
Keluarga Lanister dari Kota Azuka !
Nama ini bagaikan sebuah gunung besar yang menimpa tubuh semua orang sampai membuat nafas mereka terasa begitu berat.
Meskipun semua yang hadir hanya Renata yang datang dari Kota Azuka , namun banyak banyak orang yang terkejut mendengar nama ini.
Itu adalah keluarga yang begitu besar! Merupakan keluarga yang memiliki kekuasaan yang begitu kuat!
Namun sekarang, orang dari keluarga Lanister bahkan sampai datang ke kediaman Keluarga Avricon di Hansami, bahkan mengucapkan ulang tahun langsung pada Agil ? Apa maksudnya ini? Sejak kapan Keluarga Avricon memiliki hubungan dengan keluarga Lanister? Tidak benar, bukan Keluarga Avricon yang memiliki hubungan dengan keluarga Lanister, takutnya Jane yang memiliki hubungan dengan mereka!
Karena begitu Renata ini masuk, dia langsung bicara dengan Jane.
Ekspresi semua orang langsung berubah. Ekspresi wajah anggota Keluarga Avricon begitu pucat maksimal.
"Lanister.. orang dari keluarga Lanister?
"Oohhh. baik! Baik! Selamat datang! Selamat datang!" Agil sedikit kebingungan, dan dalam waktu singkat tidak bisa mencerna apa yang terjadi.
"Kakek Avricon, Renata datang terlalu buru-buru, tidak sempat menyiapkan hadiah, sehingga asal memilih sebuah barang di rumah untuk mengucapkan ulang tahun, disini ada perhiasan Night Polar, juga ada beberapa sarang burung walet Blood Lord, semoga anda menyukainya." Ucap Renata sambil tersenyum.
Pria tua berjas yang berdiri dibelakangnya langsung menyerahkan hadiah ditangannya.
"Apa?" Semua orang begitu terkejut.
"Perhiasan Night Polar? Katanya ini adalah jenis mutiara malam yang langka, bukan hanya besar, cahaya yang dipancarkan dimalam hari juga begitu unik, jika diletakkan di kamar tidur, memiliki khasiat menenangkan jiwa dan melancarkan peredaran darah di sekujur tubuh, diseluruh Huaguo hanya ada satu butir ini saja, harganya sudah melambung sampai harga yang tidak ternilai, banyak bos yang berebut ingin membeli benda ini, tidak disangka ternyata benda ini ada di tangan keluarga Lanister..."
"Sarang burung walet Blood Lord baru keren, katanya sarang burung walet ini baru muncul 30 tahun sekali, sarang burung walet Blood Lord ini begitu besar kotaknya, mungkin isinya bisa mencapai usia ratusan tahun, ini bukan barang yang bisa didapatkan hanya dengan uang."
"Keluarga Lanister memang berbeda, hadiah kecil bagi mereka saja sudah begitu mengejutkan."
"Barang seperti ini diambil dengan random dari dalam rumahnya? Bukankah ini agak berlebihan."
Semua tamu undangan sampai menarik nafas dalam-dalam. Tuan Besar Avricon juga tercengang, namun dia adalah orang yang sudah melewati berbagai macam badai juga rintangan, sehingga dia tertawa dengan kencang
"Gadis yang sangat baik, terimakasih banyak!"
"Kakek Avricon terlalu sungkan." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Gadis ini pintar juga tahu tata karma, memang pantas menjadi anggota keluarga Lanister, hanya saja Keluarga Avricon kami sedang menghadapi kesulitan hari ini, takutnya malah membuat malu, nak, kamu masuk ke ruang istirahat dan minum teh saja dulu, nanti setelah masalahnya selesai baru melayanimu dengan baik." Agil berkata sambil menghela nafas.
"Baik Kakek Avricon, namun Renata ingin ditemani oleh Kakak Jane." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Tidak bisa, dia tidak boleh pergi!" Sangsung yang ada disamping langsung membentak.
"Tutup mulutmu!" ekspresi wajah Dakota langsung berubah dan segera membentak dengan suara tertahan.
Namun.. sudah terlambat!
"Tidak bisa?" Renata langsung mengkerutkan alisnya, lalu menoleh kearah Sangsung, kemudian melihat kesekeliling, senyum dingin terukir di bibir mungilnya
__ADS_1
“Kelihatannya kakakku bertemu dengan hal yang merepotkan hari ini?" Sangsung tercengang.
"Dasar sampah yang hanya bisa membuat masalah!" Kendhiz memelototinya. Sangsung tahu dia sudah membuat masalah.
"Kak Jane, kamu tenang saja, hari ini ada aku disini, tidak ada yang bisa menyentuhmu, sebaliknya kamu! Katakan padaku, siapa yang menyentuhmu, aku pasti akan membereskannya hari ini." Renata berkata dengan arogan.
"Ini.." Jane terlihat kebingungan, tidak tahu harus mengatakan apa baiknya.
Namun pada saat ini, Vincent berkata.
"Aku ingin menghajar seseorang.
"Baik." Renata langsung mengangguk.
Vincent tanpa banyak bicara, langsung berjalan kearah Sangsung.
"Kau.. mau apa kamu?" Sangsung panik.
Namun dia belum menyelesaikan ucapannya, Vincent tiba-tiba mengangkat kursi yang ada disampingnya dan langsung menghantamkannya ke kepala Sangsung.
Brakk! Sangsung langsung dihantam sampai terkapar di lantai.
"Aaaaa!!" Dia menjerit dengan keras, kepalanya dipenuhi darah segar yang terus mengalir.
"Hentikan!" Orang keluarga Borland langsung mengepung. Kendra juga tidak bisa tinggal diam, sehingga membentak dengan penuh amarah
"Vincent, kamu jangan keterlaluan."
Ini sudah bukan hanya menampar wajah Keluarga Borland, namun sudah ancang-ancang untuk menekan Keluarga Borland dan menginjaknya sampai mati.
Lalu, Renata berkata dengan santai : "Kali ini aku datang untuk mengucapkan selamat, bukan maksudku pribadi!" Nafas Dakota menjadi berat : "Kalau begitu siapa?"
"Kakekku!" Hanya satu kata yang begitu sederhana, terasa seperti dijatuhi hukuman mati
Dakota langsung terdiam. Orang Keluarga Borland juga terkejut. Kendra langsung berbalik dan membawa pergi orangnya. Keluarga Ifro, keluarga Miya dan yang lainnya langsung paham kalau kondisi ini sudah berbalik begitu mendengar ucapan Renata ini, ekspresi wajah mereka terlihat begitu pucat.
Siapa yang mengira.. yang mendukung dibelakang Jane adalah keluarga Lanister.
Brakk! Brukk! Brakk.
Vincent menghantam tubuh Sangsung bagaikan orang gila. Begitu kejam, sama sekali tidak berbelas kasihan.
Satu kursi hancur, dia ganti dengan kursi yang lain, bahkan sepanjang hantaman itu bisa terdengar suara tulang yang patah juga hancur dengan jelas.
"Hen.. hentikan! Cepat hentikan!"
Kendhiz begitu panik dan hendak maju, namun kali ini dia malah ditahan oleh Dakota.
"Biarkanlah dia." Dakota berkata dengan lirih.
__ADS_1
"Ayah angkat!" Kendhiz panik.
"Kamu tidak ingin Keluarga Borland hancur begitu saja bukan?" ucap Dakota dengan parau. Kendhiz tersentak, tidak lagi bersuara. Awalnya Nyonya Besar Avricon ingin menghentikannya, namun melihat Keluarga Borland yang tidak berani bergerak, dia langsung paham kalau orang ini punya kekuasaan yang sangat kuat. Sehingga tidak ada seorang pun yang berani menyentuh Vincent lagi. Vincent mengambil kursi dan menghantamkannya seperti itu, hantaman bertubi-tubi mendarat di tubuh Sangsung.
Seluruh ruangan terasa begitu aneh. Tidak ada yang berani mempercayai apa yang mereka lihat. Ruangan acara dipenuhi oleh suara erangan Sangsung yang menggema. Setelah berlangsung belasan detik seperti itu, Sangsung tidak lagi bersuara. Sepertinya dia jatuh pingsan, tubuhnya dipenuhi oleh darah, tidak ada satu bagian tubuhnya yang menyisakan bagian yang utuh.
"Vincent , hentikanlah, jangan sampai jatuh korban jiwa!" Tuan besar tidak kuat lagi melihatnya.
"Tenang saja, aku juga pernah membaca beberapa buku ilmu pengobatan, dia tidak akan mati." Hanya tidak mati, tetapi tidak mengatakan tidak akan cacat.
Vincent menghembuskan nafas, melihat kursi yang sudah hancur ditangannya, lalu berkata pada orang disampingnya : "Bawalah dia untuk diobati." Kendhiz berjalan mendekat, mengangkat Sangsung, setelah terdiam sesaat dia berkata dengan serak : "Kakakku belum tentu membiarkan hal ini."
"Aku juga tidak berniat membiarkan masalah ini, aku tunggu kalian, namun lain kali, tidak akan semudah ini." Jawab Vincent.
Kendhiz membawa pergi Sangsung dengan rahang yang mengetat. Dakota tidak pergi, seolah masih ada yang ingin dikatakan.
Namun pada saat ini, Vincent tiba-tiba mengangkat sebuah kursi lainnya, menunjuk Tuan muda Ifro yang ada disana dan berkata : "Kamu, sini."
"Aaaaa!!" Tuan muda Ifro begitu ketakutan, dia mundur sambil berteriak dengan penuh rasa takut : "Apa yang ingin kamu lakukan?"
" Sini." Vincent kembali mengulang kata-katanya.
"Tidak, Vincent, aku. aku tidak melakukan apapun pada Jane , kamu. kamu jangan macam-macam, kamu jangan ." Tuan muda Ifro berteriak dengan penuh ketakutan.
"Tidak mau kesini? Baiklah, kalau begitu aku yang kesana." Vincent langsung mengangguk, lalu menggenggam erat kursi ditangannya sambil berjalan mendekat. Tuan muda Ifro ketakutan sampai segera kabur.
Namun tepat pada saat ini, Renata melirik kearah orang keluarga Ifro. Orang Keluarga Ifro tersentak, dan pada akhirnya mengulurkan tangan dan menahan Tuan muda Ifro.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Paman, kalian."
"Diamlah, demi Keluarga Ifro , tenang saja, ada batasannya, hanya sedikit sakit saja." terdengar suara yang serak.
Tuan Muda Ifro membelalakkan matanya dengan bulat dan menatap kearah Migu Ifro dengan tatapan tidak percaya. Dan ketika dia terkejut, kursi yang digenggam Vincent sudah melayang.
"Aaaa!! Aku tidak rela!" Tuan Muda Ifro marah, dia bangkit dan langsung membalas dengan penuh amarah.
Namun ada orang Keluarga Ifro yang menerjang keluar dan menahannya di lantai, membiarkannya dia pukuli oleh Vincent.
Semua orang yang ada disana menarik nafas panjang tanpa berani menghembuskan nafas, Memaksa Keluarga Ifro sampai seperti itu! Ini adalah keluarga Lanister dari Kota Azuka ? Inilah kekuatan keluarga terbesar? Menghantam hancur dua kursi, Tuan Muda Ifro digotong pergi, Vincent seolah tidak merasa lelah, lanjut membuat perhitungan.
Ada Renata yang mendukungnya, tidak ada yang berani mengungkapkan ketidakpuasannya. Seluruh ruangan dipenuhi amis darah dan terlihat begitu berantakan. Sebuah acara ulang tahun yang meriah, malah menjadi acara perhitungan yang mencengangkan. Mungkin Agil pun tidak menyangka kejadian ini akan menjadi seperti ini.
"Nenek, bagaimana? Kita harus bagaimana?" Tepat disaat ini, sebuah suara gemetar menarik anggota Keluarga Avricon dari rasa kaget juga terkejutnya.
Tubuh Nyonya Besar Avricon gemetar, hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
Iya.. bagaimana dengan orang Keluarga Avricon?
Jane sekarang ada keluarga Lanister yang menjadi backingnya... bagaimana kalau nanti dia ingin membuat perhitungan dengan Keluarga Avricon juga?
__ADS_1
Seketika, ekspresi wajah orang Keluarga Avricon langsung berubah penuh ketakutan, bahkan gemetar, nyonya besar lebih tidak bisa berdiri dengan tenang disana.