
Happy reading
💕💕💕💕💕
Menjelang sunset, pengunjung yang datang ke restoran itu semakin ramai, mereka ingin melihat sunset sembari menikmati makanan mereka.
"Matahari sepertinya sebentar lagi akan terbenam, kita turun sekarang?" Reyhan mengajak Diana untuk turun kembali ke area pantai.
"Boleh, akan lebih indah menikmati sunset dari pantai."
Mereka bergandengan tangan menuruni tebing untuk kembali ke pantai. Matahari akan terbenam, sedikit demi sedikit warna langit mulai berubah dramatis dipenuhi beranekaragam warna. Disertai deru ombak yang menerjang tebing batu karang. Sungguh pemandangan alam yang luar biasa indah.
"Kau suka?" tanya Reyhan yang sedari tadi tidak melepas pandangannya dari Diana.
"Iya, aku sangat menyukainya." Diana menatap takjub ke arah matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Ini akan menjadi bulan madu terindah mereka.
Rambut Diana tertiup angin berwarna cokelat keemasan saat terkena pantulan sinar matahari. Reyhan perlahan menggenggam tangan Diana dan memutar posisi tubuh mereka menjadi saling berhadapan. Mereka saling menggenggam dan perlahan Reyhan mendekatkan wajahnya lalu menyatukan kening mereka.
“Aku mencintaimu,” bisiknya lembut, “tetaplah di sampingku dan menualah bersamaku.”
Diana mengangguk bahagia. Rasa haru kembali menyeruak, memenuhi rongga dadanya. Reyhan melepaskan genggamannya dengan beralih merangkul bahu Diana. Mereka berdiri menghadap laut, menatap pemandangan indah sunset Pura Tanah Lot.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
Diana sedang memasukkan pakaian mereka ke dalam koper, sedangkan Reyhan masih di dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Apa semua sudah beres?” tanyanya ketika keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambut basahnya memakai handuk kecil.
“Iya sudah,” jawab Diana, “cuma aku bingung gimana bawanya entar.”
Reyhan memandang seluruh barang yang sudah dikemas Diana. Tiga koper besar tempat pakaian mereka, empat tas besar berisi oleh-oleh pakaian dan makanan khas Bali, terakhir satu tas besar berisi beraneka macam mainan khas Bali untuk Rangga.
“Kamu niat jualan ya nanti di rumah?” cibir Reyhan, “belanja sebanyak itu.” Tersenyum meledek.
“Ishh, ini oleh-oleh untuk orang-orang rumah.” Membela diri.
“Memang di rumah ada berapa orang sih, sampai belinya sebanyak itu.” Duduk di atas ranjang, membantu Diana menutup koper.
“Kamu gimana sih. Di rumah selain mama, papa sama Rangga, juga ada Bi Sumi, ada Lala, Lely, Sisi, terus ada tu ....”
“Ya, ya aku paham.” Reyhan mengacak rambut Diana. Dalam hatinya dia semakin kagum dengan Diana, istrinya itu selalu ingat dan peduli dengan orang sekitar mereka.
“Tuh, 'kan rambutku jadi berantakan,” protes Diana pura-pura kesal.
Reyhan hanya tersenyum dan bangkit dari ranjang. Dia memeluk Diana dari belakang dan mencium pipi Diana.
“Kita sarapan dulu sebelum berangkat ke bandara,” gumamnya dari balik rambut Diana.
"Habis ini kita ke hotel Davin untuk pamitan," ajak Reyhan.
"Ok, aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Tuan Davin," jawab Diana di sela-sela mengunyah makanannya.
Dua minggu telah berlalu, saatnya mereka untuk kembali pulang. Rasanya belum puas untuk Diana dan Reyhan menikmati bulan madu mereka, apalagi Diana. Masih banyak tempat yang ingin dia kunjungi. Namun, tuntutan pekerjaan dan rasa rindu mereka pada Rangga membuat mereka mau tidak mau harus segera kembali.
Setelah menempuh waktu perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka tiba kembali di kota mereka dan Jonathan sudah menjemput mereka di bandara.
“Dua minggu berpisah dari Rangga rasanya aku sudah kangen sekali padanya. Aku jadi ingin cepat-cepat sampai rumah,” seru Diana saat mereka berjalan menuju mobil.
“Kantor gimana Jo, aman?” tanya Reyhan pada Jonathan.
“Aman Tuan, cuma ....” Jonathan menggantung kalimatnya. Dia terlihat ragu melanjutkan ucapannya karena ada Diana di antara mereka.
__ADS_1
“Cuma apa?” tanya Reyhan penasaran yang langsung menghentikan langkahnya di dekat mobil, menahan Jonathan yang ingin membukakan pintu untuknya. Kini dia menatap tajam Jonathan, begitu juga dengan Diana.
“Cuma itu Tuan ....” Jonathan melirik Diana.
Reyhan yang paham maksud Jonathan menyuruh Diana untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil. Diana menurut walaupun sebenarnya dia juga ingin tahu apa yang ingin dikatakan Jonathan.
Jonathan terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Reyhan. Seketika wajah Reyhan menjadi merah dan rahangnya mengeras. Reyhan masuk ke dalam mobil tanpa bicara apa pun. Sepanjang perjalanan Reyhan tetap diam, dan Diana juga tidak berani bertanya atau sekedar mengajaknya bicara demi melihat raut wajah Reyhan yang datar dan dingin. Meski dia merasa ada hal yang tidak biasa. Perasaan Diana pun berubah tidak enak.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah. Bi Sumi berdiri di depan pintu menyambut kepulangan mereka. Wanita paruh baya itu kemudian beralih menuju bagasi mengambil barang-barang mereka.
"Terima kasih Bik," ucap Reyhan dan Diana sebelum memasuki ruang tengah.
Diana mulai mendengar suara gelak tawa Rangga. Dia tersenyum dan setengah berlari ingin segera bertemu Rangga.
"Rang ...." Diana setengah berteriak, hendak memeluk Rangga. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat Rangga tengah duduk bermain dengan seorang wanita berambut indah yang panjang terurai. Wanita itu menoleh, tersenyum, dan segera berdiri menghampiri mereka. Wanita dengan tubuh indah tinggi semampai melewati Diana dan menghambur memeluk Reyhan begitu saja. Seakan tidak peduli dengan keberadaan Diana.
“Reyhan, i miss you so bad, Honey.” Nadanya terdengar begitu mesra dan sarat akan kerinduan yang mendalam.
Diana tercengang, tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya masih belum mampu mencerna apa yang terjadi di hadapannya kini.
I miss you? Honey? Siapa dan apa maksudnya?
Reyhan segera mendorong tubuh wanita itu dengan kesal. “Hentikan, Laura!”
Degh!
Dalam sepersekian detik jantung Diana seakan berhenti berdetak begitu bibir Reyhan menyebut nama Laura.
Laura? Ibunya Rangga?
❤️❤️❤️❤️❤️
Siapa ya Laura itu guys?
Sebelum lanjut yuk diangkat jempolnya. Like, komen jangan lupa. Kalau mau bagi 🌹atau ☕ juga boleh😁 atau vote mumpung senin ini (ngarep) 😂
__ADS_1
Apa pun dukungan kalian yang penting positif, aku makasi banget pokoknya. Tanpa readers apalah arti seorang penulis. Dukungan kalian penyemangat buatku.
Thanks of all guys, see u on next chapter 😘😘😘