Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 97. TAAT SUAMI


__ADS_3

Windu hanya menelan ludahnya, dia akan makan siang hari ini dengan menu baru, apapun rasanya nanti di lidahnya yang penting Bumil ini bahagia. Dia ingin menebus saat-saat kehamilan anak pertama mereka yang tragis itu, di mana Dara hamil muda dalam keadaan begitu tertekan dan menderita karena sikapnya.


Di kehamilan kedua ini, dia berjanji melakukan apa saja untuk membuat Dara selalu tersenyum dan bahagia


"Kamu tidak makan si jajang ini?" Windu menatap sang istri, sementara dia menyendok mie ke mulutnya.


Dara tidak menyahut tapi memandang Windu dengan tangan di dagunya. Dia begitu menikmati saat masakannya itu mulai di kunyah Windu dengan wajah yang berubah pias.


"Bagaimana rasanya?"


"Hum..." Hanya itu suara yang keluar dari mulut Windu.


"Enak?"


Pertanyaan Dara hanya di jawab Windu dengan anggukan saja.


"Nanti aku masak lagi kalau kak Win suka..."


"Oh, tidak usah repot-repot sayang. Kamu tidak perlu masak-masak lagi." Windu melambai-lambaikan tangannya sambil berusaha menelan makanan yang seakan susah melewati kerongkongannya.


"Kak Win harus coba ini lagi." Dara mengambilkan sepotong kimbab dan menyuapi Windu dengan bersemangat, mau tidak mau Windu membuka mulutnya.


"Ugh..." Windu yang tak suka rumput laut karena baunya itu melotot pada Dara.


"Jungkook suka makan ini..." Dara terkekeh senang.


"Entah jongkok, entah berdiri...aku benar-benar tak cocok lidah dengan kimbab ini." Windu bergumam sambil berusaha menelan si kimbab itu, dengan sekuat hati.


"Kak Win suka yang mana?" Tanya Dara.


Windu menggeleng-gelengkan kepalanya, rasa makanan itu begitu aneh di mulutnya.


"Kak Win mau aku buatkan lagi untuk makan malam, masih banyak menu korea yang lain yang mau aku coba masak?"


Windu melambaikan tangannya lagi, dia hampir tersedak mendengarnya.


"Sayang, aku rasa malam nanti kamu tidak usah masak, biar mbak Parmi saja."


"Kenapa? masakanku tak enak?"


"Bukan...bukan begitu..."


"Terus..."


"Aku mau memijat punggungmu nanti sore, jadi kamu tidak perlu masak."


"Owh..." Dara tersenyum lebar dengan mata berbinar, sejak dia hamil kedua, dia paling suka di pijat punggungnya oleh Windu. Punggung dan pinggangnya sering terasa pegal, karena itu dia merasa senang jika di pijat.

__ADS_1


Windu sedari tadi makan sekedarnya, dia lebih banyak minum jus dan salad sayur berusaha menghindari si kimbab dan jajang meong itu.


"Kamu tidak makan bersamaku?"


"Aku sudah makan ketoprak buatan mbak Parmi tadi di rumah jadi Djajangmyeon itu spesial aku masak untuk kak Win."


"Ukh...aku rela makan ketoprak dari pada si jajang meong ini, sayang." Keluh Windu dalam hati. Meski begitu senyum Windu tetap merekah sambil terus makan.


"Aku senang lihat kak Win lahap begitu." Dara terkekeh.


"Kak Windu suka kan' masakanku?" Tanya Dara lagi. Windu tak menyahut hanyq menyeringai sambil mengangguk, si jajang meong dan si kimbab itu rasanya luar biasa aneh di mulut Windu tetapi sebagai suami yang baik sedikit berbohong untuk menyenangkan hati istri, dia rela saja.


Makan siang yang penuh drama, karena Windu yang merasa lidahnya tak terbiasa dengan masakan korea itu berakhir juga.


Dara membereskan meja makan mini mereka. Memasukkan semua perabotan makanan dan membiarkan nanti office girl membersihkannya.


"Sayang, bisa duduk kemari denganku?" Windu menunjukkan sofa di sebelahnya.


Dara mengernyitkan dahinya, melepaskan tisue dari tangannya.


"Ada apa?"


"Aku ingin bicara sebentar." Wajah Windu tampak serius meskipun tetap berusaha tersenyum selebar mungkin.


Dara mendekat, dengan ragu dia duduk di sebelah sang suami, yang tidak biasanya bersikap sedikit aneh.


Windu suka berbicara langsung tanpa bertingkah penuh teka teki.


"Itu yang mau ku bicarakan."


"Tentang menu makan siang?"


"Bukan."Windu melingkarkan tangannya di bahu Dara.


Mata Dara tal berkedip memandang suaminya, menunggu lanjutan kalimat yang akan di sampaikan oleh Windu.


"Kamu tidak perlu memasak untukku besok."


"Kenapa? kamu bosan aku datang kemari?"


"Sayang, dengar dulu..." Windu meletakkan telunjuknya di bibir Dara yang terlihat sedikit cerewet karena gugup.


"Aku...aku sepertinya akan keluar kota besok."


"Keluar kota? kemana?" Dara sedikit terkejut tetapi segera menguasai pias wajahnya yang sempat berubah.


"Ke Bali, untuk tiga hari."

__ADS_1


"Oooh..."


"Kok, oh?" Windu sekarang yang heran, reaksi istrinya itu di luar perkiraannya. Terlihat datar saja, seolah jika dia pergi bukan masalah besar bagi Dara.


Selama ini dia mengira perempuan hamil lebih sensitif jika mau di tinggalkan oleh suaminya. Nyatanya, Dara bersikap biasa saja. Padahal Windu sempat pusing sendiri memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepergiannya untuk dinas luar itu karena begitu mendadaknya.


"Ya, mau bagaimana lagi? suamiku kan' bekerja, jika itu menyangkut pekerjaan, masa aku harus keberatan?" Dara tersenyum sambil membersihkan ujung bibir Windu karena ada sedikit sisa mori yang melekat di sana.


"Tapi..."


"Seorang istri tentu saja harus mengerti bahwa dirinya wajib mensupport apapun yang di lakukan suaminya, bukankah tugas ini untuk menafkahi dirinya juga? Tidak etis kalau aku menjadi batu sandungan dalam pekerjaan kak Win, bukankah suami bekerja itu adalah bagian dari ibadah?" Suara Dara terdengar begitu manis, lebih manis dari gulali.


Windu masih melongo menatap istrinya, entah dari mana dia mendapatkan kata-kata sebijak itu tapi Windu benar-benar terkesima.


"Salah satu dari kewajiban seorang Istri yang baik adalah harus patuh kepada suaminya. Selama suami berada di jalan yang benar, bukankah tidak masalah? Tidak ada alasan untuk aku menghalangi kak Win." Dara terkekeh, matanya berbinar, seakan menyampaikan betapa tulus perkataannya.


"Kamu tidak mau ikut?" Tanya Windu dengan bengong.


"Aku mau ikut, siapa sih yang tidak mau ke bali bersama suami?" Dara mengerling.


"Tapi aku kan' sedang hamil muda, mungkin rentan dalam perjalanan naik pesawat. Kalau tidak ada rekomendasi dari dokter, sebaiknya aku tinggal saja dulu. Segala sesuatu ada skala prioritasnya, aku lebih memprioritaskan anak kita." Dara tersenyum, memegang pipi Windu dengan lembut.


"Sayang..." Windu meraih pergelangan tangan Dara, wajahnya begitu terharu, di balik sikap manja Dara saat kehamilannya kali ini, tetap saja dia memiliki sisi kedewasaannya.


"Aku percaya kak Win hanya memikirkan aku di sana." Dara tertawa kecil, memperlihatkan giginya yang putih.


"Tentu saja...tentu saja aku pasti tak akan fokus pada apapun jika tidak ada kamu." Windu menghela nafas.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang dulu, ada sesuatu yang harus ku kerjakan di rumah." Dara beranjak. Mengecup bibir Windu sekilas.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kalau aku pergi tiga hari?"


"Seminggu juga tak masalah."


"Kamu kejam sekali, sayang..."


"Kejam bagaimana?" Dara meraih tasnya dari atas meja.


"Bagaimana bisa kamu hidup tanpa aku begitu lama...?" Windu berdiri sambil merengut. Di tariknya tangan Dara sebelum istrinya itu mencapai pintu, lalu bibirnya lengket seperti lem di bibir Dara, sedikit lama sampai-sampai Dara harus mendorongnya untuk mengambil nafas.


"Aku akan menghubungi Ricky, dia akan mengurusku di sana." Bisiknya pada Dara.


"Itu lebih baik." Sahut Dara sambil segera menghilang di valik pintu, sebelum Windu berubah fikiran mengurungnya dalam ruang kerjanya itu.


(Yeay...akhirnya crazy UP jg hari ini😅😅 Di tunggu, ya crazy UP selanjutnya besok ya😁 jgn lupa Vote yaaa🙏☺️ lope2 you semuanya)


__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2