
Gusron bergegas kembali ke kota Izuno dalam waktu satu malam.
Sejak kecelakaan Sarita, dia sudah menerima telepon dari Via. Tetapi dia punya masalah penting saat itu, sehingga tidak bisa pulang tepat waktu.
Kali ini Klinik Tongfang benar-benar terjebak masalah besar. Jika dia tidak pulang untuk mengurusinya, situasi bakal lepas kendali.
Rumah Keluarga Melken mirip dengan rumah keluarga Dormantis, sama-sama memiliki kesan kuno dan antik, seperti kompleks deep house tahun 70-an dan 80-an.
Namun, rumah Keluarga Melken jelas lebih besar dari rumah keluarga Dormantis. Baik dekorasi maupun patung, semuanya jauh lebih mewah.
Saat ini, di ruang tamu Keluarga Melken. Lampu menyala semua. Seorang pria tua beruban dengan setelan Tang merah sedang duduk di kursi mewah.
Pria paruh baya yang dipanggil Paman Griz berdiri di sampingnya, kepala tertunduk, diam tak bersuara, seperti patung.
Melihat pemandangan ini, Via terkejut. Dia buru-buru menundukkan kepala, seolah telah berbuat kesalahan.
Apakah ini Gusron? Vincent melirik pria tua itu, sangat penasaran.
Gusron adalah dokter yang dikenal oleh hampir seluruh orang di kota Izuno. Tidak hanya itu, dia juga seorang dokter pengobatan yang sangat terkenal di seluruh Alhambra.
Klinik Tongfang tidak hanya ada di kota Izuno, tetapi punya toko berantai yang tersebar di seluruh negeri. Cabang di kota Izuno hanyalah sebuah toko kecil, tempat yang diserahkan Gusron kepada cucunya untuk berlatih.
"Kakek." Panggil Via.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Mata pria tua menatap Via dengan ramah dan penuh kasih sayang. Jelas, dia sangat menyayangi cucunya ini.
"Saya baik-baik saja. Pasien sudah pulih semua, kebenaran sudah terungkap, Janur juga sudah ditangkap. Klinik Tongfang cukup beri kompensasi kepada pasien." Jelas Via.
Gusron menganggukkan kepalanya dengan ringan, lalu berbalik ke samping dan berkata: "Publikasikan ke berita besok, publikasikan kebenarannya, beri tahu masyarakat umum tentang ini."
"Baik, tuan besar." Paman Griz mengangguk.
Gusron mengalihkan pandangannya ke arah Vincent.
"Apakah kamu Vincent ?"
"Salam kenal, Dokter Jenius Melken!" Vincent merangkapkan tangan untuk memberi hormat.
"Pemuda yang sangat baik. Sangat jarang ada pemuda yang memiliki bakat seperti itu." Gusron mengangguk-angguk lagi.
Meski terkandung banyak maksud apresiasi dalam kata-kata tersebut, tapi nada suaranya malah sangat cuek. Vincent tidak peduli.
"Siapa gurumu?" Tanya Gusron.
"Saya tidak punya guru."
"Tidak punya guru? Bagaimana mungkin? Kamu menguasai keterampilan medis dengan kemampuanmu sendiri tanpa adanya arahan dari guru?"
"Boleh dikatakan begitu. Saya suka baca buku. Semua buku yang saya baca adalah buku tentang pengobatan. Saat tidak ada kerjaan, saya sering mempelajari tanaman obat dan jarum perak. Kalau harus ada guru, maka orang tua berketerampilan medis di sebelah rumahku mungkin termasuk.
Saat dia tidak ada kerjaan, dia sering meminta saya untuk berdiri di sampingnya dan memperhatikannya mempratikkan akupuntur." Kata Vincent.
__ADS_1
"Begitukah? Dari mana asalmu?"
"Sekarang saya adalah orang kota Izuno."
"Sekarang? Di mana orang tuamu?"
"Ibu saya? Dia meninggal tiga tahun lalu, ayah saya.. juga sudah meninggal." Jawab Vincent dengan tenang. Dalam hatinya, sama saja apakah ayahnya hidup atau mati.
"Aku sudah mengerti, sungguh anak yang malang." Gusron mengangguk, tapi tidak terdengar perasaan belas kasihan dalam suaranya.
Dia melambaikan tangan. Paman Griz mengeluarkan kotak kata sandi dari samping, lalu meletakkannya di depan Vincent dan membukanya.
Dalam sekejap, terlihat setumpuk uang kertas baru yang ada di dalam kotak kata sandi. Bau uang kertas menyerbu hidung. Via agak terpana. Raut muka Vincent tetap tidak berubah, kilauan cahaya melintasi matanya.
"Ini untukmu." Gusron mengambil cangkir teh di samping, menyesapnya.
"Tidak ada kontribusi, tidak ada imbalan. Anda memberikan sejumlah besar uang ini secara tiba-tiba, bagaimana boleh saya menerimanya?"
"Aku tahu kamu tidak berkontribusi, jadi uang ini bukan imbalan untukmu." Kata Gusron dengan tenang. Begitu kata-kata itu terucap, alis Vincent tiba-tiba berkerut. Via baru tersadar, berkata dengan tergesa-gesa: "Kakek."
Sebelum dia sempat mengatakan apapun, ron telah mengangkat tangan dan memberi isyarat padanya untuk tidak berbicara.
"Apa maksud tuan besar?" Vincent bertanya dengan santai.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya berharap kamu tidak buat masalah besok." Gusron berkata dengan tenang: "Kalau kamu setuju, uang ini pun akan menjadi milikmu."
"Buat masalah?" Vincent sepertinya telah memahami sesuatu.
Gusron terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan ringan: "Besok aku akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan kejadian hari ini kepada media dan masyarakat umum."
"Benar. Pada konferensi pers besok, aku juga akan menjelaskan kepada medis tentang bagaimana Via menggunakan keterampilan medis tingkat dewa dari Keluarga Melken untuk menyelamatkan lima pasien itu!" Kata Gusron lagi.
"Kakek." Via terkejut: "Bagaimana boleh kamu berbuat demikian?"
" Via, diam." Bentak Gusron.
"Jelas-jelas bahwa kelima orang itu diselamatkan oleh Vincent ! Bagaimana boleh kamu memberi tahu orang lain bahwa aku yang menyelamatkan mereka?" Mata Via memerah.
"Tuan Melken ingin mempertahankan reputasi keterampilan medis Keluarga Melken! Itu saja." Vincent mengucapkan sekata demi sekata.
Bagi Gusron, kehilangan sedikit uang bukan masalah besar. Hal terpenting adalah reputasi Keluarga Melken tidak boleh hancur di tangannya.
Masalah ini tidak besar, tapi juga tidak kecil. Jika sengaja diperbesar oleh orang yang berniat buruk, maka masalah ini pun akan menjadi noda pada Keluarga Melken. Gusron adalah orang yang sangat mementingkan reputasi. Dia tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Oleh karena itu, dia mau mengaitkan prestasi penyelamatan lima orang pada Via.
Dengan demikian, dunia akan tahu bahwa dokter di Klinik Tongfang yang bernama Janur telah memalsukan bahan-bahan obat berharga untuk memperoleh keuntungan, sehingga mencelakai nyawa orang. Kemudian cucu dari Dokter Jenius Melken menunjukkan keterampilan medis tingkat dewa, menyembuhkan mereka yang sekarat, menghidupkan kembali mereka yang sudah meninggal, menyelamatkan lima nyawa segar. Dengan demikian, reputasi Keluarga Melken dan dirinya pun akan naik level.
Dia mendatangkan Vincent untuk menyogoknya, memintanya untuk tidak sembarang bicara.
"Anak muda, ambil saja. Kamu tidak akan dapat menghasilkan sedemikian banyak uang walau bekerja di Klinik Tongfang kami selama lebih dari sepuluh tahun." Jawab Gusron dengan nada tawar.
"Tidak!!" Via mengentak-entakkan kaki dengan amarah.
__ADS_1
KRUANGTANG!
Kotak jatuh ke lantai. Semua uang bersebaran.
"Kakek, aku tidak akan setuju! Jelas-jelas bahwa lima orang itu diselamatkan oleh Vincent, kenapa kamu malah mengatakan aku yang melakukannya? Terlebih lagi, ada begitu banyak orang yang telah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Jika kamu mengadakan konferensi pers dan berkata seperti itu, itu namanya berbohong! Kamu menipu masyarakat umum!" Teriak Via denan suara parau.
Di sisi lain, Gusron malah sangat tenang. Dia melambaikan tangan. Paman Griz melangkah ke depan, memasukkan uang ke dalam kotak, kemudian bertanya,
"Apakah kamu berkontribusi dalam menyelamatkan kelima orang itu hari ini?"
"Aku. aku hanya bertanggung jawab atas pemasakan obat. Vincent yang mengajariku cara mempersiapkan obat-obat itu.."
"Itu sudah cukup!" Sebelum Via selesai berbicara, Gusron menyela dia secara langsung.
"Kakek."
"Mengenai persoalan para saksi, aku akan mengutus orang untuk mengatasinya. Pada konferensi pers besok, aku akan menyampaikan fakta. Faktanya adalah cucuku menyelamatkan lima nyawa dengan menerapkan keterampilan medis tingkat dewa dari Keluarga Melken. Mereka bisa hidup berkat keterampilan medis keluarga kita! " Gusron berkata dengan ringan.
Via bergidik, jatuh terduduk dengan lemah di lantai.
"sudah bilang bahwa aku mendatangkan kamu bukan untuk menghadiahi kamu, melainkan mau mengingatkan kamu untuk tidak buat masalah. Apakah kamu bisa Anak muda memahami kata-kataku?" Gusron menatap Vincent. Suaranya datar, tapi terkandung penindasan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Aku paham." Vincent menghela nafas, tersenyum tipis.
"Bagus sekali!" Gusron mengangguk dengan puas:
"kamu orang pintar. Aku paling suka bergaul dengan orang pintar. Anak muda, kamu sangat cerdas dan berbakat. Sebagai hadiah, aku tidak hanya mau menghadiahimu dengan uang, tetapi juga bersedia menerimamu sebagai muridku. Asal kamu berlutut dan bersujud padaku, serta menyembahkan teh untukku, kamu pun akan menjadi muridku di masa depan. Setelah kamu menjadi muridku, kamu harus menyatakan kepada orang lain bahwa semua keterampilan medismu diajarkan oleh aku. Apakah kamu mengerti?"
Via bagai tersambar petir. Dia mungkin tidak menyangka kakek tercintanya akan begitu keterlaluan.
Vincent akhirnya mengerti mengapa Dokter Jenius Melken yang terkenal ini bisa menjadi terkenal dan dipuja-puja oleh banyak orang. Dia tidak bisa menahan tawa.
"Apa yang kamu tertawakan?" Paman Griz bertanya dengan kening berkerut.
"Aku teringat sesuatu yang menyenangkan." Jawab Vincent.
"Apa hal yang menyenangkan itu?"
"Keterampilan medis aku lebih baik darinya." Vincent menunjuk Gusron sambil tersenyum.
"Lancang!"
"Brengsek!!!" Paman Griz dan Gusron sangat marah.
"Anak muda sekarang semakin tidak tahu berterima kasih! Berapa banyak orang yang ingin menjadi muridku, tapi tidak bisa. Sekarang aku memberimu kesempatan, kamu tidak hanya menolak, tapi malah bersikap tidak sopan padaku? Keterlaluan!" Umpat Gusron sambil menepuk meja kopi.
Tak seorang pun di seluruh Alhambra yang berani mengucapkan kata-kata sombong seperti itu!
"Bersikap tidak sopan? Gusron, kamu terlalu meninggikan dirimu sendiri!" Vincent melambaikan tangan, berkata dengan dingin,
"Biar aku kasih tahu kamu! Satu, aku tidak akan mengakui bahwa kelima orang itu diselamatkan oleh keterampilan medis keluargamu. Meskipun aku tidak peduli dengan kehormatan ini, tetapi aku tidak akan memberikan kehormatan yang seharusnya menjadi milikku kepada orang lain! Kedua! Aku tidak akan mau digurui olehmu. Alasannya sangat sederhana, yaitu keterampilan medismu tidak sebaik aku! Etika kedokteranmu.. juga tidak sebaik aku! Coba aku tanya, siapa yang bersedia digurui oleh orang yang lebih buruk dari dirinya sendiri?"
__ADS_1
Begitu kata-kata itu terucap, Via langsung tercengang.
Gusron bergemetaran karena marah. Dia langsung berdiri dari kursi mewahnya.