
Kata-kata wanita sangat arogan, tidak ada yang bisa berbanding dengan tinggi hatinya.
Sampai Jane yang memiliki temperamen baik pun sudah kehabisan kesabaran.
“Kamu... kamu.. kamu... kamu bilang apa?” Jane membesarkan matanya, merasa sangat benci dan marah.
“Bajingan bau, masih mau membantah? Keluar sekarang!” Wanita itu berteriak, kemudian menampar ke wajah Jane.
Benar-benar sangat sombong!
Sama sekali tidak menganggap Jane.
Tapi Jane juga bukan orang bodoh, dia tidak mungkin berdiri di tempat, membiarkan dirinya di pukul begitu saja. Melihat tamparan wanita itu bergerak kemari, Jane pun segera mengangkat lengannya untuk memblokir.
Setelah berhasil menghindar tamparan wanita, Jane awalnya mau melawannya, tetapi begitu tangannya terangkat, Jane teringat dengan Elva yang masih berada di samping, akhirnya Jane menahan kemarahannya dan berkata: “Nona, sudah cukup! Kalau kamu terus mencari masalah lagi, aku akan melapor polisi! Kondisi ibuku sekarang sangat parah, kalau dia kenapa-kenapa, kamu harus tanggung jawab”
“Bajingan bau, kamu sedang mengancam aku? Kamu layak?” Wanita itu tampak kesal, tanpa peduli banyak, dia menghampiri Jane dan mulai memukulnya lagi.
Jane terkejut, tidak menyangka reaksi wanita ini begitu besar.
Jane terpaksa hanya bisa melawan, dua wanita pun mulai saling memukul.
Jane mana pernah berkelahi dengan orang?
Lagian, Jane juga bukan wanita gila, mana mungkin dia bisa menggila seperti wanita ini. Jane hanya bisa terus menghindar pukulan wanita, tetapi wanita ini jelas adalah putri yang sudah biasa dimanjakan, karena meskipun tampak gila dan emosional, tenaga wanita ini sangat kecil.
Dia bahkan tidak bisa melawan pegangan kecil Jane, kuku jari Jane yang tidak panjang melukai kulit lengannya.
“Aduh!”
Wanita itu segera berteriak, padahal cuman bekas yang kecil saja, dia bereaksi seperti sangat sakit dan sengsara.
Jane tercengang di tempat, dia tidak menyangka wanita ini akan bereaksi berlebihan seperti ini.
Tetapi, pada detik wanita ini berteriak, tidak tahu dari mana muncul beberapa petugas keamanan wanita mengenakan jas, mereka tampak sangat terlatih dan segera memisahkan Jane dan wanita yang sedang berkelahi.
“Kalian mau buat apa? Lepas tangan!”
Tangan Jane ditahan oleh para petugas keamanan, mau seberapa berusahanya pun, dia tidak bisa melarikan diri dari pegangan mereka.
Sementara pada saat ini juga, wanita itu berdiri dan berjalan ke Jane dengan marah.
“Bunta! Pegang dia dengan erat!” Wanita itu berteriak kepada petugas keamanan wanita tersebut.
Sampai sini, Jane baru sadar ternyata wanita itu sengaja membuat Jane melukainya, bukan karena tenaganya yang kecil.
__ADS_1
Karena wanita itu tahu, asal dia terluka, para petugas keamanan ini akan bergegas menolongnya. Sementara sekarang tujuannya sudah tercapai.
“Bajingan bau! Berani melawan aku?!”
Wanita itu berteriak dengan marah dan langsung menampar wajah Jane.
Plak!
Pipi Jane langsung memerah, rasa sakit yang perih membuat dia menarik nafas dingin.
Masih belum cukup, wanita itu menarik rambut Jane yang lembut dengan kuat, seolah-olah mau menarik sampai kulit kepalanya jatuh.
“Aduh...” Jane berteriak dengan kesakitan.
“Sekarang sudah tahu seberapa hebatnya aku? Sudah tahu? Bajingan bau! Wanita pelacur! Wanita bajingan yang ditidurin ribuan orang! Orang seperti kamu juga berani melawan aku? Hahaha, sekarang sudah tahu takut?” Wanita itu tertawa dengan gila, senyuman besar menggantung di wajahnya.
Meskipun begitu, tatapan Jane tetap tampak tegas, dia menahan rasa sakit dan menatap wanita itu dengan marah.
“Berhenti.... cepat berhenti!” Pada saat ini, Elva yang sudah sangat lemah tidak tahu dapat tenaga dari mana, tiba-tiba berdiri dan memeluk wanita itu, ingin menghentikannya.
“Awas! Anjing betina tua! Awas sana!” Wanita itu mendorong Elva dengan kuat.
Elva yang tidak sempat bereaksi langsung jatuh ke lantai, bagian belakang kepalanya bertabrakan dengan lantai, kemudian langsung pingsan tidak sadar diri.
“Bu!” Jane berteriak dengan panik.
Air mata membasahi mata Jane, dia merasa sangat sakit hati.
Meskipun Jane tidak pernah bertemu dengan Elva, tapi mau bagaimanapun dia adalah ibunya.
Lagian, seseorang yang tadinya masih baik-baik saja menjadi begitu di hadapan mata, siapa yang bisa menahan perasaan seperti ini?
“Kenapa? Marah? Sakit hati? Tidak tega? Anjing betina tua ini pantas mati! Kamu juga jangan cemas, yang lebih asyik masih di belakang!” Wanita itu melepaskan rambut Jane, memegang dagu Jane dengan kuat sambil tersenyum.
“Orang seperti kamu akan kena karma! Kamu akan masuk neraka!” Jane berteriak sambil menggigit gigi.
“Haha, mau mati pun aku akan mati di belakang kalian! Mendingan kamu pikir cara pulang nanti saja!” Wanita itu berkata.
Nafas Jane terasa sesak, merasakan ada sesuatu yang salah, dia pun segera bertanya: “Kamu... kamu mau buat apa?”
“Haha, mau buat apa? Kamu akan tahu nanti” Wanita itu tertawa, kemudian melambaikan tangannya: “Pergi, lepaskan semua baju wanita pelacur ini, kemudian lemparkan dia ke pusat kota!”
“Nona muda, ini.. sepertinya kurang bagus. Kalau membesarkan masalah, bagian atas akan marah nanti” Salah satu petugas keamanan wanita berkata dengan waspada.
“Takut apa? Bilang saja wanita ini ada penyakit mental, ada hubungan apa dengan kita? Kalian cepatan, aku akan menanggung semua hasil!” Wanita itu berkata dengan keras kepala.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, para petugas keamanan wanita hanya bisa menurut.
“Tidak! Jangan!” Kesedihan Jane mencapai puncak.
Pada detik itu, Jane bahkan berpikir mau mati saja.
Detik para petugas keamanan mau mulai membuka baju Jane, sebuah suara yang dingin berdering.
“Sasha, kalau kamu benaran melakukan hal itu, merusak reputasi keluarga Lavore, aku rasa tidak mati pun, kamu akan dihukum sampai setengah mati. Jangan mengira tidak ada yang tahu kelakuanmu! Kalau kamu tidak takut dihukum, lanjutkan perintahmu menyentuh nona ini!” Semua petugas keamanan tidak berani bergerak lagi.
Sasha mengerutkan alisnya, menatap ke arah suara berasal.
Tidak tahu sejank kapan, sebuah mobil sudah parkir di sana dan Estela sedang berlari ke sini dengan cepat.
“Oh, sampah ini juga datang ke sini?”
Meskipun ekspresinya tidak tampak natural, Sasha tetap tidak mau mengalah.
Pada saat mau mengatakan sesuatu, Estela menyadari Elva yang berbaring di atas lantai, ekspresinya langsung berubah dan dia langsung berlari ke Elva.
“Tante Elva! Tante Elva!” Estela berteriak dengan cemas. Elva sudah sama sekali tidak bereaksi.
“Kamu yang buat tante menjadi begitu?” Estela melirik ke Sasha.
“Ini... tidak ada hubungan dengan aku, dia sendiri yang jatuh. Aku beri tahu kamu Estela, jangan sembarang menuduh!”
Eskpresi Sasha tampak tidak natural, cara berbicara dia juga terdengar gugup: “’Aku masih ada urusan, tidak mau membuang waktu dengan para wanita pelacur lagi. Aku pergi dulu!”
Setelah berkata, Sasha pun langsung masuk ke mobil ferarrinya dan pergi begitu saja.
Sementara para petugas keamanan wanita juga melepaskan Jane, pergi dengan mobil mewah yang parkir di tepi jalan.
Jane duduk di atas lantai dengan wajah tidak bertenaga, bersama rambut yang berantakan,
Jane tampak seperti baru mengalami siksaan berat.
Estela yang menyaksikan semua itu juga tampak sangat sedih.
“Nona Jane, apakah kamu baik-baik saja..” Estela bertanya.
Jane terus menundukkan kepalanya, tidak berbicara.
“Apakah... aku datang terlambat?” Estela mengomel dengan bersalah.
“Jane, aku sudah dapat obat!” Pada saat ini, sebuah suara yang terdengar cemas berdering. Vincent berlari kemari.
__ADS_1
Tetapi, semakin mendekat, langkah kaki Vincent menjadi semakin lambat.
Obat di tangannya juga... terjatuh ke lantai tanpa sadar...