
Jenice benar-benar tercengang.
Dia bahkan tidak kembali sadar bahkan sesudah pengacara Kalijaga pergi.
Vincent berdiri dan tidak mengatakan apa-apa.
Menurut Pengacara Kalijaga, Judo menerima kompensasi kemanusiaan sebesar 40 juta untuk tusukan pisau, tidak lebih.
Bahkan Bandot... bisa keluar dari kantor polisi dengan santai.
"Itu pasti kroni mereka, itu pasti backingan perusahaan keamanan! Ini tidak adil, itu terlalu tidak adil!"
Jenice memukul meja dengan marah, dia menahan emosinya: "Aku ingin menuntut mereka!"
"Kakak ipar dukung kamu," kata Vincent.
Tapi sesudah beberapa saat, Jenice menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara serak, "Atau... lupakan saja..."
"Mengapa?"
"Keluarga kita... tidak mampu membayar pengacara... dan tidak bisa mengalahkan perusahaan besar seperti pihak lain, lupakan saja... lupakan saja..." kata Jenice tersneyum pahit, air mata mengalir di matanya.
"Tenang, Jenice, kakak ipar akan memperkenalkan pengacara untuk membantumu."
"Tidak usah kakak ipar... Bagaimanapun, dia masih ganti 40 juta, sisa uang... Aku akan memikirkan cara, untuk gugatan... Ini hanya emosi sesaat." Jenice tersenyum pahit : "Ayo kembali."
Vincent memikirkannya, tidak mengejarnya.
keduanya berjalan keluar dari kantor polisi.
"ada apa?"
Greni sudah duduk di lorong, Jenice sengaja mencegahnya masuk karena takut dia berbicara omong kosong.
Dan sesudah mengetahui hal ini dari mulut Jenice, Greni marah dan memaki langsung di koridor, seperti babon ngamuk, polisi yang lewat mengerutkan kening, Jenice melihat ini dan bergegas keluar dari pintu.
"Aku harus meminta pengacara yang paling baik untuk menuntut mereka! Sial, sekelompok bajingan, membalik hitam dan putih, aku harus menguliti mereka!"
Greni masih mengutuk ketika dia keluar.
Jenice menghela nafas diam-diam.
Menghela nafas frustasi.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil Vincent.
Vincent hendak menarik pintu mobil, dia membeku dan melihat ke arah depan mobil.
"Hah?" Vincent mengerutkan kening.
"Kakak ipar, ada apa?" tanya Jenice bingung.
"Aku ingat ketika aku keluar dari mobil, bagian depan baik-baik saja, kok tiba-tiba penyok..." kata Vincent bingung.
"Mungkinkah mobil seseorang secara tidak sengaja menabrakmu?" tanya Jenice.
"Tempat parkir ini adalah blind spot dengan tembok di belakangnya. Mobilku menghadap tembok. Mobil siapa yang bisa menabrak gini?" kata Vincent.
__ADS_1
Kok bisa ya?" Jenice juga bingung.
“Oh, bukankah itu hanya Passat bobrok! Jika penyok ya penyok aja. Cukup memperbaikinya saja sudah selesai kan? Apa kamu tidak punya uang untuk memperbaiki penyok ini? Heh, benar-benar orang miskin!” Greni tersenyum menghina.
“ Bibi, mendengarkanmu mengatakan itu, apa kamu ada uang untuk memperbaiki mobil?” Vincent meliriknya dan bertanya.
“Apakah kamu pikir semua orang sama denganmu?” Greni dengan nada menghina berkata, “Bukankah itu paling 2 jutaan! Kenapa? Kamu bahkan tidak punya 2 juta?”
"Tentu saja ada 2 juta, tapi lempeng logam ini sudah retak. Jika ingin memperbaikinya, kamu harus mengganti seluruh lempeng logam di depan. 2 juta mungkin tidak cukup."
"Oh, 4 juta ?"
"Tidak cukup!"
“ Mobil yang bobrok, harganya 6 8 juta untuk suku cadang?” Greni terkekeh, “Tapi bahkan jika itu benar-benar menghabiskan banyak uang, tidak ada urusan dengan kita, menurutku biarin aja lah, kalau tidak mengirim kita kembali, kita akan naik taksi kembali."
"Jangan khawatir, aku akan meminta seseorang untuk minta CCTV di sini untuk melihat siapa yang melakukannya, kemudian mengirim kalian kembali," kata Vincent.
Begitu kata-kata ini diucapkan, wajah Greni berubah seketika: "CCTV...CCTV? Apakah ada CCTV di sini?"
“Emang aneh kantor polisi ada CCTV?” Vincent bertanya dengan bingung, sambil menunjuk ke sana.
"Ini...tidak aneh, tapi...hanya saja...Oh, Vincent, ayo segera kembali. Aku harus pergi ke rumah sakit untuk merawat Judo. CCTV segala ngapain ah! Ayo cepat pergi !” desak Greni tiba-tiba.
"Tidak lama untuk lihat kamera pengawasan. Tidak bisakah kamu menunggu sebentar? Dan bukankah kamu baru saja mengatakan ingin naik taksi kembali?" Vincent memandangnya dengan aneh.
Jenice juga merasa ada yang salah.
"Pemantauan...tidak ada yang bisa dilihat, ayo pergi ah..." Ekspresi Greni menjadi semakin tidak wajar.
Jenice tidak bisa menahannya lagi. Dia melirik bagian depan mobil, lalu ke Greni, tiba-tiba berbisik: "Bu, luka di bagian depan mobil...apa kamu yang melakukannya?"
"Apa? Kau... Kau bilang apa? Tidak... Aku yang melakukannya? Tidak, tidak..." Greni melambaikan tangannya buru-buru.
"Kalau begitu aku akan masuk dan melihat-lihat."
Vincent akan berbalik.
“Eh eh, Vincent, berhentilah!” Greni meraihnya.
“Bibi, ada apa lagi?” Vincent bertanya dengan berat.
Tapi sesudah melihat wajah Greni gemetar, dia ragu sejenak, lalu berkata: "Um... Aku berjalan terlalu cepat ketika aku keluar dari mobil tadi... tidak sengaja... menendang mobilmu..."
"Bu, kamu benar-benar melakukannya?" Mata Jenice melebar.
“Aku tidak hati-hati!” jelas Greni.
“Benarkah? Kalau begitu, kamu harus membayar?” kata Vincent.
"Bayar ya bayar, berapa kerugian untuk mobil bobrok? Jutaan mah mending mati! aku katakan, jangan memeras aku! aku akan meminta seseorang untuk menentukan kerusakannya!" kata Greni dengan marah.
"Tidak apa-apa, Bibi, kamu pergi sekarang untuk meminta seseorang menentukan kerugiannya, staf penilai bilang berapa kamu ganti berapa, oke?" kata Vincent dingin.
"Oke, jangan sok, aku masih ada teman, putranya adalah penilai, aku akan memanggilnya sekarang!"
__ADS_1
Selesai bicara, Greni mengeluarkan ponselnya dan memutar nomor.
Jenice seakan panik.
Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa dan berkata kepada Vincent: "Kakak ipar, maafkan aku, aku tidak menyangka ibuku akan melakukan hal seperti itu..."
"Tidak apa-apa, ibumu akan membayar."
"Aku akan membayarnya, kakak ipar, aku benar-benar minta maaf..."
"Kamu membayar? Aku khawatir kamu tidak mampu." Vincent menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” Jenice sedikit terkejut: “Mobil harga sekitar 400 juta, luka kecil ini seharusnya tidak menghabiskan terlalu banyak uang? Kakak ipar, aku masih punya sedikit tabungan di sini, tidak masalah..."
"Ini bukan mobil 400 juta," kata Vincent suram.
Nafas Jenice bergetar.
Segera, seorang penilai kerusakan melaju di luar kantor polisi.
“Eddy, lewat sini!” Greni buru-buru melambai ke arah sang penilai.
Penilai kerusakan segera berlari.
“Bibi Greni, apakah ini mobilnya?” Penilai kerusakan menunjuk ke sebuah Chevrolet di sebelah mobil Vincent dan bertanya.
"Tidak, ini yang ini!"
Greni tersenyum dan menunjuk ke mobil Vincent: "Bibi Greni secara tidak sengaja ketabrak mobil ini. Aku tidak tahu kalau mobil ini jelek, langsung penyok, paling berapa ratus ribu gak sih untuk luka kecil gini?"
"Hah? Ini... mobil ini?"
Ekspresi penilai tiba-tiba kaget.
"Ada apa? Apa ada masalah dengan mobil ini?"
"Tidak...tidak masalah."
“Kalau begitu tunjukkan pada Bibi, di sini, ini pemilik mobil,” kata Greni.
Penilai kerusakan mengambil napas dalam-dalam, berjalan mendekat, mengamati dengan cermat, lalu bangkit.
“Kalau dilihat kasar, spatbor depan ada yang pecah, lampu mobilnya pecah. Seharusnya karena benda tajam seperti sol sepatu hak tinggi. Lampu mobi harus diganti, spatbornya juga ada lecet, lalu..."
“Katakan saja berapa harganya.” Greni menyela penilai kerusakan dan berkata dengan tidak sabar.
“Perkiraan awal, mungkin … 400 juta.” Penilai ragu-ragu dan berkata.
"Apa?" Greni tercengang.
Jenice juga membeku.
“Tidak… Passatnya… hanya 400 juta, kau… kau ingin aku membayarnya 400juta?” kata Greni dengan gemetar.
“Bibi Greni, ini bukan Passat, ini Phaeton edisi terbatas! Harga awal di pasaran adalah 3,6 M!” penilai cukup tegang.
__ADS_1
Ketika Greni mendengarnya, dia langsung duduk di tanah…