Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
BAB 490 Kamu Yang Membunuh Putriku


__ADS_3

Setelah Keluarga Dormantis bankrut, beberapa anak-anak Nenek Dormantis telah pergi dari rumah, mengenai Nenek Dormantis, masih tinggal di rumah tua keluarga Dormantis.


Dalam jangka waktu dekat ini Jackson selalu menemani Nenek Dormantis.


Judo tinggal di pinggiran kota yang jauh dari rumah tua Dormantis.


Sebagai anak sulung Keluarga Dormantis, Judo selain mengelola bisnis Keluarga Dormantis, dirinya juga ada berbisnis perdagangan internasional. Karena sebelumnya dia fokus pada usaha bisnis Keluarga Dormantis, sehingga bisnis pribadinya tidak begitu besar, setelah Keluarga Dormantis bankrut, dirinya mengandalkan bisnis kecil ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Rumah Judo adalah apartemen subsidi, sehingga tidak ada satpam, dan tidak ada manajemen properti.


Pada saat ini, diluar gedung apartemen penuh kerumunan, diluar rumah Judo yang di lantai dua, penuh dengan karangan bunga, suara tangisan memenuhi seluruh gedung.


“Kasihan sekali anak putriku! Betapa menyedihkan hidupmu!”


“Kenapa kamu bisa berteman dengan orang yang seperti ini, membunuh kamu, membunuh kami sekeluarga!”


“Huhh, kembalikan nyawa putriku! Kembalikan nyawa putriku!”


“Judo sekeluarga, mati saja, kembalikan nyawa putriku!”


...


Suara tangisan terus terdengar.


Para tetangga yang berdiri dibawah menunjuk ke arah rumah Judo, sedangkan orang-orang yang mengepung terus bertambah.


“Permisi, mohon permisi sebentar!”


Vincent keluar dari kerumunan, berjalan masuk ke dalam rumah Judo.


Pintu rumah terbuka, banyak orang yang berdiri di dalam.


Tampaknya, Judo tidak bermaksud untuk bersembunyi dibalik pintu, tetapi dia bersedia berurusan dengan orang-orang tersebut.


Selain Judo, Jackson di rumah juga, dan beberapa teman Judo.


Jamila dibawa keluar dari rumah, karena dia masih di bawah umur, tentu saja harus menghindari hal yang seperti ini.


Jenice dan Elvina tiba tidak lama setelah Vincent tiba.


kedua wanita duduk di atas sofa, membuka lebar kedua mata, meratapi tandu yang terletak di tengah ruang tamu.


Sebuah mayat terbaring di atas tandu tersebut, ditutupi dengan kain putih, dan mayat itu… adalah mayat Tifani.


kedua wanita termenung, seketika dia mengira dirinya sedang bermimpi.

__ADS_1


Dalam waktu sehari, teman sekamar yang berbarengan setiap hari terbaring di atas tandu, meninggal.


Dan… jenazahnya dibawa oleh teman dan saudaranya ke rumah untuk meminta pertanggungjawaban.


Semua ini, seperti mimpi…


“Dormantis, kalian bunuh putriku, hari ini kalian sekeluarga harus memberikan pertanggungjawaban kepada kami, aku tidak akan ampuni kalian!” Pada saat ini, seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja abu-abu meratapi Judo sambil menjerit histeris.


Pria itu menyebut dirinya sebagai ayah Tifani, Farhat Chakim, kedua matanya memerah, terlihat sangat emosional.


“ Tuan Chakim, aku sudah tahu kejadian putrimu, aku merasa sangat sedih, harap kamu tetap tabah dalam waktu sulit ini, mengenai kematian putrimu, inspektur sudah mengatakan bahwa itu adalah kematian mendadak, tidak ada hubungan dengan putriku, tadi pagi putriku menelponku, dan beritahukan aku kejadian semalam, semalam dia langsung pulang dan tidak ada minum sama sekali, sehingga kematian putrimu, bagaimana mungkin ada hubungan dengan putriku?” Judo mengerutkan alis.


“Omong kosong! Bagaimana mungkin tidak ada hubungan dengan putrimu? Putriku sama sekali tidak bisa minum miras, tetapi putrimu yang maksa putriku untuk minum! Putriku tidak sengaja kebanyakan minum, sehingga putriku mengalami kecelakaan ini! Intinya putrimu adalah pembunuh!” Chakim menjerit.


Begitu anggota keluarga keluarga Chakim yang berdiri disamping mendengar kata-katanya, mereka semua menangis histeris, menunjuk Jenice sebagai pembunuh.


Jenice tertegun.


Vincent merasa sangat kaget juga.


Vincent berjalan menuju ke sana, berkata dengan nada rendah: “Siapa yang beritahukan kalian Jenice yang suruh putrimu minum?”


Semua ini adalah tuduhan palsu!


“Kakak Ipar!” Kedua mata Jenice berbinar-binar, penuh dengan perasaan gembira.


“Vincent, kenapa kamu datang ke sini?” Jackson bertanya dengan panik.


“Paman, Ayah mertua, Jane telponku, aku langsung datang kesini.” Vincent berkata.


“Dengar-dengar semalam kamu pergi ke perjamuan wine juga? Apa yang terjadi?” Judo bertanya dengan nada rendah.


Vincent langsung menceritakan kejadian semalam.


Begitu Judo dengar, langsung mendengus: “ Tuan Chakim, semuanya harus ada bukti, jika kamu ada bukti, silahkan tunjukkan, apabila tidak ada, mohon kalian pergi dari rumahku, jika tidak aku akan panggil polisi!”


“Tidak ada bukti, tetapi ada saksi!” Chakim mendengus dingin.


Seluruh anggota keluarga Dormantis terpana.


“Siapa saksinya?”


“Teman sekamar mereka! Dessy Lavela !”


“Apa?”

__ADS_1


Jenice dan Elvina seolah-olah tersambar petir, seketika mengira dirinya salah dengar.


“Judo, hari ini aku datang kesini untuk melihat etika kalian, jika etika kalian baik, selesaikan di luar pengadilan, aku masih bisa terima, jika etika kalian keluarga Dormantis terlalu buruk, maka kita akan selesaikan di pengadilan saja! Aku beritahu mu, Dessy Lavela telah setuju untuk meminta keadilan untuk Tifani, apabila sampai di pengadilan, dia bersedia untuk menjadi saksi di pengadilan! Tetapi aku bukan orang yang tidak berperasaan, bagaimanapun putrimu dan putriku adalah teman sekelas, aku akan memberikan kalian satu kesempatan! Dalam minggu ini, kalau kamu dapat mengumpulkan uang enam ratus juta dan kirim ke rumah kami sebagai kompensasi, maka masalah ini akan diselesaikan, jika tidak, putrimu siap-siap dipenjarakan!”


Chakim berkata dengan penuh amarah, melambaikan tangan, membawa anggota keluarga keluarga Chakim pergi dari sini.


Judo bergegas mengejar: “ Tuan Chakim, Tuan Chakim... …”


Akan tetapi anggota keluarga keluarga Chakim tidak melayaninya.


Beberapa saat kemudian, anggota keluarga keluarga Chakim langsung pergi.


Judo kembali ke rumah dengan ekspresi wajah sedih.


“Tidak mungkin… Dessy... bagaimana mungkin dia melakukan hal yang seperti ini?” Jenice bergumam, tatapan matanya terlihat kosong.


“Takutnya ini adalah perintah Sutradara Uus, Sutradara Uus... balas dendam pada kita…” Wajah Elvina terlihat pucat, sekujur tubuhnya bergemeteran.


“Ayah, aku… bagaimana dengan aku? Aku tidak bersalah.” Jenice berkata.


“Jangan khawatir, aku… aku akan menemukan solusi…” Judo berkata dengan suara serak.


Tetapi… Enam ratus juta!


Meskipun Judo menjual rumah mereka, dia tidak dapat mengumpulkan uang sebanyak itu juga.


Judo sedang cemberut.


Akan tetapi menurut Vincent, Sutradara Uus bukan membalas dendam pada Jenice dan Elvina, tetapi mengkambinghitamkan!


Karena orang yang memaksa minum adalah Sutradara Uus !


Meskipun kematian mendadak Tifani adalah sebuah kecelakaan, apabila diselidiki, Sutradara Uus mereka pasti akan terkena sebagian tanggung jawab, mengenai pertanggung jawaban ini, Sutradara Uus mereka akan memberikan kompensasi sejumlah uang untuk menenangkan keluarga almarhum.


Sebenarnya Sutradara Uus tidak peduli dengan uang tersebut, apabila dia benar-benar meminta dia untuk mengganti rugi, bagi Sutradara Uus, yang rugi tidak hanya uang saja, tetapi harga dirinya.


Media hiburan sangat keras, apabila menggali lebih dalam lagi, kejadian di party pasti akan dipublikasi semua, pada saat itu, reputasi sutradara terkenal ini akan ternodai.


Tidak ada satu figur publik ingin menangis masalah yang seperti ini.


Sehingga, dia membiarkan Jenice menanggung masalah ini, agar dia dapat menjadi orang tidak terlibat.


Vincent mengerutkan alisnya, diam-diam mengakui bahwa rubah tua ini benar-benar sangat licik.


Akan tetapi pada saat ini, tiba-tiba sebuah tangan meraih bajunya, menarik dengan kuat.

__ADS_1


Vincent tidak hati-hati, terhuyung-huyung, hampir terjatuh, begitu dia membalikkan badan, melihat sebuah wajah yang suram dan ganas.


“Bajingan! Kamu yang bunuh putriku, masih berani berdiri disini?” Terdengar suara teriakan dari luar, kemudian kedua tangan meraih wajah Vincent.


__ADS_2