
"Itu... itu dia?"
"Dia benaran melakukannya?"
"Astaga, orang ini siapa?"
"Tempat Tuan kedua Mirz juga berani ditutup dia? Tidak takut Tuan kedua tersinggung?"
"Orang yang bisa mengundang orang biro kesehatan kemari, apakah kamu merasa dia akan takut kepada tuan kedua Mirz?"
Semua orang sibuk menggosip, tatapan mereka terhadap Vincent sudah dipenuhi oleh kekagetan. Pelayan tercengang di tempat.
Untuk John, ekspresinya sudah tampak sangat tidak enak, dia juga tidak bisa percaya.
Pada saat ini, seorang pria gendut yang berambut gundul tidak tahu muncul dari mana, langsung menampar wajah pelayan itu tanpa berkata apa pun.
Plaak!
Pelayan ditampar sampai jatuh ke lantai, pipinya memiliki jejak telapak tangan yang berwarna merah.
"Bodoh dan ceroboh! Siapa suruh kamu mengabaikan tamu kita yang terhormat?" Pria itu memarahi pelayan.
Pelayan tampak sedih, ingin berbicara sesuatu tapi tidak berani.
"Saya adalah manajer toko ini, marga keluarga saya Amer Benar-benar sangat maaf, orang kami tidak sopan, mengabaikan anda. Saya mohon maaf atas kecerobohan kami" Orang itu berkata dengan senyuman.
"Oh? Kenapa tidak lihat kamu keluar dari tadi? Sekarang terjadi masalah, kamu baru mau keluar?" Vincent bertanya.
Manajer Amer melamun sejenak sebelum sibuk menjelaskan: ""Tuan, kali ini kami ceroboh, sehingga menyinggung anda. Saya akan minta maaf kepada anda, mulai sekarang, anda akan dapat diberi diskon sebesar 50% setiap belanja di toko kami. Tolong maafkan kita. Tempat ini dimiliki tuan kedua, jangan bertindak terlalu kejam, agar bisa bertemu lagi dengan senang di lain hari."
Manajer Amer tersenyum dengan ramah, kata-katanya dengar seperti sedang meminta maaf, tapi sebenarnya juga sedang mengancam Vincent.
Vincent mengerutkan alisnya: "Kamu mengancam aku?"
"Tentu saja tidak berani tuan, saya hanya mengingatkan anda" Manajer Amer berkata dengan mata menyipit.
"Baik" Vincent mengangguk,
"Kalau begitu, aku tunggu tuan kedua Mirz kalian datang mencari aku" Begitu selesai berkata,
Vincent pun berdiri dan berjalan ke arah luar pintu.
"Tuan!" Manajer Arner berteriak, tapi tidak ada gunanya.
"Jane, ayo kita pergi"
"Vincent!" Jane sudah panik, dia mengejarnya dan berkata
"Apakah kamu gila? Kamu tahu siapa itu tuan kedua Mirz? Kamu tidak takut dia balas dendam? Cepat selesaikan masalah ini"
"Bagaimana menyelesaikannya? Saudara dari biro kesehatan datang untuk pemeriksaan rutin, sekarang ketermu masalah, kamu merasa hal ini bisa diselesaikan hanya dari sepatah kataku?" Vincent berkata dengan wajah tampak tidak bersalah.
"Kalau begitu, bagaimana kamu memanggil orang itu kemari?"
__ADS_1
"Aku hanya menggunakan hak pelaporan ku, melakukan pelaporan dengan menelpon seperti biasanya"
"Hanya itu saja?"
"Kalau tidak harus bagaimana?" Vincent bertanya. Jane juga tidak tahu harus berkata apa. Sistem kerja kantor Kota Izuno ada begitu cepat? Jane merasa ragu dan khawatir pada saat yang sama. Mau bagaimanapun, kalau tuan kedua Mirz tersinggung, bagaimana bisa menyelesaikan hal ini nanti?
"Lupakan saja, lihat nanti bagaimana" Langkah Jane terasa berat.
Pada saat ini, John juga bersuara.
"Bagus. Vincent, Jane, kali ini hitungan kalian hebat! Asyik!"
"Rugi 200 juta masih bisa tertawa, sepertinya kamu sangat kaya?" Vincent bertanya.
"Biasa saja. Sebenarnya 200 juta tidak akan hilang begitu saja, restoran ditutup untuk perbaikan, mereka akan mengembalikan uangnya kepadaku. Tuan kedua Mirz bukan bos kecil biasa, dia tidak akan membuat reputasinya buruk demi uang sedikit itu. Yang paling penting adalah, Vincent, kamu melaporkan restoran ini, menyinggung tuan kedua Mirz. Mendingan kamu pikir dulu bagaimana meredakan kemarahan tuan kedua Mirz" John melihat ke Jane dengan mata menyipit
"Lebih baiknya menjaga istrimu dengan baik, tuan kedua Mirz bukan orang yang berbaik hati. Dia sudah lama mengawasi istrimu yang cantik ini"
"Semoga dia ada keberanian seperti itu" Vincent berkata dengan ekspresi dingin.
"Aduh, sudah tidak bisa makan. Ayo kita ganti tempat lain saja" John berjalan ke luar dengan senyuman ceria, tapi begitu jalan sampai depan pintu, dia pun berhenti lagi.
"Oh iya, besok seharusnya ada sebuah drama besar yang sedang menunggu rumahmu. Silahkan antisipasi!" John berkata.
"Drama besar?" Jane tercengang.
"Kalian akan tahu besok!" Pada saat itu, John sudah masuk ke porsche miliknya dan pergi begitu saja.
"Aduh, bagaimana dengan tuan kedua Mirz?" Jackson berkata dengan khawatir.
"Tenang saja ayah, dunia ini berada di bawah aturan hukum sekarang. Di siang hari yang terang ini, dia berani buat apa?" Vincent berkata dengan senyuman.
"Kamu si pembawa sial ini, harus membuat kami sekeluarga mati semua baru kamu puas ya?" Katrina melirik ke Vincent dengan marah.
"Bu, masalah ini tidak bisa salahin Vincent. Mendingan kita pulang dulu saja" Jane berkata.
Terjadi masalah seperti itu, tidak ada yang memiliki suasana hati untuk makan lagi. Sekeluarga , orang pulang ke rumah dengan frustrasi. Sementara besok paginya.
Tong tong tong.
"Siapa?" Katrina membuka pintu dengan mata yang masih ngantuk.
Pintu terbuka dan beberapa orang yang mengenakan seragam masuk ke dalam.
"Yang mana Jackson?" Salah satunya bertanya dengan nada suara serius.
"Ini... ini... ini.. teman-teman, kalian mencari Jackson karena urusan apa?" Katrina bertanya dengan suara gemetar.
"Kami curiga dia terlibat dalam kasus penipuan komersial, kami datang untuk meminta dia pulang bersama kali, mengikuti penyelidikan. Ini adalah surat perintah penangkapan" Pria itu menunjukkan dokumen, kemudian masuk ke dalam rumah untuk menangkap orang.
"Apa? Penipuan? Aku tidak menipu, aku menipu siapa?" Jackson yang masih mengenakan baju tidur terkejut, berteriak dengan emosional.
"Kalian mau berbuat apa?" Katrina menghampir dengan gaya seolah-olah menggila, kemudian ditarik pergi secara paksa.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?" Jane tercengang.
"Teman-teman, apakah boleh perlihatkan aku dokumen kasusnya?" Vincent segera bertanya.
"Baik!" Beberapa lembar dokumen diberikan kepada Vincent, setelah membaca, ekspresinya langsung menjadi berat.
"Vincent, apa yang terjadi? Ayah.. bagaimana ayah bisa terlibat dalarm kasus penipuan?" Jane bertanya.
"Harus tanya kepada nenekmu" Vincent meletakkan dokumen, menjawab dengan suara serak,
"Nenek?" Jane berseru dengan suara gemetar. Jackson di bawa pergi begitu saja. Katrina menangis di atas sofa. Vincent tidak mengatakan apa pun.
"Pantasan John itu tiba-tiba begitu kaya, sampai bisa mengendarai Porsche! Ternyata begitu! Keluarga Dormantis menipu bos-bos itu beberapa miliar, kemudian menuduh semuanya ke Jackson. Sekelompok binatang, sekelompok setan! Huhu." Katrina menangis.
Setelah marah, Katrina juga hanya bisa menangis, tidak bisa melakukan apa pun. Setelah meninggalkan keluarga Dormantis, mereka mana bisa melawan keluarga Dormantis lagi? Kalau keluarga Dormantis memang berniat mau menuduh mereka, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk melawan juga.
"Bu, tidak apa-apa. Polisi akan membuktikan bahwa ayah tidak salah, semua kenyataaan pasti akan terungkap" Jane menghibur.
"Bagaimana membuktikannya? Kamu bukan tidak kenal ayahmu juga, dia paling menurut kepada nenekmu. Pantasan beberapa hari lalu dia tiba-tiba keluar mengantar barang kepada nenekmu, pasti nenekmu menyuruh dia untuk tanda tangan kontrak. Ayahmu mana pernah bersikap waspada kepada nenekmu? Mau membohongi ayahmu terlalu mudah. Mau kenyataannya diketahui pun kita tidak bisa buat apa-apa. Mau bagaimanapun, uangnya memang diambil oleh ayahmu!" Katrina berteriak dengan suara keras. Wajah Jane memucat, dia memeluk Katrina tanpa berkata apa pun. Vincent menghela nafas panjang, kemudian berdiri dan berkata
"Aku keluar sebentar, kalian tunggu aku di rumah. Tenang saja, ayah akan pulang dengan selamat"
"Kamu ada solusi apa?" Jane menatapnya dengan polos, sama sekali tidak berharap. Vincent meninggalkan rumah tanpa berkata apa pun.
"Dia pasti mau melarikan diri. Apakah kamu melihatnya? Sampai sampah ini saja pandang rendah kita!" Katrina berkata sambil menyeka air mata.
Jane tidak berakta apa pun. Tidak tahu setelah berapa lama, Jane baru tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Bu, kalau tidak.. kita pergi cari nenek!"
"Apakah hal itu berguna?"
"Mau bagaimanapun, ayah adalah anak putranya nenek. Nenek tidak akan sekejam itu"
"Tapi nenek itu. benar-benar sangat jahat! Dia sama sekali tidak menyukai ayahmu! Dia merasa ayahmu tidak berguna, memalukannya. Apakah cari dia.. berguna?"
"Mau bagaimanapun, aku harus mencobanya" Jane menarik nafas dengan dalam sebelum berdiri.
"Jane. aku pergi bersamamu saja"
"Tidak perlu. Kamu tunggu aku di rumah!" Jane tersenyum dan keluar dari rumah. Dalam waktu singkat, Jane pun tiba di rumah tua keluarga Dormantis dengan naik taksi.
Pada saat ini, di depan gerbang rumah keluarga Dormantis dipenuhi oleh mobil mewah. Maserati, Porsche, BMW X6, semuanya adalah mobil baru. Jane tercengang sejenak, kemudian masuk ke dalam.
Pada saat ini, aula keluarga Dormantis dipenuhi oleh suara mengobrol dan ketawa. Jonas Dormantis, Jay Dormantis, Christi Dormantis, semuanya ada di sana. Lampu dekorasi di letakkan dengan cantik, di lantai ada pecahan petasan. Jane baru ingat, hari ini sepertinya adalah ulang tahun nenek Dormantis. Para anak muda keluarga Dormantis sedang berlutut kepada nenek Dormantis,
Para anak muda keluarga Dormantis sedang berlutut kepada nenek Dormantis, untuk memintah memberi hormat dan berkat kepadanya. nenek Dormantis mengeluarkan angpao dengan senyuman ceria dan membagikannya. Jane berjalan masuk dengan suasana hati yang gugup.
"Nenek!" Jane memanggil dengan keras.
Suara ketawa dalam rumah tiba-tiba berhenti. nenek Dormantis tersenyum dan melirik Jane
"Kamu siapa?"
__ADS_1