Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 20


__ADS_3

Bradd menarik selimut untuk menutupi tubuh Jenny, tapi Jenny menyibakan selimut itu dari tubuhnya. Sekali lagi Bradd menutup tubuh Jenny dengan selimut, dan kembali Jenny menyingkirkan selimut itu dari atas tubuhnya.


Bradd menarik napas, ia takut Jenny masuk angin kalau dibiarkan tidur tanpa pakaian, dan selimut. Bradd berpikir sejenak, lalu ia ke luar dari dalam kamar Jenny. Ia menuju kamarnya, diambil satu kemeja putih miliknya dari dalam lemari, lalu ia bawa ke kamar Jenny.


Bradd membuka kancing kemeja di tangannya, setelah semua terbuka, ia tutupkan ketubuh Jenny. Kemeja menutupi bagian dada sampai ke atas paha Jenny, dan Jenny tidak berusaha menyingkirkan kemeja itu dari atas tubuhnya. Tampak bibir Jenny tersenyum dalam tidurnya,  Bradd harus menahan diri untuk tidak menyambar bibir itu, dan mengulumnya.


Bradd membungkuk, dikecup kening, dan bibir Jenny sejenak. Dan, tentu saja usahanya untuk menahan bibirnya agar tidak ******* bibir Jenny sangatlah kuat.


"I love you Jenny, my little Angel, my little wife" (kalau Inggrisnya salah, mohon di koreksi, iyess)


Bradd menatap Jenny sekali lagi, baru ia beranjak meninggalkan kamar Jenny.


Bradd menuruni anak tangga, Teresa menunggunya di dasar tangga.


"Teresa," sapa Bradd.


"Maaf Tuan, tadi saya tidak menyambut kedatangan anda, saya baru kembali dari rumah Mary" Teresa membungkukan tubuhnya sedikit pada Bradd.


"Tidak apa Teresa, tolong katakan pada Marta, siapkan makan siang untukku, setelah itu sementara Marta menyiapkan makan siang, kamu temui aku di ruang kerjaku," sahut Bradd.


"Baik Tuan, akan saya kerjakan. Saya permisi," Teresa berpamitan, lalu menuju dapur, untuk menemui Marta.


Bradd sendiri menuju ruang kerjanya, tidak lama menunggu ketika terdengar pintu ruang kerjanya diketuk. Bradd mempersilakan masuk, Teresa membuka pintu.


"Duduklah Teresa," Bradd menunjuk sofa di sana. Teresa, dan Bradd duduk berhadapan.


"Ceritakan, apa yang kamu dapatkan dari Rumah Mary, Teresa?"


"Seperti yang sudah saya sampaikan Tuan, Mary tidak memiliki anak. Dan, menurut cerita Joice, pekerja di rumah orang tua Mary, Mary dan suaminya sedang mengalami kesulitan keuangan. Teater yang mereka dirikan, diambang kebangkrutan. Hanya sampai disitu saja informasi yang saya dapatkan Tuan. Saya kira kalau melihat dari hal ini, sangat jelas, kalau Mary mendekati Tuan, karena harta."


"Hmmm, itu sangat jelas Teresa, tapi apa rencananya untuk mendapatkan yang dia inginkan? Apa dia akan berusaha menjeratku masuk ke dalam kehidupannya, dengan membuatku kembali jatuh cinta padanya? Apa ini rencananya sendiri, atau rencana bersama suaminya?"


"Entahlah Tuan, apa Tuan akan mengungkap ini sekarang, atau membiarkan Mary terus menjalankan rencananya?"


"Aku ingin menunggu, dan bermain seakan aku tidak tahu apa-apa Teresa. Aku ingin tahu, apa yang akan dia lakukan selanjutnya."

__ADS_1


"Baiklah Tuan, semoga Tuhan selalu menjaga Tuan, sebaiknya Tuan sekarang makan siang, saya kira Marta pasti sudah selesai menyiapkan makan siang."


"Baiklah Teresa. Engghh, Teresa!"


"Ya Tuan?"


"Bagaimana reaksi Jenny saat menerima pemberianku tadi pagi?"


"Dia sangat bahagia Tuan, kebahagiaan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Tolong jaga dan cintai dia Tuan. Saya yakin, hanya Tuan yang bisa mekakukannya, hanya Tuan yang bisa membuatnya bahagia."


"Terimakasih Teresa," Bradd tersenyum, dan menganggukan kepala. Mereka ke luar dari kamar kerja Bradd, dan menuju ruang makan.


Bradd sekarang sadar, bukan cuma Angelica yang harus ia hadapi, tapi ada Mary yang juga harus ia waspadai.


🌼🌼🍍🌼🌼


Jenny terbangun dari tidurnya, ia terkejut mendapati dirinya tidur dengan berselimutkan kemeja Bradd.


"Daddy!" Jenny bangun dari berbaringnya, ia mengira Bradd masih ada di sana. Dicarinya Bradd ke kamar mandi, tapi Bradd tidak ada di sana. Matanya tertumbuk pada paper bag di atas meja. Jenny duduk di sofa, diraihnya paper bag di atas meja. Paper bag dengan logo merk butik ternama. Sebuah kotak ia keluarkan dari dalam paper bag itu, kotak dengan logo yang sama. Dibukanya perlahan kotak di hadapannya. Sebuah lingerie warna merah muda ia keluarkan dari dalam kotak. Jenny bangkit, lalu menuju ke depan cermin. Ia mematut dirinya, dengan pakaian tidur menempel di tubuhnya. Senyumnya mengembang, rasa bahagia membuncah di dalam hatinya. Baru satu hari menjadi istri, ia sudah dua kali mendapatkan kejutan, dan hadiah dari Bradd.


Pasti sudah bangun saat kamu membaca pesan ini, iyakan?


Maaf tidak membangunkanmu, kamu terlihat lelah (dan sangat seksi tentu saja, dan itu membuatku hampir tergoda), aku ingin kamu cukup istirahat untuk malam 'kedua' kita.


Berendam dengan air hangat untuk mengembalikan kesegaran tubuhmu, jangan lupa kenakan lingerie yang aku belikan untukmu.


Love


Bradd


Senyum Jenny mengembang dengan sempurna, ia letakan ponselnya, lalu ia menangkup kedua pipinya yang terasa memanas dengan kedua telapak tangannya. Bayangan yang terjadi semalam kembali melintas di benaknya. Bradd dalam sosok yang sangat berbeda, dengan Bradd yang selama ini dikenalnya.


Bradd dengan keperkasaannya, dengan kelihaiannya dalam membangkitkan gairah di tubuhnya. Yang mampu meluluh lantakan tubuhnya. Yang sanggup membawanya melambung ke angkasa, dan merasakan nirwananya dunia.


Jenny tidak menyangka, ternyata Bradd pria romantis, yang bisa membuatnya terkejut dengan kejutan-kejutan yang Bradd berikan untuknya.

__ADS_1


'Ternyata tidak salah aku mencintaimu, Daddy. Penantianku beberapa tahun ini akhirnya berbuah indah. Aku mencintaimu Daddy, sangat mencintaimu'


Jenny memijit bell di dinding, ia ingin makan siang di dalam kamarnya. Setelah meminta Teresa membawakan makan siang ke kamarnya, Jenny segera mengambil pakaian dari dalam lemari.


Tak perlu menunggu lama, Teresa datang dengan membawakan makan siang untuknya. Teresa meletakan makan siang di atas meja, di samping kotak bekas lingerie hadiah dari Bradd.


"Daddy membelikan aku ini Teresa, apa ini cantik?" Jenny memamerkan pakaian tidur barunya.


"Sangat cantik Nona, Tuan sangat pintar memilihkan pakaian untuk Nona, dan aku yakin, semua itu karena cinta Tuan pada Nona" puji Teresa tulus.


"Begitukah, Teresa?" mata Jenny berbinar mendengar ucapan Teresa.


"Tentu saja Nona," sahut Teresa. Jenny memeluk Teresa dari samping.


"Terimakasih Teresa, kamu sudah menjadi pengganti Eva sejak dia tiada"


"Eva pasti bahagia, melihat Nona bahagia"


"Maukah besok kamu menemaniku ke makam Eva, Teresa?"


"Tentu saja Nona, tapi harus minta ijin dulu pada Tuan ya."


"Aku akan mengajak daddy juga."


"Ooh iya, sekarang makanlah Nona, waktu makan siang sudah lama lewat."


"Iya, ehmm apa tadi daddy makan siang di rumah?"


"Iya Nona, Tuan makan sendirian, karena Tuan tidak ingin membangunkan Nona. Sekarang makanlah, saya turun ke bawah dulu, jika ada sesuatu panggil saja saya, Nona."


"Terimakasih Teresa"


"Ya Nona, saya permisi."


Teresa meninggalkan kamar Jenny dengan mata berkaca-kaca, karena rasa bahagia. Bahagia, melihat dua orang yang ia sayangi bisa bersama dalam ikatan cinta.

__ADS_1


🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼


__ADS_2