
"Kenapa hanya cokelat?" Windu protes.
"Eh, ini bukan cokelat!"
"Terus?"
"Ini cinta dalam sekotak cokelat..."
Windu menatap Dara tertegun, yang di tatap hanya tersenyum dan mengambil potongan coklat dari kotaknya itu.
"Cokelat bisa mengatakan besarnya cinta jauh lebih baik daripada kata-kata." Ucap Dara sambil membuka kotak coklat di tangan Windu.
"Tahukah kamu sayang, rasa asli coklat itu apa?" Tanya Dara tanpa mengangkat wajahnya.
Windu tak menyahut, rasa gelisahnya selama dia di vonis sakit kelainan ginjal ini membuatnya tak mampu berfikir dengan waras.
Dara dan anaknya Sunny yang membuatnya kuat menjalani rasa sakit yang bahkan hampir membuatnya mengutuk hidupnya sendiri. Dia hanya ingin hidup tenang dan sehat serta bisa membahagiakan istri dan anaknya tetapi ketika dia berubah menjadi lebih baik saat menyadari mencintai Dara dengan segenap jiwanya, Tuhan memberinya ujian yang luar biasa.
Selama ini, dia tak pernah mengatakan apapun pada Dara meskipun dia merasa semakin sakit setiap harinya, dia berusaha terlihat semakin baik untuk membuat Istrinya itu tidak perlu mencemaskannya.
Meski akhirnya dia tumbang jua, kelainan organ ini memang sudah di bawanya dari kecil, tak terdeteksi.
"Kenapa kamu tidak menjawabku?" Dara mengangkat wajahnya, meski senyumnya begitu lebar tetapi mata itu tak bisa bohong, dia menyembunyikan kesedihannya di balik kabut dengan rapih.
"Aku tidak tahu." Windu menjawab pendek, aroma rambut Dara yang berbau buah manis seperti khas bau rambut istrinya dari dulu terasa segar masuk sampai ke rongga hidungnya.
"Rasa coklat sebenarnya bukan manis...tetapi pahit." Dara mematahkan sebatang coklat.
"Dalam sepotong coklat ada rasa manis yang hampir pahit, karena sesungguhnya cinta yang indah tak selamanya mudah. Tapi siapa yang menolak sepotong coklat? Semua orang rela terus memakannya biarpun tahu getirnya coklat di ujung lidah ketika manisnya telah habis. Cinta seperti itu, tak akan berhenti bertahan meski mungkin akhirnya meninggalkan bekas yang tak hanya manis tetapi tetap membuatmu candu." Dara tersenyum, matanya sedikit berkaca.
__ADS_1
"Sayang..." Windu menatap Dara tak berkedip, apalagi saat Dara menyuapinya potongan coklat dari tangannya dengan penuh kasih sayang pada Windu.
"Kebahagiaan. Sederhana seperti sepotong cokelat." Dara memasukkan potongan sisa dari cokelat yang di gigit Windu. Setetes airmata turun di sudut matanya tetapi dengan cepat di sekanya.
"Kenangan indah itu seperti cokelat, kita mungkin tidak dapat bertahan hidup hanya dengan memakan cokelat karena cokelat tidak mengenyangkan, tetapi memakan sepotong cokelat membuat hidup lebih manis. Kita berdua harus memakannya supaya manisnya bisa kita kenang sepanjang hidup kita."
Dara mengunyah cokelat di mulutnya, dan menelannya sekuat tenaga bersamaan dengan air mata yang turun kembali.
Dara membuang wajahnya dan hendak turun dari tempat tidur tempat Windu berbaring tetapi Windu mencengkeram lengannya.
"Kamu mau kemana, sayang? " Tanya Windu. Potongan cokelat di mulutnya di telannya bahkan tanpa di kunyah olehnya.
"Aku mau memanggil suster untuk menjagamu sebentar, aku harus ke apartemen untuk melihat Sunny apakah dia..."
"Sayang!" Windu memotong kalimat yang di ucapkan Dara, dia tahu Dara hanya berusaha menghindarinya.
Mereka memang mempunyai apartemen di Singapura dan berdekatan dengan rumah sakit yang kini menjadi tempat Windu di rawat.
Dara mematung, urung beranjak, tetapi dia tak bersuara.
Dia tahu jika dia berbicara lagi, dia akan menangis.
Windu menarik tubuh Dara ke pelukannya dengan kuat sehingga istrinya itu terhempas di dalam pelukannya.
"Ada apa? Katakan padaku? Kenapa kamu menahan airmatamu? Apakah aku akan mati?"
"Tidak!" Dara menutup mulut Windu dengan telapak tangannya, dan kemudian air matanya turun dengan tanpa terkendali.
"Jangan katakan itu lagi! Kalau tidak aku akan...aku akan marah padamu." Dara seakan tersedak oleh isaknya, menahan tangisan itu terlalu menyakitkan.
__ADS_1
"Tapi, kenapa kamu seperti orang aneh begini?" Tanya Windu sambil berusaha tertawa, dia duduk berselonjor di atas tempat tidur sambil berusaha tegak, alat-alat yang di hubungkan dengan tubuhnya itu membuatnya merasa parah.
"Aku menamgis hanya karena bahagia dan...dan takut." Dara akhirnya sesenggukan di dada Windu.
"Bahagia dan takut?" Windu bertanya dengan bingung. Dia bukannya tak takut dengan penyakit yang dialaminya selama ini, dia sesungguhnya jauh lebih takut dari siapapun saat tahu mungkin saja penyakit ini membuatnya tak lagi bisa melihat isteri dan anaknya lagi.
Tapi, Windu selalu berusaha bersikap tenang karena takut membuat Dara terlalu mengkhawatirkannya.
Cukup baginya melihat bagaimana Dara bangun tengah malam dan diam-diam menangis dalam zikir dan tahajjudnya di sudut ruangan dimana dia di rawat ini.
Bahkan kadang kala dia melihat Dara tertidur sambil bertelungkup di pinggir tempat tidurnya dengan mata sembab, meski ketika dia bangun, senyum begitu lebar.
"Aku bahagia karena sudah menemukan donor untukmu." Dara menyeringai tanpa mengangkat kepalanya dari dada Windu.
"Oh, ya..." Windu ternganga, itu adalah berita terbaik yang di dengarnya setelah dokter memvonis, ginjalnya hampir tak berfungsi lagi, dan harus segera di angkat. Satu-satunya harapan hidup adalah dengan menerima transplantasi ginjal.
"Jika sudah di lakukan pemeriksaan kecocokan, tiga hari lagi mungkin bisa di lakukan operasi." Dara berucap, bibirnya bergetar.
"Bukankah ini berita bagus yang kita tunggu-tunggu, lalu apa yang kamu takutkan?" Tanya Windu sambil menciumi rambut Dara, dia tampak bersemangat.
"Aku hanya takut jika ini tak berhasil" Jawab Dara, dalam hati. Sambil mempererat pelukannya.
"Aku takut kamu terluka, karena harus di operasi." kalimat itu yang keluar, di sambut tawa Windu.
"Di operasi kan harus di bedah, sayang. Bagaimana caranya tidak terluka? Aku tidak takut sama sekali, jika ini bisa membuatku melihatmu lebih lama lagi."
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...