Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 163


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


“Apa?” pekik Siska, “mantan istri Tuan Reyhan kembali?” Meyakinkan pendengarannya.


Diana mengangguk lesu. “Terus, dia datang-datang ngajak Tuan Reyhan balikan lagi dan nyuruh menceraikan loe?” Diana mengangguk lagi.


“Gila!” umpat Siska, “gak tau malu banget tuh perempuan.” Siska menggeleng heran.


“Terus loe diam aja gitu dengar tuh perempuan ngomong begitu ke laki loe?” Diana mengangguk lagi.


“Ahh, loe kok polos banget sih Di, harusnya loe balas. Loe tampar dia, atau loe jambak rambutnya. Gemes gue,” ujar Siska emosi. “Perempuan gak tau malu kayak gitu harus dikasih pelajaran. Enak banget dulu main kabur aja, sekarang dengan mudahnya ngajak balikan dan nyuruh cerai sama loe. Emangnya hati Tuan Reyhan itu mainan.”


“Siapa yang mau cerai?” Bayu tiba-tiba sudah duduk di sebelah mereka.


“Ahh, bukan siapa-siapa Bay,” jawab Diana gelagapan. Dia melotot ke arah Siska, tetapi karena Siska sedang menunduk menyedot minumannya, dia tidak sadar jika Diana memberi kode untuk tutup mulut.


“Itu, mantan istri Tuan Reyhan minta balikan sama Tuan Reyhan dan cerain Diana. Terus ... aawww!” pekik tanpa sadar ketika Diana menendang kakinya di bawah meja. Tendangan itu tepat mengenai tulang keringnya. Ngilu. Siska melotot ingin protes, tetapi melihat Diana yang juga melotot ke arahnya, Siska paham lalu mengurungkan niatnya. Dia hanya mengusap tulang keringnya, berharap bisa mengurangi rasa ngilu.


“Beneran Di, kamu mau cerai sama Tuan Reyhan?” Bayu menatap penuh selidik.


Diana hanya nyengir kuda ke arah Bayu. “Enggak kok Bay, Siska tadi salah dengar,” kilahnya.


Bayu membuang napas panjang. “Jangan bohong, Di.” Tatap Bayu dengan sorot mata tajam. “Kamu sudah berjanji akan selalu membagi masalahmu padaku.”


Diana tersenyum tipis, sedangkan Siska hanya memandang mereka berdua sembari menyedot minumannya.


“Beneran Bay, gak ada apa-apa kok.” Mencoba meyakinkan Bayu. “Aku sama Tuan Reyhan baik-baik saja. Memang ada masalah sedikit, tetapi Sekretaris Jonathan sudah mengurusnya.”


“Bener?” Bayu masih menatap tajam. Diana mengangguk sembari tersenyum meyakinkan. “Baiklah, kalau kamu tidak mau aku ikut campur lebih dalam dengan rumah tanggamu, tapi kamu masih ingat, 'kan, janjimu padamu?”


Diana mengangguk kembali. “Tentu, Bay. Aku akan mencarimu jika hal itu terjadi.”


Hal itu? Ada ketakutan tersendiri di mata Diana setiap memikirkannya.


“Jika saat itu terjadi, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Termasuk tidak akan pernah membiarkan dia bertemu denganmu lagi.”


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️


Siang hari di gedung Wijaya Group, seperti biasa setelah selesai makan siang Reyhan akan kembali ke ruangannya. Namun, siang ini di depan pintu, Sinta sudah menunggunya, mencegah Reyhan memasuki ruangan.


“Maaf Tuan, tadi ada telpon untuk Anda.”


Reyhan mengernyitkan dahi. “Dari siapa?”


“Nona Adinda, Tuan. Dia ingin bertemu dengan Tuan di kantor hari ini,” jelas Santi.


Reyhan nampak berpikir sebentar. Dia merasa aneh, kenapa Adinda tiba-tiba ingin menemuinya di kantor?


“Baiklah. Jam berapa aku ada waktu kosong?”


“Hari ini kebetulan Tuan tidak ada jadwal dari habis jam makan siang sampai sore.”


“Baiklah, suruh dia menemuiku satu jam lagi.”


“Baik Tuan,” sahut Santi sembari mengangguk sopan.


Sementara Reyhan masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk di kursi kebesarannya, memakai kacamata baca, dan mulai berkutat dengan tumpukan map-map di atas meja kerjanya.


“Masuk!” teriaknya dengan mata masih terpejam.


Santi nampak membuka pintu dan mempersilakan Adinda untuk memasuki ruangan.


“Silahkan, Nona." Mempersilahkan Adinda masuk dengan sopan.


“Terima kasih." Adinda balas tersenyum sopan.


Santi mengangguk sebentar sebelum menutup pintu itu tanpa suara. Sementara Reyhan bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Adinda.


“Hai, Din, ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku?” Reyhan memberi kode Adinda untuk duduk di sofa.


Adinda membuang napas berat begitu mendudukkan pantatnya di sofa berwarna merah maroon yang empuk. “Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujarnya.


“Hal penting apa? Apa kamu ingin balik ke dunia modeling?” tanya Reyhan setengah bergurau.


“Bukan Rey, ini bukan soal bisnis, tetapi masalah pribadi.” Menatap serius Reyhan.


Reyhan menautkan kedua alisnya dan balas ke mode serius. “Apa itu? Jangan bilang ini tentang Laura.”

__ADS_1


“Sayangnya ini memang tentang Laura,” sesal Adinda.


Reyhan melengos kesal. “Kalau kamu ke sini untuk membicarakan Laura, sebaiknya kamu pulang saja. Aku tidak mau mendengar apa pun tentang wanita itu,” tegas Reyhan dengan nada tinggi.


“Tidak Rey, kamu harus mendengarkanku kali ini.”


“Jangan memaksaku Adinda.”


“Laura ingin kamu berpisah dari Diana.” Adinda menunduk. “Dia ingin aku membantunya.”


Reyhan tersenyum miring, dia sudah menduganya. “Lalu, kamu menyetujuinya? Aku tau kamu pasti akan membantunya, bukan? Tapi asal kalian tau, rencana kalian tidak akan berhasil."


“Tidak Rey, aku ke sini bukan ingin mengatakan hal itu.” Kali ini Adinda menengadah menatap Reyhan yang berdiri di depannya. “Aku ....” Ucapannya terhenti karena Santi kembali mengetuk pintu dan masuk membawa nampan berisi dua cangkir kopi untuk mereka.


“Silahkan diminum kopinya Tuan dan Nona, saya permisi.” Adinda tersenyum dan mengangguk.


“Laura memang sahabatku, tapi kamu dan Diana juga sahabatku. Aku tidak mau ada yang terluka lagi di antara kalian.” Adinda melanjutkan ucapannya setelah Santi menutup pintu kembali. “Laura masih berharap padamu karena selama ini Laura mengira kamu masih mencintainya, dia mengira kamu menikahi Diana hanya untuk membalas dendam padanya, hanya untuk membuatnya cemburu. Apalagi pagi tadi dia datang menemuiku dengan berlinang air mata, katanya pengajuan untuk hak asuh Rangga ditolak pengadilan. Aku tidak tega melihatnya.”


“Dia pantas mendapat itu. Dia yang sudah meninggalkan Rangga dulu. Dia lebih mengutamakan mimpi dan ambisinya daripada putranya sendiri.” Reyhan mengusap wajahnya kasar. Dia selalu merasa kecewa jika mengingat semua itu.


Adinda mengangguk, membenarkan ucapan Reyhan. “Kalau kamu memang mencintai Diana, kamu harus melakukan sesuatu yang bisa menyadarkan Laura. Kamu buktikan kalau kamu sudah tidak ada rasa lagi padanya. Supaya dia tidak berharap lagi padamu dan tidak lagi berencana memisahkanmu dengan Diana.”


“Dengan cara apa lagi? Aku sudah jelas mengatakan di hadapannya kalau aku sudah menikahi Diana dan sangat mencintainya.”


“Kamu belum mengatakan itu di hadapan publik Rey, seperti saat kamu menikahi Laura. Laura beranggapan kamu tidak serius dengan ucapanmu itu. Dia mengira kamu hanya menggertaknya.”


“Apa aku harus mengadakan resepsi pernikahan maksudmu?”


“Iya, Rey, mungkin dengan begitu Laura bisa sadar dan berhenti berharap padamu. Sehingga, dia bisa memulai hidup baru juga.”


“Aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak mau Diana dikenal publik. Lagi pula papa Diana masih menjalani perawatan, tidak baik rasanya kalau aku mengadakan pesta di saat mertuaku masih sakit.”


“Perawatan? Papa Diana sakit apa?”


“Lumpuh. Papanya sempat stroke tiga belas tahun lalu.”


“Setahuku bukankah kalau lumpuh karena stroke itu bisa sembuh jika segera mendapat penanganan pada masa golden period saja.”


“Iya, aku tau. Sebenarnya bukan stroke yang menyebabkannya lumpuh dan bukan karena itu juga alasan utamaku mengirimnya berobat.” Wajah Reyhan tampak muram setelah mengatakan itu. Dia tidak tega jika mengatakan yang sebenarnya apalagi pada Diana.


“Lalu apa?” Adinda penasaran.


“Papa Diana menderita Osteosarcoma.”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2