Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 177 Kamu Tidak Ingin Menikah Juga Tidak Bisa


__ADS_3

“Kau ingin aku menundukkan kepala pada Sekolah Kaisen?” tanya Vincent dengan wajah tenang.


“Tidak ada pilihan lain, mereka sudah bekerja sama dengan berbagai kalangan sejak awal, lima hari lagi, pasukan dalam jumlah besar akan masuk ke Kota Izuno, Grup Vallamor sama sekali tidak sanggup menahannya!” ucap Dai Anwen dengan serak.


“Jadi tadi kamu pergi mendiskusikan hal ini dengan petinggi Sekolah Kaisen ?” tanya Vincent.


“Aku sangat menghormati guru, aku tidak ingin jerih payahmu lenyap begitu saja.” Ucap Dai Anwen sambil menggeleng.


“Sayangnya itu tidak berguna.”


“Guru, paling tidak aku tahu seberapa parah kondisinya..”


“Tetapi aku tidak perduli.” Vincent menggeleng: “Grup Vallamor hancur, aku bisa membangunnya lagi, namun Sekolah Kaisen ingin mengandalkan ini untuk membuatku menyerah, maka itu sama dengan bermimpi.”


“Guru, maksudmu adalah...”


“Tenang saja, tidak perlu menunggu sampai lima hari, kamu segera bantu aku menyiapkan beberapa barang, lusa aku akan menghitung jelas semuanya dengan Sekolah Kaisen.” Ucap Vincent dengan datar.


Dai Anwen menghela nafas panjang, tidak bicara lagi.


Vincent mengeluarkan buku catatan yang selalu dia bawa, lalu menulis list barang diatas kertas untuk diserahkan pada Dai Anwen.


Dai Anwen menerima dan membacanya, lalu berkata: Besok pagi aku akan mengantarkannya ke tempatmu.”


“Ada botol obat tidak?”


“Ditempat aku tinggal ada.”


“Baiklah! Besok pagi aku akan mengambilnya ke tempatmu.” Ucap Vincent.


“Baiklah “


“Oh iya, apakah kamu kenal Jotaru ?” Vincent seolah baru teringat dengan seseorang.


Dendamnya dengan Sekolah Kaisen, katanya dimulai oleh orang ini, meskipun tidak ada orang ini, Sekolah Kaisen tetap akan mengincarnya.


“Tahu, tentu saja tahu, Jotaru merupakan murid yang paling dibanggakan Olga di Sekolah Kaisen, merupakan dokter berbakat urutan keenam tahun lalu, dia sangat berbakat, perkembangan keahliannya sangat cepat, hanya saja aku merasa orang ini memiliki hati yang kurang baik.” Ucap Dai Anwen.


“Aku memiliki sedikit masalah dengan orang ini, dia sudah kuberi pelajaran, aku rasa gurunya Olga pasti akan mencari masalah denganku.”


“Pantas saja ketika aku mencari orang itu, reaksi Olga bisa begitu kuat.” Ucap Dai Anwen dengan paham.


“Lusa aku akan membereskan masalah ini dengan Olga.” Vincent memejamkan mata, tidak lagi banyak bicara.


Dan Anmei yang berada disamping hanya diam dan mendengarkan, wajahnya penuh dengan rasa cemas, dan dia juga hanya bisa terdiam.


Begitu masuk hotel, Vincent segera beristirahat. Dan Anmei tidak kembali ke kamarnya, melainkan pergi menemui Dai Anwen.


“Kakek, apakah masalahnya separah itu?” tanya Dai Anmei dengan hati-hati.


“Kenyataannya jauh lebih parah dari yang dibayangkan.” Ucap Dai Anwen menghela nafas.

__ADS_1


“Kalau begitu persentase kemenangan Kak Bermoth berapa menurutmu?” tanya Dai Anmei lagi.


“Aku tidak tahu. Kalau lusa guru pergi untuk bertanding ilmu pengobatan, berdasarkan keahlian guru, menekan sebagian besar Sekolah Kaisen tidak akan masalah, namun yang aku khawatirkan adalah.. orang itu akan muncul!” gumam Dai Anwen.


“Orang itu? Siapa?”


“Masih ada siapa lagi? Tentu saja Wakil ketua”


“Apa? Dia... bukankah dia sudah mundur?”


“Namun bulan lalu, dia kembali lagi ke Sekolah Kaisen.” Ucap Dai Anwen dengan tegas.


Wajah Dan Anmei langsung pucat, melangkah mundur dengan wajah yang begitu terkejut. Setelah sejenak, dia memejamkan matanya.


“Kakek, menurutmu... meminta bantuan Keluarga Shihab... membantu tidak?”


“Mencari apanya?” Dai Anwen langsung meledak, lalu berkata dengan penuh amarah: “Apakah aku harus mengandalkan cucuku untuk melindungi guruku? Anmei dengarkan aku, aku tidak mengijinkanmu sembarangan, beberapa hari ini kamu tinggallah di hotel dengan tenang, mengerti?”


Dai Anmei menggigit bibirnya tanpa bicara. “Aku ada urusan pergi dulu, kalau guru ada perlu, hubungi aku.” Dai Anwen bicara dengan tegas lalu meninggalkan hotel.


Dan Anmei berdiri di koridor hotel, menatap pemandangan yang ada diluar jendela, sorot matanya terlihat begitu menderita dan tidak berdaya.


Keesokan harinya, Dai Anwen menyerahkan barang-barang yang diminta Vincent dalam list, Vincent membawa bahan ini pergi ke ruang obat pribadi Dai Anwen.


Dai Anmei tidak mengganggu, melainkan berkeliling di dalam akademi dengan hati yang bimbang.


Hatinya begitu kacau, meskipun dia percaya pada kemampuan Vincent, namun bagaimana pun ini tetap Sekolah Kaisen, penuh dengan orang yang hebat dan kuat, bagaimana mungkin melawannya seorang diri?


Alis Dai Anmei sedikit terangkat dan mengangkat kepala melihat, dia melihat seorang pria yang mengenakan jas dengan alis yang tegas, pria itu begitu tampan, namun sangat pucat, meskipun tubuhnya tinggi tegak, namun terlihat lemah dan gontai, seolah belakangan ini terlalu bergairah.


“Umar Shihab?” Ucap Dan Anmei. “Anmei, ayo kita bicara!” ucap Umar dengan tegas.


“Kita masih belum begitu akrab, apa yang perlu dibicarakan?” Dai Anmei tersadar dan berkata dengan datar.


“Siapa pria yang bersamamu sebelumnya?” tanya Umar dengan wajah tanpa ekspresi.


“Ternyata Philip juga memberitahumu?” Dai Anmei terlihat kesal.


“Ini tidak penting, yang terpenting adalah pria itu, siapa dia sebenarnya?” tanya Umar dengan dingin.


“Apa hubungannya denganmu?” Dai Anmei mendengus dingin.


“Tidak ada hubungannya denganku? Kamu adalah wanitaku, kamu sudah pasti akan menikah dan menjadi milikku, bagaimana mungkin tidak ada hubungan denganku?” ucap Umar dengan arogan, gayanya seperti seorang presdir arogan.


Kalau gadis biasa, mungkin sudah akan bertekuk lutut oleh kearoganannya yang terlihat keren, namun Dai Anmei sama sekali tidak memperdulikannya, dan langsung berlalu.


“Anmei, berhenti kamu!” Umar langsung menangkap pergelangan tangan Dai Anmei.


“Lepaskan!” Dai Anmei memberontak.


“Kalau kamu tidak menjelaskannya hari ini, aku tidak akan melepaskanmu.”

__ADS_1


“Kau...” Dai Anmei benar-benar kesal, lalu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam tasnya dan berkata dengan penuh amarah: “Kalau kamu tidak lepas, jangan salahkan aku tidak sungkan!”


“Kalau dengan ditusuk olehmu bisa membuatmu menerimaku, maka tusuklah aku!” ucap Umar dengan dingin.


“Kalau begitu sebaiknya kamu urungkan saja niatmu! Lebih baik kuberitahu padamu, pria yang dilihat oleh Philip adalah pacarku, aku Dai Anmei akan menikahinya kelak, kamu sudah tidak ada harapan!” ucap Dai Anmei dengan dingin.


Begitu ucapan ini dilayangkan, bagaikan ada sebatang jarum yang menusuk tepat di jantung Umar. Dia menatap Dan Anmei dengan dingin: “Kamu sudah naik keatas ranjangnya?”


“Kamu mau lepas tidak?” Ucap Dai Anmei dengan rahang mengetat.


“Beritahu aku, apakah kamu sudah melakukannya dengan dia!” Umar berkata dengan emosi yang begitu labil, tenaganya juga menjadi jauh lebih kuat.


“Kamu membuatku kesakitan!” Dai Anmei kesakitan sampai tidak kuat berdiri.


“Tidak kusangka ternyata kamu segitu murahannya! Kalau begitu, aku juga tidak perlu sungkan lagi, kemari kamu!” Umar berkata dengan dingin, dan menarik Dan Anmei ke samping gedung.


“Brengsek!”


Dan Anmei kesal dan panik, melihat tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Umar, dia tidak lagi bisa menahan diri, dan dalam keadaan gegabah, dia langsung menusukkan gunting di tangannya kearah Umar.


Tubuh Umar gemetar lalu mundur beberapa langkah, ketika menunduk dan melihat, dia melihat setengah bagian gunting itu sudah masuk ke dalam perutnya. Darah segar mengalir keluar..


Wajah Dan Anmei manjadi pucat, lalu mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar.


“Aaah? Pembunuhan!”


“Tuan muda Shihab!”


“Ini.. apa yang sebenarnya terjadi disini?” Orang disekitar terlihat begitu terkejut.


Sementara gerombolan Philip entah sejak kapan datang dan mengelilingi Umar.


“Aku tidak apa-apa.” Umar tersenyum tipis, namun dalam sorot matanya penuh dengan aura jahat, dia menatap Dan Anmei dan berkata sambil tersenyum: “Anmei, kali ini, meskipun kamu tidak ingin menikah denganku juga tidak bisa...”


“Kau... apa maksudmu?” Dai Anmei merasa ada yang gawat.


Philip dan temannya muncul dari mana?


Dan juga... sikap Umar hari ini terlalu aneh, meskipun dia arogan, namun tidak akan gegabah...


“Kamu akan segera tahu.” Ucap Umar dengan senyum tipis, lalu dia dipapah pergi oleh beberapa orang.


Tidak ada yang melapor polisi, juga tidak ada yang melapor ke pihak akademi. Semua seolah sebuah rekayasa.


Dai Anmei tersentak, dia merasa ada yang tidak beres, sehingga segera pergi dan mencari kakeknya.


Malam hari.


Sekelompok orang menerobos masuk ke tempat tinggal Dai Anwen.


Orang-orang ini.. adalah orang dari keluarga Shihab..

__ADS_1


__ADS_2