Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 635 Tunggu Sampai Kamu Jual Rumahmu!


__ADS_3

Di bawah rem mendadak, ban Ferrari membuat bekas yang terlihat jelas di jalan, tetapi untungnya, Vincent mengerem tepat waktu dan mobil berhenti dengan tepat.



Namun, Ferrari tidak bisa berhenti tepta waktu, setelah mengerem selama beberapa meter, bagian depan mobil langsung menabrak samping Honda.



Mobil itu sedikit bergetar.



Pintunya jadi sedikit cekung.



Vincent tiba-tiba mengerutkan kening, dia segera keluar dari mobil.



Pintu Ferrari terbuka, ada seorang pria dan seorang wanita keluar dari mobil.



Baik prianya ataupun wanitanya terlihat sangat rupawan, mereka juga terlihat sangat mewah, mereka memakai banyak merek terkenal.



"Sialan, nasib buruk!"



Pria itu mengutuk, ekspresinya sangat tidak senang, dia berlari ke depan mobil, memeriksanya dan segera menatap Vincent.



"Apakah kamu pemilik mobil itu?"



"Ya."



“Bagaimana bisa kamu mengemudi seperti itu? Apakah kamu tidak punya mata?” Teriak pria itu keras-keras.



"Jalan ini memiliki batas kecepatan 30km/h, aku mengemudi di jalur yang benar, tetapi kamu, setidaknya mengemudi 70 sampai 80 km/h, bukankah itu sudah melewati batas? Jika polisi lalu lintas datang, kamu yang akan bertanggung jawab penuh, kamu masih akan tetap menyalahkanku?" Vincent berkata dengan tenang.



"Sial, kamu berani membantah? Jika kamu tidak menyetir terlalu lambat, apa mungkin aku akan menabrakmu? Kamu tahu jenis mobil apa yang kupunya? Pernah liat Ferarri kamu ini? Apa bisa kamu membelinya?" Teriak pria itu.



"Sekarang bukan masalahnya kamu bisa membelinya atau tidak, tapi masalahnya siapa yang akan ganti rugi!"



“Aku tidak peduli apa yang akan terjadi, tunggu saja, kamu pasti harus menjual rumahmu!” Pria itu melambaikan tangannya dan mengutuk.



Vincent terlalu malas untuk menanggapi omong kosong dari pria cacat mental sepertinya, jadi dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon sebuah nomor.



“Kamu? Kamu berani mengadu?” Pria itu cemas.



"Mengadu apa? Aku hanya menelepon polisi lalu lintas dan membiarkan polisi lalu lintas yang menanganinya, jika polisi lalu lintas memutuskan bahwa aku yang harus bertanggung jawab, maka aku akan membayarnya!" Kata Vincent dengan tenang.



"Oke! Mari kita lihat siapa yang menang!"



Pria itu mencibir, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dan juga menelepon seseorang.



“Aku sudah menelepon polisinya.” Vincent langsung bicara.


__ADS_1


"Kamu panggil polisimu, aku juga akan panggil polisi sendiri, apa ada masalah? Bukankah kamu ingin orang lain yang menentukan siapa yanag harus bertanggung jawab? Akan kuladeni kemauanmu!" pria itu terkekeh.



Vincent mengerutkan keningnya, dia merasakan ada yang salah.



Beberapa saat kemudian, seorang pria berseragam mengendarai mobil datang.



"Apa yang telah terjadi?"



Pria itu turun dari mobil, mengambil pena dan kertas dari sakunya, lalu mulai bertanya.



“Petugas, jadi begini…” Pria itu segera mulai bicara.



Pria itu tidak lupa untuk menambahkan berbagai cerita lainnya, Vincent tidak takut.



“Kalau memang begitu, itu adalah tanggung jawabmu sepenuhnya!” Pria berseragam itu menatap Vincent dengan pena dan kertas di tangannya.



"Apa yang dia katakan mungkin tidak sepenuhnya benar, aku memiliki rekaman kejadiannya di CCTV mobilki." Kata Vincent.



“Apa iya? Kalau begitu coba bawa kesini.” Pria berseragam itu terlihat tidak senang.



Vincent segera mengambilnya dari mobil.



Namun, pria berseragam melihatnya dan menggelengkan kepalanya: "Tabrakannya terjadi dari samping, tapi CCTV mobilmu tidak merekamnya dari samping! Ini tidak bisa dijadikan bukti pembelaan."




“CCTV di area ini sudah rusak, tidak bisa dipakai.” Pria berseragam itu berkata dengan santai.



"Apa?" Vincent tercengang.



Tiba-tiba, dia sepertinya menyadari sesuatu dan menatap pria itu, dia tersenyum sambil menyipitkan matanya.



Dia tidak ragu lagi bahwa ini petugas ini adalah kaki tanganya!



Pria berseragam ini berada dalam kelompok yang sama dengan pria kaya ini!



"Ambi inil!"



Pria berseragam itu memberikan surat pertanggung jawaban dan menyerahkannya kepada Vincent: "Kalian berdua harus menghubungi perusahaan asuransi! Besok selesaikan masalahnya untuk formalitas saja!"



"Haha, bocah sialan, tunggu saja, kamu pasti akan menjual rumahmu!"



Pria itu tertawa, berbalik dan naik ke Ferrari miliknya.



"Aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak akan membuang waktu bersamamu, seseorang akan datang kepadamu untuk membahas kompensasinya dalam beberapa hari! Hehe, berani cari masalah denganku? Kamu masih terlalu muda untuk itu!"

__ADS_1



Setelah selesai bicara, Ferarri itu melesast pergi.



" Bang Rico, silahkan pergi duluan!"



"Artis terkenal pasti sibuk, datanglah ke rumahku untuk makan malam kalau punya waktu senggang, putriku masih menginginkan tanda tanganmu!"



"Haha, sampakian salam dari Bang Rico ! Aku pergi dulu!"



Pria itu melambaikan tangannya, menginjak pedal gas dan melesat pergi.



Vincent hanya bisa mengerutkan keningnya dan tidak mengatakan apa-apa.



Sudahlah.



Biar Frank yang mengurusnya.



Anggap saja sedang tidak beruntung!



Vincent menelepon Frank dan segera menuju ke lokasi syuting dengan penyok besar di samping mobilnya.



Namun, begitu dia tiba di lokasi syuting, dia terkejut.



Ternyata Ferrari yang tadi juga ada disini.



Mungkinkah… dua orang tadi adalah pemain film disini?



Bukankah itu sebuah kebetulan?



"Kenapa kamu datang kesini?"



Begitu Vincent keluar dari mobil, wanita di kursi penumpang Ferrari segera melihatnya dan langsung berteriak padanya.



Begitu kata-kata ini terucap, Vincent juga sudah bisa memastikannya.



Teriakannya ini memancing perhatian dari banyak orang.



Pria sebelumnya juga berjalan menuju Vincent dengan ekspresi muram.



"Ada apa denganmu? Bukankah masalah tanggung jawab sudah ditentukan? Kenapa kamu masih mengikutiku? Apakah kamu tahu tempat apa ini?" Pria itu merendahkan suaranya dan berkata dengan sinis.



Suaranya jauh lebih kecil dari sebelumnya!



“Tentu saja aku tahu dimana ini, ini adalah salah satu lokasi syuting film “The Penthouse” kan?” Kata Vincent dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2