Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 103 Kamu Kalah


__ADS_3

"Prianya?"


Vincent tercengang, segera menyadari bahwa sekelompok orang ini mungkin berasal dari Sekolah kaisen.


Dia agak ragu-ragu, tetap memutuskan untuk menelepon Via dulu.


Namun saat ini, Via masuk ke dalam klinik dengan gembira sambil membawa sarapan pagi.


Hari ini dia bahkan datang lebih awal!


" Si malas! Sudah jam berapa masih belum bangun? Begitu banyak orang yang mau berobat? Cepat bangun untuk praktek, selesai praktek baru sarapan pagi, ini adalah bakpao yang aku belikan untukmu setelah mengantri lama!" Via berteriak dengan wajah penuh senyuman. Suasana hatinya tanpa sebab bagus sekali.


"Kamu adalah Via?" Saat ini, pria berpakaian cheongsam itu tiba-tiba berkata.


Langkah kaki Via tersentak, memandang pria asing ini, berkata dengan penuh keraguan


"Sepertinya kalian pertama kali datang ke klinik bukan?"


"Iya, kita juga pertama kali bertemu,"


"Lalu bagaimana kamu mengenalku?"


"Karena dia orang dari Sekolah kaisen." Tidak menunggu pria berbicara, Vincent keluar untuk menyela.


Mendengar kata-kata ini, Via ketakutan hingga seluruh tubuh gemetaran, bakpao di tangan berserakan di lantai.


"Kamu, kamu adalah Jotaru Kujo?" Dia berkata dengan suara gemetar.


"lya, aku." Jotaru, pria berpakaian cheongsam mengangguk, berputar memperhatikan Via dengan teliti, menutup kipas lipat di tangan, mengangguk dengan penuh rasa puas


"Kelihatannya Gusron si tua itu masih cukup jujur, tidak memperkenalkan wanita jelek dan aneh padaku, Via, ayo kita pergi, segera kembali ke Sekolah kaisen untuk melaksanakan pernikahan!"


Selesai bicara, langsung berbalik dan berjalan keluar. Tapi Via tidak mengikutinya.


"Emm?" Jotaru agak menoleh.


"Aku tidak bilang akan menikah denganmu!" Via berkata dengan cemberut.


"Kamu tidak ada pilihan! Karena tidak ada orang yang bisa menolakku!" Jotaru tersenyum mengatakannya.


"Sombong! Kamu pikir kamu siapa? Aku malah tidak mau pergi denganmu!" Via mendengus.


Dia paling tidak suka dengan orang sombong seperti ini.


"Heh, menolakku, di seluruh Alhambra tidak ada orang yang berani menikahimu, apakah kamu ingin seorang diri sampai tua?"


"Aku rela seorang diri sampai tua menjaga klinik ini, juga tidak akan menikah denganmu!"


"Kamu yakin? Kalau begitu sungguh sangat disesalkan!"


Jotaru menggeleng, melihat-lihat di sekeliling, lalu menghela nafas dan berkata : "Kasihan klinik ini! Besok akan ditutup!"


"Ditutup? Hmm, kecuali aku Via mati, kalau tidak klinik tidak akan pernah ditutup!" Via memarahi.


"Kalau begitu, mari kita tunggu dan melihatnya!"


Jotaru sambil tersenyum mengatakannya, berbalik dan pergi. Via dengan dingin menatapnya pergi, kemudian memungut bakpao di lantai.


"Kelihatannya beberapa hari ini kita akan mendapat masalah."


"Ambil tindakan sesuai situasi spesifik saja."


"Jika situasi sudah tidak bisa dikendalikan, kamu langsung pulang saja! Pokoknya aku tidak akan membuat kamu terlibat."


"Nanti baru dibicarakan lagi." Vincent berkata.


Setelah Jotaru pergi, klinik beroperasi seperti biasa. Namun yang membuat Via tidak terduga adalah hari ini orang yang datang ke klinik sangat banyak sekali, Vincent, Via dan Syla dokter wanita muda itu sibuk sepanjang hari baru berakhir. Mereka bertiga kelelahan sekali.


"Sudah pulang, ayo jalan, kita pergi minum!" Via mengambil nafas lalu mengatakannya.


"Baik!" Vincent tertawa.


"Kak Via! Banyak obat di lemari obat kita telah habis."


"Telepon mereka untuk mengirimkannya besok, ada banyak pasien hari ini yang akan datang besok untuk check up lagi! Obat tidak boleh habis!" Via sedikit mengerutkan kening mengatakannya.


"Baik!" Syla mengangguk.

__ADS_1


Ketiganya selesai minum, lalu tidur dengan nyeyak. Namun keesokan paginya.


Tok tok tok..


Terdengar suara ketuk pintu yang terburu-buru. Vincent agak tertegun.


Sudah ada beberapa puluh pasien yang berkumpul di luar. Apa yang terjadi ini?


Apakah klinik Via sudah populer sampai tahap ini?


Dia segera menelepon Syla dan Via. Mereka berdua terburu-buru menuju ke sini. Ketiganya mulai praktek dari jam 7 pagi tanpa berhenti sejenak pun. Bagi Via ini tidak termasuk apa-apa.


Meskipun agak melelahkan, tapi bisa mengobati rasa sakit pasien, dia merasa senang sekali.


"Kak Via, Cermeh sudah habis!" Saat ini, Syla berteriak ke sini.


Via tertegun : "Apakah obat masih belum ke sini?"


"Belum."


"Kamu buatkan resep, suruh pasien ambil obat di apotik lain."


"Baik." Syla mengangguk.


Tapi setelah beberapa saat kemudian... "Kak Via, Rootbeer juga habis."


"Lotus Herb juga habis."


"Brusonet Herb juga habis." Syla terus berteriak.


Tiba-tiba Via baru menyadari ada yang tidak beres. Dia bergegas mengambil telepon untuk menelepon orang yang mengantar obat.


"Apa? Tidak antar lagi? Mengapa?" Via terkejut sekali.


"Tidak tahu kenapa, Nona Via, di tempat kami juga kekurangan obat akhir-akhir ini, takutnya tidak bisa memberi kalian obat lagi, semoga kalian bisa menghubungi orang lain saja." Orang sebelah sana selesai bicara langsung mematikan telepon. Via tercengang.


Obat di klinik terputus!


Saat ini, dia baru mengerti semua ini adalah ulah Jotaru.


Putus ya putus, paling minta pasien ambil obat di luar! Via memikirkannya. Tapi perlahan dia menemukan pemikirannya sungguh terlalu naif.


"Di mana obatnya? Aku terluka begitu parah, kamu tidak mengoleskan obat untukku? Masih ingin aku beli obat di luar sana? Kakiku pincang, apakah kamu mau aku merangkak untuk beli obat?"


"Apa yang terjadi dengan klinik kalian? Obat saja tidak ada! Klinik jelek apaan ini?"


"Semuanya jangan datang ke klinik ini lagi, klinik ini bahkan tidak memiliki obat! Sekelompok dukun!"


"Sekelompok dukun bahkan tidak ada obat, klinik ini tidak perlu dibuka lagi!" Para pasien marah sekali, langsung memblokir mendorong pintu utama, tidak membiarkan orang di luar sana diperiksa, melakukan protes!


Via sudah panik sekali. Sesuai dengan perkembangan saat ini, takutnya dia harus benar-benar menutup klinik ini.


"Vincent, bagaimana ini?"


"Tidak perlu khawatir, ada aku!" Vincent berkata dengan serius.


"Takutnya kamu juga tidak bisa membantunya!"


Saat ini, terdengar suara tertawa dari kerumunan. Via dan Vincent sama-sama melihat ke sana, baru menemukan Jotaru sudah berada di dalam kerumunan orang.


"Keterampilan medis Vincent jauh lebih hebat dari kamu! Kamu tunggu dan lihat saja!" Via berkata sambil menggertakkan gigi.


"Tentu aku tahu, keterampilan medis Dokter jenius Bermoth sangat luar biasa, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Sekolah kaisen kami, mungkin masih agak buruk dariku, tapi aku rasa tidak sulit untuk menghadapi situasi seperti ini, namun dia tidak memiliki waktu untuk mengurus masalah di tempatmu ini." Jotaru tersenyum mengatakannya.


Via mengambil nafas, merasa ada yang tidak beres, berkata dengan suara berat


"Apa maksudmu!"


"Kamu lihat saja." Jotaru sambil tersenyum mengatakannya.


Vincent mengerutkan kening, selalu merasa ada yang tidak beres. Tapi pada saat ini dia juga malas untuk menghiraukan Jotaru, langsung berteriak


"Semua berbaris di tempatku, biarkan aku yang memeriksa kalian!" Para pasien mendengarnya, antara percaya dan tidak percaya berbaris di depan meja Vincent.


Vincent meminta Syla mengambilkan sepuluh set jarum perak, mengandalkan sisa obat dan jarum perak untuk mengobati pasien. Melihat teknik jarum yang dilakukan Vincent begitu alami, spontan Jotaru mengerutkan keningnya.


"Sungguh teknik tusuk jarum yang halus, teknikmu ini adalah Santoryu 17 Gaya?"

__ADS_1


"Salah, 18 Gaya." Vincent berkata dengan datar, lanjut menusuk jarum.


Jotaru agak tercengang, lalu tersenyum tipis : "Dokter jenius Bermoth tidak heran adalah Dokter jenius Bermoth, hanya saja sangat disayangkan, tidak peduli seberapa hebat keterampilan medismu, ibarat seorang wanita yang akan sulit memasak tanpa adanya bahan makanan dan nasi!"


Kata-kata terlontarkan, Syla berteriak. "Kak Via, Dokter Vincent, semua obat di lemari kita sudah habis..."


"Ah?" Via benar-benar tercengang.


"Aku tidak percaya, kamu hanya mengandalkan satu jarum perak bisa mengobati segala penyakit!" Jotaru berkata sambil tersenyum.


Nafas Via membeku. Hanya mengandalkan harum perak bisa mengobati segala penyakit? Ini sama sekali tidak mungkin!


Kalau tidak, itu bukan keterampilan medis lagi, melainkan keterampilan dewa!


Kelihatannya untuk sementara hanya bisa menutup klinik!


Mata Via menunjukkan keputusasaan.


Begitu klinik ditutup, dia percaya kakek pasti akan langsung ke sini untuk menyeretnya pergi ke Sekolah kaisen.


Habislah! Benar-benar habis sudah! Baru bertahan sehari apakah sudah akan gagal?


Sebuah rasa ketidakberdayaan melonjak di dalam hati Via.


Tapi pada saat ini, Vincent tiba-tiba bersuara mengatakan: "Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku tidak bisa mengobati segala penyakit hanya dengan sebuah jarum perak?" Senyuman Jotaru menjadi kaku


"Kamu sungguh bisa melakukannya?" Vincent tidak bicara, sebaliknya menebar semua jarum perak ke atas meja, kemudian satu telapak tangan membelai ke atas.


"Bergerak?" Jotaru membelalakkan matanya.


Hanya melihat satu demi satu jarum perak mulai bergerak dengan lembut, sungguh luar biasa ajaib.


"Wah?" Ada keributan di tempat kejadian.


Vincent dengan cepat mengeluarkan sebuah jarum perak, ditusuk ke dada pasien. Dalam sekejap, pasien yang merasa dadanya sesak itu seketika langsung menjadi lebih lega, wajah pucat juga berubah menjadi lebih memerah. Ajaib sekali!


Orang-orang terus menerus bergeser.


Vincent menusukkan beberapa jarum lagi, pasien itu benar-benar sembuh total! Ajaíb!


"Apakah kamu bisa mengobati luka luar dengan mengandalkan jarum perak saja?"


Jotaru menatap orang yang berjalan ke sini sambil memegang tongkat itu, berkata dengan jijik. Ini harus dioleskan obat, obat untuk luka luar dan memar tidak bisa digantikan dengan jarum perak.


Namun, Vincent malah menusukkan satu jarum ke kaki orang itu, kemudian menyuruh Syla asal-asalan membantu dia perban.


"Dokter, begini sudah selesai?"


"Tidak apa-apa selama kamu tidak bergerak selama tiga bulan."


"Ini.." Si pincang itu melihat Jotaru sejenak, wajah penuh ekspresi sulit.


Jotaru tidak bicara, hanya melambaikan tangan, pria pincang itu segera pergi sambil memegang tongkat.


Melihat Vincent mengobati pasien dengan teratur, Via luar biasa bersemangat, bahkan Syla juga penuh raut kagum.


Perlahan situasi mulai stabil Pasien juga mulai diantar pergi secara bertahap.


"Jotaru, tampaknya konspirasimu tidak akan berhasil!" Via berkata dengan datar.


"Apakah kamu pikir aku hanya memiliki metode ini saja? Naif!" Jotaru menggeleng.


"Kamu masih ada trik jahat apa?" Via mengerutkan kening. Ada Vincent, dia tegas sekali.


Namun tepat pada saat ini, ponsel Vincent tiba-tiba bergetar.


Vincent mengerutkan kening, begitu mengeluarkan ponsel dan melihat Id penelepon langsung mengangkatnya. Beberapa saat kemudian raut wajah berubah.


"Aku harus pergi!" Vincent berkata dengan suara dingin.


"Apa yang telah terjadi?"


"Terjadi sesuatu pada Jane!"


"Apa?" Via tercengang.


Tiba-tiba dia menoleh untuk melihat Jotaru. Malah melihat Jotaru membuka kipas lipat, sambil tersenyum mengatakan

__ADS_1


"Via, kamu sudah kalah!"


__ADS_2