
Begitu mendengar ucapan Vincent, ekspresi wajah Raven berubah menjadi semakin suram.
Akhirnya dia mulai menyadari kalau si Ryuken ini, sepertinya dari awal tidak menganggap dia sama sekali.
“Dasar bedebah! Baiklah! Sebentar lagi aku pasti akan menampar mukamu, supaya kamu bisa melihat jelas siapa dirimu yang sebenarnya!”
Raven berpikir tenang, lalu meneruskan ucapannya: “kalau hanya bertanding soal menyembuhkan orang sakit, maka tidak ada artinya, karena hari ini ada begitu banyak orang yang menonton, kita harus memberi pertunjukan yang lebih menarik! Masing-masing memegang 10 jarum, fokusnya pada titik akupunktur di dada dan perut, siapa yang bisa menusukkan jarum baja pada titik akupunktur lawan dengan tepat dan efisien, maka dialah yang menang.”
“Titik akupunktur bagian dada dan perut? Apakah Titik Mati juga termasuk?” Vincent bertanya dengan curiga.
“Tentu saja.” Raven bergumam.
Perkataan ini mengagetkan semua orang yang ada.
Titik Mati juga termasuk di dalamnya?
Ini berarti.. ada kemungkinan Raven akan menyerang Titik Mati milik Vincent, kalau kena maka akan mati atau menjadi lumpuh!
Raven berniat membunuh Vincent?
Para siswa yang berada di bawah panggung saling memandang dengan cemas.
Para penonton juga tak henti-hentinya terkejut.
Para penceramah malah tidak berani berkata sepatah kata pun, mereka hanya memandang dengan dingin, sedangkan
Varita yang berada di sebelah sini, kelihatannya tertarik lalu mengeluarkan handphone, dan mulai merekam apa yang terjadi di panggung.
“Siapkan jarum!”
Yang terdengar hanya suara Guru Snape meraung marah.
Para murid yang berada di bawah panggung segera berlari.
Tidak lama kemudian, terlihat pemandangan para siswa tersebut membawa berkotak-kotak jarum baja yang tajam dan berkilau, lalu meletakkannya di meja samping kedua orang tersebut.
Semua orang yang berada di bawah panggung menengadah ke atas.
“Silakan!” Raven berkata dengan dingin.
“Silakan!” Vincent menganggukkan kepala, kemudian berdiri di hadapan jarum baja dan memeriksanya.
“Apakah anda berdua punya pertanyaan?”
Satan maju kedepan dan bertanya dengan suara yang dalam.
“Jarum bajanya tidak ada masalah.” Vincent mengangguk.
“Pertandingan bisa dimulai kapan saja.” Raven menyahut dengan percaya diri.
“Kalau begitu baiklah! Aku akan menjadi juri untuk kompetisi ini!” kata Satan.
“panitia, tidak masalah kalau anda yang menjadi juri untuk kompetisi ini, akan tetapi supaya orang-orang percaya tindakan anda akan adil, maka saya rasa lebih baik kita memilih satu juri lagi dari orang luar Umbrella Pharmacy, dengan demikian hasilnya akan lebih meyakinkan, bukankah begitu?” Vincent berkata.
__ADS_1
“Apa?” Para penonton merasa emosi.
“Apa maksudmu? Apakah kamu tidak percaya pada panitia?” Raven berteriak dengan marah.
“Sudah kubilang, aku hanya ingin mencegah supaya orang-orang tidak curiga pada keadilan panitia, hanya itu saja!
“Kenapa? Kamu keberatan? Atau jangan-jangan kamu merasa kalau panitia menyembunyikan sesuatu jadi kamu tidak menerima saran dariku?” Vincent membalikkan pertanyaan pada Raven.
Napas Raven tertahan, ekspresi wajahnya berubah: “Sembarangan, bagaimana mungkin panitia menyembunyikan sesuatu?”
“Baiklah kalau begitu.” Vincent mengangguk.
Diam-diam Satan menghembuskan napas lega.
Dalam urusan keahlian bicara, sudah jelas kalau Raven tidak bisa menang melawan Ryuken.
Tadinya dia berniat menolak, karena hak tersebut berada di tangannya, akan tetapi situasinya sudah tidak memungkinkan lagi.
“Siapa yang ingin kamu pilih untuk menjadi juri?” Satan bertanya pada Vincent.
“Para tamu“ Vincent berpikir sejenak lalu berkata.
“Hah, jangan-jangan kamu ingin memilih Nona Varita? Aku tahu hubunganmu dengan Nona Varita! Apakah disaat seperti ini kamu ingin meminta bantuan darinya?” Saat ini, Barka mengeluarkan suara rengekan yang aneh.
Suara ini dengan segera memutuskan kemungkinan Vincent meminta supaya
Nona Varita berlaku adil.
Sedangkan ekspresi wajah Varita menatap dirinya dengan tenang.
Sebenarnya Vincent berpikir terlalu banyak.
Karena meskipun dia benar-benar meminta Varita untuk menjadi juri. Varita juga pasti akan menolak.
Jadi karena tidak bisa memilih Varita, kalau begitu dia harus memilih orang lain yang bisa terlihat lebih adil untuk menjadi juri, tapi juga orang yang tidak punya hubungan dengan Umbrella Pharmacy, bukankah sama saja dia harus mencari orang dari internal Umbrella Pharmacy?
“Hm?”
Pandangan Vincent jatuh pada seorang anak muda berkacamata yang berdiri disamping kursi tamu.
Dia berjalan menghampirinya dan pemuda itu juga sedikit terkejut, sepertinya dia tidak mengerti kenapa Vincent berjalan ke arahnya, tanpa disadari dia mundur selangkah.
“Apakah kamu adalah orang dari Umbrella Pharmacy?” Vincent menatap matanya.
“Bukan, aku.. aku adalah reporter Radit dari Prabu News yang sedang magang, aku kesini untuk melakukan wawancara.” Pemuda itu kelihatannya agak takut dengan orang asing, dia berkata dengan hati-hati.
“Bagus, kalau begitu kamu saja, aku mengundangmu untuk menjadi juri di kompetisi final ini bersama dengan panitia Satan.” Vincent berkata dengan mantap.
“Hah? Aku?” Radit terkejut.
“Kenapa? Susah ya?”
“Aku...aku takut kalau performaku kurang baik dan berlaku kurang adil...”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, yang penting kamu merasa kalau itu benar, maka kamu katakan benar, kalau kamu merasa salah, maka katakan saja salah, buat keputusan berdasarkan perasaanmu, bukankah kamu datang kesini untuk melakukan wawancara? Kalau kau punya pengalaman seperti ini, pasti akan sangat membantu dalam laporanmu kan?” Vincent tersenyum.
“Tapi...” Radit memandang panitia Satan dan yang lainnya dengan ragu-ragu.
“Kenapa? Kamu masih takut?” Vincent mengerutkan alisnya: “Kalau begitu, lebih baik kamu ganti profesi saja, karena kalau kamu mau menjadi pekerja di bidang pers seharusnya tidak ada rasa takut!”
“Siapa yang bilang aku takut? Ayo.. aku terima!” Radit menggertakkan gigi lalu membulatkan tekad.
“Bagus! Kalau begini kita pilih orang ini,” Vincent tertawa kecil lalu berbalik dan naik ke atas panggung.
Radit mencoba menguatkan dirinya di bawah pandangan orang-orang dan berjalan.
“Hmm!”Raven menatapnya dengan pandangan mencela.
Ekpresi wajah Satan datar saja ketika melirik Radit, kemudian dia berkata pada Vincent dan Raven: “Kedua peserta harus menjaga jarak 10 meter, posisikan diri kalian!”
Kompetisi tusuk jarum ini memang biasanya ada penetapan jarak, paling kecil jaraknya 10 meter.
Namun kelihatannya Raven tidak puas akan jarak yang ditentukan ini.
“Lucu sekali, jaraknya hanya 10 meter, aku mengajukan supaya jaraknya ditambah menjadi 20 meter!” Dia melambaikan tangannya sambil berkata.
Semua tatapan para siswa tertuju padanya.
Vincent malah menggelengkan kepala: “20 meter? Bukankah terlalu dekat?”
“oh? Kalau begitu 30 meter!” Raven menyeringai.
“Wahh?”
Para siswa berseru terkejut.
Jarak 30 meter?
Menusukkan jarum ke tubuh lawan dengan jarak 30 meter? Bukankah ini terlalu sulit? Kelihatannya kalau pakai senapan pun belum tentu bisa mengenai sasaran! Yang perlu diketahui, mereka tidak dibatasi harus berdiam diri tidak boleh bergerak, jadi mereka boleh bergerak ke kiri dan kanan untuk menghindari jarum baja..
“Kak Raven sangat pemberani!”
“Bagaimana lagi, kemampuannya kan memang harus ditunjukkan disini!”
“Sangat jago, aku saja belum tentu bisa melemparkan jarum ke titik akupunktur dengan tepat dari jarak 10 meter....sedangkan mereka 30 meter, sepertinya aku harus berlatih 10 tahun lagi.”
Para siswa terpana dan terus bergumam, mereka memandang Raven dengan pandangan kagum.
Wajah Raven terlihat puas, urusan jarum baja ini, dia tidak lemah!
Namun pada saat sekarang, sekali lagi
Vincent menggelengkan kepala. “30 meter? Jarak segitu masih terlalu dekat, tambah lagi!”
“Apa?” Raven tertegun.
Suara-suara di sekitarnya juga mulai mereda...
__ADS_1