Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 101 Bercerai


__ADS_3

Saat Jane berjalan keluar dari aula dalam, dirinya terlihat panik dan gelisah sekali.


Orang-orang merasa penasaran.


Renata pulang lebih awal karena masalah ini.


Frank bersikeras mau mengantar Jane pulang, Vincent ingin kembali ke kota Izuno, adapun para bos besar di kota Izuno itu, sekarang sedang terjebak dalam dilema, tidak tahu harus bagaimana baiknya.


Mereka ingin pergi menjadi penjilat Vincent, tapi juga khawatir dengan balas dendam dari berbagai keluarga terpandang di Hansami serta Keluarga Toyz dari kota Azuka, ingin pergi menjauh dari Vincent, namun melihat kemampuan Keluarga Lanister serta masa depan Grup Vallamor, tidak berani meremehkannya.


Seketika sekelompok bos ini bimbang sekali. Vincent sudah hilang kepercayaan pada mereka, lalu tidak menghiraukannya.


"Jane, kamu kenapa? Ayah, apa yang kamu katakan pada Jane?" Melihat wajah mungil Jane kuyu sekali, Katrina dengan gugup bertanya sambil menarik tangan kecilnya.


Kakek Avricon tersenyum : "Tidak mengatakan apa-apa, sudahlah, sudah tidak awal lagi, kalian sudah harus kembali, jangan sampai Tuan Saul dan yang lainnya menunggu terlalu lama."


"Oh, baik." Katrina mengangguk, tapi ada sedikit kekhawatiran dalam matanya


"Ayah, lalu Ibuku..."


"Hmm, apa yang dia lakukan di sana? Aku masih belum membuat perhitungan dengannya, seorang wanita, malah mengatur banyak hal!" Raut wajah Kakek Avricon berubah, penuh amarah mengatakannya. Katrina tidak bersuara.


"Pokoknya kalian pulang saja, akhir-akhir ini Keluarga Avricon juga tidak terlalu tenang, saya harus baik-baik mengurus gaya keluarga ini, sekelompok orang yang hanya tahu memihak orang luar dibandingkan orang sendiri!" Kakek Avricon marah hingga terus menghentakkan kaki.


Raut wajah beberapa anggota Keluarga Avricon agak canggung. Kakek Avricon lebih awal kembali ke kamar.


Katrina juga tahu tidak baik jika tinggal lebih lama lagi, lalu bersama Jackson menaiki mobil Frank pergi meninggalkan Keluarga Avricon. Setelah sekelompok orang pergi, Keluarga Avricon yang semula penuh keramaian tiba-tiba menjadi sepi. Katrina tidak bersuara. Kakek Avricon menarik nafas dalam-dalam, di mata ada sedikit gelombang kepastian.


Masalah hari ini memberi pukulan besar padanya. Dia baru mengerti, ternyata Keluarga Avricon ini sama sekali bukan Keluarga Avricon yang dia kenal itu.


"Beri pemberitahuan, besok diadakan rapat keluarga besar, semua anggota Keluarga Avricon harus tiba! Tapi, nenek sihir itu tidak boleh datang!"


"Ini tuan, tidak terlalu baik, bukan?"


"Apanya yang tidak terlalu baik? Sebenarnya aku pemimpin keluarga atau dia?" Kakek Avricon menepuk meja dan teriak keras. Pelayan tidak bersuara lagi.


"Selain itu, utus beberapa orang pergi ke kota Izuno untuk melihat Jane dan yang lainnya, jika sekelompok orang di Hansami pergi ke kota Izuno untuk menyentuh dia, beri tahu aku secepat mungkin, pastikan harus melindungi mereka, aku berhutang terlalu banyak pada mereka, sudah seharusnya memberi kompensasi." Orang tua menghela nafas.


"Iya, tuan. namun tuan, ada satu hal yang tidak terlalu aku pahami."


"Apa yang tidak dimengerti?"


"Itu mengenai." Kepala Pelayan ragu-ragu sejenak baru mengatakannya.


"Vincent?"

__ADS_1


"Iya, tuan, aku lebih penasaran mengapa setelah Vincent dan master yokai masuk ke dalam, master bukan hanya tidak menangkap Vincent, sebaliknya malah terus membelanya." Kepala Pelayan berkata dengan hati-hati. Kata-kata ini baru terlontarkan, tampaknya Kakek Avricon telah menyadarinya.


"Memang ada yang aneh dengan semua ini."


"Tuan, tiba-tiba aku mendapat sebuah ide yang berani, menurut Anda, Vincent kita ini.apakah adalah."


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Bagaimana mungkin?" Tidak menunggu Kepala Pelayan selesai bicara, Kakek Avricon langsung menyela pembicaraannya, menggeleng sambil berkata : "Meskipun Katrina sekeluarga tinggal di kota Izuno, tapi aku tetap masih tahu mengenai masalah mereka, Vincent ini menikah dan tinggal di rumah mempelai wanita, tidak memiliki keterampilan apa-apa, katanya hanya orang yang tahu bermalas-malasan saja, tidak bisa melakukan apapun, jika bukan karena penampilannya hari ini masih bagus, kalau tidak saya juga terlalu menganggap remeh orang ini, jangan-jangan kamu berpikir mereka semua bermarga Bermoth, jadi kamu mengira dia adalah CEO Bermoth? Kamu tidak merasa tidak masuk akal?"


"Memang sedikit tidak masuk akal.."


"Aku rasa mungkin Vincent tahu tentang CEO Bermoth menyukai Jane, mungkin di dalam ingin mengatakan hal ini dengan Kendra." Kakek Avricon melambaikan tangan, berkata dengan datar : "Tidak bicara lagi, sekarang hanya lihat pilihan Jane sendiri. Jika pilihan dia benar, tidak akan ada orang yang terluka lagi."


"Ya."


Di dalam mobil yang melaju cepat di kota Izuno.


Frank mengemudi sendiri. Vincent duduk di jok sebelah pengemudi, diam-diam memperhatikan di depan. Katrina menghela nafas, di dalam hati Jackson dan Katrina sangat tertekan. Tidak menyangka sebuah pesta ulang tahun malah menyebabkan begitu banyak masalah, untungnya sekeluarga bisa kembali dengan selamat.


Satu-satunya hanya Jane yang menundukkan kepala, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Frank melihat ke kaca spion, lalu melirik ke arah Vincent,


"Baik-baik mengemudi." Vincent berkata dengan datar.


Frank segera menatap lurus ke depan.


Suasana di dalam mobil tanpa sebab menjadi aneh. Dengan cepat, mobil tiba di bawah rumah Jane. Jackson dan istrinya keluar dari mobil.


"Ayah, ibu, kalian naik saja, aku dan Vincent keluar untuk melakukan sesuatu." Jane berkata sambil menunjukkan senyuman. Kata-kata terlontarkan, Vincent yang ada di barisan depan mengerutkan kening.


"Oh...baiklah, kalian jangan terlalu merepotkan Tuan Saul, Tuan Saul, terima kasih banyak."


"Tidak perlu sungkan." Frank tersenyum. Keduanya langsung naik ke atas.


"Nona Dormantis, Anda ingin pergi ke mana?" Frank menoleh dan bertanya.


Jane memejamkan kedua matanya, terdiam sejenak lalu berkata dengan suara pelan : "Pergi ke kantor catatan sipil saja!" kata-kata ini, seketika membuat Frank tercengang.


Vincent juga agak membelalakkan matanya. "Kan..kantor catatan sipil?" Frank sampai agak sulit bicara, tertegun memandang dia dan Vincent.


"Apa yang telah terjadi?" Vincent menghela nafas lalu bertanya.


"Tidak apa-apa, hanya merasa terlalu lelah." Jane berkata dengan suara agak serak : "Vincent, bukankah kamu pernah mengatakan, asalkan aku bersedia, kamu akan menghormati pilihanku?" Jane bahkan tidak bersedia menjelaskan.


Vincent terdiam. Beberapa saat kemudian, dia melambaikan tangan


"Pergi ke kantor catatan sipil saja."

__ADS_1


"Ini.." Frank cemas, tapi tidak tahu harus mengatakan apa baiknya.


Akhirnya, dia hanya bisa menghela nafas, melajukan mobil ke kantor catatan sipil. Jane terus menundukkan kepala, kedua tangan kecil disilangkan erat-erat, air mata terbendung di dalam rongga mata. Vincent tidak bicara.


"CEO Bermoth!" Frank memanggil dengan suara pelan.


"Sudah aku katakan, aku menghormati pilihannya, karena dia sudah memutuskan, maka begini saja." Vincent berkata dengan datar.


Meskipun tidak tahu apa yang telah terjadi, namun dia percaya, ini pasti ada hubungannya dengan Kakek Avricon. Namun, Kakek Avricon tidak akan menyakiti Jane, mungkin bagi dia bercerai juga merupakan pilihan yang tepat. Vincent penuh ketidakberdayaan.


Sudahlah, semuanya ikuti jodoh saja. Lagipula, pernikahan mereka tidak memiliki banyak dasar perasaan, jika sungguh bercerai, Vincent tidak akan bersikeras memaksa. Hanya saja Frank tidak paham akan pemikiran Vincent.


Menurut pandangannya, semua yang dilakukan oleh Vincent hanya demi Jane. Tidak salah, Frank menunggu orang bukanlah suatu kebetulan, melainkan Vincent sengaja mengaturnya. Frank tidak tahu bagaimana perasaan diantara Vincent dan Jane, tapi dia percaya Vincent tetap sangat peduli pada Jane.


Oleh karena itu, Frank sengaja mengemudi dengan lambat, selain itu, masih sengaja berputar satu putaran, langsung dijalankan di jalanan pusat kota Izuno, jam empat sore, di sini pasti agak macet.


Benar saja, mobil Frank terjepit di tengah, sulit untuk maju atau pun mundur.


"Mengapa kamu berkendara sampai di sini?" Vincent berkata sambil mengerutkan kening.


"Jalan sebelah sana sedang diperbaiki, perbaikan jalan." Frank tersenyum ceria. Mana mungkin Vincent tidak paham dengan pemikirannya, lalu tidak mengatakan apa-apa.


Benar saja, setelah Frank bersusah payah melewati jalanan pusat kota dan tiba di kantor catatan sipil, kantor catatan sipil sudah tutup.


"Besok baru datang saja." Jane berkata dengan tatapan suram.


"Besok hari sabtu, harus tunggu sampai hari senin." Frank sambil tersenyum mengatakannya. Nafas Jane bergetar, air mata lebih banyak lagi.


"Tidak bisa menunggu, tidak bisa menunggu..."


"Nona Dormantis, aku juga tidak berdaya, tidak mungkin aku menyuruh mereka kembali untuk lembur bukan? Aku juga tidak berhak seperti itu..."


"Tidak apa-apa, Tuan Saul, kamu pulang dulu saja, aku dan Vincent akan mengurus masalah ini dengan baik." Jane diam-diam menghapus air mata, memaksakan diri untuk tersenyum.


"Hmm, jika ada masalah apa, silahkan telepon aku saja." Frank diam-diam melirik Vincent sejenak, menghela nafas, berbalik lalu pergi.


Setelah Frank sudah pergi, Jane baru mengatakan : "Kamu ikut aku pulang saja.


"Mengapa bercerai?" Vincent bertanya lagi.


"Sudah aku katakan, aku sangat lelah menikah denganmu." Dia memalingkan kepala.


"Ketika kamu berbohong tidak pernah berani menatap orang lain."


"Jangan bertanya lagi, aku sudah memutuskan untuk bercerai, tidak akan berubah lagi." Jane berkata dengan suara serak : "Sekarang kamu segera ikut aku pulang, bereskan semua barangmu dan segera pindah keluar!"

__ADS_1


"Apa?" Vincent tertegun.


Tiga puluh menit kemudian. Vincent membawa koper yang besar sekali, hanya berdiri begitu saja di depan rumah Jane.


__ADS_2