
Jenice dan Greni tampak bengong.
Mereka berdua sempat anggap mereka salah dengar.
Apalagi Greni, dia pun merasa agak pusing.
Tetapi Greni pun berusaha untuk berdiri, dia menunjuk penilai dengan sambil bergemetaran, “Eddy, kamu…kamu…kamu jangan asal ngomong! Volkswagen Phaeton apa? Apa ini? Kamu kamu kamu…kamu jangan asal ngomong! Jika tidak, kamu coba saja!”
“Bibi Greni, aku tidak asal ngomong, jika tidak percaya, kamu lihat bagian belakang mobilnya.” penilai berkata.
Greni dan Jenice pun langsung lari ke belakang mobil.
“Gimana?”
“Apakah di bawah logo Volkswagen itu masih ada tulisan lagi?”
“Iya…apa itu?” Greni bertanya dan tertegun di sana.
“Bibi Greni, apakah kamu tidak pernah dengar? Tidak takut Mercedes-Benz dan Land Rover, yang perlu ditakuti adalah Volkswagen yang bertulisan! Yang dibilang adalah Volkswagen Phaeton, kamu jangan anggap bentuk luarnya sangat biasa, kamu boleh lihat desain dalamnya, semuanya berasal dari kulit asli dan kayu kuno, kamu lihat aksesoris mobil ini dulu, apakah hanya senilai empat ratus juta? Apalagi jenis mobil ini bukan Volkswagen Phaeton biasa, aku rasa ini mungkin adalah Volkswagen Phaeton limited edition, apalagi produksi Volkswagen Phaeton juga sudah dihentikan, seberapa tingginya harga mobil ini harusnya kamu juga bisa tahu, hanya karena limited edition, harganya pun bisa lebih mahal satu miliar.” penilai Eddy berkata dengan serius.
Mendengarkan ini, Greni pun seperti disambar petir.
Wajah Jenice juga menjadi pucat, dia pun terhuyung-huyung di sana.
“Bibi, ini bukan mobilku, ini mobil temanku, kamu merusak mobil orang lain, kamu mau tanggung jawab dengan seperti apa?” Vincent berkata dengan tampak tenang.
Sekujur tubuh Greni bergemetaran, dia menatap Vincent, dan tersenyum dengan paksa: “Vincent, me…menurutmu seperti apa lebih bagus…”
“Jika ada uang, ganti rugi, jika tidak…ke dalam.” Vincent menunjuk pintu kantor polisi.
Wajah Greni pun langsung berubah: “Vincent, kamu…kamu mau gugat aku?”
“Aku sudah bilang, ini bukan mobilku, kamu sudah merusak mobil ini, tentu saja harus tanggung jawab, jika aku tidak bilang apa-apa, temanku juga akan cari kamu untuk minta tanggung jawab, sebaiknya kamu ganti rugi saja!” Vincent bergumam dengan dingin.
Greni merasa ketakutan sampai tangannya menjadi dingin, lalu dia pun berkata dengan sambil bergemetaran: ‘Vincent, kamu…kamu harus bantu aku, uang ini…kamu…kamu harus keluarkan sebagian!”
“Kenapa?”
“Karena…karena kamu yang pinjam mobil ini! Apalagi jika bukan kamu yang pancing amarahku, aku…mana mungkin akan seperti ini?” Greni berkata dengan terputus-putus.
“Apakah kamu sedang paksa aku? Kalau gitu, aku masuk ke dalam, dan minta polisi tentuin siapa yang harus bertanggung jawab, lihat saja apakah aku perlu bertanggung jawab atau tidak!” Vincent bergumam dengan dingin, dia berbalik, dan berjalan menuju ke dalam kantor polisi.
__ADS_1
“Jangan!”
Greni berteriak, dia langsung lari ke sana, dan meraih lengan Vincent: “Vincent, kamu tidak boleh seperti ini, jika tidak, Bibi akan ditahan di dalam! Kamu lepaskan Bibi saja…”
“Kalau gitu, kamu tidak bisa keluarkan uang sebanyak ini untuk ganti rugi?” Vincent berkata dengan dingin.
“Aku…aku sekarang mana punya uang sebanyak itu, apakah kamu boleh berikan sedikit waktu padaku?” Greni berkata dengan tampak tidak berdaya.
“Boleh juga, tetapi semuanya harus sesuai prosedur yang ada, hal ini tetap perlu dilaporkan, selain itu aku masih perlu hubungi perusahaan asuransi, tenang saja, aku akan berikan waktu ke kamu untuk kumpulin uangnya, jika dalam waktu yang ditentukan, kamu masih tidak bisa ganti rugi, sesuai dengan apa yang telah kamu buat, jika masuk ke kantor polisi juga tak heran.” Vincent berkata dengan datar.
Greni mengangguk dengan panik, dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Vincent.
Greni sama sekali tidak punya pilihan lain.
Jenice bersandar di mobil, dan dia juga sudah lemas.
Satu keluarga yang baik-baik…berubah menjadi seperti ini karena Greni…
“Jenice…” Greni memanggilnya dengan hati-hati.
Tetapi Jenice tidak melayaninya, dia hanya menundukkan kepalanya saja, dan tampak seperti kehilangan jiwa.
Wajah Greni pun tampak malu.
Setelah selesai melihat rekaman cctv, Greni menundukkan kepalanya, dan menulis surat perjanjian.
Biaya perbaikan sebesar 482 juta.
Hutang sebesar ini bertambah dengan tiba-tiba, ini pun membuat Jenice merasa sangat sedih.
Greni tidak bisa menahan, dan menyeka air matanya.
“Ayo Jenice, aku antar kalian pulang.”
Setelah keluar dari kantor polisi, Vincent membuka pintu mobilnya, dan berkata dengan datar.
Greni sangat marah sampai menghentakkan kedua kakinya, dan dia pun pergi dengan tanpa mengatakan apa pun.
Jenice tidak mengejarnya, setelah berpikir sejenak, dia pun masuk ke dalam mobil Vincent.
Mobil dihidupkan, dan sedang melaju ke rumah Jenice.
__ADS_1
“Jangan terlalu khawatir, aku akan bilang ke temanku, harusnya dia tidak akan pergi cari Ibumu, aku lakukan semua ini hanya untuk berikan sedikit pelajaran ke Ibumu.” Vincent berkata dengan sambil memutar setir mobilnya.
“Jangan, Kak ipar, jika harus ganti rugi, kami tetap akan ganti rugi.” Jenice menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan tampak sedih: “Lagipula keluarga kami juga sudah punya banyak hutang, bertambah empat ratus jutaan, juga sudah tidak penting lagi.”
“Oh ya…”
“Aku hanya…terlalu kecewa pada Ibuku.” Jenice tiba-tiba meringkuk, wajahnya ditempelkan di lengannya, dan dia pun terisak pelan.
Siapa pun yang memiliki ibu seperti ini juga akan merasa putus asa.
Vincent meliriknya, lalu dia pun menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan tampak tenang: “Dia adalah dia, kamu adalah kamu, dia lebih milih untuk hidup dengan seperti itu, itu adalah keputusannya, kamu jangan sedih karena ini, yang harus kamu lakukan adalah jadi dirimu sendiri, dan tidak perlu diubah karena orang lain, hanya gitu saja.”
“Kak ipar, maaf sekali…”
“Kamu tdak perlu minta maaf, ini bukan salahmu, kamu tidak perlu memikul semua ini.” Vincent berkata.
Jenice menundukkan kepalanya, dan tidak mengatakan apa pun lagi.
Jenice memang tidak perlu memikul semua ini, tetapi dia tetap harus memikulnya, bagaimanapun ini adalah kehidupannya…
Tidak lama kemudian pun sudah sampai di rumah Judo.
Rumah mereka sudah siap dijual, jadi Jenice pun berencana untuk tinggal di perusahaan Jane dulu, kemudian dia baru perlahan-lahan mulai cari kontrakan yang murah.
Pada saat ini, sekeluarga Judo pun penuh dengan hutang, dan sudah tidak memiliki apa pun lagi.
Mereka berdua baru turun dari mobil, tiba-tiba terdapat seseorang yang berjalan menghampiri mereka.
“Kalian akhirnya pulang, jika masih tidak pulang, aku juga sudah tidak punya kesabaran untuk tunggu lagi!”
Mendengar suara tajam ini, Vincent dan Jenice pun tertegun, mereka melirik ke sana, terdapat seorang gadis yang mengenakan dress merah dengan gaya rambut ponytail berjalan mendekati mereka.
Gadis itu tampak berusia enam belas, dia tampak unik, dan terlihat sangat imut.
“Adik kecil, siapa kamu?” Jenice bertanya dengan tampak bingung.
“Adik kecil?”
Gadis itu mendengus, dia menyilangkan kedua tangannya, dan berkata dengan sambil tersenyum: “Kamu yang adik kecil!”
“Oh…” Jenice terdiam, lalu dia pun bertanya lagi: “Kita kenal?”
__ADS_1
“Sebelumnya tidak, sekarang sudah! Kamu adalah Jenice? Aku adalah CEO Perusahaan Keamanan Panser! Blady Panser! Kmau harusnya pernah dengar perusahaanku?” Gadis itu berkata dengan sambil tersenyum.