
Di dalam ruang VIP.
Edwin sedang berdiri, dengan wajah penuh senyuman dan menjabat tangan tamu terhormat di hadapannya.
" Bro Joel, perihal ini kita tentukan seperti ini! Dalam setengah tahun kota film Silason pasti sudah selesai dibangun! Anda tenang saja."
"Hahaha, karena Pak Edwin sudah berkata seperti ini, apa yang perlu aku khawatirkan lagi? Apakah waktu setengah tahun ini cukup? Jika tidak cukup, aku bisa memberimu keleluasan beberapa bulan?" Joel Picad yang berada di hadapannya itu berkata sambil tertawa.
“Sudah cukup! Jika tidak cukup pun harus diselesaikan, jika sampai menunda drama baru Bro Joel, maka aku harus membayar ganti rugi kepada Bro Joel kan!” Edwin menepuk punggung tangannya dan berkata dengan senang.
"Hehe, perkataan sungkan seperti itu tidak perlu dibicarakan lagi, apakah tetua sehat di rumah?"
"Makan dengan gembira, minum dengan gembira, spritualnya juga sehat, tidak perlu khawatir!"
"Baiklah! Besok pagi aku akan pergi menemui tetua!"
"Welcome!"
"Tidak usah sungkan! Ayo, Pak Edwin, kita pergi minum ke bawah!"
"Silahkan!"
Mereka berdua saling berkata dengan sungkan dan kemudian berjalan pergi ke luar.
Namun pria di sampingnya langsung melangkah mendekat beberapa langkah dan mengatakan beberapa pepatah kata di telinga Edwin.
Edwin yang mendengar ini, rona wajahnya berubah, senyuman di wajahnya menghilang dan langsung berlari ke depan jendela untuk melihat ke arah aula di bawah.
Hanya pandangan sekilas sudah membuat kepala Edwin mau meledak.
“Bukankah orang itu adalah Montres Trez ? Dia Montres Trez kan?” Edwin langsung bertanaya dengan bibir yang bergumam.
“Bos, ya, itu adalah dia, itu tidak salah!” Orang di sebelahnya langsung menjawab.
“Apa yang dia ingin lalaukan? Apa yang dia ingin lakukan? Cepat hentikan Montres, tanya apa yang dia inginkan?” Edwin menunjuk ke bawahannya sambil berkata dengan gemetar, saat ini dia sudah berkata dengan sedikit tidak jelas.
“Tuan Edwin, ada apa?” Joel Picad di belakang langsung bertanya dengan tidak mengerti.
"Bro, saat ini aku sudah tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya padamu, aku undur diri terlebih dahulu!"
Setelah mengatakannya dengan buru-buru, Edwin langsung membalikan tubuh dan pergi ke luar.
Saat ini, Vincent berjalan di luar hotel sambil menggendong Jane.
"Di sini!"
Kak Trez menyalakan sebatang rokok, mengarahkan pandangan matanya singkat ke arah Vincent dan kemudian berjalan ke sebuah lorong tidak kosong tidak berpenghuni di sebelahnya.
Vincent tidak berkata apapun, juga mengikuti berjalan ke sana.
Dan ketika dia berjalan kesana, dua orang pria dengan tubuh kekar yang mengikuti Kak Trez langsung mengelilinginya.
Sudut mulut mereka terangkat, wajah mereka dipenuhi rasa ingin bermain.
"Coba katakan, apakah menginginkan tangan atau kaki?" Kak Trez bertanya dengan ringan.
"Jika ini adalah kamu, apakah kamu ingin tangan atau kaki?" Vincent bertanya balik kepadanya.
"Kaki, bagaimanapun tidak masalah jika tidak memiliki tangan, namun jika tidak memiliki kaki, ketika bertemu masalah seperti ini di kemudian hari masih bisa melarikan diri." Kak Trez berkata dengan ringan, kemudian membuat puntung rokok di tangan dan menginjaknya dengan keras.
__ADS_1
Ketika dia mengatakan ini, dua pria itu langsung berjalan ke arah Vincent sambil mengeluarkan dua buah pisau dari belakang tubuhnya.
Orang-orang ini cukup profesional! Bahkan mereka membawa senjata di tubuhnya.
Juga tidak tahu dimana mereka menyembunyikan senjata ini.
Vincent menurunkan Jane dan menopangnya dengan satu tangan.
Rasa mabuk yang dialami Jane sudah naik, walaupun alkohol dalam anggur mereka tidak tinggi, namun dia sama sekali tidak tahan, hanya bisa bersandar pada Vincent dengan lembut seperti lumpur dan tertidur.
“Jangan sakiti wanita itu!” Kak Trez kembali berteriak.
"Tenang saja, Kak Trez, kami mengetahuinya!"
Kedua pria itu berkata sambil tertawa, salah satu dari mereka langsung menunjukkan wajah yang kejam, tanpa berbasa basi langsung mengarahkan pisau ke arah wajah Vincent.
Namun pada saat akan menyentuhnya, sebuah teriakan terdengar.
"Cepat berhenti"
Mereka berdua langsung bergetar.
" Siapa?" Beraninya campur tangan urusan kami?” Kak Trez mengerutkan kening, mengalihkan pandangan untuk melihat ke samping.
Namun hanya memandang sekilas dan Kak Trez langsung tertegun.
Dia langsung berlari kecil dan membungkukkan kepala ke arah orang yang datang: "Tuan Edwin!"
“Tuan Edwin!” Kedua pria itu juga langsung membungkukkan tubuhnya.
Detik berikutnya, Edwin langsung mengangkat tangan dan menamparnya.
Suara yang nyaring terdengar.
Kak Trez berjalan mundur, menutupi wajah sambil menatap Edwin dengan pandangan tidak percaya.
Ketika melihat ekspresinya yang marah, Kak Trez langsung menyadari sesuatu, dia langsung menundukkan kepala, tidak lagi berbicara.
Edwin berjalan cepat dan juga menampar dua pria bawahannya itu.
Mereka berdua tercengang, hanya menatap Edwin dengan tatapan kosong.
Setelah memukul mereka berdua, Edwin langsung berjalan cepat ke hadapan Vincent dan kemudian...
Bom!
Edwin berlutut dan berkata dengan suara gemetar:
"Tuan... Tuan Bermoth... Edwin tahu bahwa dirinya bersalah..."
Ketika pemandangan ini muncul di hadapan mereka, Kak Trez dan yang lain dibuat tercengang.
Mereka membelalakan mata seakan bisa membuat bola mata mereka keluar dari rongganya, jantung mereka juga seakan hampir meledak.
Apa sebenarnya yang terjadi ini?
Orang itu...Bukankah dia adalah sampah terkenal di izuno ini? Bagaimana dia bisa membuat Edwin, orang besar di Kota Silason berlutut di tanah?
Selain itu... dia belum mengatakan sepatah kata pun kan!
__ADS_1
Mengapa Edwin melakukan tindakan seperti itu?
Jantung mereka bertiga berdetak dengans sangat cepat, dalam waktu sekejap mereka menebak sesuatu.
Sebuah kemungkinan yang sangat mengerikan!
Edwin menjadi takut!
Selain itu ketakutan yang sangat parah!
Jika tidak bagaimana dia bisa langsung berlutur di tanah tanpa berpikir sama sekali?
Ketika memikirkan ini, kaki mereka bertiga langsung menjadi lemas, otak mereka menjadi sangat pusing.
Apakah kali ini mereka menghadapi masalah besar?
"Mereka anggotamu ya?" Vincent melirik singkat dan bertanya pada Edwin.
Edwin terlihat ragu-ragu sejenak dan kemudian berkata dengan suara kecil: "Ya...betul..."
“Aku mengingat bukankah kamu seorang pebisnis? Sejak kapan kamu memelihara tukang pukul?” Terpancar aura dingin di mata Vincent: “Selain itu, aku.. adalah orang yang paling benci ditipu orang, Edwin, apakah kamu mengerti apa yang aku katakan?"
Seluruh tubuh Edwin gemetar, membuka mulut dan berkata dengan suara yang terbata-bata: "Maaf Tuan Bermoth, mereka... adalah anggota Ezra Gabrial..."
"Begitu ya?"
Vincent menganggukkan kepala dengan ringan dan berkata dengan tenang, "Kalau begitu apa yang harus dilakukan untuk masalah ini?"
“Tuan Bermoth, kami tidak mengontrol bawahan kami dengan baik, ini adalah kesalahan kami. Tolong… maafkan kami, berikan kami satu kesempatan, kami pasti akan menghukum mereka dengan berat!” Edwin buru-buru berteriak dan kemudian menampar dirinya sendiri.
Hal yang paling hebat dari seorang pengusaha adalah visinya.
Edwin bisa dianggap seorang pengusaha yang sukses. Dia memiliki pemahaman yang dalam terhadap Vallamor dan Sekolah Rakizen, dia juga mengetahui dengan jelas betapa menakutkannya kekuatan CEO Bermoth ini. Alasan mengapa Keluarga Gabrial bisa menduduki posisi di Kota Silason ini dengan tenang, semua bukan karena dia, juga bukan karena Ezra, melainkan karena Dokter Jenius Bermoth ini.
Jika tidak bersandar pada Vallamor, apakah keluarga Gabrial mereka bisa senyaman ini sekarang?
Tetua keluarga Gabrial, Verden dalam satu tahun ini sudah lebih dari satu kali memerintahkannya, untuk membantu Tuan Bermoth dalam pekerjaannya.
Namun dia tidak pernah menyangka, bawahannya sendiri ternyata mencari masalah dengan Vincent.
Jika Vincent menjadi marah.
Keluarga Gabrial...mungkin akan menghilang dalam waktu satu malam.
Edwin sudah ingin mencincang Kak Trez ini menjadi berkeping-keping.
Namun masalah sudah terjadi, hal yang bisa dilakukan olehnya saat ini hanya berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya.
“Bangunlah dulu, besok kamu dan Ezra pergi mencariku ke kantor.” Vincent melirik ke arah kejauhan, melihat banyak tamu yang masuk dan keluar dari hotel yang melihat ke arah sini, beruntung tempat ini gelap, sehingga mereka tidak melihat apapun, namun jika ditemukan oleh orang lain tetap tidak baik, oleh karena itu dia memutuskan untuk membuat perhitungan di kemudian hari.
Edwin terus menganggukkan kepalanya dan berkata: "CEO Bermoth, tenang saja, besok aku akan memberikanmu penjelasan yang memuaskan."
Namun Vincent sudah tidak memandangnya, kembali menggendong Jane sambil berjalan ke arah luar.
Edwin merasa kepahitan di hatinya, terus menerus menghela nafas, dalam hati memaki adiknya yang tidak bisa diharapkan, bahkan dia tidak bisa mengontrol bawahannya dengan baik.
Namun pada saat ini, tiba-tiba seorang pria berjalan mendekat dan menghalangi Vincent.
"Sialan, kamu berpikir ingin kabur kemana?" Pria itu menunjuk Vincent sambil memakinya.
__ADS_1