Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 504 Bagaimana Jika Dramanya Dibatalkan?


__ADS_3

"Yang dikatakan Greni ini sangat masuk akal! Cepat katakan! Apakah kamu benar-benar berniat melakukan ini?"



Katrina langsung menolehkan kepala dan menatap Vincent dengan pandangan yang marah.



“Apa maksudmu ingin melakukan seperti itu?” Vincent mengepalkan tinju di tangannya dalam diam dan bertanya dengan suara yang dingin.



"Kamu masih ingin berpura-pura disini? Vincent! Aku sudah bisa melihatmu dengan jelas, kamu berpikir kamu tidak bisa mengejar Jenice, saat ini kembali mengalihkan perhatian pada putriku kan? Apakah kamu berpikir ingin membuat beras menjadi nasi matang, ingin Jane supaya tidak bercerai denganmu kan? Aku katakan kepadamu, bermimpi saja! Pernikahan kalian ini sudah pasti akan bercerai! Pintu keluarga Dormantis kami tidak pantas dimasuki oleh sampah sepertimu! Bahkan makanan bekas milik Keluarga Dormantis kami pun tidak pantas untuk kamu makan!” Katrina berteriak sambil menunjuk ke arah hidung Vincent.



Vincent tercengang.



Ternyata Katrina bisa berpikir seperti itu.



"Bibi, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu pada kakak ipar? Mungkin Kak Jane hanya terlalu banyak minum dan kakak ipar ingin pergi mengantarnya saja," kata Jenice dengan cepat.



“Ya, bibi, mulutmu ini agak pedas ya? Selain itu mereka adalah suami istri yang sah, bahkan jika benar-benar membuka kamar, bukankah ini hal normal yang bisa dilakukan suami istri? Apakah ada salahnya?” Elvina di sampingnya tidak bisa menahan diri dan berbicara.



Dong Min diperkenalkan kepada mereka oleh Vincent, secara otomatis mereka memiliki hutang budi terhadap Vincent. Dalam kondisi seperti ini mereka pun tidak akan tinggal diam saja.



“Jenice, apakah kamu memiliki hak untuk berbicara disini? Tutup mulutmu!” Greni langsung berteriak pada Jenice.



" Nak, beraninya anak kecil sepertimu mengajariku? Apakah masalah keluargaku perlu campur tangan darimu?” Katrina dibuat murka hingga wajahnya menjadi merah dan berkata sambil membelalakan mata ke arah Jenice dan Elvina.



"Aku hanya tidak tahan melihatnya, hal salah apa yang dilakukan oleh Kak Vincent? Harus dimaki olehmu? Kalian benar-benar terlalu keterlaluan!" Elvina juga emosional, berteriak dengan kedua tangan di pinggang.



"Kamu... kamu..." Katrina sudah dibuat marah hingga ingin meledak, sudah ingin melangkah maju untuk memukul gadis tidak tahu diri dihadapannya.



Namun pada saat ini, Judo di belakang sudah berteriak dengan suara dalam.



"Cukup!"



Suara ini langsung menghentikan keributan beberapa orang ini.



"Katrina, tutup mulutmu, Jenice, kamu juga bicarakan ini dengan temanmu, untuk tidak membantah bibimu seperti itu, bagaimanapun juga bibimu adalah orang yang lebih tua, tidak memberikan penghormatan kepada yang lebih tua ini sangat tidak masuk akal!" kata Judo dengan serius.



"Ya, Ayah." Jenice mengangguk dengan suara rendah.



"Sudahlah Katrina, Jane sudah menjadi mabuk seperti ini, lebih baik kalian suami istri mengantarnya pulang, sudah larut malam dan dingin, pakaiannya juga tipis, jangan sampai dia masuk angin." Judo berkata dengan serius.



"Baiklah, Kak." Jackson menganggukkan kepala.


__ADS_1


"Ayo pergi! Vincent, masalah ini akan aku perhitungan dengan perlahan kepadamu!"



Katrina memelototi Vincent dengan dingin,kemudian sambil membantu Jackson menopang Jane berjalan pergi.



Keluarga mereka meninggalkan hotel lebih awal.



Judo juga sudah malas beromong kosong dengan Vincent, dia langsung berkata kepada Jenice, "Ayo masuk."



"Kakak ipar, kamu juga ikut kami masuk kedalam saja!" Jenice menarik Vincent dengan penuh harap.



“Tidak perlu, sudah membuat masalah menjadi tidak menyenangkan, lebih baik aku pulang saja.” Vincent menggelengkan kepala dan menolak.



“Kakak ipar, tolonglah, ikutlah masuk denganku, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Jenice memandang Vincent dengan pandagan mata yang berair dan memohon.



"Betul, kakak ipar Vincent, kami masih belum berterima kasih denganmu. Bagaimana bisa membiarkanmu pergi begitu saja? Ayo masuk dan duduk sebentar, aku masih ingin bersulang denganmu. " Elvina juga membujuk, nada bicara yang centil ini tidak tertahankan.



Vincent ragu-ragu sejenak, pada akhirnya menghela nafas dan berkata dengan tenang: "Baiklah, aku akan menemani kalian duduk sebentar, namun paman dan yang lain sudah memiliki prasangka yang besar kepadaku. Jika kalian bersama denganku, mungkin akan memberikanku lebih banyak masalah."



“Jangan khawatir, kakak ipar, aku akan mengurus orang tuaku!” Jenice menjulurkan lidahnya dengan nakal, tiba-tiba hatinya terasa lebih baik.



Vincent tersenyum tak berdaya dan ditarik memasuki pintu oleh Jenice.




Begitu mereka memasuki pintu, wajah Greni dan Judo langsung menjadi gelap ketika melihat Vincent berjalan mengikuti, dia pun langsung bertanya.



"Bu, kakak ipar harus ada di sini, anda juga tahu sutradara Dong Min yang memintaku untuk syuting, diperkenalkan kepadaku dan Elvina oleh kakak ipar." Jenice langsung berkata.



"Kebohongan apa yang kamu bicarakan ini? Vincent orang yang tidak berguna sepertinya bisa mengenal sutradara besar Dong? Putriku, jika kamu ingin melindunginya, juga tidak perlu berbohong seperti ini." Greni menjadi tidak senang.



"Bu, aku tidak berbohong, apa yang aku katakan itu benar, jika tidak percaya bisa langsung menanyakan kepada Elvina !" Jenice menjadi emosional.



"Sudahlah, Greni, jika Vincent ingin datang biarkan saja, jangan membuat keributan di tempat seperti ini, tidak hanya tidak sopan, hal ini akan menjadi masalah jika menarik banyak perhatian kepada putri kita." Judo berkata dengan sedikit tidak sabar.



“Apa yang kamu katakan ini benar!” Greni menganggukkan kepala, kemudian memelototi Vincent: “ Wajahmu cukup tebal ya, sebelumnya kamu ingin masuk dengan mengikuti istrimu kan? Ketika istrimu sudah pulang, kamu tidak bisa masuk dan meminta Jenice membawamu masuk untuk melihat dunia kan? Kamu benar-benar licik!"



Dalam pandangannya, Orang seperti Vincent ini pasti tidak akan diundang, hanya bisa masuk dengan mengikuti orang lain.



Vincent sudah tidak berbicara, malas untuk memperhitungan ini dengan Greni.



Jika bukan karena Jenice, dia sejak awal pasti sudah pergi dari sini.

__ADS_1



Keluarga Judo sudah memiliki tempat, sehingga ketika masuk ke ruang perjamuan, mereka langsung diantar oleh seorang pelayan pergi ke lantai dua.



Sementara para tamu seakan menyadari sesuatu dan langsung melihat ke arah mereka.



"Hei, bukankah itu pemeran wanita utama dan pendukung dari drama baru sutradara besar Dong ?"



"Kelihatannya sangat cantik ya!"



"Ayo pergi menyapa!"



Banyak tamu yang menyaksikan, sementara lebih banyak orang yang pergi mengelilingi Jenice dan Elvina untuk foto bersama.



Jenice dan Elvina pada awalnya adalah orang yang pemalu, mereka belum memulai berakting dan sudah menjadi terkenal, perubahan ini sangatlah besar.



Video mereka berdiskusi dengan Dong Min di restoran sudah diunggah dan tersebar heboh di internet. Dong Min juga bermaksud menciptakan momentum untuk mereka, untuk mempromosikan film baru, meningkatkan antusias, sehingga tidak hanya tidak disembunyikan, kebalikannya terus menerus mempromosikan ini, dalam waktu beberapa hari, mereka berdua sudah menjadi pelanggan bagi pencarian terhangat di lambe turah.



Melihat putrinya yang seperti bintang dan dikelilingi oleh banyak orang, Greni merasa sangat bangga.



Dia melirik Vincent singkat, sambil mencibir berkata: "Orang tidak berguna! Apakah kamu sudah melihatnya? Putriku sudah menjadi bintang besar! Apakah kamu ingat perkataan yang sebelumnya kamu katakan kepadaku? Hehe, orang sepertimu di kemudian hari hanya bisa memandang keluarga kami, apakah masih ada yang ingin kamu katakan sekarang?"



Vincent sama sekali tidak marah, hanya bertanya dengan ringan: "Bagaimana jika drama Jenice ini gagal?"



"Bagaimana mungkin? Mimpi apa yang kamu lakukan di siang bolong seperti ini? Tidak tahu betapa optimisnya sutradara besar Dong terhadap Jenice kami, bagaimana mungkin bisa gagal? Apakah kamu mengigau?" Greni berkata dengan jijik.



Vincent menggelengkan kepalanya, namun tidak menjawab.



Saat ini, tidak tahu siapa yang berteriak.



" Sutradara Dong sudah sampai!"



Hal ini langsung membuat tempat ini menjadi lebih hening.



Ketika mengalihkan pandangan, dia melihat Dong Min, Edwin dan sekelompok pria dan wanita berjas berjalan ke arah tempat ini.



"Nona Jenice, apa kabar!"



Dong Min melangkah maju dengan senyum di wajahnya dan ingin berjabat tangan dengan Jenice.



Namun ketika melihat Vincent yang berdiri di sampingnya, tangan yang terulur itu terhenti dan secara tanpa sadar mengulurkan tangan ke arah Vincent...

__ADS_1


__ADS_2