Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 140 Kecelakaan


__ADS_3

"Siapa bilang aku tidak mau beli rumah?"


Vincent marah ketika mendengarnya, dia langsung melirik wiraniaga tersebut.


Setelah mengatakan demikian, Robin yang berada di sana langsung tertawa terbahak-bahak: "Hahahaha, pria malang sanggup beli rumah sini? Kamu jangan gaya di sini! Apakah total seluruh tubuhmu ada 200 ribu?".


Ketika orang-orang yang berada di sekitar mendengar kata-kata Robin yang begitu menusuk, mereka semua tertawa.


"Kamu bilang kamu mau beli rumah? Oke, aku tidak minta kanmu bayar uang muka, kamu deposit aja, gimana?" Kata pria berambut rapi itu sambil tersenyum.


"Aku mau beli rumah sepertinya tidak ada hubungan dengan kalian berdua, kenapa kalian ikut campur? "Tanya Vincent dengan cuek.


"Ok, ok. Kami tidak ikut campur, kamu beli saja, beli!" Pria yang berambut rapi itu mengangkat bahu dan menatap wiraniaga itu.


Wiraniaga itu mengerti, dia mengedipkan mata dan berkata sambil tersenyum: "Tuan, apakah kamu suka unit yang mana?".


"Bacot saja, dia hanya pura-pura kaya. Orang miskin seperti dia bahkan toilet kalian saja tidak sanggup beli. Kamu seharusnya usir dia secepat mungkin. Jangan ganggu orang lain lihat rumah! " Robin meludahnya.


"Jika kamu tidak usir dia, aku tidak mau beli lagi." Pria berambut rapi itu juga mencibir.


"Tuan, jika kamu tidak segera putuskan dan segera deposit, kami hanya bisa minta kamu pergi secara paksa." Wiraniaga itu sedikit cemas, senyuman profesional yang muncul di wajahnya berangsur-angsur menghilang, dan nadanya menjadi kesal.


"Apakah sikap penjual kalian seperti ini?" Vincent berkata dengan marah.


"Kamu bisa komplain aku."


"Aku minta ganti staf lain," Kata Vincent dengan cuek.


"Staf lain tidak punya waktu." Wiraniaga itu menggelengkan kepala.


"Benarkah?" Vincent mendengus dan menatap seorang gadis berusia dua puluhan yang berada di sebelahnya: "Apakah kamu itu wiraniaga sini? Bagaimana kalau kamu datang layanin aku?"


"Ah.. Hmm... aku. aku hanya part-time di sini, aku... aku baru hari pertama kerja, aku.. aku tidak terlalu ngerti dengan model rumah itu..."


Gadis itu sangat gugup, dan berkata dengan terbata-bata.


"Tidak apa-apa, kamu hanya perlu katakan padaku rumah mana yang paling mahal saja," Kata Vincent.


"Yang paling..paling mahal? Mungkin unit ini..."


Gadis itu menunjuk ke unit yang berada di tengah.


Lokasi rumah ini terletak di tengah lahan, dengan area terluas, dan area sekitarnya meluas ke saluran, dikelilingi oleh sungai, seolah-olah menggambarkan sebuah lingkaran di pusat properti perumahan.


Vincent mengangguk, dan berkata: "Oke, kalau begitu ambil unit ini saja, kamu langsung urus proses serah terimanya."


"Oh, oke... oke.. " Gadis itu mengangguk dengan linglung, tetapi dia tetap berlari pergi.


"Ha ha ha ha..."


Pada saat ini, terdengar suara gelak tawa di sekitar.


"Vany, apa yang kamu lakukan? Stop! Apakah kamu beneran yakin orang miskin ini akan beli rumah? Kamu telah ditipu orang masih tidak sadar". Wiraniaga tersebut memelototi gadis muda itu dengan marah.


"Kak Dina, aku ..."


"Kamu kenapa? Minggir sana!" penjaga yang dipanggil Kak Dina itu memarahinya.


"Tapi... Kak Dina, tamu sudah usulkan permintaan, kita wajib memuaskan. Sikap kamu mana boleh seperti ini .." Kata gadis yang bernama Vany dengan pelan.


"Kamu.." Wajah Kak Dina memerah karena marah, tetapi pada saat dia melihat begitu banyak tamu berada di sini, dia hanya bisa menahannya.


"Supervisor tidak ada di sini. Tunggu Supervisor datang, aku pasti komplain kamu." Kak Dina diam-diam mengatakan dengan Vany.


Wajah Vany sedikit berubah, tetapi dia tidak berbicara, kemudian diam-diam berlari pergi mempersiapkan proses tersebut untuk Vincent.


Kak Dina menghentakkan kakinya dengan marah.


"Apa yang terjadi dengan departemen penjualan kalian? Kalian tidak selesaikan pengacau seperti itu, kurasa kalian tidak ada niat jual rumah lagi" Wajah pria berambut rapi itu sangat kecewa.


"Ayo, suami, kita pindah tempat! Robin juga merasa kesal.


Ucapan ini membuat Kak Dina ketakutan, hari ini dia belum pecah telur, bagaimana dia bisa melihat pelanggan yang hampir beli itu pergi seperti ini?.


"Mohon tunggu sebentar, aku telepon Supervisor sekarang" Kak Dina segera berkata, dan berlari ke bawah untuk menelepon.

__ADS_1


Jika Supervisor setuju, dia akan menyuruh satpam


keluarkan pria tersebut. Karena seorang wiraniaga tidak berhak untuk mengusir para tamu.


"Kalau begitu cepat, aku tidak akan beli lagi jika lambat." Teriak pria yang berambut rapi itu.


"Ok...ok." Kak Dina berkata dengan tergesa-gesa sambil tersenyum.


Wajah Vincent tidak memiliki ekspresi apa pun, dia hanya duduk diam di sana, menunggu Vany mengambil kontrak kemari.


Dia mengabaikan semua ejekan dan hinaan di sekitarnya. Tak lama kemudian, Vany datang dengan membawa setumpuk dokumen.


"Halo Pak, kamu cukup tanda tangan kontrak ini, lalu ikuti aku pergi ke pelayan depan untuk bayar uang. Saat ini, harga rumah ini adalah 1 Triliun 60 miliar, uang muka setidaknya harus 200 miliar. Jika kamu mau kredit, perusahaan kami akan urus semuanya," Kata Vany sambil tersenyum.


Setelah dia mengatakan kata-kata ini, beberapa orang yang berada di sekitar itu tidak tahan langsung tertawa keras.


Robin dan pria berambut rapi itu menatap Vincent dengan ekspresi lucu.


Rumah 1 Triliun! Uang muka 200 miliar?


Hal ini bukankah omong kosong Bahkan pria berambut rapi itu pun hanya pengen beli dua unit rumah yang murah dan harus kredit lagi.


Apakah pria yang tak berguna itu mempunyai kemampuan finansial tersebut?


Orang-orang memperhatikan Vincent sambil tersenyum, dan menunggu alasan apa yang akan dia gunakan untuk mengelak hal ini.


Namun, pada detik berikutnya, Vincent tiba-tiba berbicara.


"Kredit? Apakah aku tidak bisa lunas langsung?"


Seketika itu, suasana di tempat langsung sunyi. Vany juga tercengang, matanya membelalak, mulutnya terbuka sedikit, penampilannya sangat imut.


"Bo... bo, tentu... boleh..." Kata Vany tergagap.


"Ok, kapan aku bisa bayar?"


"Sekarang bisa..."


"Kalau gitu urus saja, aku sedang kejar waktu.'"


Setelah beberapa saat, seseorang mengambil mesin EDC atm kecil, dan Vincent langsung mengambil kartu kemudian menggeseknya.


"Tit! Pembayaran berhasil!"


Terdengar suara yang keluar dari mesin, kemudian mesin tersebut langsung mengeluarkan selembar kertas transaksi, dan nominal di dalam transaksi tersebut semuanya adalah nol.


Seluruh orang departemen penjualan tercengang Vany juga tercengang


Sejujurnya, dia juga tidak percaya bahwa orang ini mampu membeli rumah paling mahal yang berada di tengah.


Dia hanya menerapkan etika profesional untuk melayani Vincent, tidak menyangka.. orang ini... adalah seorang kaya raya yang tersembunyi.


Seluruh tubuh Vany gemetaran.


Komisi untuk transaksi ini sangat besar, dia bahkan tidak perlu khawatir tentang biaya kuliahnya lagi.


Orang-orang yang berada di sekitar juga terkejut. Terutama pria berambut rapi dan Robin.


"Ini..ini palsu, kan? Dia pasti bohong, dia...bagaimana orang miskin ini punya uang senilai 1 triliun? Pasti bohong!" Robin berkata sambil1 menunjuk Vincent dengan gemetar


Pria berambut rapi tersebut juga tidak percaya.


Pada saat ini, seorang pria paruh baya berbadan gemuk dan berkacamata berlari kemari, menyerahkan kartu nama kepada Vincent, berkata sambil tersenyum: "Halo Tuan, aku adalah manajer departemen penjualan ini, ini kartu namaku. Mulai hari ini, kamu adalah tamu VIP dari Century Home kami. Jika ada masalah, silakan hubungi aku."


"Tidak perlu" Vincent melambaikan tangannya dan langsung menolak: "Kesan aku terhadap departemen penjualan kalian sangat buruk. Awalnya aku mau beli beberapa unit lagi, sayangnya kualitas staf kalian di sini tidak terlalu tinggi. Jika bukan karena gadis ini lebih antusias, mungkin aku tidak akan beli."


"Ada hal seperti itu?"


Manajer penjualan mengerutkan kening dan bertanya tentang situasi tersebut dengan orang yang berada di sebelahnya.


Wajahnya langsung berubah, dia berteriak langsung pada Kak Dina: "Kamu, segera kemas barang-barangmu pergi!


"Manajer, aku..."


"Apa etika profesi ini? Perlakukan orang dengan setara, tidak peduli apakah orang kaya atau orang yang tidak punya uang hanya sekedar lihat-lihat, mereka semua adalah tamu kita! Sikap kamu ini tidak cocok kerja industri ini, pergi saja!" Manajer penjualan itu berkata dengan dingin.

__ADS_1


Setelah mendengar hal ini, wajah Kak Dina menjadi pucat dan sangat menyesal


Awalnya projek ini.. miliknya..


"Tak terduga, kamu ini begitu kaya, tetapi sayang sekali kamu hanya punya uang saja! Aku tidak peduli!" Pria berambut rapi itu mendengus dan berkata kepada manajer:


"Sini kamu, kenalkan aku dua unit rumah!".


"Baik, Tuan!" Manajer penjualan buru-buru pergi dengan tersenyum.


"Tunggu!" Vincent berteriak.


"Pak, apakah kamu punya pesanan lain?" Manajer


penjualan bertanya dengan tergesa-gesa.


"Aku larang kalian jual rumah pada mereka! Aku tidak suka kedua orang miskin ini. Jika kamu jual rumah pada mereka, aku segera batalkan transaksi ini." Kata Vincent dengan cuek.


Setelah mendengarkan kata-kata ini, ekspresi Robin dan pria berambut rapi itu langung berubah.


"Kamu bilang apa? Kamu marahi kami miskin?" Robin sangat marah.


"Kamu sudah bayar, apakah bisa sewenang-wenang batalkan?" Kata pria berambut rapi tersebut.


"Mungkin kalian punya uang, tapi sikap kalian terlalu miskin. Aku belum tanda tangan kontrak, jadi saat ini, kontrak pembelian rumah ini belum sah," Kata Vincent.


Tiba-tiba, wajah pria berambut rapi itu langsung berubah.


"Hmm.. maaf, pelanggan ini, saat ini rumah kami sudah habis terjual." Kata Manajer penjualan sambil tersenyum.


"Kamu..." Pria berambut rapi itu marah hingga tidak bisa berkata apa-apa.


Konyol, transaksi 1 Triliun mana bisa dibandingkan


dengan transaksi 40 hingga 60 jutaan? Jangankan pria berambut rapi ini hanya ingin beli 2 unit, walaupun beli 20 unit juga tidak dapat dibandingkan dengan Vincent.


Etika profesional hanya sekedar bilang saja, keuntungan berada di depan mata, manajer penjualan tentunya mengetahui mana yang lebih penting


Setelah Vincent mengatakan demikian, pria berambut rapi itu mengetahui dirinya tidak dapat membeli rumah di sini lagi.


"Ayo pergi!"


"Pergi? Tak becus kamu. Apa yang kamu takutkan?" Robin sangat emosi dan langsung memarahi pria berambut rapi tersebut.


"Wanita pelacur, diam kau!" Pria berambut rapi itu


merasa kesal, dia langsung menampar wajah Robin.


Robin menutupi wajahnya dan menatapnya dengan kaget. Pria berambut rapi itu tidak mengatakan apa-apa, pergi dengan marah.


"Kamu tunggu saja!" Robin menatap Vincent dengan sinis, kemudian berbalik dan pergi.


Vincent tidak menghiraukannya dan langsung menandatangani kontrak tersebut.


Manajer penjualan merasa lega dan menghelakan nafas dengan kuat.


Vany itu tercengang di tempat, mengira dirinya sedang bermimpi.


Tanpa diduga, dia bisa mendapatkan proyek sebesar 1 triliun pada hari pertama kerja..


Semua orang juga tidak percaya, seseorang tiba-tiba mengingat sesuatu, kemudian bergegas untuk memotret Vincent dengan ponsel, berniat untuk pamer di sosial media.


Tetapi pada saat ini, Vincent sudah keluar dari pintu, dan satu-satunya bagian yang bisa difoto adalah punggungnya..


Vincent baru saja melewati pintu gedung penjualan, tiba-tiba sebuah panggilan


masuk.


Panggilan dari Frank.


"Ada apa?" Tanya Vincent.


Di sisi lain, Frank ragu-ragu sebentar, kemudian berkata dengan hati-hati


"Tuan Bermoth, mertuamu ... kecelakaan..."

__ADS_1


__ADS_2