Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 134


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Para tamu dipersilahkan menikmati hidangan pembuka di lobby yang penuh dengan pelayan. Pelayan-pelayan membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil tampak berkeliling, menawarkan kepada para tamu yang hadir.


Tamu-tamu tampak berkelompok dan bersosialisasi tersebar di setiap penjuru lobby. Musik klasik mengalun lembut, mengalir samar-samar membuat suasana pesta bertambah elegan.


Reyhan dan Diana sedang berada di antara kerumunan para tamu, berbasa-basi dengan mereka. Diana kagum dengan cara bicara Reyhan kepada para tamunya, penuh wibawa dan kharisma. Dalam hatinya Diana berharap dirinya tidak memalukan Reyhan di sana. Bagaimanapun ini kali pertama Diana berada di pesta mewah dan berbaur dengan orang-orang dari kalangan atas.


Hanya itu yang dipikirkan Diana. Dia tidak menyadari jika di antara tamu itu, sepasang mata tengah mengawasinya dengan kilatan api membara.


Betapa cemburunya Alice melihat keintiman Reyhan dan Diana di depan umum. Reyhan mengamit pinggang Diana dengan lembut dan mesra. Dadanya terasa sesak dipenuhi api cemburu. Dia memasukkan kembali pisau kecil itu ke dalam tas mininya. Tidak. Dia tidak boleh tersulut emosi dan berbuat bodoh hingga merugikan dirinya sendiri. Dia memang ingin melenyapkan Diana, tetapi tidak dengan mengotori tangannya sendiri.


Alice meraih ponsel pribadinya, lalu menekan nomor seseorang.


"Alice," jawab seseorang di seberang.


"Aku membutuhkanmu. Maukah kau melakukan sesuatu untukku?"


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


"Yours wife so beautifull Tuan Reyhan, pantas saja Anda menyembunyikannya selama ini," goda salah seorang rekan bisnis Reyhan sembari terkekeh geli.


"Terima kasih, Tuan. Istri Anda juga cantik, tetapi bagiku tetap istriku yang tercantik," jawab Reyhan bangga sebelum menyesap wine di tangan. Kemudian beralih menatap Diana yang tersenyum kikuk di sebelahnya.


"Well, istri sendiri memang selalu paling cantik dan membuat kita mabuk kepayang." Mereka tergelak bersama. Begitu juga Diana dan istri tuan itu.


Diana tersenyum malu-malu dengan wajah memerah hingga ke telinga. Rasanya ribuan kupu-kupu terbang mengelilingi dirinya. Hati wanita mana yang tidak bahagia, disanjung oleh suami sendiri di depan umum pula. Dia memberikan senyum terbaiknya pada pria disebelahnya yang malam ini luar biasa tampan. Reyhan memakai kemeja, toxedo, dan jas warna putih, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Pesonanya seolah tak pernah kurang malah semakin bertambah.


"Oh, ngomong-ngomong bagaimana dengan Royal Eternity Corporation yang Anda pegang selama ini? Apa masih Anda yang mewakilkannya?"


"Sampai detik ini masih Tuan, memangnya ada apa?" Reyhan mengernyit heran, sedangkan Diana hanya mendengarkan percakapan mereka. Selain karena tidak mengerti apa yang mereka bahas, dia juga bingung harus bicara apa.


"Bukan apa-apa Tuan, bukankah putri beliau sudah menyelesaikan studinya? Kebetulan tadi saya bertemu putri Tuan Abrata dan mengobrol sebentar. Rencananya saya memakai jasa perusahaan mereka untuk mendesain kantor saya yang baru."


Wajah Reyhan berubah tegang. Kedua alisnya saling bertaut dan napasnya mulai terdengar tidak beraturan. "Belum Tuan, sekolahnya masih setahun lagi. Alice hanya sedang berlibur," jawab Reyhan dengan nada setenang mungkin.


"Oh, saya pikir Nona Alice sudah mengambil alih perusahaan almarhum ayahnya karena tadi Nona Alice mengundang saya ke kantornya."


Tuan itu tampak mengangguk setuju. "Saya pikir juga begitu, tapi saya kagum atas ketegaran hatinya. Anda juga sangat bertanggung jawab sebagai kakak sekaligus pengganti orang tua untuk Nona Alice." Dia tersenyum mengangkat gelas wine ditangannya, mengajak Reyhan untuk bersulang.


Reyhan menyambutnya. "Terima kasih Tuan, itu memang sudah kewajiban dan tanggung jawab saya."


Mereka berdua menyesap wine masing-masing sampai sang moderator acara memanggil Reyhan untuk naik ke atas panggung memberi sambutan.


"Sayang, aku boleh ke toilet sebentar?" tanya Diana ragu. Dia menatap Reyhan yang merangkul pinggangnya.


Satu alis Reyhan terangkat. "Kita harus memberi sambutan pada para tamu."


"Aku tau, tapi aku udah kebelet," tatap Diana memohon. Dia Nervous, dan kegugupannya bertambah begitu nama mereka disebut. Membayangkan berdiri di atas panggung dan menjadi pusat perhatian sekian banyak orang sungguh membuatnya ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Kau ini ada-ada saja. Ya, sudah, cepat sana." Reyhan menghela napas panjang. Kemudian melirik Jonathan yang berdiri tak jauh dari mereka.


Jonathan memberi kode pada salah satu bodyguard untuk mendekat, lalu memberi instruksi untuk mengawasi Diana.


"Sayang ...." Dia sudah ingin protes, tetapi lebih dulu dipotong Reyhan.


"Jangan protes! Ini untuk keselamatan istri dan calon anakku."


"Dia laki-laki Sayang, bagaimana kalau ...."


"Dia tidak akan berani macam-macam. Jonathan belum menemukan penjaga wanita yang tepat untukmu. Untuk itu sementara mereka dulu. Dia hanya menunggu di luar toilet," jelas Reyhan panjang lebar.


"Baiklah," jawab Diana pasrah. Daripada ditemani laki-laki rasanya lebih baik dia ke toilet sendirian. Dia merasa risih, tetapi tidak berani membantah lagi.


"Cepatlah kembali," titah Reyhan sebelum menuju panggung yang diikuti Jonathan.


"Mari Nona," ajak bodyguard pria yang ditunjuk Jonathan tadi.




❤️❤️❤️❤️❤️


Hai hai hai, selamat berhari senin guys. Gimana kabar hari ini? Sehat2 semua ya, amin🤲. Masih standby baca Diana sama Reyhan dong pastinya. Cakep👍


Thanks banyak2 buat kalian yang sudah memberi dukungan sejauh ini. Dukungan kalian adalah penyemangatku untuk terus menulis🙏


Makasih juga buat kalian yang bersedia bagi vote, sama hadiah. Lope2 sekebon toge pokoknya😄

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, apa pun terutama yang positif aku makasih banyak. Ok, guys happy reading, aku tunggu di bab selanjutnya.😘😘😘


__ADS_2