
Pong!
Vincent memeluk Jane, dan terlempar ke dinding oleh gelombang, keduanya berguling, Vincent muntah darah dan bahunya terluka karena ledakan itu.
Dahi Jane juga berdarah, wajahnya pucat, dan pingsan karena ledakan yang tiba-tiba.
Tempat kejadian sangat berserakan.
Kaca jendela pecah di seluruh lantai.
Gedung penduduk di sekitarnya menyalakan lampu dan terdengar segala macam teriakan.
“Apa yang terjadi?”
“Di mana meledak?”
“Cepat telpon 110!”
Semua orang Armint bergegas kemari.
“Tuan Bermoth, apakah anda baik-baik saja?” salah satu dari mereka bertanya dengan buru-buru.
“Aku baik-baik saja…” wajah Vincent muram, memeriksa Jane sebentar, melihat dia baik-baik saja, hanya mengalami gegar otak di kepala, dia berkata dengan suara kecil: “Cepat, panggil ambulans!”
“Oke!”
Orang di sebelah buru-buru mengeluarkan ponsel.
Setelah beberapa saat, ambulans datang dan membawa Jane.
Vincent segera menelpon Katrina dan Jackson.
Katrina, yang baru saja tertidur, pergi ke rumah sakit sambil menangis.
Vincent tidak terburu-buru ke rumah sakit.
Penjaga di sana akan menjadi yang paling ketat di Kota Izuno, dia tidak khawatir orang itu akan melukai Jane di rumah sakit!
Wajah Vincent muram, berjalan menuju Gedung penduduk yang hancur.
Pada saat ini, Gedung penduduk di lantai satu sudah berantakan, udara dipenuhi dengan bau gas yang sangat kuat.
Tampaknya ini adalah akibat dari kebocoran gas, tapi Vincent yakin, ini adalah kelakuan keluarga Minghe.
“Terlalu remehkan keluarga Minghe …”
Wajah Vincent muram, mengepalkan tangannya dengan erat-erat.
Beberapa pengawal masuk untuk menyelidiki.
Setelah beberapa saat, seseorang keluar dan berkata dengan suara rendah: “Tuan Bermoth, teman Nona Dormantis meninggal karena ledakan itu.”
“Orang yang berambut biru itu mana?” Tanya Vincent.
“Tidak ketemu, dalam hanya ada dia, dia meninggal di pintu. Aku rasa ada orang yang rencanakan ini diam-diam, ruangan itu penuh dengan bau gas. Ketika dia buka pintu, dia sentuh perangkat yang dipasang oleh pihak lain, memicu percikan api, baru menyalakan gas, sehingga menyebabkan situasi seperti ini.” kata orang itu.
“Segera cari orang berambut biru itu.”
__ADS_1
“Tuan Bermoth, apakah bawa dia kepada anda ketika menemukannya?”
“Tidak perlu, serahkan dia kepada Ezra saja.”
Vincent berkata dengan dingin: “Kurasa Ezra pasti akan layani dia dengan baik!”
“Oke.”
Pengawal itu gemetar, seolah-olah teringat sesuatu yang mengerikan, wajahnya menjadi pucat.
Sekelompok pengawal segera bubar dan mencarinya.
Vincent bergegas ke rumah sakit.
Tapi begitu dia memasuki pintu rumah sakit, sebuah bayangan bergegas menuju Vincent.
Itu Katrina.
Dia terlihat garang saat ini, dengan rambut acak-acakan seperti iblis, sangat menakutkan.
“Sampah! Bajingan, anjing liar! Kamu masih punya muka untuk datang ke sini? Aku akan bertarung denganmu!” Katrina meraung.
Perawat dan pasien di sebelah mereka terkejut.
“Katrina, hentikan, jangan buat masalah!” Jackson berlari kemari dan memeluk Katrina.
“Lepaskan aku, Jackson! Cepat lepaskan aku, aku mau bunuh anjing liar ini! aku mau injak belatung ini sampai mati!” teriak Katrina.
“Katrina, ini rumah sakit, jika kamu buat masalah di sini, itu akan ganggu Jane. Bagaimana jika nanti rumah sakit paksa Jane pindah karena ini?” bujuk Jackson.
Wajah Vincent muram, mengepalkan tangannya dengan erat-erat.
Suasana hatinya sudah buruk dan ingin melihat Jane, tapi dihina oleh Katrina.
Dia bukan terbuat dari tanah liat, dia juga punya emosi.
Jika bukan karena Jane dan keduanya adalah ayah mertua dan ibu mertuanya, dia pasti sudah memukul mereka.
Tapi pada saat ini, terdengar sebuah suara.
“Paman, bibi, kalian sudah salah paham, ini bukan salah Vincent, tapi kecelakaan, Vincent juga korban.”
Begitu suara ini keluar, mereka melihat ke arah suara itu, mereka melihat Via berjalan ke rumah sakit dengan cepat.
“Via!”
“Sudah malam, kenapa kamu ke sini?”
Ekspresi suami istri terlihat sedikit membaik.
Mereka tidak punya opini terhadap Via, sebaliknya, mereka sangat menyukai anak yang baik, patuh dan cantik ini.
“Aku tidak dapat hubungi Jane, aku takut terjadi sesuatu padanya, jadi aku pergi ke bar untuk cari dia. Tapi aku dengar ledakan di sebelah bar, Jane terluka, jadi aku cepat-cepat datang. Orang-orang di bar bilang gas di rumah Elfri tidak dimatikan, kebetulan menyentuh percikan api, baru terjadi ledakan. Jane masih baik, aku dengar Elfri mati karena ledakan!” kata Via.
“Iyakah?”
Wajah keduanya tiba-tiba berubah.
__ADS_1
“Bukankah? Vincent yang langsung antar Jane ke sini, jika terlambat, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Jane.” Kata Via.
Ekspresi Jackson dan istrinya terguncang, tidak bersuara.
“Via, kamu temani Jane di sini, aku masih ada urusan, pergi dulu!” Vincent berkata tanpa ekspresi, berbalik dan pergi.
“Vincent! Vincent! Tunggu!”
Via buru-buru mengejarnya.
Katrina mendengus dan berkata: “Sampah ini, cepat atau lambat kita pasti akan usir dia keluar!”
“Sudah, Katrina. Jangan bicarakan itu lagi, masuk untuk jaga Jane, dokter bilang Jane akan bangun kapan saja.”
……
Setelah keluar dari gerbang, Vincent naik mobil yang dikirim oleh Ezra.
Via mengejarnya dan berkata: “Vincent! Kamu kemana?”
“Vallamor!” kata Vincent dengan tenang.
Via tahu identitas Vincent.
“Vincent, apa yang terjadi hari ini? Kenapa Jane bisa terjadi sesuatu?” hati Via murni, tentu saja dia tahu ada sesuatu yang salah.
“Tidak ada apa-apa, Via, akhir-akhir ini kamu bantu aku jaga Jane di rumah sakit. Jangan pergi ke mana pun, aku khawatir hal seperti itu akan terjadi lagi.” Kata Vincent.
“Apa?” Via terkejut.
Pada saat ini, ponsel Vincent bergetar.
Pesan dari Ezra.
Semua orang yang dikirim oleh keluarga Minghe ke Kota Izuno telah dihilangkan, pria berambut biru itu juga ditangkap. Dia mengambil uang keluarga Minghe, dengan sengaja menipu Elfri, dan merencanakan ini dengannya untuk menjebak Jane.
Namun Jane tidak mati.
Serangan keluarga Minghe bisa dikatakan hancur total.
Kemudian, adalah serangan tiga keluarga lainnya.
Vincent menebak bahwa titik serangan Keluarga Zigma berikutnya adalah Sekolah Rakizen.
“Mungkin, aku harus berinisiatif siapkan hadiah untuk menyambut mereka!” Vincent bergumam dengan dingin.
Terdengar suara ponsel bergema…
Pada saat ini, telepon berdering.
Vincent melihatnya, panggilan dari Renata.
Dia mengangkatnya.
Namun, itu bukan suara Renata, tapi Henner.
“Dokter jenius Bermoth! Permisi, berapa banyak Potion Cure yang anda miliki?” Henner bertanya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1