Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 205 Sampah


__ADS_3

Melihat sekelompok orang ini datang, sikap dan ekspresi Via tidak terlihat bagus.


Dia tanpa sadar menatap Jane yang duduk di kursi roda. Dan benar saja, tubuh Jane gemetaran dan wajah kecilnya tampak pucat, tangan kecilnya menggenggam pegangan tangan kursi roda dengan kencang, ada kemarahan dan ketakutan yang tampak di dasar matanya.


“Yoh, nona Jane, ada apa denganmu ini? Kakimu patah? Sampai datang dengan duduk di kursi roda?”


Seorang wanita dengan riasan tebal dan pakaian agak terbuka menatap Jane sambil tersenyum di depan orang-orang ini, ada cibiran dan hinaan yang tampak jelas di matanya.


“Fatima! Apa kamu ada urusan denganku?” tanya Jane sambil menggertakkan giginya.


“Aduh duh, kita ini teman lama. Kenapa kamu bisa sedingin ini kepadaku?” kata wanita yang bernama Fatima sambil tertawa.


“Teman lama? Cih, itu dulu. Kita sudah lama sekali putus hubungan. Fatima, dan kamu juga Judas! Cepat kalian pergi sana! Semakin pergi jauh semakin bagus!” kata Via yang ada di samping dengan marahnya.


“Cih, Via, mulutmu masih saja begitu pedas ya? Hanya saja sayang sekali kamu sudah bukan lagi nona besar Keluarga Melken. Aku sudah dengar cerita tentangmu, kenapa? Tanpa dukungan dari Keluarga Melken, apa kamu masih berani sok di depanku? Memang siapa kamu ini?” kata Fatima tersenyum dingin, tatapan matanya yang menatap Via begitu beracun berbahaya sekali.


“Kamu...” Via emosi.


“Jane, aku sedih sekali melihatmu yang seperti ini sekarang. Namun, ini yang kamu pilih sendiri. Kamu lebih memilih menikahi seorang sampah tak berguna daripada menikahiku! Jika kamu bersamaku Judas, mana mungkin kamu sampai seperti ini?” di belakang, seorang pria berwajah pucat dengan rambut di sisir ke belakang berjalan maju.


“Menikahi pria sampah sepertimu ini? Aku lebih baik tidak menikah saja.” Kata Jane dengan dingin.


“Pria sampah? Jane, itu hanya salah paham!”


“Memberi obat kepada Jane juga salah pahamkah? Jika bukan aku yang datang tepat waktu, mungkin Jane sudah kamu perkosa!” kata Via dengan marah.


“Cih, hei wanita rendahan, sok suci apa kamu itu? Kak Judas menyukaimu, itu adalah kehormatanmu. Namun terima kasih ya. Jika bukan kamu yang tak punya otak ini, aku mungkin tidak akan jadi dengan kak Judas!” kata Fatima sambil tersenyum dingin.


“Kamu. Cih! pria sampah seperti itu, mana mungkin Jane kami bisa menyukainya? Hanya pelacur sepertimu ini yang bisa menyukainya. Kalian cukup serasi juga ya, wanita dan pria anjing!” Via langsung memakinya.


Dia tidak seperti Jane. Dia akan langsung bicara terus terang.


Lalu, ucapannya ini bisa dibilang sudah sepenuhnya menyalakan kemarahan Fatima.


“Via, apa yang kamu katakan? Coba kamu katakan lagi!” kata Fatima sambil memicingkan mata.


“Jane, Via, ada apa ini? Siapa mereka?” tanya Jackson yang ada di belakang dengan bingung


“Sekelompok sampah. Pria ini dulu satu sekolah denganku. Dia dari awal masuk semester terus-terusan mengejar cintanya Jane. Tapi Jane tidak tertarik padanya, lalu menolaknya. Siapa juga yang tahu dia menyuruh wanita ini diam-diam mengajak Jane ketemuan di luar, ingin memberi obat kepada Jane agar mabuk tak sadarkan diri. Untungnya, aku tahu wanita itu bukan orang baik. Apalagi, ada teman kita yang melihatnya mengajak Jane makan di hotel. Aku curiga ada masalah. Jadi aku pergi ke hotel itu untuk menemui Jane, untungnya pengaruh obat itu belum bereaksi pada Jane. Aku pun memaksa membawa Jane pergi, siapa juga yang tahu Judas membawa orang-orang untuk menghentikan kami. Jika bukan karena orang-orang Keluarga Melken lewat hotel waktu itu, mungkin kami akan mengalami hal buruk yang tak diinginkan.” Kata Via dengan marah sambil menggertakkan giginya.


“Apa? Ada hal gila seperti ini?” Jackson sangat terkejut.

__ADS_1


Katrina dengan marah menghentakkan kakinya lagi dan lagi, dia memelototi Judas dan berkata : “Hei nak, bagaimana kamu bisa melakukan hal semacam itu?”


“Apa kamu orang tua Jane? Cih, kalian berdua, namaku adalah Judas. Dojo Silop didirikan oleh keluargaku. Coba pikir bukankah anak kalian akan lebih baik jika menikah denganku daripada dengan pria sampah itu? Kata Judas tersenyum dingin.


“Kamu. Dasar kamu terlalu tak tahu sopan santun!” kata Jackson dengan marah.


“Sikapmu yang semacam ini, aku lebih baik menyuruh putriku menikahi Vincent pria sampah itu daripada menikahimu!” tegur Katrina dengan marah.


Jika Vincent di sini, khawatirnya dia pasti akan langsung meneteskan air mata tersentuh mendengar ini kan?


“Cih, putrinya punya sikap seperti ini, ibunya ternyata juga punya sikap seperti ini? Kalian sekeluargamu ini benar-benar yang terbaik cih!” kata Fatima tersenyum sambil memicingkan mata.


“Hei gadis busuk, apa yang baru saja kamu katakan?” tegur Katrina dengan marah.


“Hei tante tua, apa kamu kira aku takut padamu? Kalau terus menyudutkanku, percaya atau tidak aku akan memukulmu dengan tongkat jalanmu itu!” kata Fatima dengan marah.


“Kamu ... kamu ...” wajah Katrina memerah karena marah.


Bisa-bisanya dimaki oleh orang yang lebih muda, mana mungkin dia bisa tahan dengan ini?


“Minta maaf!”


“Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Apa minta maaf kepada kalian ini? Kamu benar-benar menggelikan sekali!” kata Via.


“Aku tidak memukul wanita. Tapi itu tidak berarti aku akan membiarkan wanita seenaknya menginjak harga diriku!” Judas memicingkan matanya dan berkata : “Jika tidak mau minta maaf, jangan salahkan aku jika aku tidak akan sungkan lagi dengan kalian!”


“Hei anak muda, apa yang ingin kamu lakukan? Aku sarankan kamu jangan bertindak aneh-aneh ya. Kalau tidak, aku akan lapor polisi!” Jackson langsung mengeluarkan ponselnya, dan bicara dengan gugup.


“Tenang saja, aku tidak perlu langsung turun tangan hanya untuk menghadapimu.


“Keluargaku membuka tempat bela diri, aku sebenarnya juga salah satu seniman bela diri. Kalian tidak tahu malu, tapi aku masih tahu malu.” Kata Judas tersenyum ringan.


“Lalu, apa yang kamu inginkan?”


“Robin, sana pergi panggil manajer century home kesini.” Kata Judas dengan santai.


Begitu ucapan ini terlontar, ekspresi semua orang tercengang.


Orang yang bernama Robin pun langsung pergi.


Tidak lama kemudian, seorang pemuda paruh baya berpakaian kemeja putih dengan perut besar serta mengenakan kacamata berlari datang menghampiri mereka.

__ADS_1


“Tuan muda Silop, Nona Fatima, kenapa kalian bisa di sini?”


Pria itu terkejut saat melihat mereka berdua, dia langsung membungkuk dengan cepat.


“Via, sebenarnya siapa Judas dan Fatima ini?” melihat manajer Century Home begitu menghormati mereka seperti ini,


Katrina langsung merasa ada yang tidak beres.


“Tante, apa kamu belum pernah mendengar Dojo Silop?” Via menatap Katrina dengan terkejut.


“Nama ini agak familiar...” Katrina mencoba memikirkannya.


Itu adalah salah satu tempat bela diri terbesar di negeri ini. Di setiap provinsi pasti ada Dojo Silop. Pusat tempat bela diri ini ada di kota Azuka. Tapi, para murid perguruan ini berada di seluruh negeri.” Kata Via.


“Apa?” Wajah Katrina langsung pucat ketakutan.


Dia mengira orang itu hanyalah anak biasa dari keluarga yang memiliki tempat bela diri. Mana ada dia terpikir kalau ternyata orang ini memiliki latar belakang hebat...


“Selain itu, latar belakang keluarga Fatima juga sangat baik, setidaknya lebih baik dari kita. Tapi tante jangan khawatir. Di siang hari seperti ini, mana mungkin mereka berani melakukan sesuatu kepada kita? Jika berani menyerang, maka aku akan langsung lapor polisi!” kata Via dengan marah.


“Menyerang adalah cara terendah. Ingin menganiaya mereka, kenapa perlu melakukan hal seperti itu?” Kata Fatima sambil tersenyum dingin.


Lalu berteriak kepada manajer itu, “Hei manajer,, coba periksa apakah ada tuan rumah yang bernama Jane di area vila kita ini?”


“Baik Nona Fatima!”


Manajer pun dengan segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon.


Ketika beberapa orang mendengar ini, ekspresi mereka berubah, dan mereka segera memahami niat fatima.


Setelah beberapa saat, manajer menggelengkan kepalanya


“Tidak ada tuan rumah yang bernama Jane.”


“Kalau begitu, apakah ada tuan rumah yang bernama Via!” Fatima memicingkan matanya dan tersenyum.


“Baik!”


Manajer mengeluarkan telepon lagi.


Napas beberapa orang di sini telah membeku...

__ADS_1


__ADS_2