saat otulah ia menyadari, bwgitub banyak panggilan dari Pras.


"Astaga Sus, aku harus pulang, ternyata mas Pras sudah menghubungiku sepuluh kali." ucapnya dengan panik.


Tanpa menghiraukan Susi yang berteriak menahannya, ia bergegas menuju mobilnya.


"Nanti kabari aku kalau ada apa-apa ya..!"


Nadia masih sempat berteriak pada Susi.


Ia melajukan mobilnya dengan kencang. Tak perduli dengan lalu lintas yang cukup ramai.


"Mas Pras pasti marah banget kali ini. apalagi Anak-anak, alasan apa lagi yang harus ku pakai." rintihnya penuh penyesalan.


Nadia tidak bisa membayangkan kekecewaan di mata Pras maupun ana-anaknya.


Ia bertambah kalut saat terjebak di lampu merah.

__ADS_1


"Sial..! Aku sudah telat dua jam. Maafkan aku Mas."


💝TOLONG DI DUKUNG YAA..!


__ADS_2