Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 161


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Hari berganti pagi, cahaya memantul, menerangi kamar melalui jendela kaca yang kordennya tidak tertutup. Jonathan menggeliat di atas ranjang kemudian perlahan bangkit sembari memegangi kepalanya yang masih dirasa berat. Pagi terburuk terburuknya adalah hari ini. Tubuhnya berkeringat, kepalanya sakit, dan perutnya mual.


“Aahhh!” Jonathan memegang kepalanya lagi. “Cckkkk!” mengibaskan kepala, lalu menjambak rambut, berusaha menetralisir pening di kepalanya.


Dia mengerang saat mencoba membuka mata. Kepalanya sangat pening. Saat mendorong tubuhnya untuk duduk, kepalanya terasa bertambah berat. Dia memicingkan mata, menatap ke arah jendela. Pandangannya masih sedikit kabur. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. “Sial, aku terlambat!”


Jonathan terperangah begitu melihat waktu yang tertera di layar ponselnya. Dia mengumpat atas tindakan bodoh yang dia ambil tadi malam. Pergi ke kelab, mabuk-mabukkan, dan ....


Tunggu!


Laura?


Mata Jonathan terbuka sepenuhnya. Potongan-potongan kejadian semalam memenuhi isi kepalanya. Jonathan menjambak rambut ketika menyadari apa yang telah dilakukannya bersama Laura semalam.


“Laura,” gumam Jonathan saat kesadarannya sudah kembali. Dia melirik ke sebelah ranjang yang sudah kosong. Tidak ada Laura di sana dan ketika menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dia menyadari kini tubuhnya masih dalam keadaan polos.


Jonathan melihat selembar kertas di atas bantal. Surat dari Laura. Dia meraih kertas itu dan mulai membacanya.


Jo,


Aku tau saat ini kamu pasti marah padaku. Aku tau kamu pasti membenciku, tapi ketahuilah Jo, aku masih menyayangimu sama seperti dulu. Apa yang sudah kita lakukan semalam adalah buktinya. Kau pria pertamaku.


Maaf karena aku sudah menyakiti hatimu. Maaf karena aku sudah mengecewakanmu. Maaf karena aku sudah meninggalkanmu.


Maafkan aku atas semuanya, Jo.


Setelah ini kumohon lupakan aku, lupakan yang terjadi di antara kita semalam, lupakan semuanya tentang kita. Kamu lebih tau Tuan Reyhan itu siapa dan bagaimana, k**ita tidak akan pernah mampu melawannya.


Suatu hari nanti kamu akan tau kenapa aku melakukan ini.


Laura,


Jonathan menyibak seluruh selimut dan melihat bercak darah di atas sprei. Wajahnya seketika mengeras, tangan kanannya meremas kertas dari Laura yang tadi dia baca.


“LAURA!!!” teriaknya tanpa sadar. Sudut matanya berair. Jonathan menangis sembari meremas kuat rambutnya. Dia terlihat begitu frustrasi.

__ADS_1


Lama dia hanyut dalam kekecewaan sampai terdengar ponselnya bergetar.


Ddrrrrtttttt! Dddrrrtttttt! Dddrrrttttt!


Jonathan melihat layar ponselnya, tertera nomor Reyhan yang memanggil. Dia nampak berpikir sebentar sampai akhirnya menggeser tombol hijau pada layar ponsel.


Jonathan berdehem untuk menormalkan suaranya. “Selamat pagi Tuan, maaf sebelumnya karena hari ini saya terlambat.” Berbicara setenang mungkin.


“Pagi, Jo. Kenapa aku belum melihatmu di kantor?” Suara Reyhan terdengar khawatir di seberang.


“Saya ... saya ada urusan keluarga sebentar Tuan, maaf tidak meminta ijin Tuan terlebih dulu. Semuanya begitu mendadak Tuan,” jawabnya berbohong.


“Oh, tidak apa-apa.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Apa kau bisa ke kantor secepatnya? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Tentu, Tuan. Saya akan ke kantor sekarang.”


Jonathan menutup telponnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


“Apa kamu mencintai Laura?” tanya Reyhan kepada Jonathan saat mereka sudah bertemu. Reyhan berdiri di depan jendela ruangannya, sedangkan Jonathan duduk di kursi depan meja kerjanya.


“Maksud, Tuan?” Jonathan menatap Reyhan dengan menautkan kedua alisnya.


Apa Tuan Reyhan mengetahui semuanya?


Reyhan tersenyum simpul. “Aku dengar kalian berteman sejak SMA. Apa selama kalian berteman tidak pernah sekalipun kamu jatuh cinta padanya?” tanya Reyhan setenang mungkin.

__ADS_1


Jonathan menatap Reyhan sebentar lalu menunduk kembali. Dia enggan bertatapan dengan Reyhan, takut pria itu bisa membaca kemarahan di matanya. “Kenapa Tuan tiba-tiba bertanya seperti itu?”


Reyhan berjalan mendekati Jonathan dan menepuk pundaknya. “Aku hanya ingin memastikan hubungan kalian terlebih dulu sebelum terjadi salah paham. Jujur, aku berencana menikahi Laura.” Reyhan tersenyum bahagia, tidak menyadari kesakitan yang dirasakan pria di hadapannya.


Jonathan memejamkan mata, meredam emosi yang kembali bergejolak. Tanpa sadar dia mengepalkan tangan yang bersembunyi di bawah meja.


“Bagaimana menurutmu?” sambung Reyhan.


Jonathan bersumpah dalam hati, sungguh jika bukan Reyhan yang bertanya seperti itu padanya, mungkin dia sudah melayangkan tinjunya dan meneriakkan kalau Laura itu gadisnya. Sayangnya dia teringat pesan Laura, dia sadar siapa dirinya dan siapa Reyhan. Dia tidak akan pernah bisa melakukan itu, demi masa depan Laura.


Belum sempat Jonathan menjawab, pintu diketuk dari luar, dan Laura terlihat membuka pintu dengan menenteng rantang makanan.


“Hai, Sayang, kamu sudah datang.” Reyhan menghampiri Laura dan langsung memeluknya.


“Iya, bentar lagi jam makan siang. Nih, aku udah masakin makanan kesukaan kamu.” Menunjuk rantang di tangannya.


“Wah, perutku jadi lapar nih,” ujar Reyhan terkekeh senang.


Laura mencibir sembari duduk di sofa. “Aku siapin makan siangnya sekarang? Kayaknya kamu lagi ada ta ....” Ucapannya terhenti begitu menyadari tamu yang dia maksud, yang sedang duduk memunggunginya adalah Jonathan. Wajah Laura seketika berubah pias.


Sementara Jonathan, tanpa dia menoleh pun dia tau kalau yang datang dan dipanggil 'sayang' oleh Reyhan adalah Laura. Laura kekasihnya. Tangannya semakin mengepal kuat di bawah meja. Dia membuang napas kasar berkali-kali agar bisa meredam emosi dalam jiwanya.


“Itu Jonathan.” Reyhan menunjuk Jonathan dengan dagunya. “Jo, apa kamu mau makan siang bersama kami?" tanya Reyhan pada Jonathan sebelum beralih pada Laura kembali." Kamu masak lebih, 'kan, Sayang?”


“I—iya, aku sudah bawa lebih hari ini,” jawab Laura gugup. Dia mengeluarkan makanan dari rantang dengan wajah menunduk lemah.


“Ayo, Jo, kita makan bersama,” ajak Reyhan lagi.


Jonathan bangkit dari kursinya dan menghampiri mereka. Bukan untuk makan bersama seperti ajakan Reyhan. Bukan. Hati Jonathan tidak selapang itu.


“Maaf Tuan, biar nanti saya makan di luar saja. Saya tidak ingin mengganggu acara makan siang Tuan dengan calon istri,” ucap Jonathan penuh penekanan sembari melirik tajam ke arah Laura yang hanya bisa menunduk. “Mengenai pertanyaan Tuan barusan, mengenai rencana pernikahan Tuan dengan Nona Laura ...." Sumpah, dada Jonathan bergemuruh hebat saat mengucapkan nama itu. "Saya bahagia mendengarnya. Saya bahagia jika orang yang saya kasihi juga bahagia." Senyum tipis terukir di bibirnya. “Saya boleh permisi keluar sekarang, Tuan?”


“Owh, iya Jo, terima kasih banyak.” Reyhan tersenyum haru.


Sementara Laura masih menunduk dalam diam. Dia tidak tahu harus merespon apa, sedari tadi dia menggigit bibir, menahan untuk air matanya tidak sampai menetes. Tidak. Jangan sampai itu terjadi jika tidak, Reyhan akan curiga dan mengetahui segalanya. Laura masih bergeming hingga terdengar Jonathan keluar ruangan dan menutup pintu kembali.


❤️❤️❤️❤️❤️


Kasian Uncle Jo🥺

__ADS_1


__ADS_2