Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 427 menerobos sendirian


__ADS_3

Brakkk!


Terdengar suara pintu mobil dibuka.


Vincent turun dari mobil, lalu berjalan dengan langkah lebar menuju pintu utama kediaman Keluarga Lavore.


Estinen terkejut, kemudian bergegas menghampiri.


“Tuan Bermoth! Aku rasa kita bisa bicarakan baik-baik!”Estinen tersenyum sambil berusaha menghalangi Vincent.


“Minggir!” Ekspresi wajah Vincent datar ketika menatap Estinen.


“Tuan Bermoth... aku sudah tahu masalahnya, tolong anda jangan marah, mungkin anda kurang mengerti keadaan Keluarga Lavore, kakek saya sedang menuju kesini, dia berharap bisa berbicara baik-baik dengan anda, sehingga bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini!” Estinen buru-buru berkata sambil tersenyum.


Namun detik berikutnya, tiba- tiba Vincent mengulurkan tangan dan langsung mencengkeram kerah baju Estinen, dan menarik dirinya.


“Aaahh?” Estinen terkejut.


“Tuan Muda!”


Para anggota Keluarga Lavore merasa panik dan bergegas menghampiri mereka, namun tidak berani sembarangan bertindak, hanya memperhatikan Vincent dengan sorot mata panik.


Tapi Vincent tidak berbuat apa-apa terhadap Estinen, dia hanya memposisikan kepalanya begitu dekat, kedua matanya menatap Estinen dengan dingin: “Dengarkan! Aku masih mempertimbangkan hubungan kita, jadi aku tidak ingin bermasalah denganmu, lebih baik kamu minggir, kalau tidak jangan salahkan kalau aku tidak akan memberikan muka untukmu!” Selesai berkata, Vincent mendorongnya.


Brukkk!


Estinen jatuh terduduk di atas tanah, bokongnya hampir sobek.


“Bedebah!”


Para anggota Keluarga Lavore marah besar, satu persatu dari mereka datang ingin membalas.


“Semuanya diam ditempat!” Estinen buru-buru berteriak.


“Tuan muda..”


“Minggir semua, beri jalan!” Estinen berusaha bangkit sambil memegangi bokongnya yang sakit, lalu berkata: “Siapapun yang berani menyentuh Tuan Bermoth, maka pergi dari rumah keluarga Lavore.”


Melihat Estinen yang tegas dan marah seperti itu, para bawahannya mana berani bertindak? Semuanya mundur, tidak berani maju kedepan.


Napas Estinen memburu, dia memandang Vincent, sorot matanya terlihat teguh dan tegas, kemudian berjalan ke hadapan Vincent, berkata sambil terengah-engah: “Tuan Bermoth, aku harap... alku harap kamu bisa memberiku satu kesempatan, satu kesempatan untuk menjelaskan semua ini, kamu tenang saja, kami Keluarga Lavore pasti akan memberikan penjelasan padamu, aku hanya berharap anda bisa tenang dulu, lagipula... disini adalah kediaman Keluarga Lavore, kalau anda membuat keributan disini, aku khawatir kakek tidak bisa menjagamu, kami berbuat seperti ini juga demi kebaikan dirimu, tapi aku mohon supaya kamu bisa mengerti. Tolonglah..” Semua yang harus dikatakan oleh Estinen sudah terucapkan.


Dia tidak tahu bagaimana kemampuan Vincent, akan tetapi kelihatannya Vincent sudah bersiap-siap untuk membuat keributan, jadi Estinen hanya bisa menjelaskan alasan yang masuk diakal dan tidak menggunakan emosi!


Namun... dia telah menganggap remeh keteguhan hati Vincent!


Dia sama sekali tidak bisa merasakan api kemarahan yang membara di hati Vincent.


Dia hanya melihat Vincent mengangkat tangannya, lalu mengarah ke bahu Estinen.


Estinen terpana, dia mengira Vincent mau mengatakan sesuatu, tapi malah Vincent mengeluarkan sedikit tenaga dan mendorong Estinen ke pinggir..


Estinen terkejut, dia tidak menyangka akan didorong, dan jatuh lagi ke tanah untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Vincent bergegas menuju kearah pintu utama tanpa ragu-ragu.


Pintu utama rumah Keluarga Lavore tertutup rapat, di depan pintu duduk seorang tua yang kurus dan memakai rompi putih, orang tua itu memegang cangkir teh dan beristirahat dengan mata terpejam.


Estinen kenal dengan orang tua ini, kalau dibilang ada tamu Keluarga Lavore yang datang, maka dia tidak akan peduli, tapi kalau ada orang yang tidak disambut oleh keluarga Lavore, dia tidak akan duduk diam begitu saja.


Estinen pintar memanfaatkan situasi, dia bergegas menghampiri orang tua itu dan membisikinya dengan suara rendah.


Tapi orang tua itu masih tetap memejamkan kedua matanya, tidak bergerak sedikit pun, seakan-akan dia tidak mendengar ucapan Estinen.


Sampai ketika Vincent mengulurkan tangan dan menyentuh pintu utama


Keluarga Lavore, dan mau mendorongnya sekuat tenaga. “Tuan, ada perlu apa anda datang kesini?” Orang tua di samping pintu itu akhirnya buka suara.


Tapi, Vincent tetap saja tidak menghiraukannya, dia langsung mendorong pintu utama.


Krittt....


Pintu utama didorong, mengeluarkan suara derit yang berat.


Vincent langsung menerobos ke dalam.


Namun detik berikutnya, sebuah tangan yang keriput berada di hadapan Vincent, menghalangi dirinya.


Estinen tertegun, dia langsung menoleh dan baru menyadari entah sejak kapan si orang tua itu sudah berdiri di hadapan Vincent.


Dia sangat cepat.!


Vincent merupakan orang pertama.


“Minggir!” Sorot mata Vincent tidak berubah, nada bicaranya tetap dingin seperti es.


“Tuan, kalau anda bersikeras untuk menerobos masuk ke kediaman Keluarga Lavore, maka aku tidak akan sungkan!” Orang tua itu berkata dengan ekspresi wajah datar.


“Paman, anda jangan marah, dia ini temanku, mungkin ia tidak begitu mengerti peraturan keluarga kita, jadi aku mohon jangan marah!” Melihat situasi yang mulai tidak beres, Estinen segera berusaha menjelaskan.


Tapi si tua itu bukan orang bodoh.


Dan Vincent juga tidak menghiraukan mereka berdua, dia tetap menerobos masuk ke dalam.


Bola mata lelaki tua yang keruh langsung membelalak lebar, sedikitpun tidak ada keragu-raguan dalam tindakannya, dia langsung mengunci pundak Vincent, dan ingin melemparkannya ke luar pintu.


Namun ketika dia bersiap mengeluarkan tenaga, dia merasakan seperti digigit nyamuk di pergelangan tangannya, lalu orang tua itu langsung jatuh tergeletak tak bertenaga di atas lantai, aliran darah di seluruh tubuhnya terhenti.


“Kenapa?” Estinen sangat terkejut.


“Gawat! Ada orang yang ingin menerobos masuk ke rumah Keluarga Lavoreļ”


“Cepat halangi dia!”


Ada seorang pembantu Keluarga Lavore yang melihat pemandangan itu dari dalam pintu, dia langsung berteriak memperingatkan yang lain.


Dalam sekejap, suasana menjadi riuh.

__ADS_1


Tak lama kemudian, orang-orang Keluarga Lavore yang tak terhitung jumlahnya mulai datang dan mengelilingi dia.


“Siapa kamu?”


“Berani-beraninya, apakah kamu tahu tempat apa ini?


“Bocah sialan berani menerobos kediaman Keluarga Lavore?”


“Kelihatannya kamu sudah tidak ingin hidup lagi!”


Orang-orang itu menatap Vincent dengan marah, lalu mengerubung di sekelilingnya.


Vincent diam saja, dia hanya mengeluarkan dua buah jarum baja, dia menusukkan jarum tersebut ke kedua lengannya, dan tinjunya mengepal.


Krek.


Seiring dengan posisi jarinya menekuk, terdengar suara retakan yang jelas.


Kekuatan yang sangat dahsyat mengalir deras di otot lengannya.


Dia tidak ingin menahan diri lagi.


Kali ini, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya!


Melihat pemandangan ini, Estinen terkejut hingga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Gawat, gawat, sudah tidak bisa dikendalikan lagi! Kali ini semuanya hancur berantakan!” Estinen berkata pada dirinya sendiri sambil gemetar.


“Dimana Sasha Lavore?” Vincent memejamkan kedua matanya dan bertanya dengan tenang.


“Nona Sasha? Huhh, apakah kamu pantas menyebut namanya?”


“Kamu ini sebenarnya orang gila dari mana? Cepat berlutut!”


“Kamu tidak lihat tempat apa ini! Dasar tukang cari mati!”


Orang Keluarga Lavore di sekelilingnya terus memaki, mana mungkin mereka menjawab pertanyaan Vincent, saking bencinya mereka hanya ingin menjatuhkan orang ini.


Vincent menganggukkan kepala: “Baiklah, karena kalian tidak mau bicara maka aku akan pergi mencarinya sendiri!”


Selesai berkata, dia memaksa menerobos kerumunan orang itu.


“Cari? Kamu harusnya merangkak disini! Hajar dia!”


Entah siapa yang memulai teriakan itu, tiba-tiba semua orang langsung maju dan menyerang Vincent. Kejadiannya sangat kacau.. tapi di saat ini, ada sebuah teriakan marah yang menggema.


“Semuanya berhenti!”


Mendengar suara ini, seluruh orang Keluarga Lavore berhenti dan menatap kerumunan diantara mereka.


Namun malah melihat beberapa lelaki melangkah maju.


Vincent ikut melihat arah tatapan mereka, dan seketika alisnya menegang.

__ADS_1


__ADS_2