Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 646 Melawan Kakak Ipar?


__ADS_3

Jenice sedang dalam suasana hati yang buruk.


Vincent bisa melihat bahwa dia membeli beberapa cemilan dan sebotol bir diluar sekolah dan mulai menikmatinya.


Setelah beberapa tegukan diminumnya, wajah Jenice sudah memerah.


“Bos, sebotol Amer lagi!” Jenice berteriak.


“Oke, Jenice, sudah cukup, jangan minum lagi!” Vincent membujuk dengan suara pelan.


"Kakak ipar, tidak apa-apa, tidak akan ada kelas besok … tidak apa-apa ..." Kata Jenice dengan terbelit-belit.


"Ada apa denganmu? Apakah ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi? "Vincent langsung bertanya.


“Kakak ipar, kamu beritahu padaku … Kenapa aku sangat sial?” Jenice meletakkan botol birnya, menghela nafas sedikit, bau alkohol langsung tercium.


"Sial?"


“Bukankah aku memang sial? Ibuku punya banyak hutang, ayahku ditikam dan dirawat di rumah sakit lagi, dia sekarang sedang sakit, kupikir itu bisa disembuhkan, tapi ternyata Nona Anna tidak punya niatan untuk merawat ayahku sama sekali, aku awalnya sangat senang, tapi sekarang film ini saja berbau porno, kakak ipar … aku sudah sangat putus asa dengan hidupku…"Kata Jenice dengan lirih, tatapan matanya sayu.


Vincent mau tidak mau cukup terkejut saat mendengarnya.


Tapi kalau dipikir-pikir, Jenice memang mengalami nasib buruk saat ini, hal-hal buruk itu juga terus berlanjut.


Dengan masalah besar seperti itu yang terjadi di rumahnya, jelas dialah yang paling stres, sekarang biaya rawat inap ayahnya sangat tinggi, ibunya hanya bisa menangis sepanjang hari, Jamila cukup peka dan bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah di rumah, awalnya, Jenice sangat berharap pada film ini agar bisa merubah keadaan dan menyelesaikan masalah keuangan keluarganya, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa akan ada masalah pada harapan satu-satunya, dia sudah pasrah.


"Siapa yang bilang padamu bahwa film kali ini akan berbau porno?" Vincent menatapnya dengan bingung "Bukankah kru untuk film yang baru telah diatur ulang? Peranmu juga tidak ada yang berubah, untuk alasan apa kamu bisa bilang kalau film ini akan jadi film porno ?"


"Kakak ipar, tidakkah kamu tahu bahwa sudah ada banyak masalah yang tersebar di internet, sekarang ada rumor yang beredar di semua anggot kru bahwa film ini akan ditunda dan tidak akan ada lagi syuting lanjutannya, ada juga rumor bahwa sutradara Dong Min mungkin akan keluar dari anggota kru, kakak ipar, sutradara Dong Min adalah jiwa dari film ini, jika dia pergi, menurutmu apa yang akan terjadi pada film ini … apakah masih bisa dilanjutkan?" Jenice berkata dengan sedih.


Vincent tersenyum kecil ketika mendengar ini: "Kukira ada masalah apa, ternyata cuma masalah begini… jangan khawatir, Dong Min tidak akan pergi!"


"Kakak ipar, kamu bukan anggota kru, bagaimana kamu tahu aturan yang berlaku ..." Jenice menghela nafas, mengambil bir lainnya dan hendak minumnya, tetapi Vincent mengambilnya.


"Oke, Jenice, jangan minum lagi, jika kamu minum terus, kamu akan benar-benar mabuk!"


"Kakak ipar, aku baik-baik saja ..."


“Sudah cuku larut, kembalilah ke asrama, aku akan mengantarmu kembali!” Vincent bangkit berdiri dan terlihat serius.

__ADS_1


Jenice awalnya ingin menolak, tetapi melihat ekspresi serius Vincent, dia baru membuka mulutnya, tapi tidak berani membantah lagi, jadi dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Tetapi saat ini, tawa aneh terdengar dari samping.


"Yo? Bukankah ini Dormantis yang terkenal itu? Kenapa kamu makan di warung dekat sekolah? Bagaimana bisa idol sepertimu berada di tempat seperti ini? Kalau kamu sakit karena makanan disini, kami nanti mau nonton apa?"


Begitu tawa itu terdengar, keduanya langsung bersamaan melihat ke asal suara tersebut.


Baru kemudian mereka melihat orang yang bicara dan tertawa barusan … adalah Dessy Lavela! !


Saat ini, Dessy memakai gaun hitam terbuka, dengan rokok kecil di mulutnya dan riasan tebal, sosoknya lebih kurus dari sebelumnya, terlihat lebih ramping dan terlihat lebih menggoda.


“Dessy, kenapa kamu di sini?” Jenice bertanya dengan eksresi tidak senang dan merendahkan suaranya.


“Aku hanya lewat, tapi ternyata bisa melihat mantan teman sekamarku?” Dessy bicara lalu mengeluarkan asap tebal dari mulutnya, lalu melirik BMW yang diparkir di pinggir jalan, ada seorang pria yang duduk di kursi pengemudi mobil itu.


“Mantan teman sekamar? Apa maksudnya?” Vincent di sebelahnya bertanya dengan bingung.


"Sejak kecelakaan Tifani Chakim, Dessy keluar dari asrama dan tinggal di luar kampus." Bisik Jenice.


"Oh … Nona Dessy, apakah kamu ingin duduk dan ikut makan bersama kami? Kamu boleh memesan apapun yang kamu inginkan, aku yang akan membayarnya." Vincent tersenyum.


Hanya saja Dessy menolak mentah-mentah ajakan Vincent!


"Cihh! Siapa yang mau makan makanan seperti ini? Tapi artis besar seperti Jenice ingin berbaur dengan penggemarnya, jadi dia rela makan makanan murah ini, hei, datang dan lihatlah, Jenice Dormantis, tokoh utama no 1 dari "The Penthouse" ada disini, kalau ada yang mau minta tanda tangannya silahkan berbaris!" Dessy berteriak keras.


Orang-orang di sekitar yang sedang makan mengalihkan pandangan mereka ke tubuh Jenice satu per satu.


Ekspresi Jenice tiba-tiba berubah, dia segera menarik topi yang dipakainya ke bawah.


Tapi itu tidak berhasil, segera seseorang memperhatikan wajahnya.


"Wow, ternyata benar ini Jenice!"


"Bagaimana dia bisa datang ke tempat seperti ini?"


"Aku ingat beberapa waktu lalu, dia dihadang oleh banyak wartawan dan juga para siswa sepanjang hari sehingga tidak bisa kemana-mana, sekarang dia akhirnya berani keluar?"


"Benar juga, semua orang mengira dia akan menjadi artis besar! Tapi ternyata, bahkan sebelum terkenal tapi "The Penthouse" sudah akan jadi film porno!"

__ADS_1


"Mimpinya untuk jadi bintang terkenal, bisa dianggap sudah berakhir!"


"Lalu apakah kita masih akan memintanya tandatangannya?"


"Tanda tangan? Tanda tangan tai kucing! Seorang bintang besar bahkan datang ke tempat seperti ini untuk makan dengan kita, apa bisa disebut sebagai bintang? Jelas bikin malu saja."


“Benar juga!"


"Mengenakan topi untuk menutupi wajahnya, apa dia kira dirinya sudah benar-benar terkenal?"


Orang-orang di sekitarnya langsung mengejeknya, berbagai kalimat tidak enak didengar pun masuk ke telinganya.


Ekspresi Jenice berubah ngeri, tubuhnya yang mungil sedikit bergetar.


Sejak reorganisasi kru "The Penthouse" tekanan pada Jenice dari dunia luar meningkat dari hari ke hari, terutama tekanan pada dirinya dari orang-orang di sekitarnya.


Mungkin dia harus segera mencari manajer.


Vincent menarik napas dalam-dalam.


"Kakak ipar, ayo pulang ..." Jenice tidak tahan, dia diam-diam menarik lengan baju Vincent dan berbisik.


"Oke!"


Vincent mengangguk, bangkit berdiri dan membawa Jenice pergi.


"Berhenti!"


Dessy menghentikan Jenice dan menolak untuk melepaskannya begitu saja.


“Apa lagi yang ingin kamu lakukan?” Jenice bertanya dengan marah.


"Apa yang ingin kulakukan? Jenice, aku melakukan ini untuk kebaikanmu! Kamu tidak boleh terus terobsesi dengan hal ini lagi! Jika kamu terus melanjutkannya, apa yang akan terjadi pada keluargamu? Bagaimana perasaan orang tuamu? Bagaimana dengan sepupumu Jane?" Dessy berkata sambil tersenyum.


Begitu kata-kata ini diucapkan, Jenice semakin bingung.


"Apa yang kamu bicarakan? Dessy, aku tidak mengerti maksudmu?"


"Apa maksudku? Apa aku harus menjelaskannya dengan jelas? Aku sudah memberitahumu untuk tidak terus mengejar kakak iparmu! Bagaimanapun juga, dia adalah iparmu!" Dessy berkata dengan keras.

__ADS_1


Begitu kata-kata ini terlontar, warung makan itu langsung heboh…


__ADS_2