
Vincent menolehkan pandangan ke samping, melihat orang ini ternyata adalah pria yang sebelumnya duduk di sebelah Tuan Izmahad.
Dia juga sedang memegang ponsel di tangannya, terlihat jelas sedang pergi keluar untuk menelpon, dan ketika melihat Vincent yang akan pergi, dia langsung maju untuk menghentikannya.
"Apakah ada masalah denganmu?" Vincent mengerutkan kening.
"Siapa yang membiarkanmu pergi? Sialan, bukankah kamu baru saja pergi keluar dengan Kak Trez ? Apakah kamu melarikan diri?" Pria ini menatap Vincent dari atas ke bawah dan kemudian membalikkan tubuh dan berteriak ke arah dalam aula: " Tuan Izmahad ! Tuan Izmahad !!!"
Meskipun suara di dalam aula perjamuan sangat bising, namun Tuan Izmahad dan yang lain masih bisa mendengar suara ini dengan samar-samar.
Orang-orang itu pun melihat ke arah pintu besar, wajah mereka terkejut dan langsung berlari keluar dan menghentikan Vincent.
“Di mana Kak Trez ?” Seorang pria bermarga Izmahad itu bertanya.
“Apakah kalian ada urusan dengan Tuan Bermoth?” Sebelum Vincent menjawab, Edwin sudah berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang gelap.
Dia seakan langsung mengerti seluk beluk masalah ini!
Bagaimana tiba-tiba anggotanya bisa memprovokasi CEO Bermoth?
Sepertinya orang inilah yang membuat masalah bagi dirinya!
Saat ini, kebencian Edwin terhadap orang bernama Tuan Izmahad ini sudah lebih besar dari Vincent.
“Siapa kamu?” Tuan Izmahad menatap Edwin dari atas ke bawah, kemudian bertanya dengan hati-hati.
Namun pada saat dia berbicara, dia menemukan sebuah hal yang membuat dia terkejut dan detak jantungnya menjadi semakin cepat.
Tenyata Kak Trez... berdiri di belakang orang ini, selain itu dia juga memberi isyarat mata kepadanya dengan liar!
Siapa orang ini?
Selain itu apa maksud yang ingin dikatakan Kak Trez ?
Apakah... orang ini adalah atasan Kak Trez, kaisar bawah tanah dari kota Silason, Ezra?
"Apakah kalian ingin mencari masalah dengan tuan ini?" Edwin tidak menjawab pertanyaan Tuan Izmahad, melainkan langsung bertanya dengan suara rendah.
"Ini..." Nafas Tuan Izmahad menjadi lebih cepat, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
Namun gadis dengan riasan tebal di sebelahnya langsung menjadi tidak senang, dia pun berteriak, "Paman, apa yang kamu sombongkan? Apakah kamu tahu siapa Tuan Izmahad kami ini? Beraninya berbicara dengan nada seperti itu dengan Tuan Izmahad kami? Apakah kamu sudah bosan hidup?"
Wanita dengan riasan tebal itu sudah minum alkohol, emosinya naik, secara otomatis suaranya pun menjad besar.
Namun tidak peduli apa alasannya, dia benar-benar buta!
“ Mayden ! Diam!” Tuan Izmahad langsung menjadi panik dan berbisik.
" Tuan Izmahad, bukankah ada Kak Trez yang melindungimu? Ini adalah tempatmu, apa yang kamu takutkan? Ada Kak Trez kan? Siapa yang berani melawanmu?" Wanita berdandan tebal itu berkata dengan sedikit arogan.
"Dasar pelacur, omong kosong apa yang kamu katakan disini? Aku tidak kenal denganmu! Juga tidak kenal orang bernama Tuan Izmahad itu!" Kak Trez di belakangnya sudah panik hingga ingin menangis, langsung berkata dengan suara kencang.
Mendengar perkataan ini, wanita dengan riasan tebal itu terkejut, melihat ke samping, seakan baru menyadari Kak Trez yang berdiri di belakangnya.
" Kak Trez, kamu..." Wanita dengan riasan tebal itu membuka mulutnya dengan heran.
__ADS_1
Orang-orang yang lain juga menyadari kondisi yang tidak benar, wajah mereka menjadi pucat.
Edwin melangkah beberapa langkah ke depan, pada awalnya ingin bertindak, namun Vincent di sebelahnya hanya berkata singkat: "Jangan membuat masalah menjadi besar, ada banyak tamu disini."
“Baik, Tuan Bermoth.” Edwin menganggukkan kepala, kemudian melambaikan tangannya: “Bawa mereka pergi ke ke lantai tiga!”
"Baik, Bos!"
Orang-orang di belakangnya langsung melangkah maju.
"Kamu... Kalian ingin membawa kami pergi kemana?" Tuan Izmahad menjadi panik.
"Sudah pergi saja, jangan beromong kosong!"
"Kami tidak mau pergi! Pembunuh! Pembunuh!"
Tuan Izmahad berteriak.
Dia tidak tahu siapa orang-orang ini, namun Kak Trez pun sangat takut terhadapnya, jika dibawa pergi oleh kerumunan orang ini, bukankah dia akan menjadi mayat? Saat ini ada banyak tamu di sini, dia pun tidak memperdulikan hal lain dan langsung berteriak kencang.
"Sialan!"
Kak Trez langsung maju ke depan, menaikkan tangan dan menamparnya dua kali.
Wajah Tuan Izmahad langsung menjadi bengkak.
"Bajingan, jika kamu tidak ingin kita semua mati, cepat ikut denganku, jika tidak aku bisa menjamin kamu tidak akan bisa meninggalkan Kota Silason!" Kak Trez meraih kerah pakaian Tuan Izmahad dan dengan panik berkata dengan suara rendah.
Kak Trez juga malas mengindahkannya, langsung menyeretnya dengan kuat.
Edwin memandang wanita dengan riasan tebal dan orang-orang yang lain.
Beberapa orang itu seakan memahami sesuatu, langsung melambaikan tangan dan menjelaskan: "Kami tidak bersalah, ini tidak ada hubungannya dengan kami! Kami hanya datang menghadiri perjamuan makan di sini..."
Edwin kembali menatap Vincent.
"Bawa sekaligus."
Vincent berkata dengan diam.
Edwin langsung melambaikan tangannya.
Dan Kak Trez, beberapa orang itu langsung menarik wanita dengan riasan tebal dan yang lain itu pergi.
"Tolong! Tolong!"
"Apa yang ingin kalian lakukan? Lepaskan aku! Tolong!"
"Cepat panggil polisi! Ada penculikan!"
Beberapa orang itu berteriak kencang, masing-masing dari mereka berteriak seakan babi yang akan disembelih, teriakan mereka pun menarik perhatian banyak tamu.
“Tidak ada masalah, mungkin beberapa orang ini adalah orang yang datang untuk makan tanpa undangan, kami hanya mengusir mereka keluar berdasarkan peraturan yang berlaku.” Edwin langsung berjalan maju sambil menjelaskan dengan tersenyum.
__ADS_1
Orang-orang yang mendengar baru meninggalkan tempat.
"Tuan Bermoth, bagaimana jika aku mengaturkan mobil untuk mengantarmu pulang" Edwin berkata dengan hormat kepada Vincent.
"Tidak perlu, urus urusanmu saja, sampai jumpa besok," kata Vincent dengan suara serak.
Jantung Edwin berdetak dengan lebih cepat, namun dia tidak membantah, hanya bisa sedikit menundukkan tubuh dan pergi mengurus Tuan Izmahad dan yang lain.
Namun ketika Vincent bersiap meninggalkan hotel sambil menggendong Jane, sebuah teriakan kaget kembali terdengar.
"Kakak ipar? Bagaimana kamu ada di sini? Ini... ada apa dengan Kak Jane?"
Begitu suara ini terdengar, Vincent mengalihkan pandangan ke samping, kali ini dia melihat Jenice dan Elvina baru saja turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka.
"Jenice, Elvina?" Vincent terkejut, kemudian menjelaskan: "Kakakmu minum terlalu banyak, aku sedang bersiap mengantarnya pulang."
"Terlalu banyak minum?" Jenice berkata dengan tidak mengerti, "Berdasar apa yang aku tahu, Kak Jane tidak begitu suka minum kan."
"Mungkin hari ini dia merasa bahagia."
"Benarkah?" Jenice masih merasa bingung.
Dan pada saat ini, sebuah bayangan tiba-tiba bergegas mendekat dan tanpa sungkan menampar wajah Vincent.
Vincent terkejjut, tanpa sadar mengalihkan kepala untuk menghndar, namun tamparan ini masih mengenai lehernya.
Phakkk!
Sebuah suara yang nyaring terdengar.
Muncul tanda telapak tangan samar di leher Vincent.
Jenice dan Elvina terkejut, ketika mengalihkan pandangan, melihat pemilik pukulan tangan ini adalah Katrina!
“Anjing, apa yang sudah kamu lakukan pada putriku? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?” Katrina berteriak, langsung merenggut kasar Jane dari pelukan Vincent.
Wajah Vincent menjadi buruk.
Kemudian dia menyadari datang beberapa orang dari belakangnya.
Mereka adalah keluarga Judo dan Jackson.
Melihat wajah Jane yang mabuk dan lemas ini, wajah beberapa orang ini pun menjadi aneh.
"Vincent, apa yang terjadi dengan Jane?" Jackson bertanya dengan suara dalam.
“Dia baru saja minum terlalu banyak alkohol!” Vincent menahan rasa emosi di hatinya dan berkata dengan dingin.
"Minum alkohol?" Jackson mencibir, "Bagaimana anak baik seperti Jane bisa minum?"
“Cepat katakan, apakah kamu yang memaksanya untuk minum?” Katrina bertanya dan menunjuk ke arah hidung Vincent.
“Anjing, aku merasa kamu sudah hebat, sudah tahu membuat mabuk Jane dan kemudian ingin membawanya ke dalam kamar hotel kan?” Greni di belakang berkata dengan senyuman dan nada yang aneh.
__ADS_1
Kalimat ini langsung membakar Katrina.