
Setelah akhirnya menyelesaikan syuting, Vincent menghela nafas lega, setelah mengucapkan selamat tinggal kepada kru, dia kembali ke Grup Vallamor.
Masalah denga Neji akhir-akhir ini benar-benar membuatnya sibuk, sekarang bagian dari film-nya juga sudah selesai, sekarang saatnya untuk beristirahat.
Harus mencari waktu untuk pergi ke Sekolah Rakizen.
Namun, begitu mobil meninggalkan lokasi syuting, terlihat Jenice sedang berjalan di trotoar.
Saat ini, dia sedang mengeluarkan ponselnya seolah-olah sedang mengirim pesan, wajahnya memerah dan terlihat sangat senang.
Gadis ini, apakah dia sedang jatuh cinta?
Vincent memikirkannya, mengendarai mobil ke sisinya dan menurunkan jendela.
"Jenice … Nona Dormantis, mau kemana kamu?" Vincent bertanya sambil tersenyum.
"CEO Bermoth?"
Jenice mengangkat kepalanya dan melihat Vincent, wajahnya yang merah menjadi semakin memerah.
"Aku...aku...aku akan naik bus di depan sana..." Jenice tergagap dan terlihat gugup.
"Apakah kamu akan pulang? Ayo biar kuantar pulang."
"Ah, ini … tidak perlu, itu terlalu … terlalu merepotkan..."
"Tidak apa-apa, kebetulan juga aku mengarah ke arah yang sama, ayo masuk."
"Itu...itu...oke kalau begitu..." Jenice ragu-ragu, masih tersipu dan masuk ke mobil.
Vincent melaju menuju rumah Jenice.
Dalam perjalanan, Jenice diam-diam menatap Vincent, memperhatikan wajahnya yang sangat mempesona, jantungnya berdetak semakin kencang.
Bisa dipastikan bahwa wajah Vincent ini mempunyai kekuatan untuk menaklukan para wanita, bahkan untuk seorang wanita seperti Jenice yang sering dikejar oleh para lelaki, dia tidak bisa tahan.
Dia menarik napas dalam-dalam, sepertinya ingin menyingkirkan pikiran yang mengganggu di benaknya, tetapi tidak terlalu berguna...
Untuk mengalihkan perhatiannya dan tidak membiarkan dirinya kehilangan akal sehatnya, Jenice hanya bisa terus bermain dengan ponselnya.
Oh iya, mengirim pesan ke kakak ipar.
Jenice tersadar dan segera membuka WA lalu mengirim pesan ke Vincent untuk memberitahunya tentang adegan dengan CEO Bermoth hari ini.
Bagaimanapun, segera setelah pesan terkirim.
Ding dong.
Ponsel Vincent segera berbuyi.
Jenice tercengang, tetapi tidak terlalu peduli, melihat Vincent tidak menjawabnya, dia mengirim pesan lain.
Ding dong.
__ADS_1
Ponsel Vincent yang ada di tempat penyimpanan di tengah mobil menyala lagi.
Ini membuat Jenice sangat penasaran.
Dia langsung melirik kearah layar ponselnya.
Namun, hanya sekilas, Jenice seperti sudah tersambar petir.
Dia melihat data yang ditampilkan di layar ponsel… itu Jenice!
Jenice terdiam.
“Ber…CEO Bermoth?” Jenice membuka mulutnya dengan susah payah.
"He?"
Vincent, yang sedang berkonsentrasi mengemudi, tersadar, kebetulan mobil sedang berhenti di lampu merah, dia melirik Jenice dan teleponnya, Vincent juga terkejut.
Jenice melihat telepon dengan bingung, kemudian dengan cepat mengirim pesan lagi dengan teleponnya.
Ding dong...
Ponsel Vincent berdering lagi.
Id WA Jenice terlihat lagi di layar...
Sekarang sudah bisa dikonfirmasi.
"Ini … adalah... ya... sangat aneh, mengapa ponsel Vincent ada bersamaku?" Vincent dengan cepat kembali tenang dan berkata dengan ekspresi bingung.
Jenice menjadi semakin curiga, dia langsung bertanya: "Mungkinkah itu..."
"Oh, aku ingat!" Vincent dengan cepat menyela kata-katanya, tersenyum dan berkata: "Ketika aku datang ke lokasi syuting hari ini, aku kebetulan bertemu dengannya, dia ingin pergi ke rumah sakit di pusat kota, jadi aku mengantarnya, mungkin dia tidak sengaja meninggalkannya di mobil."
“Oh jadi begitu!” Kecurigaan di wajah Jenice sedikit menghilang, tetapi digantikan oleh beban dan kecemasan yang besar.
Melihat ini, Vincent diam-diam menghela nafas lega.
Untungnya, dia tidak jadi ketauan, kalau benar terjadi, entah bagaimana dia harus menjelaskannya.
Sebenarnya, dia sedang mempertimbangkan untuk mengungkapkan identitasnya pada Jenice, tetapi dia takut gadis ini tidak bisa menerimanya dan tidak bisa mempercayainya.
Selain itu, dia tidak ingin identitas CEO Bermoth disangkutpautkan dengan Jenice.
Karena kalau begitu, saat konferensi dibuka, musuh yang dia punya akan fokus pada Jenice.
Jenice akan dalam bahaya kalau sudah begitu.
Dia tidak ingin melibatkan orang-orang ini.
"CEO Bermoth, aku akan mengambil ponsel ini dan memberikannya kepada kakak iparku." Bisik Jenice.
__ADS_1
"Ini... bagus... oke..."
"Aku ingin mengembalikannya sekarang, kamu antar saja aku ke rumah sakit, itu adalah rumah sakit yang dikelola oleh Nona Melken, kamu pasti tahu jalannya kan?"
"Sekarang... pergi sekarang? Itu... aku..."
“CEO Bermoth, apakah kamu tidak bisa?” Wajah Jenice penuh dengan keraguan lagi.
"Tidak tidak, ayo pergi sekarang!"
Vincent menjawab dengan cepat.
Jika dia terlihat aneh, mungkin keraguan Jenice akan jadi lebih besar.
"Oke, kalau begitu belok kanan di depan."
"Oke..."
Mobil terus berjalan.
Namun, suasana di dalam mobil sangat serius.
Jenice memegang ponsel Vincent, menundukkan kepalanya, tidak mengatakan apa-apa, dia tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Vincent meliriknya diam-diam, merasa sedikit gugup.
Saat ini, Jenice tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"CEO Bermoth, apakah bisa kamu berhenti dulu di tepi jalan? Ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu."
Vincent terkejut, menatap Jenice, terlihat wajahnya yang halus dan lugu penuh dengan keseriusan, dia menghentikan mobilnya ke tepi jalan dan menatapnya juga.
"Ada apa?" Vincent bertanya.
Jenice memegang telepon dengan erat dengan tangan kecilnya, dia menyelipkan jari-jarinya yang kecil di layar, dia terdiam cukup lama sebelum membuka mulutnya.
"CEO Bermoth, aku harap kamu... bisa menjaga jarak dari kakak perempuanku kedepannya, oke?"
Begitu kata-kata ini terucap, Vincent hampir tidak bisa bernapas.
"Huh, apa maksudnya?"
"CEO Bermoth, aku tahu, kamu menyukai kakak perempuanku, tetapi kakak perempuanku sudah menikah, dan kakak iparku juga sangat baik! Aku tidak ingin kamu memisahkan mereka, aku tidak ingin kamu menjadi pihak ketiga!" Jenice seperti mendapatkan keberanian penuh, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya, mata kecilnya sudah penuh dengan air mata, tetapi dia tetap menatap Vincent dengan yakin, seolah-olah matanya juga ikut berbicara.
Vincent tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Tidak, nona Jenice, apa maksudmu dengan pernyataan barusan? Kakakmu yang kamu maksud itu Jane, kan? Kamu sudah salah paham..."
"Aku tidak salah paham! Kecuali jika seluruh orang Izuno juga salah paham tentang dirimu! CEO Bermoth, aku tahu siapa kakak iparku, banyak orang juga tahu itu, semua orang bilang bahwa dia adalah menantu yang tidak beguna, aku tidak keberatan akan hal tersebut, dia sudah cukup tua dan masih belum bisa sukses dalam berbagai hal, dia juga masih bergantung pada kakak perempuanku untuk mencari nafkah, tetapi tidak peduli seberapa tidak memuaskannya dia, tidak peduli seberapa banyak dia gagal, dia tetaplah kakak iparku! Dia suami dari kakak perempuanku! Kakak iparku sangat mencintai kakak perempuanku, aku tahu ini, CEO Bermoth, kamu sangat kaya dan tampan, wanita seperti apa yang tidak bisa kamu dapatkan? Kenapa kamu harus menyukai kakak perempuabku? CEO Bermoth, kumohon, mulai sekarang... jangan ganggu lagi kakakku, oke?"
Jenice berkata dengan sungguh-sungguh dengan mata yang memerah.
__ADS_1
Adapun Vincent, dia sudah sangat terkejut saat ini.