Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 203 Kebakaran diklinik medis


__ADS_3

Ruang pasien di klinik medis ini tidak besar. Di dalamnya hanya ada tiga ranjang saja yang dipisahkan oleh tiga tirai. Satu ranjang untuk masing-masing anggota keluarga Jackson. Syla sedang memberi obat kepada Jane di dalam sana.


Mereka bertiga saat ini dalam keadaan koma, khususnya Jane. Dia tiba- tiba diinterupsi selama operasi dan hampir saja mati. Untungnya, keterampilan medis Via cukup lumayan bagus sehingga berhasil menyelamatkan nyawanya.


“Kak Via, masalah dengan orang-orang di luar sana apa sudah terselesaikan?” Syla menaruh obat di tangannya, lalu menjulurkan kepala dan bertanya dengan hati-hati.


“Tenang saja, semuanya baik-baik saja.” Kata Via sambil tersenyum.


“Baguslah kalau begitu. Eh? Vincent, kamu juga datang kesini?” Syla terkejut.


“Em.” Vincent tersenyum, lalu berjalan dan memeriksa ketiga orang itu.


Masalah Katrina dan Jackson tidak terlalu besar. Mereka berdua hanya tertidur.


Mereka akan baik-baik saja asalkan istirahat baik-baik saja dalam beberapa waktu ini.


Mengenai Jane, lukanya cukup parah. Organ dalamnya belum sepenuhnya pulih.


Kecelakaan terakhir kali itu cukup parah sekali. Ditambah lagi, operasi yang diinterupsi itu. Tubuh dan tulangnya sangat lemah, meskipun Via berhasil menyelamatkan nyawanya. Tapi dia belum dapat memulihkannya dengan begitu cepat.


Vincent diam-diam mendiagnosisnya, lalu meresepkan obat dan menyuruh Via untuk langsung merebus bahan obat itu.


Via juga tahu kemampuan hebat Vincent. Jadi, dia sangat menurut dengan ucapan Vincent. Dia mengambil resepnya dan bergegas pergi keluar.


Vincent mengeluarkan jarum perak dan mulai menusukkannya satu persatu pada tubuh Jane.


Sekitar setengah jam kemudian.


“Sudah selesai, sudah selesai. Vincent, obatnya sudah selesai direbus!”


Via datang dengan membawa sup obat yang masih panas.


Vincent mengambilnya, lalu meniupnya pelan-pelan dan menyuapkannya untuk Jane.


Ramuan obat itu pun masuk ke perutnya. Wajah pucat Jane mulai memerah lembut. Dia pun perlahan juga membuka kedua matanya.


“Vin..cent?” Kata Jane dengan lemahnya.


“Minumlah obatnya.” Ucap Vincent lembut.


Ada sedikit kebingungan di mata Jane. Bibir persiknya sedikit memanyun, tapi dia masih saja meminum semua cairan pahit itu.


Lalu pada saat ini...


Piarrrr!


Suara botol kaca pecah terdengar dari luar.


“Apa yang pecah?” Via tercengang.


“Kak Via, aku akan keluar untuk memeriksanya!” kata Syla lalu dia pergi keluar.


Lalu pada saat ini..


Piarrrr! Piarrrr! Piarrrr!


Suara pecahan kaca terdengar terus menerus.


Lalu, dia melihat Syla yang lari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam, dia berteriak dengan cemas dan sangat ketakutan


“Buruk! Buruk! Kak Via, kebakaran!”

__ADS_1


“Apa?” Via sangat terkejut sekali.


Vincent juga tercengang.


Beberapa orang bergegas keluar, tapi melihat nyala api yang mengamuk meraung di gerbang klinik medis, dan sejumlah suara besar botol pecah di sekitar nyala api.


Orang-orang yang berjalan lewat di luar sana melihat pemandangan ini dan satu persatu dari mereka menelepon pemadam kebakaran.


“Seseorang melemparkan bom molotov ke klinik medis!”


Vincent melirik serpihan kaca, ekspresinya di wajahnya begitu dingin.


Bom molotov?


Ekspresi beberapa orang berubah drastis.


“Apa Keluarga Melken yang melakukannya?”


Kata Via tertegun. “Seharusnya bukan. Orang-orang


“Keluarga Melken tidak sampai menginginkan kita mati.” Vincent berkata dengan nada berat,


“Khawatirnya itu orang lain.”


“Lalu siapa?”


“Kak Via, tidak bagus ini. Rak obat di dalam juga terbakar!” Pada saat ini, Syla berteriak lagi dengan terkejut dan ketakutan.


Seluruh tubuh Via menegang, dia bergegas menoleh dan melihat deretan lemari obat juga terbakar tapi entah mulai sejak kapan.


“Bagai. Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Semuanya tadi baik-baik saja, mengapa lemari obatnya tiba-tiba terbakar?” Via tercengang.


“Ini bukan waktunya untuk memikirkan ini, cepat pindahkan Jane dan yang lainnya segera keluar, cepat!”


“Vincent, apa... apa yang terjadi?” tanya Jane berbisik.


“Ada kebakaran, kita harus cepat keluar.” Vincent berkata dengan suara berat.


“Apa?” Jane terkejut.


Katrina dan Jackson juga sudah bangun.


Mereka dipapah oleh Via dan Syla keluar dari sana.


Melihat pemandangan asap yang mengepul, keduanya tercengang.


“Ya Tuhan astaga, aku Katrina ini sebenarnya salah apa? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini!” Katrina terus meratapi nasibnya, tidak tahu apakah karena ketakutan atau apa, dia langsung menangis tersedu-sedu.


“Pintu keluar diblokir, kita tidak bisa melarikan diri!” Jackson berkata dengan gemetaran.


Via menggertakkan giginya dan mencari alat pemadam api, tapi dia terkejut karena menyadari kalau alat pemadam api yang seharusnya digantung di dinding entah sejak kapan sudah tidak ada di sana..


“Sebagian besar alat pemadam kebakaran telah diambil oleh mereka. Kelihatannya ini adalah kebakaran yang sudah direncanakan. Tujuan dari orang yang membuat kebakaran ini adalah dia ingin membakar kita hidup-hidup sampai mati!” Kata Vincent dengan dingin.


“Vincent, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Via dengan putus asa.


“Kak Via, aku...aku sudah hampir tak bisa bernapas lagi. Sakit sekali..uhuk uhuk...” Syla terus menerus batuk.


Asapnya sudah membuat orang di sini tidak bisa bernapas.


“Semua orang ikuti aku, pergi dari sini. Mata Vincent menyilaukan, dan dia tiba-tiba berbalik dan berjalan ke kanan.

__ADS_1


“Vincent, di sana jalan buntu, tidak ada jendela” kata Via cemas.


“Cepat ikuti aku saja!” Vincent berteriak, nadanya tidak perlu dipertanyakan lagi.


Melihat ini, Via hanya bisa memaksakan diri untuk terus mengikutinya.


Dan melihat Vincent membawa yang lainnya ke depan dinding. Dia melirik dinding itu dan tiba-tiba mengangkat kakinya, lalu menendang dinding itu dengan sangat keras.


Bruak!


Terdengar suara yang sangat keras.


Dan melihat dinding yang ditendang oleh kaki Vincent itu langsung hancur berkeping-keping, dan retakannya dimana-mana.


“Apa?” Semua orang tercengang.


Vincent terus mengangkat kakinya dan menendang.


Bruak!


Bruak!


Bruak!


Boooommm...


Saat tendangan keempatnya, dinding yang sangat tebal di depannya langsung runtuh oleh tendangan Vincent yang keras.


Semua orang benar-benar tercengang. Termasuk Jane.


“Kaki...kakimu bagaimana bisa?


“Bagaimana kamu bisa punya kekuatan sebesar itu?” tanya Jane bingung.


“Bukan karena kekuatanku yang besar. Tapi karena dasar dindingnya yang tidak keras, mungkin saat membuat dindingnya bahan bangunannya dikurangi. Jadi hanya dengan beberapa kali tendangan sudah berhasil meruntuhkannya.” Kata Vincent dengan santai.


Tapi penjelasan ini cukup masuk akal di telinga keluarga Jackson.


“Mangkanya, mana mungkin pria sampah ini bisa jadi seorang Superman?” gumam Katrina diam-diam.


Semua orang keluar dari lubang dinding itu.


Kebakaran sudah semakin parah dan menggila.


Warga sekitar mengeluarkan alat pemadam kebakaran untuk membantu memadamkan api, beberapa menit kemudian mobil pemadam kebakaran juga tiba di pintu masuk klinik medis ini.


Ketika semua orang bekerja sama untuk memadamkan api, klinik medis Via ini sudah tak tersisa apapun dan semuanya telah habis terbakar.


Dia menatap diam ke arah klinik medis yang berubah menjadi arang dan abu di depannya. Menghela napas tak berdaya, dan kesedihan tampak jelas di wajahnya.


Ini semua adalah hasil kerja kerasnya..


“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Vincent.


“Baik-baik saja..” Jawab semua orang.


“Baguslah kalau baik-baik saja.” Vincent mengangguk lalu berjalan menghampiri Via.


“Via, bolehkah aku bertanya satu hal padamu.”


“Tanya apa?” Via menatapnya dengan tidak bisa dijelaskan.

__ADS_1


“Bahan obat apa yang kamu beli hari ini?” kata Vincent dengan suara berat.


Via tercengang, ekspresi wajahnya berubah, dan dia tiba-tiba mengerti apa maksud ucapan Vincent...


__ADS_2