Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 92. DATANG MENDADAK


__ADS_3

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama gedung. Dan mata ketiga perempuan itu melotot saat pintu mobil mewah itu terbuka otomatis, dan seorang perempuan cantik keluar dari dalamnya, terlihat anggun dengan kepala yang terangkat penuh percaya diri.


"Dia...dia siapa?" Keke melongo dengan terpana.


"Aku tak pernah melihatnya." Eva menggelengkan kepalanya, menatap sosok cantik dalam balutan dress abu-abu motif kotak di padu outfit paid blazer hitam yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih.


Di tangan sebuah tas handbag hitam senada warna blazernya, dari sebuah brand ternama.


Langkahnya terayun memasuki lobby, di iringi dua orang bodyguard berbadan besar, menggunakan stelan dan kacamata hitam turun dari mobil yang lain di belakang Lexus LC 500 warna merah metalik milik perempuan ini.


Semua mata tertuju pada perempuan cantik ini, dia adalah Dara dalam tampilan berbeda. Meski dalam balutan pakaian simple dan sederhana, dia terlihat begitu elegan.


Merk pakaian dari salah satu rumah mode kenamaan luar negeri ini membuatnya terlihat sangat berkelas.


Pertama kali dia menginjakkan kaki di gedung perusahaan milik keluarga suaminya ini setelah 5 tahun dia menikah dengan Windu.



Langkahnya terhenti di depan lobby itu, menatap sesaat pada tiga orang pegawai yang berada di belakang meja lobby.


"Selamat siang..." Sapanya ramah tetapi begitu berwibawa.


"Selamat siang, bu." Salah satu pegawai menyahut segera.


"Bisakah saya bertemu pak Windu?" Tanyanya kemudian.


Fuji mendengar nama bosnya itu di sebut segera berdiri. Lalu tanpa basa-basi lagi dia menghampiri Dara.


"Maaf, jika mau bertemu dengan pak Windu, anda harus membuat janji dengan saya." Fuji menyahut tiba-tiba.


Dara refleks berbalik dan menatap perempuan di depannya itu.


"Saya adalah asisten pribadinya pak Windu. Tidak ada yang bisa bertemu langsung dengan pak Windu tanpa persetujuan saya." Lanjutnya dengan penuh percaya diri, mukanya tampak tak senang melihat perempuan yang datang dan langsung menjadi pusat perhatian orang-orang di lobby itu.


"Hei...jangan kurang ajar!" Salah satu bodyguard Dara hendak maju.


Dengan sedikit gerakan halus, Dara menaikkan tangannya, memberi kode agar bodyguardnya menghentikan kalimatnya. Dua orang ini di standbyekan suaminya untuk mengawalnya memeriksa beberapa salon kecantikan dan hotel warisan ibu mertuanya pada Dara itu, karena sekarang Windu benar-benar protektif dengan istrinya yang sedang hamil.

__ADS_1


"Oh, ya..." Dara menaikkan alisnya, meski sikap Dara terlihat tenang tapi auranya sungguh berbeda dari biasanya.


"Apakah kamu bisa menjadwalkan pertemuan untuk saya bertemu pak Windu siang ini?" Tanya Dara sambil tersenyum kecil.


"Sampai sore nanti beliau masih banyak agenda, jadi saya rasa anda lebih baik kembali saya, tinggalkan nama, nomor telpon dan kepentingan anda...akan saya sampaikan nanti."


"Oh, begitu, ya?" Dara mengangguk-angguk kepalanya.


"Saya tak menyangka, ingin bertemu dengan pak Windu lebih susah daripada ketemu dengan pejabat, ya..." Dara melirik Fuji dengan memamerkan senyum simpulnya.


"Apakah beliaunya ada di ruangannya sekarang?" Tanya Dara dengan nada menyelidik.


"Ada...tapi..."


"Tolong sampaikan padanya, untuk turun sekarang..." Dara memberi kode bodyguard yang ada di belakangnya mundur, lalu dengan langkah santai dia menuju sofa tamu yang tidak jauh dari tempat Keke dan Eva duduk.


"Maaf, saya akan menulis kepentingan anda kemari apa, dan tepatnya tolong sebutkan nama anda, supaya saya bisa menyampaikan kepada boss saya nanti." Fuji mengikuti langkah Dara, terlihat gusar dengan tingkah tamu yang dilihatnya sok itu.


"Bilang saja, sayangnya ingin bertemu."


"Katakan pada bossmu itu, sayangnya ingin bertemu sekarang. Tidak usah di tulis di notesmu, sayang kertasnya. Aku akan menunggu di sini, sampai dia turun." Dara duduk dengan gaya elegan, punggungnya tegak, senyumnya merekah.


"Maaf, saya serius bertanya..." Fuji tampak tak bisa menyembunyikan kesalnya.


"Please don't speak anymore. Just give him my message." Dara tak lagi melihat kepada Fuji tapi dia melayangkan pandang kepada dua perempuan yang duduk melongo do seberang tempatnya duduk.


Fuji melirik pada teman-temannya lalu menasang wajah sedikit galak pada Dara, dia tidak ingin jadi bahan celaan dua sohibnya jika sikapnya seperti seseorang yang mudah di remehkan oleh orang tak di kenal.


"Nama anda siapa?"


"Apakah perlu aku sebutkan?" Dara menaikkan alisnya.


"Tentu saja."


"Katakan saja, namaku Dara."


"Saya akan ke atas, tapi saya tidak bisa berjanji pak Windu mau menemui anda siang-siang begini, sebentar lagi mungkin dia akan pulang untuk makan siang..."

__ADS_1


"Saya mengerti, nona asisten. Tidak usah kamu naik ke atas, kamu punya nomor telponnya kan?"Dahi Dara berkerut sedikit.


"Telpon saja pak bosmu itu. Katakan ada Dara menunggu di bawah." Lanjutnya.


Dengan wajah masam Fuji merogoh saku stelannya, mengambil ponselnya.


Tak lama, panggilannya di angkat,


"Ya, hallo?"


"Halo, pak. Maaf mengganggu."


"Ya, ada apa?"


"Ada seorang perempuan memakasa ingin bertemu dengan bapak sekarang di lobby bawah."


"Siapa? ada janji sebelumnya."


"Tidak ada. Saya sudah memberitahunya, tapi tamunya ngeyel."


"Namanya siapa?"


"Dia mengaku sayangnya bapak."


"Haaah..."


"Namanya...Dara katanya...saya..."


"Astaga! Kenapa kamu tidak antar ke atas!!!"


Panggilan itu langsung ditutup mendadak di akhiri dengan teriakan sang bos di telinganya, membuat Fuji terpana sendiri, baru kali ini bossnya itu berteriak padanya seolah-olah dia baru saja membuat kesalahan besar.



...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you allā¤ļø...

__ADS_1


__ADS_2