Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 108 Tidak Ada Obat Menyesal


__ADS_3

Zovac sepenuhnya diangkat dan Vincent hanya menggunakan satu tangan.


Orang-orang di sekitar semuanya membuka lebar matanya, dan memandang adegan ini dengan tatapan tidak berani percaya.


Tenaga Vincent begitu kuat? Dia benar-benar mengangkat pria gemuk ini dengan satu tangan? Hebat sekali! Tidak tahu betapa kuat tenaga yang digunakan tangan Vincent, leher Zovac masuk ke dalam, dan seluruh wajahnya memerah, seolah-olah begitu Vincent menguatkan sedikit tenaga lagi, Zovac akan langsung mati tercekik.


"Zovac!"


Seluruh anggotanya terkejut dan bergegas maju. Ezra segera membawa orang menghentikan mereka.


"Semuanya jangan sembarang bergerak! Kalau tidak jangan salahkan aku bersikap kejam!" Sandy memelototi orang di depannya dengan tatapan mengerikan. Anggota Zovac tercengang.


"Paman Ken!" Jotaru mendengus.


"Ya, Tuan muda!" Mendengar ini, Paman Ken menunjukan tatapan dingin, melangkah cepat ke arah Vincent, dan memukul dahi Vincent.


Tapi sebelum telapak tangannya mendekat, Vincent tiba-tiba menggerakkan lengannya, langsung mengangkat Zovac untuk menangkisnya. Paman Ken tertegun, dia hendak mengalihkan telapak tangannya, tapi tidak sempat.


Plakk!


Pukulan ini memukul di punggung Zovac dengan keras.


"Ah!"


Zovac berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya terus bergetar. Untungnya dagingnya banyak, kalau tidak, pukulan ini benar-benar akan menghancurkan tulang punggungnya.


"Paman Ken, apa yang kamu lakukan?" Jotaru marah.


Nafas Paman Ken menjadi tegang, dia ingin menyerang lagi, tapi Vincent mengangkat kaki dan menendangnya. Tendangan ini tidak ada gaya berlebihan, tapi sangat cepat dan kuat, membuat orang tak terduga.


Bump!


Paman Ken menangkis dengan kedua tangan, tapi kemudian dia merasakan sebuah kekuatan yang mengerikan, membuat kedua lengannya terasa kebal. Kemudian Vincent langsung melemparkan Zovac ke arahnya.


Gawat!


Paman Ken terkejut, dan tidak sempat menghindar.


Burmp!


Keduanya bertabrakan bersama. Ketika Paman Ken mendorong Zovac yang kesakitan, salah satu kaki Vincent telah menginjak di dadanya, kekuatan yang besar seolah-olah akan menghancurkan tulang dadanya. Paman Ken telah dikalahkan!


Semua orang terkejut. Ezra juga sangat kaget. Seorang ahli bela diri yang telah berlatih selama puluhan tahun, malah dikalahkan oleh Vincent? Bagaimana mungkin? Ezra tidak percaya sama sekali. Lagipula Vincent juga tidak menggunakan gaya apapun, hanya tendangan biasa.


Hanya dengan ini, dia berhasil mengalahkan Paman Ken? Apa mungkin Paman Ken hanyalah rak bunga yang terlihat bagus? Ezra berpikir dalam hati.


Paman Ken dan Zovac langsung ditaklukkan. Anggota Zovac mendapat kabar, dan langsung bergegas ke sini, dalam waktu sekejap langsung mengelilingi seluruh aula keluarga Melken.


Anggota Ezra segera melindungi Vincent dan Ezra, tapi dari jumlah anggota, pihak Ezra benar-benar terlalu sedikit.


"Tuan Bermoth, butuh waktu setidaknya setengah hari bagi anggotaku untuk bergegas ke sini." Ezra berkata dengan ekspresi keberatan.

__ADS_1


"Setelah anggotamu datang, anggota mereka juga telah datang, apa gunanya?"


"Ini."


"Situasi tidak seburuk yang kamu bayangkan, jangan terlalu khawatir." Vincent berkata dengan acuh tak acuh.


"Apakah Tuan Bermoth memiliki rencana yang bagus?"


"Tidak memiliki rencana apapun, aku datang ke sini bukan untuk menjalankan rencana licik apapun." Vincent berkata, dan berjalan menuju ke arah Jotaru.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Wajah Jotaru yang terlihat yakin, akhirnya menunjukan kepanikan.


"Aku memperingatkanmu, kamu sebaiknya jangan bertindak sembarang, aku berasal dari Sekolah Kaisen, aku adalah anggota keluarga Kujo, kalau kamu melukaiku, aku akan membunuh semua anggota keluargamu!"


Tapi baru saja dia selesai mengucapkan kata-kata ini, Vincent langsung menendang lutut Jotaru dengan kejam.


Klak!


Terdengar suara yang keras.


"Aaaaah!!"


Jotaru berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya jatuh lumpuh di lantai. Orang-orang melihat kearahnya, lututnya telah hancur dan patah. Dan dia baru saja jatuh ke lantai, Vincent langsung menginjak telapak tangannya.


"Aaaaah!! ."


Jeritan kesakitan Jotaru semakin keras, seolah-olah dapat menembus gendang telinga orang. Jeritan kesakitannya membuat orang terasa mengerikan.


"Berhenti!" Gusron panik, dan segera berteriak


"Oh? Apa benar Sekolah Kaisen begitu hebat?" Vincent menggerakkan alis matanya


"Lebih hebat daripada yang kamu bayangkan." Gusron berkata dengan serius.


Gusron rela mengorbankan cucunya juga tidak berani menyinggung Sekolah Kaisen, dapat dilihat betapa mengerikan kekuatan Sekolah Kaisen.


Vincent tidak mengatakan apapun, tapi terus menyipitkan matanya, dan sekali lagi mengangkat kakinya menginjak tangan Jotaru dengan keras.


Klak!


"Aaaaah!!"


Terdengar lagi jeritan kesakitan Jotaru. Kesakitan yang kuat membuatnya hampir pingsan. Adegan di tempat kejadian terlalu kejam.


"Kamu." Gusron sangat marah.


"Via, kemari!" Vincent berteriak pada Via yang sedang melamun.


Seluruh tubuh Via bergetar, dia berjalan ke sana dengan gugup. Saat ini, dia hanya memiliki satu pertanyaan di pikirannya. Apakah orang ini. benar-benar sebagai suami Jane yang tidak berguna? Bocah yang misterius dan kejam ini, benar-benar sebagai menantu keluarga Dormantis yang tidak berguna? Terlihat Vincent mengeluarkan sebatang jarum dari tas jarum di pinggangnya.


"Ambil ini." Via agak bingung, tapi tetap mengikuti perintahnya. Setelah mengambil jarum itu, Vincent memegang tangannya.

__ADS_1


Wajah Via memerah, matanya terlihat malu-malu. Vincent memindahkan tangannya ke bagian alis Jotaru, lalu mengarah di bagian sana.


"Di sini ada sebuah titik akupuntur, banyak yang tidak tahu, ada urat yang langsung menghubungi otak, Via, asalkan kamu menusuk jarum ini, menghancurkan saraf ini, Jotaru akan benar-benar lumpuh, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di atas ranjang!" Vincent berkata.


Mendengar ini, wajah Via langsung berubah. Orang-orang di sekitar juga terkejut.


"Kamu tidak boleh melakukan ini!" Paman Ken yang telah ditaklukkan berteriak.


"Vincent, beraninya kamu!" Zovac berteriak.


"Vincent, kalau kamu melakukan ini, kamu benar-benar tidak dapat kembali lagi!" Gusron membujuknya.


Vincent tidak melayaninya. Gusron segera memandang ke arah Via


"Via, hentikan! Apakah kamu ingin mencelakai keluarga Melken?"


"Kakek, aku tidak ingin mencelakai keluarga Melken, tapi aku juga tidak ingin menjadi korban dari keluarga Melken!"


"Oke, oke, selama kamu berhenti bertindak, kakek tidak akan memaksamu menikah ke Sekolah Kaisen!" Gusron segera berkata. Via menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu-ragu.


"Dia belum tentu akan menepati janjinya." Vincent memperingatkannya.


"Tapi kalau benar-benar melakukan ini, kamu juga akan mendapatkan masalah besar." Via berkata dengan khawatir.


"Tenanglah, aku akan menyelesaikannya." Vincent berkata.


Via tidak berkata, tapi tangan yang memegang jarum sedang bergetar. Jotaru berteriak kesakitan sambil membuka lebar matanya melihat jarum perak di keningnya. Orang-orang di sekitar, semuanya menahan nafasnya, dan tertegun menatap Via.


Nyawa Jotaru tergantung pada keputusan Via. Begitu jarumnya diturunkan memang puas, tapi konsekuensi yang disebabkan benar-benar tak terbayangkan! Jantung semua orang tergantung.


Akhirnya. Via tidak dapat menahan ketekanan ini.


Dia tiba-tiba bangkit dan bernafas terengah-engah.


"Tidak boleh. tidak boleh." Via menggelengkan kepalanya, berkata


"Vincent, kalau benar-benar melakukan ini, situasinya tidak akan bisa diubah, aku tidak boleh mecarikan masalah padamu."


"Ini adalah pilihanmu, aku melakukan ingin hanya ingin mendukungmu, karena kamu memilih untuk tidak menyentuhnya, aku akan menghormati pilihanmu, tapi menurut kepribadian dan status orang ini, kamu seharusnya tahu, dia tidak akan melepaskanmu, meskipun saat ini kamu tidak menyentuhnya, dia juga akan membalas dendam padamu dan juga keluarga Melken, aku hanya ingin bertanya padamu, ketika dia datang membalas dendam padamu lagi, apakah kamu akan menyesal telah melepaskannya hari ini?" Vincent bertanya.


Tatapan Via menjadi kosong. Benar. Berdasarkan kepribadian Jotaru, bagaimana mungkin akan melepaskannya? Kalau begini, sebaiknya langsung melakukannya tanpa ragu-ragu! Memikirkan ini, Via juga membuat keputusan. Tapi tepat pada saat ini, terdengar keributan dari luar pintu.


"Semuanya berhenti!"


Teriakan keras menyebar di dalam aula. Tangan Via bergetar. Vincent memandang ke sana. Terlihat seorang pria paruh baya dengan kemeja putih berjalan masuk.


Melihat orang ini, wajah Ezra langsung berubah


"Mengapa dia datang?"


"Via, bertindaklah." Vincent mendesaknya.

__ADS_1


"Tidak!" Tidak menunggu orang itu berteriak, Ezra langsung bergegas datang dan berkata.


"Ehm?" Vincent mengerutkan kening.


__ADS_2