
Dua motor sport melaju dengan kencang menerobos kemacetan jalanan Ibukota menuju ke arah luar kota.
Tempat yang cukup sepi, tenang, dan juga sejuk. Dinginnya angin malam tidak dirasakan oleh mereka, sebab rasa khawatir lebih mendominasi. Hanya satu tujuan mereka yaitu sampai di tempat yang mereka tuju dengan selamat.
Sebuah rumah sederhana di pedesaan atau lebih tepatnya daerah kota Bandung menjadi target incaran mereka. Dengan berbekal ingatan yang samar-samar atau lupa-lupa ingat, Bagas dan Devian membawa Kayla untuk menemui seseorang.
Motor mereka berhenti di sebuah warung kopi tepat di gerbang masuk desa. Warung itu ramai pengunjung yang kebanyakan pria jika malam hari. Berbagai alasan untuk mereka nongkrong di warung kopi tersebut. Dari tukang ojek, hingga yang ingin nonton bola bareng-bareng. Mereka berkumpul bersama di sana.
Kepulan asap terlihat dari wajan di warung itu karena mereka menjual berbagai macam gorengan. Kopi dan gorengan cocok sekali di padukan, apalagi dinikmati di malam hari yang cukup dingin.
Bagas turun untuk bertanya kepada bapak-bapak yang sedang duduk sambil menyeruput kopi di warung tersebut. "Permisi Bapak-Bapak!" Mereka serempak menoleh ke arah Bagas. "Maaf, mau numpang tanya. Apa kalian kenal dengan Nenek Arimbi?" tanya Bagas sopan.
"Nenek Arimbi?" Mereka saling menatap sebelum menjawab. "Ooo ... Mak Rimbi," Bagas pun mengangguk walaupun sebenarnya dia tidak tahu nama panggilan si Nenek yang dicarinya. Dia hanya tahu jika Nenek Arimbi adalah nenek dari ibunya dan wajahnya pun samar-samar lupa sebab mereka bertemu saat masih kecil dan tinggal bersamanya di rumah utama.
Untuk nama panggilan nenek sahabatnya itu, Bagas pun tidak tahu dengan pasti.
"Dari sini kamu lurus saja, nanti di pertigaan kamu belok ke kiri, nah di situ ...!"
"Rumahnya?"
"Bukan, Mas. Di situ ada bengkel, lurus lagi sedikit, belok kanan, menanjak sedikit, ada rumah satu. Nah di situ ... baru rumahnya. Paham," cetusnya menjelaskan.
Serempak Bagas dan Devian menggelengkan kepala. "Enggak!"
"Hah?" helaan nafas terdengar berat, lebih tepatnya mendesah kesal. "Baiklah!" Begini ya, Mas ..." Dia berusaha menjelaskan lagi namun Kayla merasa tidak enak hati.
Secepatnya Kayla menepuk bahu Bagas untuk segera pergi karena tatapan yang lain tertuju ke arahnya. "Aku ngerti apa yang di katakan dia! Bisa kita pergi sekarang?!" wajah Kayla terlihat takut.
"Hemh!" Bagas menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan Kayla. Melihat gadis itu yang sedang ketakutan, Bagas pun melirik ke arah yang dilihat Kayla. Dua orang pemuda berpenampilan preman sedang memperhatikan di balik pohon besar tidak jauh dari warung. Anting di telinga, di hidung, dan di bibir serta memakai kaos oblong hitam juga celana yang sobek di bagian lutut dengan memakai polesan make-up berwarna gelap layaknya anak punk.
Mata keduanya terus menatap tajam dan memperhatikan Kayla tak henti-hentinya. Mereka seakan ingin memakan gadis itu hidup-hidup.
"De-Devian ... kita cabut sekarang aja!" Bagas mencolek pinggang temannya.
Devian yang risih karena dicolek-colek langsung berbalik sambil menggerutu. "Apaan sih, Gas? Gue kan lagi nanyain alamat biar gak nyasar!" ketusnya kesal.
__ADS_1
"Kita udah paham kok. Iya kan, Kay!" desis Bagas yang dijawab cepat.
Kayla mengangguk. "Iya," sahutnya.
Devian mengerutkan kening menatap wajah keduanya. "Ada apa sih kalian berdua? Kok kek ketakutan gitu?!" selidik Devian memperhatikan wajah tegang keduanya.
Mereka menggelengkan kepala bersamaan. "Enggak. Cuma ini udah malem, jadi kita harus secepatnya ke rumah Nenek!" ujar keduanya menjelaskan.
"Justru ini udah malem, makanya kita harus tahu dengan jelas di mana letak posisi rumah Nenek!"
"Kita udah ngerti kok, Dev. Terima kasih, Pak!" ucap keduanya serempak berterima kasih kepada si bapak tadi.
Motor Bagas bergerak sesuai arahan dari si Bapak tadi. Terpaksa Devian mengikuti langsung walaupun masih ragu karena belum paham betul alamat rumah yang sedang dicarinya. Pasalnya, si Bapak tadi menjelaskannya dengan sedikit cepat.
"Gas, tunggu!" Namun Bagas tidak menghiraukan panggilan temannya. Ia terus memacu kendaraan melewati dua preman yang bersembunyi tadi.
Keduanya terus menatap ke arah Bagas dan Kayla yang berpura-pura tidak melihatnya.
Devian terus mengikuti di belakang tanpa bisa bertanya. Dia pun melihat kedua preman yang dilihat Kayla dan Bagas, namun dia bersikap biasa saja karena tak tahu jika kedua preman itu memperhatikan mereka sedari tadi.
"Kemana lagi kita?" tanya Devian bingung.
"Ke kiri!" "Ke kanan!" Ujar Kayla dan bagas. bersamaan.
Devian langsung menoleh ke arah keduanya yang nampak menunjukan arah berlainan dengan jari mereka.
"Ish kalian itu ya. Gue udah bilang kan kalau kita harus memastikan dengan benar. Gimana sih!" gerutu kesal Devian. .
"Iya, tapi tadi gue inget kok! Kenapa sekarang jadi lupa ya?" Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gimana, Kay? Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Devian lagi.
"Aku rasa ke kanan deh!" sahut Kayla.
"Rasa ... rasa, udah kaya makanan aja di rasain. Yang bener dong Kay, biar gak nyasar kita. Ini kan udah malem!" ketus Devian.
__ADS_1
Karena bingung, Bagas pun menjentikkan jari memberi usulan. "Aha, kita pake peta aja!"
"Peta? Mana ada peta, dodol." Menoyor kepala Bagas yang berbalut helm. "Kita cuma berbekal nanya ke orang tadi. Elu berdua sih ribut pengen pergi mulu, jadinya kan kek gini." ujar Devian kesal kepada keduanya.
"Maksud gue gitu, Devian. Kalau orang nyari sesuatu kan pake peta. Kalau kita, ya ingat-ingat aja petunjuk si Bapak tadi!" kata Bagas menjelaskan.
"Terus?"
"Tadi si bapak bilang kan ... jalan lurus ... belok kiri ... bengkel motor ...belok lagi ... tanjakan ... rumah Nenek!" Sorak Bagas gembira seperti petualangan anak kecil bersama monyetnya.
"Apaan sih lu, Gas? Itu belok lagi nya belok mana?"
"Oh iya, belok mana ya?" Ia balik bertanya. "Oke, sekali lagi. Jalan lurus ... belok kiri ... bengkel motor ... belok ... belok mana ya?"
"Belok kanan!" sela Kayla. "Cepet dong keburu malem!" lanjutnya.
"Tapi kalau salah gimana, Kay?" tanya Bagas dan Devian.
"Enggak bakalan. Tadi kan aku dengernya gitu dari si bapak. Sehabis bengkel terus belok kanan menanjak dikit ... rumah Nenek!" Seru Kayla mengikuti Edrick dengan gaya bicara si bocah petualang itu.
"Yakin nih?"
"Yakin!" Jawab Kayla pasti.
"Oke, huhh ... kita belok kanan ya. Kalau salah, kita balik lagi ke warung tadi." putus Devia dan keduanya mengangguk.
Saat mereka akan berbelok, tiba-tiba mereka dikejutkan suara teguran dari arah belakang.
"Hei berhenti!" sontak mereka terdiam dan saling pandang.
Perlahan kepala mereka menoleh ke belakang dan semakin menyempurnakan untuk melihat siapa penegur itu.
Mata Kayla dan Bagas membulat sempurna saat melihat siapa yang menegur mereka itu. Ternyata, orang itu adalah kedua preman yang memperhatikannya tadi.
Keduanya tampak berjalan menghampiri dengan ekspresi sangar membuat mereka ketakutan.
__ADS_1
...Bersambung ......