
Saat Nadia sedang cemas memikirkan suami dan anaknya. Justru Pras, si kembar dan Zahra sedang seru bermain di sebuah wahana pemainan.
"Sudah, sudah cukup sayang,Tante capek.!" ucap Zahra sambil duduk.
"Yaah tante, bentar lagi yuk!" ajak Nayla merajuk.
"Biarkan tante Zahra istirahat dulu, kalian boleh main, Ayah liatin dari sini." kata Pras dengan nafas terengah pula.
"Bermain dengan anak-anak, terpaksa kita harus seperti mereka juga," gumam Pras sambil duduk di sebrang Zahra.
Sejenak ia bisa melupakan kekecewaanya terhadap Nadia.
"Terimakasih ya, kamu sudah mengembalikan senyuman di wajah anak-anak saya," ucap Pras dengan tulus, sambil menatap lembut tepat ke mata Zahra.
"Tidak usah berterima kasih Mas, aku juga merasa bahagia melihat mereka tertawa," jawab Zahra.
Zahra sendiri tidak mengerti, setiap bersama si kembar, jiwanya terasa hidup. Seperti ada ikatan bathin yag ia rasakan.
Pras memandangnya intens.
"Menurut cerita ibu, kamu sudah yatim piatu sejak kecil..? Pras berhenti sejenak.
"Benar mas, masa kecilku sangat gersang. Haus kasih sayang. Aku tumbuh di panti asuhan. Bisa di bayangkan melewarkan hari-hari disana, tanpa sanak keluarga. 0Sampai suatu hari, paman menemukanku di saat usiaku sudah tiga belas tahun." Zahra terlihat menarik nafas panjang.
"Maaf, saya tidak bermaksud..."
"Tidak apa- apa mas, aku sudah melupakan masa sulit itu. Mungkin karna itu pula, aku tidak rela kalau Kayla dan Nayla mengalami hal yang seperti aku rasakan." ucapnya berusaha ceria.
Walaupun berusaha menyembunyikanya,
tapi Pras tau, di balik mata teduh itu tersimpan duka yang mendalam.
"Gadis ini sangat hebat, dia juga sangat tulus mencintai anak - anak. sedang Nadia yang ibu kandungnya saja tidak perduli perasaan anaknya."
Pras mengusap wajahnya dengan kasar.
Derrt derrt..! Ponsel Pras bergetar.
Ia melirik layar ponselnya. Tertera nama Nadia.
"Iya, kenapa?" jawabnya malas.
"Kalian dimana? Aku sudah di rumah mas."
Terdengar suara Nadia di ujung sambungan.
Pras memperhatikan keceriaan Kayla dan Nayla. kekecewaan mereka sudah terobati dengan kehadiran Zahra, mungkin semua akan berubah lagi kalau Nadia muncul di tengah -tengah mereka.
Ia lebih memilih kebahagiaan anaknya, ketimbang ego sang istri.
"Kami sedang berada di wahana bermain anak, kamu di rumah saja Dek. Sebentar lagi juga kita pulang" jawab Pras melarang Nadia untuk datang.
"Tanpa menunggu persetujuan dari Nadia, Pras sudah memutuskan sambungan.
"Maafkan Mas, Dek. Mas lakukan ini agar kamu berpikir." Pras merasa perih, baru kali ini ia bersikap dingin pada istri yang sangat ia cintai itu.
Setelah puas bermain, Kayla menghampiri ayahnya.
"Ayah, lapaar," ucapnya sambil memegangi perutnya.
"Iya,sudah. kita cari makan yuk!"
Kedua anak kembar itu berebutan masuk ke mobil.
"Tante Zah di depan saja sama ayah," ujar Kayla. Mengejutkan Pras dan Zahra.
__ADS_1
Pras juga heran dari mana dia dapat panggilan baru buat Zahra. Yaitu tante Zah.
Melihat Pras termenung, membuat Zahra tak enak hati.
"Tante di belakang saja sama kalian," kilah Zahra.
"Iya, tante. Kami mau main di belakang.
Kasian Ayah sendirian di depan." sambung Nayla.
Zahra dan Pras saling pandang. "Kalian memang pintar bicara ya," ujarnya sambil mencubit hidung Nayla.
"Kamu di depan saja, mungkin mereka ingin lebih leluasa di belakang," ucap Pras sambil menggestur kepalanya menyuruh Zahra duduk di depan.
Semula suasana ribut oleh suara si kembar.
Namun lama kelamaan, suasana menjadi hening. Zahra menengok kebelakang ternyata kedua anak itu ketiduran.
Suasana yang hening membuat Pras dan Zahra menjadi kikuk.
"Yaah mereka ketiduran, gimana mau makan?" ucap Pras, mencoba mencairkan suasana.
"Terus bagaimana ini?" tanya Pras seolah pada diri sendiri.
"Kita pulang saja Mas," ucap Zahra dengan suara serak.
"Kamu kenapa?" tanya Pras lagi.
"Nggak tau nih, tenggorokanku kering Mas," jawabnya. Lalu ia berusaha meraih botol air putih di depanya.
Pada saat yang sama Pras juga berinisiatif mengambilkan air itu untuknya.
Tangan mereka bertemu. Zahra merasa ada aliran hangat menjalar dari tangan itu kesekujur tubuhnya. Begitu juga dengan Pras.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja," ucap Pras gugup.
Zahra hanya mengangguk kecil.
Ia menegak minuman di tanganya.
Suasana hening kembali.
Zahra merasa susah untuk memulai berbicara, lidahnya kelu. Ia berharap, air yang di minumnya mampu melegakan tenggorokan yang seperti ada batu besar mengganjal disana.
Ia juga berusaha menata hatinya yang sedang bergemuruh.
Dalam lamunan. Zahra tidak terlalu menyalahkan perasaanya.
"Siapa sih yang tidak kepincut oleh pribadi pria di sampingnya ini. Sudah baik, kebapaan, ramah, tampan dan penyabar. Sudah mapan pula.
Mbak Nadia saja yang bodoh, dia mencari perak di luaran, padahal di rumah dia sudah punya berlian." bathin Zahra.
"Kenapa senyam-senyum begitu?" suara lembut Pras mengagetkanya.
"Tidak ada apa apa Mas," elaknya tersipu.
"Aduuh.. Apa yang di pikirkan mas Pras ya, melihat aku kayak gini.." pipnya merona seketika.
Pras kembali fokus menyetir.
Diam- diam Zahra memperhatikan Pras dengan ekor matanya.
Pras seorang pria bersahaja. Wajahnya yang tampan, di tambah dengaan senyum yang manis, semanis gula menurut Zahra. Pras juga belum terlalu tua baginya, Usia mereka hanya terpaut lima tahun saja.
"Hus!! Apa yang kamu pikirkan Zahra. Eliing.. Pras itu sudah punya isti dan anak." ia menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa? Kelupaan sesuatu ya?" selidik Pras.
"Eem.. Nyamuk Mas," jawabnya asal.
*
*
Sementara itu, Nadia sedang bersantai di rumahnya. saat menerima pesan dari Pras untuk tidak menyusulnya. Justru ia gembira.
"Mas Pras mulai pengertian ternyata," bisiknya senang. Ia sama sekali tidak merasa tersindir oleh penolakan suaminya.
"Mar, kalau bapak nanya, bilang saya ada urusan sebentar ya!" ucapnya sambil berkemas.
Mar terlihat gelisah.
"Kenapa Mar?"
"Anu, Bu,.. Bapak kan pesan agar ibu dirumah saja?" Mar mengingatkan.
"Buat apa saya di rumah? toh mereka lagi main. Nanti deh saya pulang cepat, sebelum mereka," ucapnya enteng.
"Nad, tunggu!" Bu Warsih,berlari tergopoh mengejarnya.
"Iya,Bu."
"IBu ingin ikut, sekalii ini saja!"
"Aku ada urusan Bu, bukan untuk main -main." kilahnya lagi.
Bu Warsih terlihat kecewa.
Nadia tak tega melihatnya.
"Tak ada salahnya sekali- sekali aku menyenangkan ibu." pikirnya.
"Baiklah, sekali ini saja ya?"
"Ibu janji! Tunggu sebentar ya." wajah bu Warsih terlihat gembira. Ia berlari masuk rumah untuk bersiap-siap.
"Ayo Nad!" suara bu Warsih mengagetkanya.
Nadia tercengang. Bukan hanya bu Warsih yang di sana. Toni dan Rosti juga mengantri di belakang ibunya.
"Ibu sudah bilang, yang di ajak cuman ibu. tapi mereka ngotot," jelas bu Warsih menunjuk anak dan menantunya.
Nadia tak tega melihat tatapan menghiba dari adik iparnya.
"Iya, sudah. Ayo masuk, Kamu yang nyetir Ton!" Nadia menggeser duduknya.
Niat semula, katena sudah lewat seminggu, Nadia ingin mengajak Lena untuk memeriksa barang yang sudah mereka gandakan. Tapi karna ibu dan adiknya ikut, ia mengurungkan niatnya.
"Kita kemana ini mbak?" tanya Toni di tengah perjalanan.
"Ke mall saja, kalian mau?" Nadia menoleh kearah ibu dan iparnya.
"Mau!!" jawab bu Warsih dan Rosti serentak.
"Kompak banget," ledek Toni tertawa.
Bu Warsih melotot kearah menantunya.
"Ma- af," ucap Rosti tak enak hati.
💞 Makasih yang sudah mampir. Tetap mohon dukunganya ya!🙏
__ADS_1