Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 29


__ADS_3

"Bagaimana bisnismu dengan Susi?"


"Alhamdulillah sejauh ini sesuai harapan," jawab Nadia dengan wajah berseri.


Lena tersenyum kecil menanggapinya.


"Oh, ya. Sudah berapa lama kenal ustadz, siapa namanya?" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.


"Ustadz Hamza. Memaang Kenalnya baru sebulan ini.. Tapi aku lihat jamaahnya lumayan banyak. Dan kajian kajianya juga berbobot. Walaupun aku baru ikut dua kali," terang Lena.


"Kenapa? Cecar Lena saat melihat Nadia terdiam.


"Tidak apa apa."


Mereka sampai di tempat tujuan. Tempat itu terlihat masih sepi, tidak seperti layaknya akan ada pengajian atau ceramah. Hanya ada beberapa orang yang duduk duduk mengobrol.


Usut punya usut ternyata acara kajian ustadz Hamza di undur sampai besok.


Lena merasa tidak enak pada Nadia.


"Maaf ya Nad, ternyata di undur jadi besok acaranya."


"Tidak apa. Besok kan masih ada waktu," jawab Nadia.


"Ya, sudah. Kita balik saja," ajak Lena.


Mereka sudah masuk kedalam mobil saat seseorang berteriak,


"Ustadz datang!"


Nadia dan Lena saling pandang.


"kata mereka kajianya di undur besok. Kok ustadz nya datang," gumam Lena penuh keheranan.


"Bentar ya Nad, aku pingin liat. Ada apa mereka berdesak desakan disitu."


"Tanpa menunggu persetujuan Nadia, Lena menyeruak kerumunan orang orang.


Lena sungguh tercengang. Ustadz Hamza duduk dengan tenang di kelilingi orang orang yang berdesakan.


Nadia yang merasa gelisah karna Lena tak kunjung datang, Jad ikut turun dari mobil.


"Ternyata ustadz Hamza juga membuka praktek pengobatan," bisik Nadia pada dirinya sendiri.


"Ibu ibu.! Ustadz kita ini, selain bisa memberi pencerahan batin, mengobati penyakit. beliau juga bisa memberi jalan keluar pada kesulitan hidup kita. Maksudnya dengan upaya dan do'anya, beliau bisa menggandakan uang," kata seorang pria yang duduk di samping ustadz Hamza.


"Ayo silahkan maju yang merasa kemarin lusa. sudah menyerahkan uang dan perhiasanya."


Tiga orang wanita maju dan membuka kotak yang di bungkus kain merah.


"Wow.. Uangku yang cuma lima ratus ribu menjadi dua juta," teriak seorang ibu.


"Begitu juga dengan perhiasan bertambah tiga kali lipat," kata yang lainya.


Akhirnya banyak dari yang hadir ikut menaruh uang dan perhiasanya juga.


Nadia juga berpikir begitu banyak tagihan pribadinya. Dia meraba gelang dan cincin yang di pakainya. Memeriksa uang di dompetnya.


"Kalau di total menjadi uang mungkin ini seharga delapan juta," batinya.


Tanpa pikir panjamg lagi ia menaruh perhiasan dan uangnya di sebuah kotak yang akan di beri nama barang dan nominal uang sesuai pemiliknya.

__ADS_1


"Nad, kau ikut juga?" Lena menyentuh lenganya. "Kau tidak usah takut. Karna aku juga ikut. Walaupun tidak sebanyak yang kau punya."


Sebenarnya Nadia kurang percaya dengan semua itu. Tapi karna keadaanya yang kepepet membuatnya tergiur dengan keuntungan ysng berlipat membust ia melupakan logika.


"Setelah dua hari kalian boleh mengambilnya,"


"Dan ingat ya, semakin besar nominal uangnya maka akan semakin lama pula waktu yang di butuhkan.


Ustadz Hamza ikut mengiyakanya.


***


Pras merasa kesal karna Nadia tidak membalas pesanya. Maupun menjawab panggilanya.


Ia menerima pesan dari guru si kembar bahwa jam sekolah sudah usai. Tapi si kembar tiadak ada yang menjemput. Padahal Nadia sudah janji tidak akan lalai lagi.


Pras semakin bingung karna dia sedang ada meeting penting yang tak bisa ia tinggal.


Tiba tiba Pras teringat Toni.


Lalu ia menelpon Toni. Memintanya menjemput si kembar.


"Sayaang.. Aku ikut ya!" pinta Rosti istri yang baru di nikahinya.


"Ikut gimana? Aku jemput anak anak pake motor, mana muat." bentak Toni.


"Haah sudah sudah..! barkan Toni pergi.


Kamu banyakin ngemil saja sana, biar tambah bengkak." tiba tiba bu Warsih datang dan mengolok menantunya yang memang doyan ngemil.


"Ibuu.. Kok gitu sih ngomongnya?" ujarnya cemberut.


Toni berangkat menjemput keponakanya.


Tanpa menunggu lama. si kembar keluar bersama gurunya. mereka mengijnkan Toni membawanya, karna memang sudah beberapa kali ia menjemputnya. Hingga para guru sudah tau bahwa Toni keluarganya.


Dii tengah perjalanan, tiba tiba Kayla minta berhenti. "Kay kebelet pipis Om."


"Tapi mau pipis dimana Kay?" seru Toni.


Karna kasian pada Kayla yang menahan pipis. Toni berhenti di sebuah toilet umum.


"Kamu ada ada saja Kay," ujarnya sambil memeriksa toilet itu. Setelah memastikan aman. Dia menyuruh Kayla mssuk.


Namun tiba tiba anak itu keluar lagi.


"Nggak jadi ah pipisnya, Tempatnya bauk!" seru Kayla.


"Ya, iyalah bauk, namanya tempat umum," gerutu Toni lagi.


"Coba bukan anaknya mbak ku, sudah aku picek kalian berdua," ucapnya geregetan.


"Om itu es krim." tunjuk Nayla kearah abang abang jualn es krim.


"Kalian tunggu disini! jangan kemana mana!"


Keduanya mengangguk senang.


Saat Toni pergi membeli es krim.


"Kay, ada balon," seru Nayla sambil berlari mengejar orang berjualan balon.

__ADS_1


Kayla mengikutinya dari belakang.


Cukup jauh mereka berlari meninggalkan Toni.


"Kalian sangat merepotkan! Karna itu. aku tidak suka di suruh menjemput atau mengantar kalian."


Toni masih menggerutu sampai dia menyadari si kembar sudah tidak ada di tempatnya.


"Astaga! Kemana kedua anak bandel itu," ujarnya kaget.


Ia mencari kesana kemari, nanun tidak menemukan kedua anak itu.


Sementara itu Kayla dan Nayla ngos ngosan karna mengejar balon. Mereka tertawa senang. Sampai menyadari kalau Omnya tidak ada bersama mereka.


Mereka mulai menangis karna panik.


Orang orang berdatangan, karna tangis mereka mengundang perhatian.


"Ayaah.. Ibu..! Panggil mereka di sela tangisnya.


"Kalian darimana nak? Sama siapa?"


Mereka tidak mau menjawab pertanyaan orang orang. dan terus saja menangis.


Alghivari yabg kebetulan lewat di tempat itu merasa penasaran orang berkerumun.


"Ada apa pak?" tanyanya pada seirang bapak bapak.


"Dua anak kembar menangis dari tadi. Tidak kemana orang tuanya. Mereka juga tidak mau menjawabnya," tutur bapak itu.


Al ikut menyeruak di antara kerununan.


"Nak, dimana orang tuamu?' tanya Al pelan.


Kayla dan Nayla mendongak kearah suara.


Al tersenyum kepada mereka.


"Om, anterin kami pulang," Kayla menatap Al penuh harap.


"Iya, asyang. Om akan antar kalian pulang.


Kalian ingat alamat rumah?"


Kayla dan Nayla menggeleng.


"Bagaimana ibu -ibu, mereka tidak tau jalan pulang."


"Bawa saja sama sampean mas. Kami percaya," celetuk seorang ibu.


"Baikah kalau begitu. saya bawa mereka,


sambil berusaha membawanya ke orang tuanya. Kalau tidak ketemu juga, saya akan lapor polisi. Ini kartu nama saya kalian pegang, siapa tau keluarga mereka mencari sampai kesini,"


"Masnya baik banget," bisik para ibu-ibu.


Al membawa Kay dan Nay pulang kerumahnya.


"Ais.. Ais, coba lihat kakak bawa siapa?"


Al memanggil manggil Aisyah adiknya.

__ADS_1


๐Ÿ’•Sepi sekali.. Mohon dukunganya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2