Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
bab 49 kepasrahan tuan muda choky


__ADS_3

Tidak seorang pun yang bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Banyak orang menggosok mata mereka sekuat tenaga, berharap apa yang terjadi di depan mereka hanyalah ilusi mereka sendiri. Termasuk James dan Manajer Hose.


Namun, fakta itu kejam!


"Paman... Paman Djarot!" Teriak James dengan suara gemetar.


Usia Djarot tidak jauh lebih tua dari James. Tapi karena status, James harus memanggilnya paman.


Hari ini. Orang yang dia panggil "Paman" .. malah berlutut di depan Vincent?


Apakah dia gila?


Apa yang terjadi dengan dunia ini?


Djarot berlutut pada sampah yang hidup bergantung pada wanita? James merasa otaknya seolah akan meledak!


Orang-orang di aula perjamuan tidak berani mengeluarkan sedikit pun suara.


Adegan di depan terlalu mengejutkan. Otak banyak orang telah berhenti bekerja. Suasana seolah membeku. Tentu saja, tidak ada menerima pukulan lebih besar daripada Jane. Dia tidak kenal Djarot.


Tapi tak peduli siapa itu, walau itu hanya orang biasa, tidak ada yang akan berlutut pada Vincent, bukan?


Semua orang di seluruh Kota Izuno tahu bahwa suaminya adalah orang tak berguna yang hidup bergantung pada wanita. Berlutut kepada orang seperti itu?


Apakah dia masih punya muka untuk hidup di Kota Izuno ke depannya?


Namun, Djarot tidak berpikir demikian! Lutut pria bagai emas.


Berlutut pada orang memang memalukan. Namun ... dia harus berlutut!


Dalam pandangannya, dia berlutut untuk Pengobatan tradisional di Alhambra! Jika dia tidak berlutut dan menyebabkan Dokter Jenius Bermoth marah padanya atas kutukan dan ejekan yang dia lakukan sebelumnya,


Dokter Jenius Bermoth ini mungkin akan direkrut oleh Pengobatan Korea dan bergabung dengan mereka. Hal itu akan sangat merugikan Pengobatan Tiongkok di Alhambra. Nantinya dia pun akan menjadi orang yang bersalah besar!


Dia yang membuat kesalahan tersebut. Jadi, dia harus menebusnya sendiri!


Berlutut yang dilakukannya kali ini sepadan! Hanya saja, Vincent sama sekali tidak tertarik pada Djarot.


"Minggir!" Kata Vincent dengan suara dingin.


Djarot terkejut sesaat. Melihat Vincent berwajah dingin, dia menyadari ada yang tidak beres. Dia segera menyingkir. Vincent menggandeng tangan Jane dan melangkah ke luar.


"Vincent ." Jane agak kehilangan akal. Karena masalah telah berkembang hingga sedemikian rupa, dia pun tidak mungkin lagi bisa mendiskusikan bisnis dengan James. Dia sedikit kesal dan merasa tidak berdaya.


"Berhenti! Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" Saat ini, Kak Miya keluar, menghentikan mereka berdua. James tidak menghentikan mereka.


"Aku hitung sampai tiga, minggir secepatnya." Kata Vincent tanpa berekspresi.


"Anjing, beraninya kamu ancam aku?" Kak Miya sangat emosi. Dia langsung bergegas menuju Vincent dengan garang.


"James, kalau aku tidak salah ingat, dia sekretarismu, benar? Dia menggila di sini, apa kamu tidak mau atur?" Djarot tiba-tiba berbicara. Kalimat sederhana itu memberikan dampak lebih besar dari sekedar berlutut. Semua orang terkejut. Wajah James memucat. Selain berlutut, Djarot juga berbicara untuk sampah tersebut. Apa hubungan antara dia dan Vincent?


"Hentikan, Miya.." Teriak James dengan suara parau.


"Tuan Muda Choky!" Tubuh Kak Mei bergidik.


Dia memandang James dengan tatapan heran. James memberinya isyarat mata, lalu menoleh ke arah Jordi. Jordi langsung ditangkap, segera berkata: "Tidak! Kalian tidak boleh pergi!"

__ADS_1


"Hah?" Ekspresi Djarot memuram. Kak Miya adalah bawahan James, tapi Jordi bukan! Jelas sekali, James belum mau menyerah!


"Kalian tidak mau mendengarkan kata-kataku, benar?" Vincent menatap Jordi dengan dingin.


Dia lebih tinggi dari Jordi. Tatapannya yang dingin seolah ingin menembus Jordi. Nafas Jordi bergetar. Dia mundur setengah langkah tanpa sadar. Begitu teringat James sedang mengawasinya, dia mengertakkan gigi dan menahan tekanan dari Vincent.


"James, apa maksudmu?" Raut muka Djarot menjadi jelek. Dia bertanya dengan marah.


"Paman Djarot, saya tidak tahu. Jordi bukan orang dari Keluarga Choky. Apa yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan saya, bukan?" James menggelengkan kepala. Dia harus memberi muka pada Djarot, tapi Keluarga Choky belum tentu. Dia boleh beri muka pada Djarot, tapi itu tidak berarti dia harus menuruti keinginan Djarot.


"Brengsek!" Djarot tentu memahami trik James. Dengan marah, dia hendak maju dan menyingkirkan Jordi. Pada saat ini pula, suara jernih terdengar.


"Ramai sekali. Apa yang sedang kalian lakukan?"


Djarot, James, Jordi dan yang lainnya pada menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Anna dengan gaun malam seputih salju dan beberapa pria dan wanita lainnya berjalan masuk.


"Nona Anna?"


"Astaga, apakah ini Nona Anna?"


"Penampilannya terlihat jauh lebih cantik dari yang terlihat di TV." Para pria dan wanita di sekitar terkagum-kagum.


Djarot agak kaget: "Nona Anna, kenapa kamu ada di sini?"


"Vincent, kamu benar-benar datang!" Anna mengabaikan semua orang. Ketika melihat Vincent, mata bak permata mengungkapkan betapa gembiranya dia. Dia berlari mendekat dengan penuh semangat.


Melihat pemandangan ini, semua orang tercengang lagi. Jane agak menganga. Jordi, Kak Miya dan lainnya seolah terpaku di tempat. Kejutan di hati James tak dapat dideskripsikan oleh kata-kata.


Kenapa sampah ini kenal dengan Djarot?


Jangan-jangan apa yang dikatakan sampah ini benar?


Dia benar-benar diundang oleh Anna?


Bukankah dia hanya pria tak berguna yang hidup bergantung pada wanita?


Pada saat ini, bukan hanya James yang berpikir demikian, tetapi semua orang juga berpikir demikian.


Manajer Hose bersuara gemetar: "Nona . Anna?"


"Manajer Hose, Tuan Bermoth adalah tamuku. Kenapa kalian tidak membawanya ke aula perjamuan di lantai atas?" Tanya Anna sambil menoleh.


"Ini ." Manajer Hose tidak tahu harus berkata apa. Melihat Manajer Hose tergagap-gagap, Anna mengernyit. Dia samar-samar menyadari sesuatu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Anna dengan dingin.


"Nona Anna, mungkin aku harus pamit dulu!" Vincent berkata dengan ekspresi datar, lalu menggandeng Jane dan melangkah keluar.


"Vincent! Mohon tunggu sebentar!" Nona Anna segera mengejarnya. Namun usahanya sia-sia karena Vincent langsung membawa Jane keluar dari hotel.


Anna mengentak-entakkan kakinya dengan marah, lalu tiba-tiba menoleh dan memelototi James.


"Adakah yang bisa menjelaskan padaku apa yang telah terjadi?" Anna bertanya dengan marah.


"Nona Anna, kenapa orang itu bisa kenal dengan Anda?" James bertanya dengan takjub.


"Tanya pada ayahmu." Nona Anna berkata dengan marah, lalu pun pergi.

__ADS_1


"Nona Anna, anda mau ke mana? Harap tunggu sebentar, Nona Anna!" James bergegas mengejar Anna, tetapi dia tidak bisa menghentikannya sama sekali. Segera, Anna masuk ke dalam mobil.


"James, kamu mengecewakan aku. Mengenai kerjasama proyek pengembangan alat kesehatan, aku rasa aku harus mempertimbangkannya kembali!" Ucap Anna dengan dingin, lalu meninggalkan hotel.


"Nona Anna, tolong dengarkan penjelasan saya!" James berteriak dengan panik. Tapi mobil Anna telah menghilang di tengah kegelapan malam hari.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" James berkata dengan hampa, lalu melihat ke arah Djarot: "Paman Djarot!"


Tapi Djarot mengabaikannya, berjalan keluar. Saat mendekati pintu, langkahnya berhenti.


"James ... kamu membuat masalah besar!" Usai itu, dia pun keluar.


"Masalah besar? Masalah besar apa yang aku buat? Apakah aku bahkan tidak bisa melawan pria tak berguna yang hidup bergantung pada wanita?Tidak mungkin. Orang-orang ini pasti salah paham terhadap sesuatu. Aku tidak membuat kesalahan apa pun. Pasti begitu!" James sedang berada dalam keadaan bingung dan panik. Dia bergumam seperti sedang rap.


"Tuan Muda Choky, ini... apa yang terjadi?" Jordi berjalan mendekat, bertanya dengan sengau.


"Kenapa Vincent si sampah itu bisa kenal dengan orang-orang ini?" Tanya Livy dengan gemetar.


"Itu pasti kebetulan, mereka pasti salah lihat orang ..."


"Tapi Tuan Djarot."


"Aku sudah bilang ini hanya kebetulan. Apa kalian tidak paham bahasa manusia?" James meraung. Semua orang terkejut.


"Perjamuan malam ini dibatalkan. Dengar, siapa pun tidak boleh menyebarkan masalah malam ini. Apa kalian paham?" Kata James dengan dingin.


"Baik, Tuan Muda Choky!"


"Tenang saja." Orang-orang bersikap hormat, menuruti permintaan James. James menghempaskan tangan, hendak pergi.


Pada saat ini pula, ponselnya tiba-tiba bergetar. James melihat layar ponsel, wajah diliputi ketakutan. Dia buru-buru mengangkat telepon.


"Ayah."


"Di mana kamu?"


"Di hotel.."


"Tunggu aku di sana, aku akan segera tiba!" Usai itu, telepon langsung diputuskan.


"Bukankah Ayah ada di Kota Althoz? Kenapa dia datang ke sini?" James tidak habis pikir.


Entah berlalu berapa lama, sekelompok orang dengan setelan rapi berjalan masuk ke aula perjamuan. Pemimpinnya adalah seorang pria paruh baya yang tampak penuh semangat. Wajahnya penuh amarah. Dia melangkah cepat ke hadapan James, menamparnya dengan kuat.


PLAK!


James ditampar hingga mundur ke belakang. Sudut mulutnya mengalirkan darah.


"Dasar brengsek! Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Pria itu berteriak.


Ketika James mendengar itu, dia benar-benar tercengang.


"Ayah, apakah Ayah memukuliku karena Vincent?"


...


James amat pasrah .

__ADS_1


__ADS_2