
“Jane !” Via berteriak dengan kencang dan segera berlari kedepan.
Saat ini yang terlihat hanya Jane yang terbaring bersimbah darah, langsung tidak sadarkan diri, sementara tidak jauh darinya sebuah mobil Chevrolet hitam mewah terparkir.
Bagian kepala mobil sampai cekung kedalam, kondisi mobilnya terlihat begitu parah.
Sekeliling dipenuhi orang, ada yang menghubungi ambulance, ada yang menghubungi polisi.
Supirnya berlari turun, melihat kearah Jane, tatapannya bergetar sejenak, namun hanya berdiri diam disamping, juga tidak menelepon, seperti orang yang lalu.
Melihat ini, Vincent merasa hampir meledak, dia berlari mendekat bagaikan orang gila, lalu segera memeriksa kondisi Jane.
“Organ dalamnya mengalami benturan yang keras, paru-parunya mengalami pendarahan, pembuluh darahnya pecah, kondisinya sangat kritis! Via, cepat bakar jarumnya!” Vincent berteriak dengan panik.
“Baik...”
Tubuh Via gemetar lalu segera berlari masuk ke dalam klinik.
“Sermua minggir!”
Vincent segera menggendong Jane masuk ke dalam klinik. Para pejalan kaki segera menyingkir.
Sampai di dalam, Vincent segera menutup pintu, membuka pakaian Jane, dan disaat bersamaan mengambil rempah obat, memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahkannya, lalu dipakai untuk menutupi lukanya.
Dan tepat pada saat ini, Jane malah tidak hentikan batuk, darah segar tidak hentinya keluar dari mulutnya, bahkan darah mengalir keluar dari hidung juga telinganya.
Via yang sedang membakar jarum di samping sampai menangis.
“Dia tadi baik-baik saja, kenapa bisa jadi seperti ini?” dia berteriak sambil tersedu.
Beberapa detik sebelumnya masih baik-baik saja, begitu berjalan keluar langsung terjadi hal seperti ini..
Vincent tidak bicara, setelah menunggu jarum selesai dibakar, dia langsung menusukkannya di dada Jane, kemudian lanjut menusukkan jarum dengan teliti dan hati-hati.
Tidak butuh waktu lama, tubuh Jane sudah dipenuhi ratusan jarum.
Setiap batang jarum bergetar perlahan, seolah ada energy yang sedang menggerakkan mereka, sungguh ajaib.
Namun ekspresi Vincent malah menjadi begitu serius, kedua tangannya terangkat tinggi diatas jarum-jarum ini, kemudian kedua lengannya bergolak, jarinya melewati jarum-jarum itu dengan secepat kilat.
Terlihat jarum-jarum itu naik lalu turun, turun lalu naik lagi, jarum bagai angin, juga bagaikan listrik, samar-samar, seolah ada energy yang menyelimuti tubuh Jane dan menggerakkannya.
Via yang melihat dari samping sampai tercengang.
Kapan dia pernah melihat pemandangan yang begitu ajaib.
Apakah ini termasuk teknik akupuntur tradisional cina?
Vincent mempertahankan posisinya selama 10 menit, dan selama 10 menit ini, rona wajah Jane terlihat jauh lebih membaik, mulutnya juga tidak lagi memuntahkan darah, bahkan nafasnya yang hampir terhenti sudah kembali lagi.
Jarum dewa!
Ini benar-benar jarum dewa!
Via sampai merinding.
Dia percaya meskipun kakeknya berlatih sepuluh tahun lagi pun tidak mungkin memiliki kemampuan seperti ini!
Setelah sejenak, Vincent berhenti, namun malah langsung terduduk di lantai sambil terengah-erngah.
Penggunaan jarum seperti ini seolah menghisap habis seluruh tenaganya.
__ADS_1
“Ini.. apa ini?” Via refleks bertanya. “Teknik Jarum Naga.. “Ucap Vincent dengan lemas.
“Teknik Jarum Naga?”
Via bergumam, namun sama sekali tidak pernah mendengar nama ini, lalu bertanya lagi: “Bagaimana kondisi Jane ? Dia tidak apa-apa kan?”
“Untungnya segera ditolong, untuk sementara sudah stabil...” Vincent bangkit berdiri dengan susah payah.
Via segera memapahnya.
Pada saat ini...
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu diketuk.
Tatapan mata Vincent langsung menjadi waspada, dia menarik tirai untuk menutupi Jane, lalu berkata pada Via: “Jane kuserahkan padamu, kamu jaga dia dengan baik, aku keluar untuk melihat dulu.”
“Baik.” Via merasa sedikit khawatir, namun tetap mengangguk.
Vincent langsung membuka pintu dan berjalan keluar.
Dua orang yang mengenakan seragam polisi berdiri didepan, supir itu masih berdiri disamping mobil, ambulance juga sudah tiba, namun ada Vincent dan Via, asalkan situasi tidak darurat, sama sekali tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.
“Permisi, apakah anda adalah dokter disini? Bagaimana kondisi korban?” salah satu polisi bertanya.
“Orang yang mengalami kecelakaan tadi adalah istriku, tadi aku sudah melakukan pertolongan pertama, untuk sementara anda tidak bisa masuk.” Vincent berkata sambil melihat kearah supir dengan tatapan begitu dingin. “Ternyata anda adalah suami korban, kalau begitu semua lebih mudah untuk diurus.” Perawat mengangguk, lalu menanyakan awal muasal kejadian.
Masalah ini dengan cepat dianggap sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, untuk sementara Jane tidak mengalami bahaya, dan setelah supir itu diperiksa tidak dalam kondisi mabuk atau pun berada dibawah pengaruh alkohol, sehingga langkah berikutnya adalah prosedur ganti rugi.
Namun bagi Vincent, ini bukan kecelakaan biasa.
Dia melihat plat nomor mobil Chevrolet mewah itu, lalu melihat kearah supir, bicara beberapa patah kata dengan singkat, perasaannya langsung menjadi kesal.
Sepagi ini, bagaimana mungkin terjadi hal seperti ini? Dan jalan ini begitu sempit, siapa yang akan mengendarai mobil dengan kecepatan seperti itu disini?
Kedua mata Vincent terpejam, setelah terdiam sesaat berkata: “Pak, bolehkah saya bicara sebentar dengan tuan ini.”
“Tidak bisa.” Kedua polisi ini langsung menolak.
“Tenang saja, saya tidak akan melakukan hal yang gegabah, apalagi nyawa istri saya tidak terancam, kalau aku menyentuhnya, bukankah aku tidak akan bisa mendapatkan ganti rugi?” ucap Vincent sambil tersenyum.
Setelah keduanya ragu sejenak, pada akhirnya mengangguk.
Vincent langsung berjalan kearah orang itu.
Supir ini tetap merasa waspada, sehingga langsung mundur satu langkah.
“Jangan takut, aku tidak akan menyentuhmu.” Ucap Vincent datar dengan nada tertahan: “Paling tidak bukan disini.”
“Apa yang ingin kamu lakukan?” ucap supir itu dengan alis mengkerut.
“Orang keluarga Borland yang mengutusmu bukan?” tanya Vincent.
Supir itu langsung mengerti, lalu menjawab dengan suara tertahan: “Kalau iya kenapa? Vincent, aku beritahu ya, ini hanya awal, kamu adalah orang yang ingin dibereskan oleh Tuan muda Borland!”
“Dimana Sangsung?” tanya Vincent dengan dingin.
“Apa hubungannya denganmu? Sebentar lagi kamu akan menjadi orang cacat.” Ucap supir itu dengan senyum datar.
“Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi cacat atau tidak, namun aku yakin kamu akan segera menjadi mayat.” Ucap Vincent.
__ADS_1
Begitu mengatakan ini, ekspresi supir langsung berubah dan bertanya dengan dingin: “Apa maksudmu?”
Vincent tidak bicara, hanya mundur beberapa langkah dengan kedua mata yang menatapnya tajam.
“Woi! Katakan dengan jelas! Apa maksudmu?”
Supir itu panik, segera maju ingin bertanya pada Vincent.
Namun tepat pada saat ini..
Tintin! !
Terdengar suara klakson.
Kemudian ada sebuah mobil mewah yang menerjang kerumunan orang, dan langsung menabrak tubuh supir itu dengan tepat.
Whoosh!
Terdengar suara hempasan yang kencang
Namun supir yang menabrak Jane itu sudah terjepit sampai tubuhnya tidak berbentuk, meskipun ambulance datang juga hanya untuk membereskan mayatnya saja.
Ekspresi wajah Vincent begitu dingin ketika menatap mayat itu, lalu berbalik dan masuk ke dalam klinik.
“Direktur Bermoth.” Dari samping muncul seorang pria, dan itu adalah anak buah Armint.
“Kerja yang bagus, sekarang juga geledah seluruh kota, temukan orang keluarga Borland dan keluarga Ifro.” Ucap Vincent dengan dingin: “Meskipun aku tidak memiliki perasaan yang terlalu dalam terhadap Jane, namun dia tetap istriku, kali ini aku tidak akan segan-segan, begitu menangkap orang keluarga Borland dan keluarga Ifro, langsung buat cacat, satu pun tidak boleh ada yang tersisa!”
“Baik “
“Satu hal lagi, suruh Armint bersiap, beberapa hari lagi aku akan datang langsung ke keluarga Borland!” ucap Vincent dingin.
Ketika orang itu mendengar ini, nafasnya langsung terhenti, namun tidak berani melawan, dia segera mengangguk
“Baik Ceo Bermoth.” Orang Armint segera pergi.
Vincent kembali ke dalam.
Vincent, apa lagi yang terjadi diluar?” tanya Via yang berada didalam.
“Bukan apa-apa, tidak ada masalah.”
Vincent berkata sambil tersenyum dan menenangkannya.
Tatapan Via terlihat ragu, namun dia tidak banyak bertanya, juga tidak keluar.
Keduanya mengobati luka Jane, lalu mengenakan pakaiannya, dan mengantarnya ke rumah sakit.
Tentu saja, kali ini Vincent yang memberi perintah langsung pada Armint untuk ke rumah sakit menjaga istrinya langsung.
Armint segera membawa orangnya bergilir selama 24 jam di rumah sakit.
Namun Vincent tetap waspada.
Dia tahu, selama tidak menyelesaikan ancaman dari Hansami, maka dia tidak akan memiliki hari yang tenang.
Dia juga bukan tipe orang yang suka diganggu, pihak sana sudah mengejar sampai ke Izuno, kalau masih duduk diam saja, maka dia akan dalam bahaya.
Dan tepat ketika Vincent bersiap untuk bergerak, dia menerima telepon dari Frank.
“Ada apa?” tanya Vincent tegas.
__ADS_1
“Ceo Bermoth, Ezra dalam masalah.” Dari balik telepon, Frank menggigit bibirnya dan berkata dengan berat.