
Mendengar jawaban Vincent, pria itu jelas terkejut.
Dia menatap Vincent dari atas ke bawah, sedikit mengernyit.
"Karena kamu sudah tahu tempat apa ini, apakah kamu berani membuat masalah di sini? Percaya atau tidak, aku akan memanggil beberapa staff untuk menelepon polisi dan menangkapmu? Kamu lebih baik segera keluar dari sini, dengar tidak? Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan kompensasi, akan ada seseorang yang menghubungimu besok! Cepat pergi sana!" Pria itu merendahkan suaranya dan terus melihat sekeliling dari waktu ke waktu ketika sedang berbicara, seolah-olah dia sedang mencari sesuatu.
"Kak Neji! Cepat masuk, kamu adalah ‘public figure’, jika kamu terlihat berurusan dengan preman rendahan ini dan difoto oleh paparazzi, begitu mereka mempostingnya di internet, maka akan jadi masalah antinya! Kamu harus menjaga citramu!" Saat ini, wanita di sebelahnya membujuk pria itu.
“Aku tahu, Melly, kalau begitu, kuserahkan orang ini padamu, segera usir dia secepat mungkin!” Pria itu memelototi Vincent dan segera pergi setelahnya.
Wanita bernama Melly itu langsung memanggil satpam tak jauh dari sana.
"Melly, ada apa?"
Beberapa orang yang terlihat seperti kru film datang dan mengerutkan keningnya lalu bertanya.
"jadi gini Paman Udic dan wasud Hamzah..." Melly dengan cepat menegakan tubuhnya dan menunjuk kearah Vincent: " Paman Udic, wasud Hamzah, orang ini adalah orang yang menabrak Kak Neji!"
\*\*\*(wasud \= wakil sutradara)\*\*\*
“Oh? Jadi dia yang mengemudi dengan kecepatan tinggi dan tidak bisa menghentikan mobilnya lalu menabrak mobil Neji? Kenapa dia bisa datang di sini?” Keduanya mengerutkan kening.
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia ingin meminta ganti rugi, wasud Hamzah, Paman Udic, aku akan memanggil seseorang untuk segera mengusirnya sekarang!" Kata Melly, lalu dia memerintahkan petugas keamanan untuk mengusir Vincent.
Keduanya tidak keberatan.
Lagi pula, hal-hal seperti itu sudah tidak aneh lagi.
Biasanya para kru pergi ke beberapa tempat bagus di pegunungan dengan pemandangan yang indah tapi adat istiadat yang cukup ketat, penduduk setempat akan memungut biaya perlindungan, biaya tiket masuk dan sebagainya, mereka semua sudah terbiasa dengan hal seperti itu, karena menurut kesan banyak orang, orang yang bekerja di industri ini punya banyak uang, jadi sudah biasa kru akan ditemani oleh beberapa petugas keamanan.
“Tuan, tolong segera pergi dari sini secepatnya!!” Seorang petugas keamanan berteriak pada Vincent.
“Aku juga bagian dari kru disini, bagaimana kamu bisa mengusirku?” Vincent menatap petugas keamanan.
“Kamu anggota kru disini?” Pria itu terkejut sejenak dan buru-buru menatap Melly.
__ADS_1
"Apa maksudmu! Aku sudah pernah melihat semua orang di kru ini, sudah hampir setengah bulan sejak film ini mulai syuting, semua tokoh dan aktor yang bermain sudah ditentukan, jelas aku sudah pernah melihat semuanya, kamu ingin berpura-pura menjadi anggota kru untuk membohongiku? Haha, kamu kira aku bodoh! Cepat segera bawa keluar orang ini, jika dia terus menolak untuk keluar, hajar saja dan seret keluar! Semua konsekuensinya aku yang tanggung!” Melly menunjuk kearah Vincent dan berteriak dengan ekspresi marah.
Petugas keamanan menatap wasud Hamzah.
wasud Hamzah mengangguk perlahan, dia memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk menuruti perintah Melly.
Melihat hal tersebut, para petugas keamanan langsung memberanikan diri untuk bergegas maju dengan ganas.
"Tuan, tolong segera pergi, kalau tidak jangan salahkan kami karena akan bersikap kasar."
"Apa yang akan kalian lakukan? Kru film yang sudah besar begini berani menggunakan kekuasaan semena-mena? "Ekspresi Vincent langsung berubah dan menanggapinya.
Bahkan asisten sutradara saja juga menyetujuinya...sangat memalukan!
"Sudah sepantasnya untuk menjaga ketertiban disini, Melly, kalau ada kejadian seperti ini lagi, kamu tidak perlu melapor pada kami, lakukan saja sesukamu, orang seperti ini memang harus diberi pelajaran, entah langsung diseret pergi atau biar dibawa polisi! Jika ada yang terjadi, anggota kru yang akan bertanggung jawab !"
wasud Hamzah memberi perintah dengan tegas lalu berbalik, mengikuti orang yang dipanggil Paman Udic dan langsung pergi.
Melly sangat senang dan langsung bicara "Siap wasud Hamzah, wasud Hamzah, Paman Udic ! Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!"
Dia membuka mulutnya dan menyipitkan mata pada Vincent: "Heh! Apakah kamu tidak dengar apa yang sudah dikatakan wasud Hamzah ? Kalau kamu masih tidak mau pergi, aku akan meminta orang-orang ini untuk segera menghajarmu dan menyeretmu keluar, dengar tidak?"
"Kalian benar-benar tidak punya aturan sama sekali! Di siang hari bolong seperti ini, kamu berani mengancam untuk menghajar seseorang?" Vincent benar-benar sudah kesal.
"Haha, kamu sangat konyol, orang rendahan sepertimu itu tahu apa? Meskipun kamu mengerti bahwa kru kami sedang syuting "The Penthouse", apakah kamu tahu siapa yang berinvestasi dalam syuting kali ini? Ini Vallamor, Grup Vallamor yang terkenal! Dibandingkan dengan kami semua yang ada disini, kamu ini bisa apa? Kami punya banyak uang!!! Percaya atau tidak bahwa kru kami bisa membunuhmu hanya dengan menggunakan sedikit uang? Jelas sangat mudah berurusan dengan orang kampung rendahan sepertimu!" Melly mencibir, tatapan matanya penuh dengan penghinaan.
Di matanya, pria di depannya adalah orang terendah dari yang terendah.
Vincent sangat marah ketika mendengarnya.
Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk menindas yang terlihat lemah.
Dia mengangguk dengan ekspresi dingin: "Oke, aku akan pergi, tapi aku yakin kamu akan memohon padaku untuk kembali lagi!"
“Kamu berani mengancamku?” Melly tersenyum.
__ADS_1
“Bocah sialan, kamu sangat berani, kami semua sudah berdiri di depanmu seperti ini, tapi kamu berani bicara seperti itu? Apakah kamu tidak menganggap kami sama sekali? Cepat pergi sana atau akan mulai kupatahkan kakimmu!” Kapten dari petugas keamanan itu sudah kesal, dia mengeluarkan tongkat pemukul miliknya, mengayun-ayunkannya di depan Vincent dengan ekspresi mengerikan.
Vincent terlihat emosi tapi tidak mengatakan sepatah kata pun, dia segera kembali ke mobilnya dan pergi.
"Dasar bocah idiot!" Melly diam-diam memakinya, dia berkata kepada kapten keamanan: "Mardi, dengar baik-baik, lain kali kalau kamu bertemu dengan orang seperti itu lagi, langsung usir secepatnya, jika mereka menolak untuk pergi, langsung hajar, selama dia tidak mati, kru akan membayar semua tagihan untuk kompensasinya, paham? "
"Siap Nona Melly!"
Kapten keamanan mengangguk dan langsung tersenyum.
Melly berjalan menuju lokasi syuting dengan bangga.
Namun, tidak lama setelah dia mulai melangkah, pria sebelumnya menemuinya lagi.
"Melly, gimaa? Apakah bajingan itu sudah pergi?" Tanya pria itu.
“Jangan khawatir, Kak Neji, kapan Melly pernah mengecewakanmu?” Melly tersenyum.
Pria itu tersenyum dan tangannya menyentuh pantat Melly secara spontan, wanita itu hanya berkata "Nakal".
“Oke, jangan main-main lagi, Dong Min meminta kita untuk segera ke ruang rapat, ayo pergi bersama.” Pria itu tersenyum.
"Rapat? Rapat apa?"
"Entahlah, kudengar sepertinya ada pengumuman besar yang akan diberitahukan pada kita, ayo kita kesana dulu!"
"Oke!"
Melly mengangguk dan mengikuti pria itu ke gudang sementara di sebelah lokasi syuting.
Saat ini, gudang itu sudah penuh sesak, semua tokoh penting dalam kru sudah berkumpul.
Keduanya terkejut.
Ada urusan apa sampai memanggil semua orang datang?
__ADS_1